Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 32 : Pak Roni (Lagi)


__ADS_3

Sebelum masuk kisahnya, saya mau mengingatkan bahwa cerita ini hanya fiksi ya, walau memang berlandaskan kejadian yang pernah orang terdekat Author alami, tetapi muatan kisah hanya sebuah fiksi yang Author kembangkan, jadi banyak pemahaman belum tentu benar, ada baiknya setiap orang berpatokan pada Al Quran dan juga hadist dan Yang Maha Mengetahui hanyalah Allah SWT.


_________________________


Alka dan Aditia akhirnya memantau rumah itu berdua, mereka memantau dari dekat, dibalik tembok, Alka memiliki kemampuan menyelinap yang cukup baik, karena pendengarannya lebih baik dibanding manusia pada umumnya, maka dia bisa mendengar di balik tembok dengan baik.


“Apa yang kamu dengar, Ka?” bisik Aditia.


“Ssstt ….” Alka menaruh jari telunjuk di bibirnya, maksudnya, jangan berisik.


Alka lalu bersiap ke pintu depan, dia mengajak Aditia untuk bertamu.


Alka mengetuk pintu rumah, hanya beberapa saat pintu dibuka, lalu seorang perempuan keluar, dengan pakaian rumahan, celana pendek dan kaus saja, terkesan seksi walau itu hanya baju rumahan.


“Siapa ya?” tanya perempuan itu pada Alka dan Aditia.


“Susan?” Tanya Alka.


“Si-siapa kamu?”


“Boleh saya masuk dulu?” Tanya Alka lagi.


“Ada perlu apa ya?” Perempuan itu menatap curiga.


“Soal Pak Roni.”


Susan si Sekertaris segera membukakan pintu dengan lebar dan membiarkan Alka serta Aditia masuk.


Rumah yang cukup bagus dan besar di lingkungan ini, bahkan rumah ini keliatan mencolok dibanding yang lain.


“Siapa kalian.” Susan sudah menutup pintunya dan mengunci rapat, dia sepertinya ketakutan.


“Saya utusan dari keluarga Pak Roni.” Alka berbohong.


“Kau utusan istri tua itu!” Susan kesal saat mendengarnya.


“Lepaskan Pak Roni.” Alka memprovokasinya.


“Kau tanyakan saja sendiri, apakah dia mau kembali kepada istri tuanya.”


“Tidak, aku tidak meminta tubuh itu, aku berbicara soal … JIWANYA!” Alka menggebrak meja.


“Si-siapa kau sebenarnya!” Susan merasa seperti ditangkap basah, dia tidak tahu, bahwa wanita yang terlihat muda ini, bahkan bisa menghajar dirinya dan juga antek dukunnya dalam sekali pukul.


“Pergi kalian, pergi!” Susan mengusir mereka.


“Tidak akan, sebelum kau melepasnya, aku akan membuatmu merasakan hal yang sama.” Alka mengancam.


“Kau fikir kau mampu?”


Alka mendekati Susan dengan perlahan, memegang bahunya dan menarik sesuatu keluar dari raganya.


Tubuh wanita seksi itu jatuh terkulai.


“Kau bisa apa?!” Wanita itu tertawa, tapi tidak sadar.


Alka menunjuk ke arah belakang wanita itu dengan dagunya. Seketika wanita itu melihat ke belakang, wanita itu berteriak, tapi hanya Aditia dan Alka yang mampu mendengar teriakannya, dia tidak sadar telah lepas raga.


“Aku mengeluarkan ruhmu, saat ini, kalau kau ke rumah sakitpun, mereka akan menyatakan kau koma, kau tahu, semakin lama kau mengulur waktu, maka semakin lemah tubuh komamu, bisa saja setelah kembali ke tubuh itu, kau akan sakit-sakitan, lalu dipanggil Tuhan dan merasakan siksa kubur karena kejahatanmu. Tunjukan dimana kau mengikatnya!” Alka menarik ruh itu mendekat dan berteriak.


Wanita itu ketakutan.


“Aku mencintainya, aku hanya ingin dia bersamaku, tidak kembali ke anak dan istrinya, aku bahkan telah aborsi berkali-kali untuk menutup perselingkuhan kami, tapi dia ingin membuangku! Dia pantas diperlakukan seperti ini.”


“Kau yang salah, kau sudah tahu dia punya istri, tapi masih saja bodoh mau menerimanya dan menyerahkan tubuhmu, saat dia ingin kembali kepada kehidupan aslinya, kau malah menyandera jiwanya, kau bahkan lebih buruk darinya. Saat ini, lelaki itu bertahan tanpa jiwa, dia seperti mayat hidup! Dia tidak mencintaimu, dia palsu!” Alka geram sekali.


