
“Kenapa Dit?” Alka bertanya, Aditia menepikan dan menghentikan laju angkot untuk menerima telepon dari seseorang.
“Ayahnya Bagus, katanya tadi Bagus sempat kritis dan jantungnya sempat berhenti berdetak selama beberapa saat, tapi untuk saat ini Bagus sudah kembali membaik.” Aditia menjawab pertanyaan Alka.
“Kepercayaan Bagus pada orang tuanya mulai pudar, kita harus bergegas.” Kawanan sudah tahu, Alka hanya memaksa dirinya untuk bekerja lebih keras lagi.
Kawanan menuju tempat yang telah Alka tandai sebagai lingkaran hitam atau pupil dari pola penyembahan Dajjal. Ruang lingkup pencarian lebih kecil, makanya mereka optimis bisa menemukan dukun itu.
Setelah dua jam berkendara, mereka akhirnya sampai pada lokasi yang hendak mereka kunjungi. Begitu sampai, Alka meminta Hartino menunjukkan hotel yang sudah dia pesan untuk mereka menginap, karena mereka perlu menaruh semua peralatan dan memastikan daerah itu bisa digapai dengan jalan kaki dari hotel yang akan mereka tempati.
Lokasinya memang sudah mengecil dari peta yang kawanan tentukan tapi tetap saja luas untuk ukuran mausia biasa, ada belasan rumah yang harus di teliti, belasan lahan kosong yang harus didatangi dan belasan jalanan yang harus ditelusuri.
Makanya kawanan memutuskan untuk menyewa hotel, sayangnya ....
“Har, ini motel, bukan hotel!” Ganding mengeluh.
“Ingat kita bukan liburan, kita sedang tugas, nggak perlulah hotel mewah.” Hartino beralasan, Ganding bukannya tidak bisa tidur di motel yang kotor dan terkenal tempat prostitusi ilegal ini, tapi dia hanya kesal karena tempat ini benar-benar dikategorikan motel bintang satu, udah motel bintang terendah pula! Makanya Ganding kesal.
“Pak tadi saya yang pesan kamar, saya Hartino.” Hartino datang ke resepsionis. Resepsionis memberikan kunci pada seorang lelaki lain dan mengantar merek ke kamar yang telah dipesan.
Mereka memesan tiga kamar. Satu untuk pasangan yang sudah menikah, Hartino dan Alisha, sisanya untuk laki-laki dan perempuan.
Begitu kamar sudah dibuka, kawanan hanya menaruh barang mereka dan bersiap lagi untuk pergi.
Mereka sudah di luar motel dan bersiap untuk mulai berkeliling, tim seperti biasa dibagi tiga kelompok untuk memeriksa setiap sudut yang sudah ada sekitar motel itu.
Aditia dan Alka memulai beberapa rumah untuk dicek energinya, mereka berdua masuk ke gang pertama, gang rumah itu padat penduduk, bahkan ada beberapa motor yang terparkir dijalanan, anak-anak berlarian bermain di sana tanpa pengawasan orang tua, mungkin sudah biasa, jadinya para orang tua merasa tidak perlu mengawasi anak mereka bermain di luar, kata kuncinya, toh setiap hari juga mereka main di luar dan selalu pulang dengan sehat walafiat.
Seolah mereka lupa ada faktor apes. Kalau faktor itu sedang mengintai, maka kemungkinan anak mereka celaka pasti ada. Lalu menyesal! Padahal mereka yang lalai dan alpa dalam menjaga anak mereka.
“Di sini padat sekali Dit, kemungkinan dia tak ada di sini, terlalu mencurigakan jika dukun itu ada di gang seperti ini, kita bergerak ke gang berikutnya ya.”
Aditia setuju dan mengikuti Alka.
Mereka masuk ke gang berikutnya, gang ini sama saja tidak ada bedanya walau lebih rapi sedikit, tapi tetap saja padat penduduk, banyak anak kecil yang dibiarkan berkeliaran dengan bebas tanpa pengasan orang tua.
