Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 281 : Hilang 6


__ADS_3

Diah mendatangi pendopo Raja, mereka ditinggal berdua di sana.


“Maafkan hamba yang mulia, hamba tidak tahu kenapa bisa yang mulia sakit seperti tadi saat bersama hamba.” Diah terlihat sangat khawatir.


“Aku baik-baik saja wahai Selir yang cantik jelita. Temani aku sampai sembuh, itu saja yang aku perlukan saat ini.” Raja menarik tangan Selir dan memintanya menemani Raja hingga tertidur.


Sementara di lain tempat, Permaisuri Dahlia terlihat sangat khawatir, bukan pada Selir Diah yang sekarang berada di pendopo, tapi pada kesehatan Raja, jika Prabu kenapa-kenapa maka akan sangat bahaya, anaknya masih sangat kecil hingga tak bisa memimpin negeri ini, sebagai Putra Mahkota, anaknya belum bisa mengemban tugas Raja jika Prabu sampai kenapa-kenapa.


“Patih, sebutkan kemungkinan terburuk jika Raja sampai terluka?” Ratu Dahlia bertanya.


“Kemungkinan kepemimpinan harus diserahkan kepada adik Prabu Adi Barang, karena Putra Mahkota belum cukup umur untuk memimpin. Tapi Ratu, bukankah Raja baik-baik saja, sehingga seharusnya kita tidak perlu menghitung resiko.”


“Aku hanya sedang memikirkan scenario terburuk, itu saja.”


Patih terlihat gusar karena pertanyaan itu, dia merasa Ratu terlalu gegabah memikirkan kematian raja.


“Kita harus menangkap pelakunya, siapa yang menaruh bubuk racun pada makanan Prabu.” Ratu Dahlia ingin mengadili Selir Diah.


“Kita akan mengusutnya, saat ini semua makanan, minuman dan peralatan makan Raja sedang diperiksa, jika memang ada racun, seharusnya terdeteksi, karena Ratu sendiri yang menyiapkan semua makanan Prabu bukan?” Patih mengingatkan.


“Ya, aku sendiri yang memeriksanya, bahkan kau menyicipinya dahulu baru dihidangkan pada Raja.”


“Baiklah kalau begitu, kita tunggu dari dapur kerajaan, jika memang sudah diketemukan penyebabnya, baru kita bisa mengusutnya, siapa pelaku sebenarnya.”


“Patih, apa mungkin Dahlia melakukan itu?”


“Dia masih terlalu belia untuk melakukan praktek kejahatan seperti itu, kita sudah menyelidiki semua tentang wanita itu, dia datang dari keluarga pendukung Raja, dia juga seorang wanita muda yang jatuh cinta pada Raja, dia tidak memiliki latar belakang keluarga yang buruk.”


“Baiklah, lalu siapa?”


“Entah yang Mulia Ratu, kita harus menunggu.”


Ratu Dahlia memang wanita yang sangat menjaga kekuasaan suaminya, tapi dia bukan wanita jahat, siapa yang melakukan kejahatan itu? siapa yang tega membubuhkan racun pada makanan atau minuman Raja, seharusnya hal ini dapat segera diketahui, jika saja mereka mau melihat dan mendengar dengan baik.


TAHUN SEKARANG


“Dit, Abah Wangsa masih nggak balik?” Ganding bertanya, mereka baru saja menempati gedung baru yang masih dalam masa renovasi.


“Iya.” Aditia terlihat sangat kelelahan, dia mencari Abah dari semalam, melalui lepas raga, dia benar-benar bingung Abah menghilang tanpa jejak.


“Apa ini pekerjaan kakek kuburan anak buah Dasim?” Ganding tiba-tiba berkata begitu.


“Bukan, karena kalau Abah disekap, aku pasti tahu di mana dia berada, Karuhun memiliki bau yang khas, kami semua bisa mencium bau Karuhun milik kami, semacam radar, tapi aku bahkan tidak menemukan radarnya, berarti dia sengaja bersembunyi dariku.”


