
“Ada siapa memang?” Dokter itu bertanya dengan tenang, tentu melihat anak-anak seumuran dengan Jarni dan berbicara bohong adalah makanannya sehari-hari, karena kalau tidak bohong, berarti Jarni sakit, hanya itu kesimpulannya bagi Dokter itu.
“Ada teman Tante, itu dia sekarang lagi di pangkuan Tante.” Jarni tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa Jarni ketawa?”
“Iya, soalnya temanku lucu, dia sekarang naik ke pundak Tante, nggak berat Tan?” Jarni masih tertawa, Dokter itu tiba-tiba merasa tengkuknya sakit dan berat, serta bulu kuduknya berdiri, Dokter itu membenarkan posisi duduknya lalu lanjut berbicara.
“Nama temanmu siapa?”
“Aku nggak boleh kasih tahu nanti kalian tidak akan suka aku bergaul dengannya, itu kata temanku.” Jarni berkata tapi kurang fokus dia seperti sedang sembari bercanda dengan seseorang di atas kepala Dokter, tentu, kan Jarni bilang dia duduk di pundak Dokter itu.
“Kalo Tante, tidak akan terkejut, soalnya Tante udah biasa, kita bisa berbagi rahasia, kita bertiga.” Dokter itu ingin Jarni merasa dia ada di pihaknya, makanya dia membujuk.
“Hmm, tidak Tante, teman bilang dia tidak mau siapapun tahu, termasuk Tante.” Jarni masih menatap ke arah kepala Dokter.
“Baiklah, tapi bisa kasih tahu Tante kan, kamu ketemu temanmu di mana?”
“Di sekolah, dia lagi main ayunan, aku temenin deh, abis itu dia mau ikut terus.”
“Dia tidak punya orang tua dan rumah? Kok ikut kamu terus?”
“Kamu nggak punya orang tua dan rumah?” Jarni seperti bertanya kepada sesuatu di atas kepala Dokter.
“Dia bilang enggak tuh Tan, kenapa kok tanya?” Jarni bingung.
“Karena, setiap orang itu pasti punya orang tua dan rumah.”
“Oh gitu Tan, tapi kok, Tiara nggak punya orang tua? rumah juga enggak.” Jarni terlihat bingung.
“Siapa itu Tiara?”
“itu loh Tan, anak yang suka bawa karung sama adiknya, dia suka main di dekat bak sampah depan rumahku, kata mami dan papi, Tiara nggak punya orang tua dan rumah, makanya mami sama papi masukin mereka ke mana gitu, tempat anak-anak ngumpul, tempatnya mami dan papi.” Maksudnya adalah panti asuhan milik keluarga Jarni.
“Oh Tiara itu anak asuh keluargamu, ya?”
“Anak asuh?”
“Ya, anak yang dibantu diasuh karena tidak memiliki orang tua.” Dokter menjelaskan.
“Kamu mau aku asuh? aku akan minta papi buat asuh kamu, mami juga boleh, kamu mau?” Jarni masih bertanya pada sosok yang tidak terlihat itu.
“Jarni tidak boleh sembarangan meminta orang untuk diasuh, kalau dia punya orang tua gimana?”
“Kan tadi dia bilang nggak punya orang tua, Tante.”
“Apa teman ini selalu ada bersamamu? menolongmu saat kesulitan?”
“Teman selalu ada kok, suka nolongin juga.”
“Nolonginnya dalam bentuk apa?”
“Dalam bentuk? bentuk apa? bulat? Kotak?” Jarni yang masih berumur lima tahun tidak mengerti perkataan Dokter.
“Maksudku, nolongin kamu apa?”
“Oh, nolongin kalau misal Bibi suka marah, terus mukul aku, teman bantuin aku, bibi jadi pingsan deh.” Jarni tertawa.
“Bibi jadi pingsan?”
“Iya, soalnya teman jatuhin vas bunga ke atas kepala bibi, trus kena kepala bibi deh, bibi pingsan, ayah bawa bibi ke rumah sakit, makasih ya, kamu udah nolongin aku.” Jarni berkata pada sosok itu yang masih di pundak Dokter.
“Bibi itu siapa?” Dokter bertanya.