Alka mendekati seorang anak yang terlihat murung, anak itu tidak bermain dengan teman-teman yang lain, Alka hanya menggunakan instingnya.
“De, kenapa? kok sedih?” Alka bertanya tanpa kata pembukaan, dia tahu kalau anak kecil tidak butuh sesuatu yang basa-basi.
“Kamu siapa?” Anak itu bertanya dengan bingung.
“Oh, kakak lagi main ke rumah saudara, kakak bingung aja, ngeliat kamu nggak ikut main trus sedih di sni.” Alka melanjutkan penjelasan, anak itu mungkin berumur sekitar enam tahun.
“Aku sedih, temanku Wina nggak ada bisa main lagi sama aku.”
__ADS_1
“Kok gitu?” Alka tersentak, hatinya mengatakan sesuatu yang berat sedang terjadi.
“Dia sakit, ibunya bilang dia nggak boleh main karena lagi sakit.”
“Wina nakal nggak?” Alka hanya menebak.
“Nggak kok, Wina itu nggak nakal, Wina itu baik, tapi Wina kadang suka loncat-loncat, makanya dibilang nggak nurut, kami suka loncat-loncat soalnya itu asik. Aku juga dimarahi mama kalau loncat, aku berhenti, tapi Wina nggak, katanya dia suka loncat, emang kenapa kalau loncat, makanya dia sering dimarahi mamanya, dibilang anak nggak nurut, nggak bisa diem. Bikin kesel.”
“Trus Wina udah nggak nakal lagi ya?” Alka bertanya. Ini juga tebakan.
“Iya, kok Kakak tahu, Wina nggak nakal lagi, tapi nggak mau main sama aku, dia di rumah aja sama mamanya, katanya Wina lebih suka main masak-masakkan di rumah, aku bilang aku mau main bareng dia, tapi mamanya ngelarang, soalnya Wina mau main sendiri aja di rumah.
Akunya padahal nggak nakal, tapi tetep aja nggak boleh main bareng Wina.” Anak itu mengeluh pada Alka.
“Kamu main dulu bareng yang lain, nanti Kakak bilangin mamanya Wina supaya bolehin Wina main lagi sama kamu ya.” setelah mengatakan itu, Alka mengajak Aditia kembali ke gang pertama yang mereka lewati.
“Kenapa kembali ke gang ini lagi, Ka?” Aditia bertanya.
“Ada yang mau aku hitung ulang.”
Alka lalu kembali memperhatikan wajah anak-anak yang berbeda, setelah mendapatkan anak itu, Alka bertanya lagi persis seperti yang tadi dia tanyakan ke anak kecil perempuan berusia 6 tahun itu.
Setelah bertanya, Alka menghampiri Aditia.
“Gimana?”
Kita ke gang ketiga Dit, karena gang pertama dan kedua sudah pasti ada korban lainnya, korbannya terus bertambah.”
“Jadi korban terus bertambam, Ka?” Aditia bertanya.
“Terus bertambah, kita ambil sampel lima gang saja Dit, habis itu baru datangi salah satunya.” Alka mempercepat langkahnya.
Gang ketiga tidak terlalu banyak anak-anak tapi tetap ada beberapa anak yang dibiarkan main di luar sendirian, Alka lalu menghampiri asal saja, menanyakan apakah ada anak yang nakal dan jadi baik, anak-anak kecil memang mudah dimintai informasi, mereka cenderung jujur, tapi kadang ada yang mengada-ngada juga.
Setelah genap mendatangi lima gang yang menjadi target Alka, Alka berbicara kepada Aditia.
“Aku akan datangi rumah Wina, aku ingin melihat bahan kopi susunya, terakhir kali Ani dan Bagus orang tuanya tidak menyimpan bahan itu karena sudah lama sekali kejadian itu menimpa mereka.”
Mereka sudah berada di depan rumah Wina, Alka mengetuk pintu rumah itu, tepat seperti yang Alka bayangkan, orang tuanya terlihat sangat pucat.
Alka tidak mau lama-lama, dia menghipnotis orang tua Wina dan mulai bertanya.