“Kenapa dia bersembunyi?”


“Kalau aku tahu, aku takkan pernah bingung begini, makanya, sore ini aku dan Alka akan mengunjungi Pak Dirga, untuk bertanya.”


“Kau … sudah memaafkan Pak Dirga?” Ganding tiba-tiba bertanya hal yang cukup sensitif.


“Mana ada anak yang tidak bisa memaafkan bapaknya sendiri Nding, Pak Dirga itu bapak keduaku, aku pasti maafkan dia, aku sudah menghubungi dari seminggu yang lalu meminta maaf karena marah padanya, hari ini aku dan Alka akan ke sana untuk silaturahmi, kau dan Jarni urus markas gedung baru kita ya, kau kan tahu, kita harus memasang pagar ghaib di banyak sudut.”


Gedung ini kelak akan digunakan sebagai cabang dari AKJ, Akademi Kharisma Jagat, menerima orang-orang yang sakit karena dikerjai, karena AKJ terlalu pribadi untuk orang-orang asing, mereka hanya ingin fokus melatih anak-anak Kharisma Jagat , sehingga orang-orang yang sakit karena dikerjai juga kadang terlantar.


Makanya Ayi mendanai gedung markas baru yang di renovasi ini untuk tempat penampungan orang-orang sakit kelak, bisa dibilang pusat rumah sakit penyakit ghaib.


Selain itu lima sekawan juga turut investasi sebagai pemilik gedung.


Waktu bertemu dengan Pak Dirga sudah sampai, Aditia telah berada di ruang tamu Pak Dirga, Aditia langsung memeluk pria paruh baya yang sudah dianggap ayahnya ini, saat sampai, Aditia melihat Pak Dirga sedang duduk di halaman bersama istrinya, bersenda gurau, Aditia merasa senang melihat pemandangan itu, setidaknya, Pak Dirga bahagia.


“Jadi apa yang begitu mendesak?” Pak Dirga bertanya, istrinya masuk ke dalam memberikan waktu dan tempat untuk Aditia, Alka dan Pak Dirga berbincang dengan santai dan leluasa.


“Soal Abah Wangsa, apa Pak Dirga tahu soal Abah, Karuhunku dan Karuhun ayah?”


“Tentu saja aku tahu, aku pernah bertemu dengan Abah Wangsa, ada apa dengannya?”


“Dia menghilang Pak, aku tidak tahu dia kemana, aku tidak dapat menemukan jejaknya, itu terlalu aneh, dia tidak pernah menghilang sekalipun, walau kadang dia pergi jika ada urusan, tapi urusannya selalu berhubungan dengan Ayi atau AKJ, tapi aku tidak mendapat kabar apapun dari Ayi atau anak buahnya, karena kalau ada tugas, pasti Ayi selalu mengabariku, walaupun abah pergi dulu, tapi kabar selalu datang belakangan, ini sudah beberapa hari Abah masih saja hilang.”


“Sebentar, beberapa tahun sebelum kelahiranmu, mungkin juga sebelum Mulyana menikah, Abah Wangsa pernah hilang untuk waktu yang lama, Mulyana mengeluh karena dia harus menyelesaikan kasus tapi Abah menghilang, Mulyana sempat mencari, tapi aku tidak tahu dia mencari di mana dan kenapa.”


“Jadi Abah juga pernah menghilan dulu? Tapi dia ke mana ya?”

__ADS_1


“Coba tanya Ayi Dit, bukankah dia Ratu kalian?”


“Tidak, aku tidak ingin membuat kegemparan lagi di AKJ, kami kemarin membantai begitu banyak jiwa tersesat, aku tidak ingin membuat masalah dulu.” Alka menimpali.


“Oh begitu, baiklah. Kenapa tidak bertanya pada gurumu?”


“Guruku?”