“Aku mohon, aku akan melepasnya, tapi kembalikan dulu ruh ke badanku.”


“Tidak! Kau sekarang harus menunjukan padaku lokasi dimana kau mengikat jiwa dengan mantera itu baru aku akan mengembalikanmu ketubuh itu.”

__ADS_1


“Aku tidak bisa.”


“Terserah, kau akan aku tahan, kau fikir bisa tahan berapa lama tubuh itu tanpa ruhmu?”


“Aku mohon.”


“Tidak! Cepat beritahu aku lokasinya!” Alka memaksa, Aditia bingung dengan semua perkataan Alka, tapi dia tetap mendengarnya dengan seksama.


Akhirnya Susan berdiri, dia berjalan terus bersam Alka dan Aditia, mereka berjalan dalam kegelapan dan dimensi yang berbeda.


Hingga mereka sampai pada suatu hutan, Susan menerobos hutan itu, hutan sangat gelap, saat berjalan ada suara kaki Alka dan Aditia yang menginjak dedautan, lalu suara burung, suara auman yang datang silih berganti.


Sesekali ada sesosok yang tiba-tiba berlari mengikuti mereka, Aditia merasa terganggu, karena dia bisa merasakan, betapa menakutkannya hutan ini.


Saat sedang berjalan dengan fokus, ruh Susan terus dipegang gandeng oleh Alka, dia takut Susan kabur. Tidak lama kemudian Aditia merasa pundaknya berat sekali, saat dia menoleh.


Seorang anak kecil dengan kepala membesar dan tubuh mungil bergelantung di bahunya, Aditia memelototinya dan mengusir dengan menggerakan tubuhnya.


Alka melihat lalu fokus jalan lagi, bukan sesuatu yang membahayakan, jadi dia mengabaikannya saja.


Mereka terus berjalan, banyak gangguan tapi hanya dari jin-jin receh, yang menyerupai seperti pocong, kuntilanak dan tuyul. Mereka tahu bahwa Aditia dan Alka bukan orang biasa, jadi mereka hanya mengusili tidak berbuat jahat, tidak ada yang berani menyentuh Alka, kalau Aditia, harus beberapa kali mengusir mereka menempel pada tubuhnya.


Ditengah hutan terlihat sebuah gubuk, ada seorang kakek yang menjaga gubuk itu duduk dengan rokok di tangan, dia mengenakan celana komprang dengan atasan baju salontreng yang dilengkapi dengan sarung sebagai selempang. Khas pakaian jaman dulu yang menunjukan dia adalah rakyat jelata, mungkin dia adalah jin penjaga yang ditugaskan manusia laknat untuk menjaga mantera yang mengikat jiwa di dalam gubuk itu.


“Ki, tolong buka pintunya.” Aki-aki itu tergopoh mendekati Susan, dia terlihat kaget, karena Susan bisa melihatnya. Mungkin selama ini Susan diantar oleh dukunnya dan tidak bisa melihat keberadaan aki penjaga itu, tapi sekarang Susan datang dalam keadaan ruh tanpa tubuh.


“Eneng kenapa?”


“Tolong bukain aja.” Susan memaksa.


“Boleh, tapi Eneng mau apa?” Aki itu bertanya lagi.


“Saya mau melepas Pak Roni, jadi buka sekarang.”


“Loh, udah tahu resikonya?” Aku itu bertanya.


“Pelet apa!” Alka bertanya dengan kesal.


“Taragnyana Kunjara.” Aki itu berkata dengan kesal pula karena Alka membentaknya.


“Ah kacau!” Alka melepas Susan.


“Kenapa?” Aditia bertanya.


“Taragnyana Kunjara, pelet penyekapan, pelet yang hanya bisa dipatahkan dengan tubuh si pemilik yang meminta pelet itu dilakukan, setelah pelet itu dipatahkan, maka sebagai gantinya, rahim si pemilik pelet itu akan menjadi tumbalnya.”


“Apa!” Susan menutup mulut.


“Gimana maksudnya? Rahimnya diambil jin gitu?” Aditia masih tidak paham.


“Bukan!” Alka kesal Aditia tidak mengerti juga.


“Lalu?”


“Anak yang akan lahir di rahimnya akan gugur karena menjadi tumbal Taragnyana Kunjara. Konsekuensi karena mematahkan pelet pengunci jiwa.” Alka mengatakannya dengan ngeri, bagaimana tidak, Susan akan terancam mengalami keguguran terus menerus jika dia hamil kelak.