“Mana kopi susu yang sering kamu kasih ke anakmu?” Alka bertanya dengan cepat, di dalam rumah tak ada orang, hanya ada seorang anak kecil yang sedang tidur.
Mamanya Wina berjalan ke dapur dengan tatapan kosong. Dia lalu mengambil bahan yang dimaksud Alka.
__ADS_1
Alka mengambilnya, setelah itu dia dan Aditia memagari rumah itu agar setan kecil tidak lagi mampu masuk, setelahnya Alka memagari tubuh Wina, sementara waktu ini bisa menjaganya.
Hal ini juga dilakukan kepada rumah dan anak lain yang meminum kopi susu itu, benar-benar mengerikan, ternyata praktek itu masih dilakukan, korban masih banyak, bahkan di beberapa gang rumah ini.
Ini yang mampu Alka dan Aditia gapai, sedang yang tidak tergapai pasti jauh lebih tak terhitung lagi.
Sudah malam, Aditia dan kawanan memutuskan kembali ke hotel untuk makan dan istirahat sambil membicarakan tentang apa yang mereka dapatkan.
Mereka hanya memesan nasi goreng di hotel ini dan memulai meeting serta makan malam.
“Aku sudah memagari rumah dan anak yang sudah meminum kopi susu itu juga seperti yang kakak suruh Kak, kami sudah pastikan mereka sementara waktu aman.” Ganding membuka pembicaraan, walau rapat ini dilakukan sembari makan, tetap saja mereka serius, mereka harus melakukan ini karena waktu terlalu pendek untuk disia-siakan.
“Berapa anak yang kalian temukan meminum kopi susu itu?” Alka bertanya, dia juga memegang piring nasi goreng.
“Kami temukan tujuh anak.” Ganding dan Jarni melapor.
“Kalau kami menemukan lima anak.” Hartino yang kali ini melapor bersama Alisha.
“Kami juga lima anak ya, Dit?” Alka memastikan lagi, dia tidak menghitung karena fokus pada informasi yang coba dia kumpulkan.
“Iya lima anak, setiap gang yang kita masuki itu ada satu anak dan total kita memasuki lima gang.”
“Berati total ada ... 17 anak yang terkena pengaruh kopi susu itu.”
“Biadab!” Aditia kesal lagi.
Mereka selesai makan, lalu Alka dan yang lain menyetor bahan yang mereka dapatkan.
“Ini Kak, mereka semua menggunakan jenis susu yang berbeda, yang ada di rumah, tapi ... kopinya dari dukun itu.” Ganding memberikan bahan dan menjelaskan.
“Sama, aku pikir tadinya kopi susunya dalam bentuk bubuk, karena orang tua Bagus dan Ani menjelaskan tidak terlalu detail. Ternyata susunya dari rumah mereka sendiri, sedang kopinya dari dukun itu.” Alka mengambil kopi yang Ganding dan Hartino kumpulkan dari rumah para korban baru itu.
“Aku akan coba meminumnya.” Alka berkata.
“Hah? Kau anak nakal?” Aditia mengambil bahan itu.
“Dit, lebih gampang memancing salah satu setan anak itu mendatangiku karena meminum kopi susunya dari pada mencari satu-satu rumah.”
“Kalau begitu, aku saja yang minum, jangan kamu.” Aditia bertekad, dia tak ingin Alka yang celaka.
“Itu hanya setan anak kecil, Dit.”
“Alka, kau lupa efeknya? Kalau sampai kita mencelakai setan anak itu, kita bisa dalam bahaya, kau lupa itu!”
“Iya tuan muda, saya lakukan sesuai titah.” Alka lalu membuatkan kopi susu itu di gelas dan memberikannya pada Aditia. Setelah dia meminumnya, Aditia muntah-muntah.
__ADS_1
“Dit!” Alka kaget, karena di detik setelah dia meminum kopi susu itu Aditia langsung muntah-muntah, “kenapa?” Alka bertanya lagi.
“Brengsek! TANAH KUBURAN!”