“Aki Dadan?” Dirga mengingatkan, karena dulu dia yang mengantar Aditia untuk berguru ke sana, saat Mulyana terluka karena ingin mengembalikan semua sifat baik Aditia, salah satu sebab kenapa Mulyana terluka dan akhirnya meninggal dunia.


“Oh ya, guruku itu, baiklah, mari kita ke sana, Ka.” Aditia tidak ingat karena memang sudah lama sekali tidak ke sana.


“Bapak ikut ya, sudah lama sekali tidak bertemu dia.” Pak Dirga ingin ikut bersama Aditia dan Alka.


“Baiklah Pak, ayo kita ke sana.”


Aditia mengendarai angkotnya, duduk di sampingnya Pak Dirga, sementara Alka berada di belakang, bagian penumpang.


Butuh waktu cukup lama untuk sampai di kediaman Aki Dadan.


Mereka datang tanpa pemberitahuan, tempat itu masih sama, begitu asri dan tidak dipugar sedikitpun, masih sangat kental dengan kesederhanaan.


Aki Dadan terlihat sangat senang dengan kedatangan Aditia dan Dirga.


“Aditia, Dirga, silahkan masuk.” Aki Dadan mempersilahkan mereka semua masuk, termasuk Alka.


Saat masuk, ternyata ada Ami cucu Aki Dadan, tentu dia masih sangat kagum pada Aditia, apalagi saat ini Aditia semakin tampan dan mempesona, dengan tinggi yang sudah cukup bertambah dan wajah yang semakin tampan. Ami takjub melihatnya, tapi Ami sedikit kesal, karena bersama dengan Aditia ada juga seorang perempuan yang jauh lebih cantik darinya, perempuan itu terlihat sangat muda dan menempel pada Aditia.


Ami memperkenalkan diri pada Alka dan mengajaknya ikut menyiapkan makanan dan juga minuman untuk para lelaki. Alka ikut saja.


“Kau ini siapanya Aditia?” Ami bertanya saat mereka sedang membuat teh hangat dan juga merebus singkong. Sebenarnya itu pertanyaan lancang.


“Calon istrinya.” Alka menjawab dengan singkat, padat dan jelas dengan wajah datar. Dia tahu wanita ini menyukai Aditia dulu, Alka hapal mukanya, dulu Alka ke tempat ini untuk menyelamatkan Aditia yang terjebak di dunia ghaib karena terbujuk panggilan anak kecil.


“Ka-ka-kau … calon istrinya?”


“Ya, aku calon istrinya.” Alka akhirnya menatap Ami dan memperlihatkan wajah cantiknya, lalu menjawab dengan percaya diri.


“Hmmm … itu … itu ….”


“Belum kan? Belum ada cincin di jarimu atau Aditia, pasti belum kan?” Ami terlihat sangat senang, berarti masih pacaran.


“Kami sengaja tidak memakai cincin kami saat bepergian jauh, takut hilang.” Alka lalu pergi membawa nampan berisi teh hangat untuk para lelaki di depan dan meninggalkan Ami dalam kekesalan yang dalam.


“Jadi apa yang menjadi alasan Aditia datang? Aki bukannya tidak suka kau datang, tapi ini terlalu aneh, karena Aki tahu, kalian sedang menghadapi banyak kasus, bukan?” Aki Dadan bertanya, Alka telah kembali ke tempatnya, dia sudah menyajikan teh hangat untuk semua orang, Ami kembali dari dapur dan membaw singkong hangat, ikut duduk mendengar obrolan, semua murid Aki diistirahatkan, ini memang sudah sangat malam, sehingga mereka bisa bicara dengan leluasa.


“Begini Ki, Abah Wangsa hilang, aku tidak tahu dia kemana, aku kehilangan jejaknya, biasanya aku masih bisa merasakan keberadaannya, tapi kali ini dia hilang, aku merasa dia sengaja menyembunyikan keberadaannya dariku.”


“Aditia mengemukakan maksudnya.”


