Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 526 : Mulyana 32


__ADS_3

“Kau yakin naik bus?” Aep bertanya.


“Ya, iyalah! Kau mau diantar ibumu untuk pergi ke kampus lagi?”


“Dia ibumu juga, bodoh!” Aep kesal karena Mulyana bercanda.


“Lagian, janjinya kan hanya pada hari pertama dia akan mengantar kita, tapi kenapa dia sekarang jadi begitu bersemangat untuk mengantar kita ke kampus setiap hari!” Mulyana mengeluh.


Aep dan Mulyana sudah menunggu di halte depan gang rumah mereka.


“Jangan cari masalah ya, Yan! pokoknya kalau dari ‘mereka’ ada yang mencoba berinteraksi, kau harus pura-pura tak lihat.” Aep memperingatkan.


Sayang sekali, bagi Aep, penglihatannya sudah hilang, dia bahkan sekarang tak mampu lagi merasaka apapun.


Drabya sebenarnya keberatan anak sulungnya tidak lagi menekuni dunia ghaib, tapi Mulyana menyelamatkan kakaknya yang tidak ingin ikut campur urusan ghaib lagi, dia ingin hidup dengan baik dan normal.


Karena tidak ada keinginan sedikit pun untuk masuk lagi ke dunia yang gelap itu, Aep bisa dibilang tak punya jiwa Kharisma Jagat sama sekali.


Sedang Mulyana, jiwa Kharisma Jagatnya sangat kuat.


“Kau kan tahu, aku mana bisa mengabaikan hal-hal seperti itu,” tolak Mulyana.


“Aku bukannya takut ‘mereka’ mencelakakanmu, aku hanya takut mata-mata itu melihatmu dengan takut, aku takkan tahan.”


“Ep, jangan terlalu takut dengan tatapan orang terhadapmu, apa yang mereka pikirkan, bukan urusan kita. Urusan kita adalah, memberikan pertolongan pada manusia yang ruhnya tersesat.”


“Kau memang keras kepala.” Aep kesal karena adiknya sangatlah berdedikasi tinggi, dunia ghaib bahkan terlalu dominan dalam hidupnya.


Setelah kejadian Nando, Mulyana berlatih lebih keras lagi, dida tidak ingin lagi salah sangkat terhadap energi yang dia kenali, dia mulai mengerjakan banyak kasus yang bahkan tak diberikan Drabya, dia mencari kasusnya sendiri untuk diselesaikan, hampir tak pernah ada kasus yang tidak selesai.


Maka dari sanalah, dia mampu mengenali banyak energi, tapi kita semua paham ya, bahwa tipu daya setan itu nyata, sudah berkemampuan tinggi pun, terkadang tidak menjamin seseorang selamat dari tipu daya.


Bus datang, seperti yang mereka duga, bus sepi ... tapi ramai.


“Bagaimana?” Aep bertanya.


“Ramai.”


“Hmm, kau bisa tahan?”


“Ya, pada apa yang kulihat, ya biasa saja. Tapi pada apa yang kuhirup, sangat tajam.” Mulyana mengeluh, karena apa yang dia hirup adalah bau tajam daging yang terbakar.


“Bus ini pernah kecelakaan?”


“Terbakar.”


“Banyak korbannya?” Aep bertanya.


“Hampir satu bisa, terpanggang semua. Kau mau tahu sejauh mana? Perlu kutanya pada mereka!” Mulyana kesal, padahal kakaknya yang bilang, jangan terlalu ikut campur urusan di dalam bus, urusan ‘mereka’, tapi sekarang dia malah penasaran sendiri.


“Maaf, maaf, aku hanya terbawa suasana.”


“Mulyana menolak untuk duduk, karena setiap bangku terisi oleh mereka yang tak terlihat, dia meras dipangku oleh makhluk-makhuk itu jika duduk.


“De, duduk saja, ini kan kosong.” Seorang wanita tua itu berkata dengan ramah, dia heran kenapa Mulyana berdiri di samping kakkanya yang duduk dengan nyaman pada bangku kosong dibagian terluar, bukan bagian dekat jendela.