“Bibi itu, kakaknya papi, dia bawel, belum menikah, sukanya marah-marah terus, aku nggak boleh ini, nggak boleh itu, cuma teman yang belain aku.”
“Baik, kalau begitu, ini permen buat Jarni, terima kasih ya, sekarang Tante mau ngomong sama ibunya Jarni.”
“Satu lagi permennya Tante, buat teman.” Jarni minta permen satu lagi, lalu permen itu diberikan lagi kepada Jarni.
“Terima kasih ya, sini turun, yuk kita pulang.” Jarni memerintah sosok yang ada di pundak Dokter untuk turun dari pundak itu, setelah Jarni keluar pintu, Dokter itu memegang pundaknya, memang terasa lebih ringan sih, tapi dia tetap tidak percaya, ini pasti karena permainan pikiran, menimbulkan gejala yang dikatakan sebagai refleksi rasa percaya pada apa yang dikatakan oleh Jarni, karena berusaha percaya memang sosok yang dikatakan Jarni itu ada, makanya apa yang Jarni katakan terasa nyata, itu yang Dokter yakini, makanya pundaknya terasa berat tadi dan sekarang ringan.
“Apa yang terjadi pada anak saya, Dok?” Maminya Jarni sudah di ruangan Dokter lagi, sementara Jarni kembali bermain di ruang kaca.
“Kita belum bisa menyimpulkan, harus beberapa kali pertemuan.”
“Jadi saya harus apa Dok?”
“Mari kita lakukan dua kali pertemuan setiap minggunya, setelah pertemuan ke enam, saya mungkin sudah bisa mendiagnosanya.”
“Baiklah kalau begitu, saya mohon tolong anak saya ya Dok, saya dengar Dokter adalah Psikiater yang menyembuhkan banyak anak dengan gangguan jiwa, tolong anak saya ya, Dok.”
“Yang menyembuhkan bukan saya, tapi Tuhan dan juga anak itu sendiri, peran orang tua juga sangat penting, jangan biarkan anakmu sering sendirian, temani bermain, hingga dia tidak lagi perlu memiliki teman khayalan.”
Maminya Jarni mendengar itu merasa sangat bersalah, memang dia selama ini sibuk dengan semua pekerjaan rumah, walau dia tidak mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, tapi dia mengawasi hampir dua puluh pelayannya, karena rumah mereka yang sangat besar, makanya bermain dengan Jarni menjadi sesuatu yang jarang dia lakukan.
“Baik Dok.”
__ADS_1
“Oh ya satu lagi, apakah benar bahwa orang yang Jarni sebut bibi telah tertimpa vas bunga”
“Oh itu … hmmm, sebenarnya itu … Jarni yang menjatuhkan vas bunga itu ke arah bibinya yang sedang lewat, vas bunga itu ada di balkon dekat kamarnya, beberapa Pelayan melihat Jarni yang menjatuhkan vas bunganya. Tapi kami berusaha menutupi itu dari bibinya, agar tidak ada pertengkaran, karena kakaknya suamiku itu cukup … cukup galak dan tegas.”
“Tapi saya mendapatkan cerita yang berbeda dari Jarni, baiklah saya akan masukan itu sebagai informasi tambahan.”
“Maksudnya informasi tambahan?”
“Saya harus menambahkan informasi, selain delusi, dia juga menjadikan orang yang dia ciptakan sebagai tersangka kejahatan atas apa yang dia lakukan, itu artinya dia menimpakan kesalahan pada orang lain, ini adalah ciri-ciri … apakah Jarni juga mengalami perubahan prilaku?”
“Perubahan prilaku seperti apa?”
“Misalnya tadinya ceria menjadi murung, tadinya suka bermain menjadi senang menyendiri, perubahan seperti itu.”
“Oh, kalau hubungan dengan orang, tidak ada yang berubah, dia ramah, periang dan suka menolong, tapi ada satu yang berubah, dia jadi tidak mau mendengarku, perintah-perintahku selalu dia abaikan, dia lebih banyak tertawa dan bercanda dengan teman khayalannya itu.”
“Baik, berarti perubahan prilaku juga akan masuk dalam catataanku Bu, saat ini sudah selesai, sampai jumpa tiga hari lagi, tapi sesi selanjutnya aku akan lebih banyak bicara dengan Jarni secara personal, untuk hari ini sampai di sini dulu.”