“Abah hilang? Sebentar ....” Aki Dadan seperti menghitung sesuatu dengan tangannya. Setelah itu beberapa saat kemudian Aki Dadan terlihat terkejut.


“Kenapa, Ki?” Aditia bertanya.


“Abah memang harus pergi setiap tiga puluh tahun sekali untuk ....”


“Untuk apa, Ki?” Tanya Aditia lagi.


“Ada suatu ritual yang harus dia ulang setiap tiga puluh tahun sekali, ritual ini untuk sesuatu yang sangat besar, aku tidak bisa membicarakannya, karena harus Abah sendiri yang menjelaskan, karena ini soal ritual yang terlalu rahasia, hanya dia yang tahu untuk apa ritual ini.”


“Lalu aku harus apa? hanya menunggu?” Aditia bingung.


“Sudah berapa lama dia hilang?”


“Kira-kira sudah tujuh hari.”


“Tujuh hari, baiklah, tunggu sampai empat belas hari, jika belum kembali, aku akan membantumu mencarinya.” Aki Dadan memberi jalan tengah.


“Haruskah menunggu selama itu? bagaimana jika dia terluka dan butuh bantuan kita?” Aditia benar-benar takut Abah Wangsa celaka.


“Dia bukan khodam biasa, dia Karuhun tanah Pasundan Dit, ingat itu. Dia terlalu kuat untuk dihabisi bahkan oleh raja jin sekalipun. Tunggu sampai empat belas hari, karena seharusnya memang sepuluh atau sebelas hari dia akan kembali, ayahmu dulu menceritakan padaku tentang kepergiannya terakhir kali, hanya tujuh sampai sepuluh hari saja, makanya kita buat waktunya lebih panjang, hanya untuk jaga-jaga. Karena Abah Wangsa pasti tidak ingin urusan pribadinya diturut campuri, kita harus sabar menunggu dulu.”

__ADS_1


“Jadi memang harus menunggu dulu Ki?” Aditia mengulang pertanayan lagi.


“Ya, kita harus menunggu dulu Dit, yang sabar dan ikhlas. Kalian menginap bukan? ini sudah terlalu larut untuk kembali ke Jakarta.” Aki Dadan menawarkan menginap.


“Iya Ki, ini memang sudah terlalu larut untuk pulang.”


“Alka nanti sama Ami saja tidurnya, di kamar utama ya, kalau kita biasa ya, tidur bersama murid yang lain, mengingat masa dulu ketika kau belajar di sini ya Dit.”


“Iya Ki, terima kasih ya.”


Ami mengajak Alka untuk tidur bersama di kamar utama, kamar yang sebenarnya jarang digunakan karena semua orang akan tidur di aula utama bersama-sama.


Saat sudah di kamar, Ami memberikan bantal agar Alka nyaman tidur di kamar itu, walau Ami sangat kesal melihat betapa cantiknya Alka, sedang dia menjadi terlihat biasa saja saat di samping Alka. Bahkan para murid terang-terangan memperhatikan Alka tadi saat mereka baru saja sampai. Ami merasa tidak cantik saat di samping Alka. Tentu kalau Ami tahu, bahwa Alka memang bukan orang biasa, Alka setengahnya adalah jin dan setengahnya lagi manusia, dia memang bukan manusia biasa.


“Alka, bagaimana kau bertemu dengan Aditia? aku dan Aditia bertemu saat dia remaja, lebih lama dari kau mengenalnya.” Ami sangat percaya diri.


“Aku bertemu dengannya ....”Alka ingin menjawab saat Aditia baru saja lahir, tapi dia tidak mau dianggap sangat tua oleh Ami dan jadi merendahkannya, “aku bertemu saat setelah ayahnya Aditia meninggal dunia, aku adalah murid bapak, beliau menitipkan Aditia dan keluarganya padaku dan adik-adikkku.” Alka menjawab dengan baik.


