
“Tapi kau salah, anakmu melihat saat ibunya diambil bukan? saat itu aku di sana bersama anakmu.”
“Ya, itu salahku juga yang akhirnya dikemudian hari, aku kehilangan Anggih karena kebodohanku, tidak sadar bahwa yang diincar bukan hanya istriku.”
“Anggih tiada juga?”
“Ya, Anggih tiada saat ....”
...
BEBERAPA JAM SEBELUMNYA
“Kau akan membawa mereka ke sana kan?” Manager hotel itu bertanya.
“Ya, aku akan membawa mereka ke rumah di tengah hutan itu, sesuai instruksimu.” Wanita petugas hotel itu berkata dengan senyum liciknya.
“Begitu kalian sampai sana, akan bertemu dengan bapak tua yang mengarang kisah soal Sak Gede, jangan lupa air minumnya, pastikan mereka meminumnya, karena itu akan melemahkan mereka.”
“Aku akan pastikan mereka akan meminumnya.” Petugas wanita itu berkata. Lalu dia masuk ke mobil untuk menjemput kawanan.
Tidak lama kawanan juga sudah ada di dalam mobil dan mereka jalan seperti yang diatur oleh Manager itu.
[Bos, mereka sudah jalan, semua sudah masuk mobil.] Seseorang yang mengintai ternyata mengikuti petugas hotel itu, ada rasa curiga juga dari Manager hotel, dia takut kalau pegawainya akan mengkhianati. Makanya dia diikuti begitu sudah keluar areal hotel untuk menjemput kawanan. Saat ini pengintai itu menelpon Manager hotel untuk melaporkan pergerakan wanita petugas hotel itu.
[Ikuti mereka, jika sudah sampai lokasi yang sudah aku kirimkan alamatnya padamu, kau harus beritahu aku, aku akan ke sana membawa lebih banyak orang dan para Balian lagi, aku akan menghabisi mereka secapatnya.]
Lalu pengintai itu mengikuti dari belakang menggunakan mobil juga, mengikuti kawanan.
Lalu akhirnya, kawanan di depan mobil pengintai itu sampai lokasi yang sudah ditentukan oleh Manager hotel setelah 4 jam berkendara, mereka ke tengah hutan itu dan akhirnya masuk ke dalam rumah yang dijadikan lokasi penjebakan,
[Mereka sudah masuk ke dalam rumah.] Pengintai kembali menelpon Manager dan mengatakan hal tersebut.
[Kalau begitu terus awasi, aku sudah dalam perjalanan membawa banyak preman dan juga para Balian yang berada di pihak kita, kau pastikan mereka tidak pergi sebelum aku datang.]
[Baik Bos, bagaimana dengan perempuan itu?]
[Aku tidak peduli, yang penting pastikan kawanan mati, perempuan itu mau hidup atau mati aku tidak peduli, keselamatan dia bukanlah tanggung jawab kita.] Manager itu menegaskan status wanita itu yang tidak perlu dilindungi.
[Baiklah, aku akan pastikan mereka tidak akan pernah keluar dari sana sebelum Bos datang.] Lalu sambungan telepon di putus.
__ADS_1
Pengintai tetap melakukan tugasnya dengan mengintai kawanan dari luar rumah.
Sementara kawanan masih mendengar dengan seksama apa yang ayahnya Anggih katakan.
“Vila itu jadi terakhir, karena awalnya tidak aku persiapkan sebagai vila, tapi aku persiapkan sebagai pura, lalu kami kaya raya, aku membangun hotel dan beberapa vila, hingga akhirnya aku setuju untuk melakukan praktek tumbal, aku akhirnya membuat vila paling besar itu, vila nomor 11, pada awalnya pegawaikulah yang diminta Sak Gede, lalu istriku yang mengorbankan diri agar Anggih tidak diambil. Tapi ... dia itu serakah, dia tidak akan berhenti sampai hebis seluruh keluargamu.
Anggih sakit keras setelah istriku tiada, aku tahu dia sedih karena ibunya tidak ada lagi, dia harus kehilangan ibunya saat masih umur yang sangat beli, aku membawanya ke Dokter, klinik, rumah sakit besar, tapi tetap saja Anggih tidak juga membaik, dia sakit seperti para karyawanku, sakit yagn sangat parah, hingga membuat Anggih jadi tidak ingin makan, tidak ingin main dan selalu bertanya ke mana ibunya.
Ini yang aku salah, karena benar, ternyata dia melihat ibunya diseret oleh Sak Gede, aku pikir dia tidak melihatnya, itu yang menjadi beban pikirannya hingga akhirnya dia sakit dan tidak dapat aku selamatkan juga.
Anggih meninggal saat ibunya bahkan sudah mengorbankan diri, aku tidak bisa menjaga mereka, baik pegawaiku, maupun istri dan anakku.
