
“Ya, kemungkinan Tinung bermaksud menyerap keberuntungan anak-anak itu. Anak-anak itu laHIR di hari rabu, rabu menunjukan angka 7 dalam paririmbon sunda artinya keberuntungan. Maka niatnya pada bayi-bayi tersebut jelas, mengambil energi baik yang membawa keberuntungan.”
“Kalau memang niatnya itu, berarti saat ini Tinung benar-benar dalam energi yang sangat hitam, lalu untuk apa Tinung mengambil energi baik dari bayi-bayi itu hingga membuat bayi itu meninggal dunia?” Hartino bingung.
“Untuk ... hidup kembali?” Alisha mengemukakan pendapat yang paling gila.
“Lais, kalau memang tujuannya hidup kembali, maka seharusnya selain butuh keberuntungan itu, dia juga butuh tubuh untuk menumpangkan jiwanya, berarti ada yang membantu Tinung dalam mencapai tujuan. Baiklah, sekarang aku tahu, kalian semua tetap di sini, kaji kembali sejarah pemilik rumah ini, dukun dan keluarganya, mereka yang memiliki anak bernama Tinung bukan? sementara aku dan Aditia akan mengantar wanita yang akan memeriksakan bayinya di rumah sakit kota, kami perlu memastikan apakah wanita itu akan melahirkan anak dengan tanda lahir di wajah, karena kalau iya, bayi itu akan memancing Tinung datang, saat itu, kita akan menangkapnya. Kali ini jelas, kita takkan membujuknya ‘pulang’ tapi kita akan menangkapnya, kita akan pulangkan dia dengan paksa.” Alka memberi perintah, sementara yang lain akan mengikuti perintahnya.
Alka dan Aditia sudah di dalam ambulans bersama dengan ibu hamil yang baik-baik saja, Mbah Nuraeni ikut untuk mengantar mereka, karena dia juga yang menyakinkan ibu hamil itu untuk mau di USG.
Butuh waktu beberapa jam untuk sampai ke rumah sakit itu, begitu sampai, Alka sudah mempersiapkan semuanya, jadi wanita itu tinggal masuk bertemu Dokter agar bisa langsung di USG.
USG yang disediakan di rumah sakit ini adalah, USG empat dimensi, dimana bayi dalam kandungan bisa dilihat dengan lebih jelas.
Dokter bersiap, dia lalu memeriksa bayi itu dengan alat USG yang sangat canggih. Setelah selesai Dokter berkata bahwa bayi itu sehat, detak jantungnya normal, lingkar kepala dan juga organ semua baik-baik saja. Dokter juga sudah memberitahu perkiraan waktu kelahiran, sekitar dua minggu lalu.
Setelah selesai Nuraeni dan juga wanita hamil itu keluar duluan untuk kembali ke mobil ambulans, sementara Alka dan Aditia masih tinggal, mereka akan bertanya hal yang lebih mendalam lagi.
“Gimana Dok?” Alka bertanya, Dokter ini adalah kenalan Hartino, Hartino sudah menghubunginya untuk membantu Alka, Dokter ini anaknya juga memiliki kemampuan melihat dunia lain, makanya dia bersedia membantu setelah diceritakan oleh Alka melalui telepon apa yang sebenarnya sedang mereka selidiki.
“Ada tanda lahir pada bayi itu diwajahnya, samar dan sulit sekali terdeteksi, tapi jelas ada tanda lahir itu, lihat ini, ada permukaan yang agak menonjol di wajah bayinya, berarti kemungkinan tanda lahir itu ada di sana.” Dokter itu memberikan asumsinya melalui foto USG yang diperbesar.
“Berarti benar bayi itu kemungkinan lahir dengan tanda lahir di wajah.” Alka bergumam.
“Ya, itu benar, ada satu lagi yang aneh, bayi itu bergerak terlalu lemah, detak jantungnya bagus, semua organ dalam juga bagus, tapi gerakan bayi itu lemah sekali, aku bahkan tidak tahu fenomena macam apa ini.” Dokter itu bingung.