“Oh, berarti memang kau baru mengenalnya, aku sudah lebih lama mengenal dia, Aditia memang orang yang sangat manis, dia itu dulu ketika di sini, selalu mengantarku pulang ketika malam tiba dan aku harus pulang ke rumah.” Ami berbohong, Aditia bahkan tidak terlalu perduli pada Ami.


Alka tahu itu bohong, dia mengawasi Aditia saat dia di sini, walau ketika Aditia terjebak ke dunia lain karena permintaan tolong anak kecil, Alka sedang menemani bapak karena keadaannya memburuk, saat kembali dia baru tahu Aditia menghilang.


“Ya, memang, CALON SUAMIKU memang sangat baik pada siapapun, pada adikku perempuanku saja dia baik banget, dia selalu mau mengantar adik perempuanku, namanya Jarni, dia mungkin menganggapmu adik, seperti dia menganggap adikku Jarni seperti adiknya sendiri, kau tahu lah, dia juga punya adik perempuan, jadi dia terbiasa berlaku perhatian pada perempuan yang umurnya mirip dengan adiknya.” Alka terlalu cerdas untuk dibuat cemburu, Ami malah makin panas, karena Alka mengarahkannya menjadi adik bagi Aditia.


“Selamat malam, semoga kau MIMPI INDAH!” Ami tiba-tiba berkata dengan keras dan tidur memunggungi Alka.


Alka tertawa dalam hati, anak kecil ini terlihat sekali suka pada Aditia, tapi maaf, Alka tidak bisa menyerahkan Aditia dengan mudah pada wanita manapun, selain ibu dan adiknya. Hanya mereka berdua yang mampu mengambil Aditia dari sisi Saba Alkamah.


Malam semakin larut, Aditia dan semua orang sudah tidur. Dalam tidur, Aditia tiba-tiba lepas raga, entah kenapa dia tidak bisa mengendalikan sukmanya, karena biasanya saat lepas raga, Aditia mengendalikan sukmanya sendiri, tapi ini berbeda, sukmanya seperti dikendalikan oleh seeorang dari jauh.


Sukmanya melayang keluar dari tempat pelatihan Aki Dadan, Aditia bahkan melihat tubuhnya yang sedang tidur, Alka bahkan tidak sadar hal ini terjadi, Aki Dadan juga tidur lelap. Aditia pasrah, dia ingin tahu, dibawa kemana kah, tubuhnya itu.


Sukmanya melayang makin kencang, jiwa yang tadi diombang-ambing dengan angin sepoi-sepoi, sekarang, angin itu semakin kencang menariknya entah kemana, angin itu perlahan membentuk lingkaran, mirip tornado, Aditia terombang-ambing di dalam tornado tersebut, ada petir yang bersahutan di dalam tornado tersebut, Aditia tidak merasakan sakit, dia hanya terombang-ambing saja, entah kenapa, makin lama dia makin terasa tersedot ke dalam tornado itu dan pandangannya mulai kabur, satu kilatan petir menghantam sukmanya, seketika Aditia tidak sadarkan diri, sukma itu kehilangan kesadaran.


Entah berapa lama telah berlalu, Aditia terbangun, sudah pagi, dia merasa sinar matahari menerpa tubuhnya, Aditia terbangun dan sadar, bahwa dia di suatu lapangan, dia berusaha untuk membuka matanya dengan lebar, agar terlihat ini di mana dan kenapa dia ada di luar, seharusnya dia ada di tempat pelatihan Aki Dadan.


Aditia bangun, saat bangun, dia melihat ada iringan yang mendekatinya, Aditia bingung, kenapa pakaian mereka aneh sekali, bukan pakaian yang biasa digunakan, pakaian orang jaman dahulu, pakaian seperti itu ada di buku pelajaran sejarahnya ketika SMA.


Aditia hendak menjauh, karena iringan itu terlihat semakin dekat, Aditia takut mereka akan menabraknya, tapi terlambat, iringan itu terlalu cepat dan akhirnya ... menabrak tubuhnya, tapi ... dia tidak jatuh, tepatnya tembus! Iringan itu tembus tubuhnya.