Aku terpuruk, aku mencoba untuk membunuh diriku di vila itu, tapi tidak pernah berhasil, karena vila Sak Gede tidak mengizinkanku mati, bagaimana mungkin aku sehat, sedang banyak orang mati disekitarku, termasuk anak dan istri yang aku sayangi.
Maka dari itu aku memutuskan untuk menghancurkan vila itu, atau pura yang aku bangun dengan mewah sesuai permintaan Sak Gede sebagai tempat penumbalan dan penampung jiwa-jiwa yang telah aku tumbalkan.
Tapi jangankan merubuhkannya, selama tiga hari penuh aku meminta banyak menyewa alat-alat berat untuk menghancurkan vila itu, tapi tidak pernah berhasil, vila itu kokoh berdiri dengan sombongnya, Sak Gede menunjukkan padaku, bahwa dialah yang berkuasa.
Lalu tiba-tiba ada seoran pria datang ke hotel, dia memperkenalkan diri namanya Mulyana, dia datang ke hotel dan langsung ingin bertemu denganku, aku menolak pada awalnya, tapi Mulyana malah menemuiku secara pribadi setelah sebelumnya berusaha untuk menemuiku di hotel itu tapi gagal.
Mulyana datang ke vila itu saat aku terpuruk, Mulyana bilang kalau dia punya solusi, aku bingung, karena ... tahu darimana kalau vila ini memiliki masalah ghaib, kenapa Mulyana bisa dengan jelas menceritakan semuanya.
“Kharisma Jagat,” Aditia menjawab.
“Ya, membuat perkumpulan mereka gusar, tapi karena tahu energi ini bergitu besar, akhirnya Mulyana dipanggil ke sini dengan berbagai ritual agar bisa menjangkau kota kami dan terhinda dari masalah ghaib.
Mulyana bilang kalau vila ini akan sulit dirubuhkan, tapi dia akan cari cara untuk merubuhkannya, tapi untuk sementara sampai dia sudah menemukan cara menghancurkan vila ini, Mulyana akan memagari vilanya, Mulyana akan membuat vila itu sama sekali tidak terlihat, vila itu akan menjadi vila ghaib, bahkan setan saja tak mampu melihatnya, areal vila itu hanya akan terlihat sebagai tanah lapang yang kosong.
Aku setuju, karena aku tidak punya cara lain, bahkan pada orang asing pun aku bisa langsung percaya, yang penting Sak Gede harus segera disingkirkan, bagaimanapun caranya, tidak peduli jika itu hanya dipagari, yang penting bisa membuatnya tak serakah lagi.”
“Ayahku memagarinya? Aku bahkan tidak merasakana pagar itu, karena Anto dan sekutunya telah membuat pagar itu hancur berkeping-keping hingga tak meninggalkan jejak, dasar brengsek!” Aditai geram ingat soal kesalahan orang yang sudah tiada itu.
“Lalu pemagaran itu dilakukan, Mulyana melakukan banyak upaya agar bisa memagarinya, bahkan mereka sempat bertarung, aku melihat betapa mengerikannya Sak Gede, ayahmu kewalahan, tapi dia akhirnya bisa membuat Sak Gede terkurung di pagar ghaib itu untuk beberapa waktu lamanya.
Setelah vila itu dipagari, hanya aku dan Mulyana yang bisa lihat vilanya, Mulyana menawarkanku untuk menutup mata batinku, agar aku tidak bisa melihat vila itu lagi. Aku setuju, lalu saat mataku ditutup, ajaib, vila itu hilang seketika, tak ada apapun di tanah kosong itu.
Karena ini mendadak, walau telah kurencanakan butuh waktu seminggu untuk merubuhkan vila itu dan tidak berhasil, maka dari itu aku segera menyebar rumor di kalangan pegawai hotel, bahwa vila telah dihancurkan, makanya vila tidak terlihat lagi, walau sebenarnya kita sama-sama tahu, vila itu hilang bak ditelan bumi.
Kau pasti curiga kenapa vila itu bisa tiba-tiba hilang, tapi tak ada yang berani tanya padaku bukan?” Ayahnya Anggih berkata pada petugas hotel itu.
__ADS_1
“Tentu saja kami terkejut, walau kau bilang butuh waktu seminggu untuk merubuhkannya, tapi kenapa tetap saja terasa cepat, jangankan meninggalkan puing, debu pun terasa tak nampak.” Petugas hotel itu menimpali.
“Ya, karena memang vilanya masih di sana. Setelah vila itu hancur, aku menyerahkana bisnisku pada adik saudaraku, aku menyerahkan semua keputusan hotel dan vila itu padanya, aku hanya meminta dia tidak pernah mengusik tanah kosong itu, anggap saja itu masih milikku yang tidak aku izinkan siapapun masuk ke areal tanah kosong itu.