“Aku tidak mau, aku tidak mau.” Susan berlari hendak kabur, Alka menangkapnya dengan cambuk, kakinya terikat dengan cambuk Alka, lalu dia menarik Susan dengan kasar.


“Kau harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kau buat, sekarang waktunya kau harus berserah pada Tuhan, minta ampun dan pertolongannya, “Dit, sekarang kamu kembali ke rumah Susan, ambil sedikit darahnya dari jari tengahnya, karena bagian itulah di mana kau bisa mendapatkan darah dengan cukup tapi tidak akan mencelakainya, setelah itu bawa darahnya ke sini, kita akan mematahkan kutukannya, dengan atau tanpa persetujuanmu.” Alka menunjuk Susan dengan wajah marah.


Aditia menuruti Alka, walau dia agak ngeri mengingat perjalanan ke sini saja dia sudah diganggu, tapi dia harus melakukannya agar Pak Roni bisa normal kembali.


Butuh waktu sekitar satu jam untuk Aditia mengambil darah itu, sementara Susan menangis terus di samping Alka. Tapi Alka bukan wanita yang mudah goyah lihat tangis seseorang.


“Buka!” Alka memerintah Aki itu untuk membuka gubuk itu, begitu masuk Alka melihat kotak yang terantai ghaib.


Lalu Alka mendekati kotak itu, meminta Aditia membuka rantai ghaib itu dengan kerisnya, begitu terbuka Alka membuka kotaknya dan menemukan sebuah kertas dengan foto Pak Roni, helaian rambut yang mungkin milik Pak Roni, lalu nama lengkap dengan Binnya.


Alka meneteskan darah Susan, setelah darah menyentuh kertas mantera pelet itu, tiba-tiba kertasnya terbakar, menandakan bahwa peletnya dipatahkan.

__ADS_1


Susan menangis sejadinya, Alka melihat beberapa makhluk hitam datang, ini adalah perwujudan jin yang sudah mengadakan perjanjian dengan Susan, karena saat ini Susan lepas raga, maka dia bisa melihat jin itu, jin itu terus mendekati Susan, Susan mencoba menghalau mereka. Tapi jin-jin hitam terus menggerayangi seluruh tubuh tak kasat mata itu.


Alka menarik ruh Susan dan berjalan menerobos hutan, kembali ke rumah Susan, lalu mengembalikan ruh pada tubuhnya. Semua jin hitam itu terus mengikuti Susan, sekarang bahkan masuk ke dalam perutnya, menunggu calon jabang bayi yang akan menjadi santapan mereka kelak.


Betapa ngerinya Aditia melihat itu.


“Itu makanya, kita harus hidup dengan terhormat, cinta kok ditukar dengan perjajian kotor!” Alka terlihat emosi sekali, sisi wanita manusianya muncul.


“Kak!” Ganding, Hartino dan Jarni sampai, mereka membawa jiwa Pak Roni yang sudah mengingat semua.


“Kembali dulu ketubuh dan ruhmu, Pak.” Alka memandu Pak Roni untuk kembali ke tubuh dan ruhnya.


Di dalam kamar Alka melihat Pak Roni duduk dengan tatapan kosong, dia hidup tapi seperti linglung.


Alka menghentak tubuh Pak Roni sekali, lalu jiwa Pak Roni seperti terhisap kembali ke tubuhnya, setelah itu dia pingsan.


Alka memanggil ambulan untuk membawa Pak Roni ke rumah sakit, Susan terlihat masih kacau dan panik.


Alka meminta Hartino menghubungi keluarga yang sudah ditinggalkannya, pasti mereka menunggu suami dan ayah yang jiwanya disekap ini.


Setelah semua beres, lima sekawan ini akhirnya istirahat di Angkot Aditia yang dibawa oleh Ganding saat ke rumah Susan si sekertaris laknat itu.


Ini saatnya Alka menjelaskan semua yang terjadi, mengenai jiwa yang di tahan itu.


“Ok, aku tahu kalian pasti penasaran, kan?”


Semua mengangguk.


“Ok, mungkin kalian pernah mendengar seperti ini, bahwa tubuh kita itu bukan hanya terdiri dari tubuh dan ruh, tapi ada satu lagi yang tidak pernah dibahas secara dalam, kenapa? Karena memang hanya Tuhan yang tahu ilmu, kita mungkin diberi ilmu sedikit lagi oleh Tuhan untuk mendapatkan kejadian seperti ini sehingga bisa belajar lagi. Itu adalah, JIWA.”