Lalu setelah itu ibunya Jarni pamit pulang, seperti janjinya, mereka berdua makan di suatu restoran mewah dekat rumah sakit.
“Wah sushi, sushi, sushi, aku suka sushi.” Jarni bernyanyi-nyanyi kecil, makanan kesukaan Jarni memang sushi, tapi sushi matang, dia kurang suka sushi yang mentah, untungnya di Indonesia, banyak sushi yang disajikan bersama dengan daging matang, mengikuti selera orang Indonesia.
“Mau yang ikan mentahnya, Mi.” Jarni berkata.
“Kok mentah? Kan, Jarni nggak suka bau ikan mentahnya.”
“Ini buat teman, katanya dia suka baunya.”
Maminya lemas mendengar itu, tapi Dokter bilang, dia tidak boleh terlalu frontal menyangkal keberadaan teman khayalan Jarni, itu akan membuat jarak antara dia dan anaknya, itu bukan hal yang baik.
“Nih.” Ibunya memberikan sushi daging mentah itu pada Jarni, Jarni menaruhnya tepat di sampingnya, sambil menyuruh ‘temannya’ untuk makan.
Ibunya hanya diam saja, menahan rasa takut akan anaknya yang mungkin saja sakit jiwa.
Setelah selesai makan, ibunya Jarni membayar makanannya, lalu setelah itu dia mengajak anaknya untuk pulang, belum sampai pintu keluar, dia baru sadar, bahwa dompet kosmetiknya ketinggalan, tadi dia keluarkan saat setelah selesai makan untuk menambah lipstick di bibir, karena biasanya lipstick tidak bertahan kalau terkena minyak makanan.
Maminya Jarni lalu buru-buru kembali ke meja makan tempat tadi dia makan dengan Jarni, dia melihat dompet itu lalu mengambilnya, saat memasukkan dompet ke dalam tasnya, dia sekilas melihat piring makanan yang selalu Jarni bilang untuk temannya itu, piring makanan itu … kosong, padahal tadi saat dia membayar, piring itu masih ada, apakah pelayan sudah membereskannya, tapi kenapa piring kosong yang lain masih ada.
Dia menatap anaknya yang sedang tertawa-tawa sendiri, tapi dia menepis pemikiran gila itu, dia tuntun tangan anaknya dan pergi menuju mobil yang sudah ada di lobby.
“Jarni, besok-besok ketemu Dokter lagi mau ya?” Ibunya berkata, mereka sudah di mobil menuju rumah.
“Oh, dia Dokter, kirain siapa.”
“Iya, dia Dokter Nak, Jarni suka nggak ngobrol sama tante Dokter?”
“Ya sudah, nanti kalau Dokter tanya apa aja, Jarni jawab yang baik ya.”
“Iya Mami, tapi … Jarni sakit apa? kok ke Dokter?”
“Nggak kok, nggak sakit, Jarni itu lagi kontrol aja, kayak Mami sama papi kalau control bulanan ke Dokter, kan, Jarni suka temani tuh, ingat nggak?”
“Oh yang kalau Dokter ambil darah Mami itu?” Maksudnya cek darah, tapi Jarni belum mengerti, ibu dan ayahnya memang selalu rutin general check up.
“Iya semacam itu Nak.” Ibunya mempersingkat penjelasan.
“Jadi nanti darahku diambil juga, Mi?”
“Hmm, kalau kamu nanti tidak diambil darahnya, hanya ngobrol saja dengan Dokter.”
“Oh gitu, iya Mi, tapi teman boleh ikut ya?”
“Hmm.”
Mobil melaju dengan kecepatan aman, mereka sampai rumah lalu ibunya mulai menemani Jarni main di kamar bermainnya setelah mandi dan mengganti baju anaknya itu.
…
“Jadi apa kata Dokter?” ayahnya Jarni bertanya, mereka berdua sedang di kamar, sudah jam sepuluh malam, waktu-waktu seperti ini barulah dua orang tua ini bisa membicarakan masalah mereka.
“Saat ini belum ada kesimpulanlah, baru sekali pertemuan, katanya harus enam kali pertemuan, seminggu dua kali kita konsultasi dengan Dokter itu, setelah enam kali pertemuan itu, barulah akan timbul diagnosa.”