“Tidak Bu, saya tidak bisa duduk lama-lama.” Mulyana memberi alasan, dia tak mungkin memberitahu alasannya.


“Oh, kau itu ... ambeien?” Ibu paruh baya itu bertanya dengan berbisik.


“Iya, Bu! Adik saya emang sakit pantatnya, jadi nggak bisa duduk lama!” Aep menahan tawa.


“Kau mau kuhajar!” Mulyana kesal tapi berbicara pelan hingga tak bisa didengar.


Mulyana tertawa menutup mulutnya, agar itu ibu tidak curiga.

__ADS_1


“Seorang wanita melewati Mulyana, wanita itu sangat cantik, dia pindah duduk dari paling belakang, lalu berpindah ke depan.


Mulyana kagum pada wajah wanita itu yang sangat cantik.


“Hei, sudah waktunya turun, yuk.” Aep memberitahu kalau tujuan mereka sudah sampai.


Mereka sampai juga, lebih pagi seperti janji mereka pada Dirga kemarin.


“Dirga sudah sampai belum ya?”


“Kau sangat khawatir pada sahabat barumu?”


“Ya, aku merasa dia sangat murung, kau lihat kan, kemarin dia tak bersemangat untuk datang ke kelas, tidak sepertimu yang berlarian seperti anak monyet. Kau sangat suka sekali sekolah ya!” Mulyana mengejek kakaknya.


“Kalau aku anak monyet, ibu dan ayahmu monyet dan kau sendiri juga monyet, adik monyet kau!” Aep kesal diejek kakaknya.


“Ya, sekarang kau lihat saja tingkah lakumu, segitu sukanya kau pada sekolah?”


“Ya tentu saja, malah aku mengincar sekolah ke luar negeri, tapi kau tahu ibu kan? kalau pun boleh dia pasti ikut dan kita akan disatupaketkan, kau akan kuliah di tempat yang aku mau dan ayah pasti akan langsung menolak kau jauh darinya, buat dia, kau itu sangat penting, untuk meneruskan ilmunya.”


“Kasihan sekali kakakku, dia sangat mencintai pendidikan, bagaimana kalau aku bujuk ibu agar kau bisa keluar negeri sekolahnya?”


“Tidak akan bisa.” Aep menolak.


“Bisa, aku akan minta ibu untuk izinkan kau sekolah ke luar negeri, dia mungkin akan ikut karena dia tak percaya padamu, tapi ... aku menemani ayah di sini, jadi pasti kalian bisa pergi ke sana, ini solusi dan bisa jadi win-win solution, Kak.”


“Kau gila! mening kau bunuh aku saja daripada ke luar negeri berdua saja dengan ibu, aku akan diperlakukan seperti bayi jika saja kami hanya berdua di sana, kau tahu kan, dia itu drama sekali kalau tentangku.”


“Aku juga heran Ep, kenapa dia selalu memanjakanmu, seperti kurang percaya kau bisa menjaga diri.”


“Itu karena tragedi kesurupan terakhir, kata ayah ibu bahkan sulit makan sampai aku sembuh. Dia merasa tidak bisa menjagaku dengan baik, mungkin tanggung jawabnya sebagai ibu sambung yang dia emban cukup berat, aku merasa terkadang ibu terlalu memaksakan diri dan berbuat tidak adil padamu.”


“Aku tidak pernah masalah, jika saja ibu terkesan lebih sayang padamu dan lebih memanjakkanmu, bagiku, kita itu keluarga, ayah dan ibu paling tahu bagaimana menakar porsi kasih sayang yang mesti mereka berikan pada kita. Itu makanya, dari kecil aku tak pernah iri biar ibu selalu membelamu, selalu merasa jauh lebih khawatir padamu dan selalu mendahulukanmu. Bahkan ketika aku hilang saja, dia percaya aku akan kembali dengan baik. Beda kejadiannya kalau kau yang hilang, mungkin dia akan langsung menyewa BIN untuk mencarimu.” Mulyana tertawa mengatakannya.