Aditia terkejut, apa dia sudah mati dan ini sudah di akhirat, tapi kok di akhirat ada matahari? Aditia jadi bingung, kenapa dia ada di sini dalam wujud ruh.


Aditia mengikuti iringan itu dengan langkah cepat, kalau dia ruh, tapi kenapa masih harus jalan, bukankah dia harusnya melayang? Aditia tidak mau banyak berpikir, karena yang perlu dia tahu saat ini adalah, di mana dia dan kenapa dia ke sini.


Saat mengikuti iringan ini, Aditia melihat begitu banyak orang dengan pakaian yang aneh, pakaian khas jaman kerajaan sunda, dulu dia belajar tentang kerajaan itu yang materinya sangat sedikit, karena prasasti yang diketemukan tidak terlalu banyak untuk menjelaskan tentang kerajan sunda ini.


Aditia terus mengikuti iringan sampai mereka semua berhenti di suatu tempat.


“Yang Mulia Raja, izinkan kami masuk.” Salah satu  pengawal berteriak meminta izin masuk. itu adalah Dorapala dengan tingkatan tertinggi, penjaga utama Raja.


“Aku izinkan.” Ada suara dari dalam, Aditia masuk ke dalam ruangan itu, ada seorang lelaki yang berwibawa dengan perempuan yang sangat cantik dan terlihat lebih muda di sampingnya.


Aditia seperti menonton film di salah satu saluran televisi rumahnya yang biasanya peran utama selalu naik naga atau capung raksasa saat melawan musuh, Aditia tertawa karena dia saat ini melihat tepat di depan matanya.


“Yang Mulia Maharaja, Raja dan Selir harus menghadiri sidang pengusutan racun yang membuat Raja sakit, sidang akan diadakan esok hari, untuk itu, Raja harus kembali ke pendopo agung, Yang Mulia Ratu sudah menunggu di sana.” Dorapala meminta Raja yang sudah tiga hari ini bersama Selirnya, hal yang sebenarnya paling tabu dilakukan di dalam rumah tangga kerjaan, Ratu sudah sangat gusar dengan begitu betahnya Raja berada di sisi Selir muda itu.


“Aku akan kembali ke pendopo agung dan menemui Ratu, persidangan itu memang harus dilakukan.” Raja lalu bersiap, beberapa dayang membantu Raja untuk bangun, Selir terlihat sedih.


“Yang mulia Raja maafkan hamba yang tidak bisa menjaga Raja dengan baik hingga bisa sakit.”


“Tenang saja selirku yang cantik jelita, ini hanya pengusutan, yang bersalah yang akan bertanggung jawab, aku yakin kau tidak akan mencelakaiku.” Raja lalu mengecup kening Selir dan dipapah untuk dibawa ke tandu selanjutnya kembali ke pendopo agung bersama dengan istri sahnya, Ratu Dahlia.


Aditia lalu kembali mengikuti Maharaja itu, dia masih belum tahu, di mana dia, di jaman apa dan kenapa dia harus meyaksikan ini semua.


Karena perjalanan seperti ini pernah dilalui oleh Ayi Mahogra ketika dia baru saja diturunkan Karuhunnya, ketika dia harus berhadapan dengan Psikiater yang mencari neneknya.


Ayo Mahogra tertarik ke jaman dahulu untuk melihat kebenaran sebuah peristiwa. Saat itu Ayi bahkan masih remaja tapi sudah harus melihat kejadian kejam yang cukup membuatnya terkejut dan mengerti, bahwa dia memiliki keistimewaan yang orang lain tidak miliki.


Apakah Aditia juga akan mendapatkan kebenaran akan sebuah peristiwa? Atau dia akan selamanya menjadi jiwa yang terjebak di ruang waktu yang salah?


Lanjut besok ya.

__ADS_1


__ADS_2