“Jiwa?” Aditia penasaran, karena dia yang ikut Alka selama ini.


“Ya, jiwa. Tubuh manusia itu terdiri dari tiga komponen, satu raga, dua ruh dan terakhir jiwa. Raga adalah rumah yang manaungi ruh dan jiwa, ruh adalah dzat yang membuat benda-benda mati menjadi hidup itu dikarenakan menularkan sifat-sifat ketuhanan kepadanya. Karena memang itu kuasa yang diberi Tuhan. Dengan ditiupkannya ruh, maka sesuatu yang tadinya mati, tak bernyawa, menjadi ada atau hidup.


Lalu bagaiman dengan JIWA? Jiwa adalah dzat yang ada di dalam tubuh kita yang memiliki kemampuan untuk memilih, makanya jiwa tidak selalu lurus, karena diberi keberkahan mampu memilih, namanya manusia, kadang bisa memilih yang hak kadang malah memilih yang batil.


Sudah paham sampai sini?” Alka bertanya, sementara 4 orang lainnya serius mendengar, bahkan Hartino dan Ganding mencatat semua penjelasan Alka, persis dengan buku yang Aditia dapatkan dari ayahnya, semacam catatan perghaiban. Alka menjelaskan seperti seorang ibu Dosen.


“Lalu?” Aditia bertanya.


“Jiwa Pak Roni terlalu kotor makanya mudah untuk dikerjai, dia telah berselingkuh dari istri dan mungkin berlaku dzolim pada anak-anaknya, lalu dia mendapatkan hidayah, mencoba melepas diri dari selingkuhannya, tapi Susan tidak rela, dia tidak ingin dibuang, makanya dia melakukan praktik pelet. Namanya, Taragnyana Kunjara, pelet dengan tingkatan paling tinggi. Pelet ini bisa dilakukan melalui media barang pribadi dan makanan yang disantap sehari-hari. Melalui santapan harian yang dia dapatkan dari Susan, perlahan jiwanya terlepas lalu dari rambut dan nama lengkapnya, jiwa itu diikat, disandera.”


“Oh aku mengerti, ini menjelaskan, kenapa tubuhnya masih bisa bergerak, karena ruhnya masih ada didalam tubuhnya, karena prinsip ruh adalah, menghidupkan yang mati karena sifat ketuhanan itu. Tapi jiwanya tidak ada, kosong. Dia tidak bisa memilih seperti sifat jiwa yang Tuhan turunkan. Dia menjadi seperti orang linglung hanya hidup tanpa bisa memikirkan apapun?” Ganding bersemangat menjelaskannya.


“Ini juga menjadi alasan, kita bertiga nggak bisa lihat, sementara Kak Alka sama Aditia bisa lihat. Wah, kalian berarti memiliki kemampuan yang setingkat. Aku iri.” Hartino memuji sekaligus merasa iri.


“Ya, betul. Ini juga alasan jiwa Pak Roni tidak ingat apapun, karena jiwanya diikat oleh mantera pelet, jiwa yang harusnya bisa memilih itu, dibuat lupa lalu disiksa hingga kelak tubuh dan ruhnya mati. Sungguh malang nasib orang yang jiwanya hingga mati masih tersandera, dia bahkan tidak tahu siapa dirinya dan dia mungkin saja telah meninggal dunia.”


Semua bergidik mendengar itu.


“Tapi Kak Alka, apakah bentuk jiwa itu serupa dengan bentuk tubuh manusianya?” Hartino bertanya.


“Entah, aku juga tidak tahu Tino, yang aku paham, ruh memiliki bentuk yang serupa dengan tubuh manusianya dan melalui kejadian Pak Roni, aku jadi belajar, bahwa bentuk jiwa sama dengan tubuh dan ruhnya, hanya dzatnya saja yang berbeda, entahlah, hanya Tuhan yang tahu.”


Alka menutup penjelasannya dengan sebuah senyuman hambar, dia kelelahan dengan kasus kali ini hingga tertidur di bahu Aditia yang mengantarnya pulang ke gua rumahnya.


Sementara yang lain, dijemput mobil mewah.


___________________________________________


Catatan Penulis :


Ada yang pernah lihat seseorang yang menjadi berbeda? Mereka memiliki tatapan kosong, bersikap seperti sapi yang dicucuk hidungnya, tidak ingat keluarga karena wanita atau lelaki lain?


Aku pernah, sampai saat ini, lupa keluarga hanya karena ‘sesuatu’ mungkin jiwanya telah disandera.


Kasih tahu aku pengalaman kalian ya.


Jangan lupa vote.

__ADS_1


__ADS_2