“Wah, kalian berdua romantis sekali, eh! Itu dia si Dirga.” Mereka sudah sampai kantin, rupanya Dirga sudah ada di sana, dia terlihat sedang sarapan, makna nasi goreng yang dia bawa sendiri.


“Ga!” Mulyana menepuk bahu Dirga, itu membuatnya terkejut.


“Lu tuh ya, bisa pelan nggak sih, kaget gue.”


“Kayak liat setan aja lu, pakek kaget segala.” Aep membela adiknya, Dirga memang terlihat dan terdengar kurang bersahabat, makanya dia agak aneh, adiknya sangat ingin dekat dengan lelaki ini.


“Iya, lu berdua kayak setan, dateng ga keliatan, pergi nggak keliatan.”


“Eh, elu kali yang pergi nggak keliatan, kemarin aja kalau gue nggak teriakin elu, pasti elu udah melengos jauh, pergi gitu aja.” Mulyana kali ini yang protes.


“Ya, gue ada urusan, jadi buru-buru.”


“Bilang dong.”


“Yan, elu ngelamar jadi dosen pembimbing ajah gih, repot banget urusin urusan orang.” Dirga mulai tak nyaman.


“Enak aja, yang gue urusin cuma keluarga gue dan sekarang elu, sisanya nggak terlalu peduli gue.” Mulyana memesan teh manis panas dan roti bakar dari seorang pelayan yang kebetulan lewat, Aep pun sama.


“Ngapain dah elu urusin gue?” Dirga berhenti makan dan mulai kesal.


“Kemarin gue nabrak elu, trus elu kayak langsung nggak suka gitu ama gue, gue ngerasa bersalah lah, makanya gue mau tebus perkenalan kita yang kurang baik.” Mulyana membuat alasan, padahal masa depannya yang dia lihat, itu sungguh menarik.


“Elu tuh semacam lelaki nakal yang tidak suka pamornya menjadi jelek ya, jadinya butuh sanjungan, ada kesalahan dikit langsung buru-buru pengen perbaiki.” Tajam sekali mulutnya Dirga.


“Kalau bagian kalau ada salah dikit buru-buru pengen perbaiki, gue setuju, tapi kalau lelaki nakal, kayaknya enggak deh.” Mulyana mencoba menampiknya.


“Udahlah, elu nyuruh gue dateng pagi kenapa?” Dirga bertanya, dia penasaran karena Mulyana terus menempel padanya sejak kemarin.


“Lu kenapa masuk jurusan Ekonomi? Bokap lu pengusaha?” Mulyana tiba-tiba bertanya.

__ADS_1


“Bukan pengusaha yang besar, justru gue disuruh belajar ekonomi biar bisa buat usahanya jadi besar.”


“Tapi elu sebenarnya maunya jadi Polisi ya?”


Dirga terdiam, nasi yang hendak dia sendok urung diantar ke dalam mulutnya.


“Ba-bagaimana kau tahu kalau aku ingin jadi ... Polisi!” Dirga terkejut dan wajahnya sangat mewakili hal itu.


“Hanya menebak.”


“Nggak Yan! nggak mungkin kalau tebakan itu akan setepat ini! Lu kenal gue? atau kita pernah satu sekolah?” Dirga tidak percaya, Mulyana seolah lupa kalau Dirga bukan lelaki yang mudah dibohongi.


“Gini, kemarin gue liat lu masuk kelas lemas sekali, seperti tidak ada gairah, sementara semua mahasiswa terlihat sangat senang masuk kelas, semua anak kelas kita, jelas ingin masuk fakultas ini karena keinginannya. Sedang kau ... kau itu murung, kau pemarah dan sangat ingin menjauhi semua orang, artinya kau tidak nyaman di fakultas ini, kau bukan membenci kami dengan semua sikapmu, tapi kau membenci fakultas yang kau ambil dengan terpaksa.


Lalu, tubuhmu tegap, potongan rambutmu sangat rapih, bukan tipikal seperti kami anak-anak mahasiswa yang mengikuti gaya rambut jaman sekarang.