“Kalau dia lemah, kemungkinan sedari janin, bayi itu telah didekati, makanya dia lemah walau semua tanda vitalnya bagus Dok.” Alka memberi jawaban.
“Ya, bisa saja.”
“Kalau begitu, lahir di hari rabu dan tanda lahir itu, kemungkinan adalah perbuatan Tinung, dia sengaja mendekati ibu hamil untuk memastikan bayi yang akan menjadi korbannya lahir dengan selamat, hingga waktu yang dia tentukan untuk mengambil energinya.”
“Alka, kau harus menolong ibu itu, kasihan sekali para ibu yang kehilangan anaknya.” Dokter itu terlihat muram, dia mungkin teringat anaknya yang ditolong oleh Hartino dulu sehingga anaknya bisa hidup normal.
“Ya, saya akan berusaha Bu Dokter, bantu kami doa ya.” Alka dan Aditia lalu pamit, mereka ikut naik ambulans lagi dan pulang kembali ke desa itu.
...
“Kita sudah mencari tahu banyak informasi, tapi kenapa informasi mengenai kematian dukun itu terlalu kabur, kalian ada yang dapat informasi tentang dukun itu? bukankah katanya dia sangat ingin mampu hidup sangat lama, lalu kenapa kematiannya begitu samar? Tidak ada warga yang benar-benar tahu kematiannya.” Ganding membuka diskusi sementara Alka dan Aditia masih belum kembali.
“Iya Nding, ini yang aku juga bingung, Tinung jelas tubuhnya dibakar, lalu semua penduduk sebelumnya katanya memukuli ayah dan ibunya Tinung sampai tewas, tapi jelas, tak ada jasadnya, tak ada jasad orang tua Tinung, karena setiap warga yang kami tanyakan, bahkan sampai warga yang paling sepuh pun, mereka tidak tahu pasti dimana orang tua Tinung dikuburkan.” Hartino juga bingung.
“Jadi kalian curiga dengan dukun itu? ayahnya Tinung?” Alisha bertanya.
“Ya, aku pikir, mungkin saja bahwa ....” Hartino menahan perkataannya.
“Ayahnya masih hidup?” Alisha menyambung perkataan itu.
“Ya, bisa jadi memang ayahnya yang masih hidup, dia bermaksud untuk membuat anaknya hidup kembali, sedang semua energi jahat sudah berkumpul untuk memanggil jiwanya kembali, agar jiwa itu bisa masuk ke tubuh baru, maka, perlu energi baik dari bayi-bayi itu bukan?” Ganding bergidik mengutarakan teori yang cukup mengerikan itu.
“Kalau dukun itu berhasil membangkitkan anaknya lagi, maka tubuh yang digunakan sebenarnya masih hidup, sedang jiwanya dipaksa keluar, lalu ditawan, sedang anaknya Tinung menempati rumah baru sebagai tubuhnya.
Maka korban akan terus saja berjatuhan, karena tubuh yang ditinggalkan jiwanya perlahan akan melemah walau diisi jiwa baru, untuk membuat tubuh itu baik-baik saja, Tinung perlu mengambil energ-energi bayi itu. Maka kematian bayi di desa ini, tidak akan berhenti walau Tinung telah hidup kembali dalam tubuh orang lain.” Alisha juga jadi takut, karena walau dia bukan orang yang baik, membunuh bayi-bayi tidak berdosa adalah hal yang sangat jahat dan perbuatan biadab.
Hartino memperhatikan bagaimana Alisha menelisik lebih dalam asal-usul Tinung, dalam hatinya dia memuji Lais yang tentu saja sebenarnya adalah Alisha. Hartino merasa Alisha sangat cerdas dan mulai menerima dirinya bergabung di tim ini.
__ADS_1
“Kita tunggu kakak, karena kita harus mulai bergerilya mencari dukun itu, pasti dukun itu masih di desa ini.”
Semua setuju, sementara itu Jarni tiba-tiba bangkit.