Aku takjub dengan kemampuan Mulyana dalam menyelesaikan masalah ghaib, tapi aku tidak lagi percaya padanya, karena dia tak datang juga untuk memusnahkan Sak Gede, aku menunggunya hari demi hari sembari ketakutan kala Sak Gede akan lepas lagi dan vilanya akan terlihat.
Lalu itu kejadian, vila itu terlihat lagi, bahkan katanya ada seorang wanita yang kesurupan di sana setelah menginap bahkan belum satu malam.
Aku marah pada saudaraku, tapi dia tidak peduli, dia mengusirku dan mengatakan bahwa semua areal hotel telah menjadi miliknya, surat kepemilikan tanah dan property telah dialihkan atas namanya.
Aku tidak peduli dengan semua itu, aku hanya ingin tanah itu jangan disentuh. Tapi manusia itu memang laknat, semakin aku larang, semakin dia ingin, dia percaya bahwa tanah kosong itulah yang dulu membuatku kaya raya, tidak dapat dipungkiri dia benar.
Dan aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi, aku tidak sanggup lagi menghadapi Sak Gede, maka aku tinggalkan mereka, terserah saja, aku sudah tidak peduli.” Ayahnya Anggih mengakhiri cerita.
“Pertama, ayahku bukannya tidak menepati janji, tapi dia tidak sempat menepati janjinya karena telah meninggal dunia, kau pasti tidak tahu, belakangan aku juga baru paham kenapa pemakaman ayahku begitu sunyi, kenapa tidak ada orang yang datang, bukankah ayahku banyak menolong orang, ternyata memang kematian ayahku disembunyikan, karena ayahku adalah salah satu pemimpin Kharisma Jagat, maka kematiannya bisa menjadi polemik yang panjang, makanya kematiannya disembunyikan.
Lalu kedua, kami semua dijebak untuk datang ke sini oleh suami yang istrinya kesurupan itu, kami sudah memasukkan lelaki itu ke penjara, tapi sayang sekali, dia mati bunuh diri di penjara, kami yakin, dia dibunuh.
Sekarang kami juga sedang mencari adik dari istrinya itu, dia ditumbalkan dan sekarang kami sedang memburu tubuh dan jiwanya yang kemungkinan tersesat di alam ghaib.
Kami ke sini untuk juga untuk memenuhi janjia ayahku yang sekarang kami baru ketahui, memang jalan Tuhan tidak pernah meleset, sekarang aku paham, Ayi menyuruh kami ke sini punya tujuan yang sangat besar, dia tentu telah mendapatkan amanah dari ayahku, pun ketika ayahku telah tiada, sayang ... aku tidak pernah bertemu dengannya, setelah kematian, tapi aku merasa Ayi juga menyiratkan sesuatu atas diri Sak Gede, kita akan tahu begitu kita bertemu dengannya.
Maka sekarang yang kami perlukan adalah ....”
“Mereka masih di dalam?” Manager hotel itu bertanya pada pengintai yang masih terus mengintai rumah itu.
“Masih Bos, kita sergap sekarang?”
“Tentu saja, kita akan habisi mereka, para Balian akan menghabisi khodamnya. Sedang kita akan menghabisi mereka dengan orang-orang yang hebat ilmu beladirinya ini.” Manager itu menunjuk para anak buahnya, ada sekitar 15 orang preman yang terlihat keji dengan berbagai senjata dan ada 5 Balian yang terlihat sakti mandra guna, mereka siap untuk menyergap kawanan di rumah itu.
Manager itu mengendap dan mendekati pintu masuk rumah, dia memegang gagang pintunya, memutar gagang itu lalu setelah pintu terbuka, dia menendang pintu itu dan terlihatlah kawanan yang sedang duduk mengobrol dengan pria tua dan juga wanita petugas hotel itu.
Preman-preman itu berhamburan masuk ke dalam rumah dan mulai menyergap kawanan dengna berbagai senjata, mereka menyabet celurit, golok dan pedang pada tubuh kawanan, semua senjata itu kena, kawanan tidak siap, mereka berusaha untuk menghindar tapi tidak mampu, semua senjata itu terus mengenai tubuh kawanan, bahkan wanita petugas hotel itu juga terlihat terluka dengan parah.
Ada luka tusuk, luka sabetan celurit pada tangan dan kaki sedang luka sayatan dari pisau, para preman mengarahkan senjata dengan membabi buta, kawanan benar-benar dikeroyok.
Manager itu tertawa karena dia akhirnya berhasil membuat kawanan terluka.
Aditia melihat semua orang sudah terluka parah, dia melihat mereka dan memberikan kode pada kawanan untuk melakukan rencana cadangan yang telah mereka siapkan.
__ADS_1
Rencana itu adalah ....