“Kau yakin perlu melakukan ini?”
“Yakin, kau ingat kejadian kakakmu kecelakaan karena kejatuhan vas bunga dari balkon?”
“Ya, beberapa hari yang lalu itu, kenapa?”
“Dokter bilang Jarni menyalahkan orang lain untuk menutupi hal buruk yang dia lakukan, dia tidak jujur. Prilakunya juga berubah, dia jadi lebih tidak nurut padaku, lalu terakhir dia delusi dengan mengatakan bahwa temanya itu selalu bersamanya, dari satu pertemuan saja sudah bisa menyimpulkan tiga hal itu, ini tidak baik jika kita memilih tidak perduli, Pi.”
“Tapi Mi, kalau saingan bisnis kita tahu soal ini, Papi takut, sakit Jarni akan digunakan untuk menjatuhkan kita, apalagi dia pake ke Psikiater segala.”
“Papi! apa pemikiran orang lain tentang keluarga kita lebih penting dibandingkan kesehatan mental Jarni?! mana yang lebih malu? anakmu ke Psikiater atau anakmu gila!”
“Kau terlalu berlebihan mengkhawatirkan keadaan Jarni, seharusnya kau juga lebih becus mengurusnya.”
“Apa maksud Papi? maksudmu aku tidak bisa mengurus anakku dengan baik?” ibunya Jarni meninggikan suara, hal itu membuat ayahnya ikut emosi.
__ADS_1
“Kau marah karena kau mengkhawatirkan bisnis kita, sedang kau, lebih khawatir pada debu-debu di rumah ini dibanding dengan anakmu, kau lebih khawatir tata letak hiasan rumah dibanding kesenangan anakmu, kau lebih ….”
“Iya, iya aku salah! makanya aku berusaha memperbaiki itu semua, aku berusaha agar Jarni jadi lebih baik, sedang kau? kau tidak perduli pada kami, yang kau perdulikan hanya bisnismu saja!”
“Aku sudah muak dengan ocehanmu, terserah kau saja, memang kau bisa hidup tanpa kemewahan ini semua!” Ayahnya Jarni lalu keluar dari kamar, dia tidak ingin tidur bersama istrinya dalam keadaan marah seperti saat ini.
Saat dia keluar dari kamar, dia melihat Jarni sedang menatap ke arahnya, Jarni menatap ayahnya dengan tatapan marah.
“Sayang, kok di sini, nggak tidur?” tanya ayahnya.
Jarni tidak menjawab, dia mendekati ayahnya, matanya membesar karena marah, entah kenapa, hal itu membuat ayahnya sedikit ngeri dengan ekspresi Jarni.
“Jangan ganggu mamiku!” Jarni berkata dengan pelan tapi cukup penekanan.
“Nak, Papi nggak ganggu mami, kami hanya sedang berdiskusi.”
“Kau bohong!!!” Jarni histeris, dia memukul ayahnya, ayahnya kewalahan menghindari pukulan Jarni, dia akhirnya jatuh.
“Jarni berhenti Nak, berhenti!” Ibunya menarik Jarni yang menendang dan memukul ayahnya tanpa henti sembari berteriak histeris.
“Jangan kau ganggu mami atau kuhabisi kau!” Jarni berteriak lagi.
Ayahnya melihat itu kaget, dia benar-benar terkejut, baru kali ini Jarni histeris, dia anak yang manis, cenderung penurut dan ramah, tapi kenapa prilakunya berubah.
“Jarni sayangnya Mami, tenang Nak, tenang.”
“Aku nggak suka dia ganggu Mami, aku nggak suka!” Jarni histeris lagi.
“Tapi Mami nggak apa-apa Nak, kami hanya berdiskusi.” Maminya membujuk, Jarni perlahan tenang dan akhirnya tertidur.
Setelah Jarni tidur, ibunya kembali ke kamar, sudah ada ayahnya Jarni di sana, dia masih terlihat shock, baru kali ini melihat suaminya seperti … ketakutan.
“Sudah kubilang, kita butuh bantuan ahli, bukankah aku sudah memberitahumu, Jarni berubah, ada yang berbeda darinya, bahkan aku terkadang menjadi tidak mengenalinya lagi, anak mungilku yang manis.” Ibunya Jarni sedih, dia mengusap air matanya.