Selain gaya rambut, jaket kulitmu itu, sungguh memperlihatkan, betapa kau sangat ingin menjadi Polisi, semua penampilanmu, menunjukkan itu.” Mulyana mendekati Dirga dengan cara yang paling Dirga sukai, menganalisis.


“Itu masuk akal sih, aku memang suka pakai jaket kulit seperti intel, lalu gaya rambut ini memang ciri khas para Polisi, bagian aku tidak suka Fakultas ini juga  benar. Ayah dan ibuku menyarankan aku masuk fakultas ini, aku menolak, aku ingin masuk akademi kepolisian, tapi mereka menolak, katanya aku boleh masuk fakultas apapun selain ekonomi kalau tidak suka. Tapi tidak untuk menjadi Polisi.”


“Kenapa? ibumu trauma?”


“Kau! ini apalagi! Bagaimana kau tahu?”


“Duh Ga, ini mah lebih gampang, kalau orang paling anti pada sesuatu, pasti karena trauma, kau jangan berlebihan lah!” Aep kali ini yang membela adiknya, dia juga menendang kaki adiknya agar tidak sering keceplosan.


“Ya sih benar, ibuku trauma karena kakakku meninggal saat pelatihan, ibuku merasa menjadi Polisi bukan hal yang baik, dia takut anak bungsunya juga nanti memiliki nasib yang sama seperti kakaknya.”


“Wah kasihan sekali ibumu, pasti sedih kehilangan anak pertama.”


“Ya, ibuku memang lebih sayang kakaku, aku tidak masalah, tapi sekarang aku kena imbasnya, padahal cita-citaku dan kakakku adalah menjadi Polisi, kami bahkan janjian jika kelak aku sudah bisa ikut pendidikan kepolisian, kita akan belajar bersama, tapi sekarang, aku harus di sini, terpaksa.”


“Lalu kemarin kau ikut pelatihan kepolisian diam-diam?”


“Yan!” Aep kesal karena Mulyana lagi-lagi harus membuka sesuatu yang hanya bisa ditebak kalau kau bisa melihat masa depan, sungguh menyebalkan.


“Apa ini tebakan atas analisa juga, Yan?” Dirga tidak peduli lagi dengan tebakan itu, dia hanya percaya kalau di dunia ini, ada satu orang yang paham penderitaannya, itu membuatnay sedikit lega.


“Ya, apalagi?” Mulyana memakan roti bakar yang sudah diantar beberapa saat lalu, dia menjawab hanya asal saja.


“Ya, aku memang ikut pelatihan diam-diam, ada pelatihan non formal sebelum masuk masa pendidikan, aku hanya ingin keterpaksaan ini membuatku hancur, makanya aku mencoba tetap melakukan apa yang aku suka, jika saja kelak orang tuaku akan berubah pikiran.” Dirga terlihat sedih.


“Tenang saja, kelak kau akan menjadi Polisi yang hebat. Aku ikut pelatihanmu ya? tempatnya pasti menyenangkan.”


“Kau mau jadi Polisi juga Yan?” Dirga bertanya.


“Tidak, aku ingin melihat kenapa kau begitu ingin jadi Polisi dan bagaimana Polisi hebat ini dilatih.”


“Hah?” Dirga makin bingung, seolah Mulyana yakin Dirga akan jadi Polisi yang hebat, tapi Dirga tak terlalu menghiraukannya.


Mulyana menatap Dirga dengan lekat tanpa disadari, dia jadi ingat penglihatan kemarin, Dirga dengan seragamnya sangat gagah menolong seorang pemuda yang tampan di suatu kuburan, satu lagi yang Dirga ingat ... Rosa, nama perempuan yang disebut oleh pemuda itu.


Apakah ada yang tepat tebakannya?


___________________________________________


Catatan Penulis :


Kemarin ada yang bertanya, kok Dirga masuk Fakultas Ekonomi? Kan dia Polisi nantinya?


Pintar! Ini pertanyaan yang bagus dan aku jawab di sini ya.


Kalau kalian sadar, aku sudah coba kasih clue bagaimana Dirga sangat judes dan tidak bersemangat masuk ke kelasnya. Artinya ada yang salah dengan jurusan yang dia pilih.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2