“Tapi, ini berbeda, aku seperti melihat, melihat orang lain, suaranya bukan suara Jarni, dia mengamuk dan ketika dia memukul serta menendangku, sangat terasa sakit, seperti bukan anak umur lima tahun yang memukulku.”
“Makanya, keputusanku untuk membawanya ke Dokter tepat bukan?”
“Ya, kita harus membawanya ke Psikiater, lakukan apapun untuk meyembuhkannya, pilih Dokter terbaik, aku tidak perduli dengan biayanya.”
“Aku sudah melakukannya, bahkan sebelum kau terpikir hal itu.”
…
Enam pertemuan sudah dilewati Jarni, dia sangat nyaman dengan Dokter itu, bercerita dan tidak pernah dimarahi karena dianggap aneh, membuat Jarni dekat dengan Dokter itu.
Setelah enam sesi pertemuan, atau minggu ketiga konsultasi, akhirnya hari ini adalah jadwal diagnosa diinformasikan oleh Dokter, ayah dan ibu Jarni datang bersama.
Jarni seperti biasa, dia main di ruang kaca.
“Baik, setelah kita interview selama enam kali pertemuan ini, maka semua yang saya butuhkan untuk menegakkan diagnosa sudah saya dapatkan,” Dokter itu menghela nafas, “mungkin ini akan menjadi kabar buruk untuk kalian.”
Ibu dan ayahnya Jarni berpegangan tangan, mereka ingin saling menguatkan.
“Tanda-tanda yang diperlihatkan oleh Jarni sungguh sangat konsisten, dia selalu mengatakan hal aneh dan ngomong sendiri, wujud dari delusi, lalu prilakunya berubah, dari anak patuh menjadi anak yang selalu marah, dia berbohong dan menyalahkan orang atau sosok lain untuk menutupi keburukannya, tidak ragu mencelakai orang lain, termasuk orang tuanya sendiri, sulit tidur, seperti yang selalu kalian katakan, Jarni akan mengetuk pintu kamar kalian pada tengah malam dan tidak bisa tertidur sampai pagi, terakhir, dia tidak perduli pada orang lain, yang dia perdulikan dirinya dan teman khayalannya saja.
Grafik kesehatan mentalnya sangat tidak stabil, maka dari itu, diagnosa saya adalah, Jarni kemungkinan menderita Skizofrenia.”
Maminya Jarni lemas, seketika dia jatuh lunglai walau tidak pingsan, sedikit banyak dia tahu penyakit apa itu.
“Apa itu tepatnya, Dok?” ayahnya Jarni bertanya, karena dia pernah dengar penyakit itu tapi tidak tahu tepatnya.
“Baik, Skizofrenia adalah penyakit mental, dimana seseorang kesulitan membedakan kenyataan dan tidak, kekacauan fikiran ini biasanya dalam waktu yang panjang, semua gejala yang Jarni tunjukan sangat signifikan mengarah pada penyakit itu.
Delusi, perubahan prilaku, sulit tidur dan cenderung pemarah.”
“A-anak saya, tidak gila kan, Dok? Di-dia baru berumur lima tahun Dok.”
“Makanya ini kabar baiknya, kalian segera membawa anak ini karena aware dengan gejalanya, banyak kasus terlambat penanganan karena orang tua cenderung melakukan pemakluman pada gejala-gejala itu, memang penyakit ini bisa terdeteksi begitu anak berumur 5 tahun ke atas.”
“Apa yang harus kami lakukan Dok?” Ayahnya bertanya.
“Kita akan mulai melakukan pengobatan sedari dini.”
“Dengan cara?”
“Minum obat.”
Dokter meresepkan obat yang akan dikonsumsi oleh Jarni, maka gerbang neraka Jarni mulai terbuka, gerbang yang membuat tubuh dan mentalnya akan terluka dan makin sakit jauh lebih dalam.
Lanjut next part ya Bun.
Terima kasih jangan lupa Vote kami, oh ya, like dan coment juga ditunggu loh.
Oh ya, kemarin lupa loh upload visualnya padahal udah janji, beneran lupa, jadi hari ini ya release visualnya, ini dia :
Jarni (The Sacred Riana)
__ADS_1