“Kenapa?” Ganding bertanya.
“Kita masak yuk, Lais?” Jarni semangat sekali mengajak Lais masak.
Semua tertawa, karena Jarni jadi suka sekali masak bersama Alisha.
Jarni dan Alisha akhirnya ke dapur untuk masak, mereka sepakat akan goreng bakwan dan juga masak sayur asem ditemani ikan teri, makanan yang menambah suasa desa ini semakin asri.
“Lais, kalau goreng bakwan pake suhu-suhuan nggak? atau kita bisa mengecek tingkat kematangannya dengan pisau saja?” Jarni bertanya, sementara Alisha sedang mempersiapkan sayuran untuk dijadikan sayur asem.
“Nggak perlu, kalau warnya udah kecoklatan, dibalik aja Jar, itu mah pake perkiraan aja, nggak perlu kayak goreng ayam.”
“Oh gitu Lais. Ok, aku akan perkirakan.” Jarni kembali serius menghadapi bakwan yang sedang digoreng itu.
“Jar, kamu pacaran ya sama Ganding?” Alisha bertanya.
Jarni terdiam, tapi dia merasa tidak ada salahnya kan, untuk berkata apa adanya, mereka kan kawanan.
“Kami memang bersama, kalau dibilang pacaran, tidak sedangkal itu. Kami bersama dan mungkin akan menikah kelak, tapi tidak dalam waktu dekat.”
“Ganding sudah melamarmu? Selamat ya!” Alisha terlihat bahagia.
“Hmm, belum.” Jarni terdiam, dia baru sadar, Ganding belum pernah melamarnya, tidak juga mengatakan cinta seperti pasangan pada umumnya, tapi Jarni tahu dan sadar, bahwa mereka tidak bisa dibilang teman biasa, karena Ganding dengan jelas mengatakan bahwa dirinya adalah wanitanya Ganding.
“Oh maaf Jar, aku pikir Ganding sudah melamarmu.”
“Kalau begitu, kenapa tidak kau saja yang utarakan untuk hubungan yang lebih serius?” Alisha muncul dengan ide liarnya.
“Hah? enggak lah, memalukan sekali, masa wanita mulai duluan.”
“Ya, nggak melamar sih Jar, cuma kasih kode, kalau kamu siap untuk hubungan yang lebih serius.”
“Aku ingin hubungan kami serius, aku juga sangat mencintainya, tapi masalahnya, aku juga tidak ingin hubungan ini jauh dulu, karena tim perlu kami.”
“Memang kalau kalian menikah tidak boleh berada di tim lagi sama Alka?”
“Ya nggak gitu juga Lais, kalau nanti kami menikah, pasti kami ingin kehadiran seorang anak, aku akan hamil, sehingga kemunginan Alka akan kehilangan dua orang ketika aku hamil. Aku yang sedang lemah dan Ganding yang pasti lebih berat menjaga kami. Apalagi anak kami kelak, pasti seperti kami, menjaganya akan lebih sulit.”
“Hah? kenapa lebih sulit?” Alisha memang tidak tahu.
“Loh, kau tidak tahu? Anak-anak yang lahir dengan kemampuan seperti kita itu, akan lebih dikejar, karena wanginya sangat tajam, para jin jahat suka mengerjai anak-anak itu, karena anak itu bisa dijadikan cawan, untuk mereka menumpang. Belum lagi kalau khodam mereka turun dan memberi salam, khodam yang datang dari kakeknya, bukan dari kami, itu akan jauh lebih berat, kau tahu kan, akudan Ganding sama-sama memiliki khodam dari keluarga, jadi kemungkinan akan ada pertarungna khodam, karena yang menanglah yang boleh menjadi khodam keturunan kami. Anak pertama pastilah menjadi incaran para khodam itu.”
“Wah, berat sekali ya ternyata pernikahan kamu dan Ganding, aku mengerti sekarang, kenapa kalian menunda pernikahan.”
“Ya, itu mengapa orang-orang seperti kami, lebih memilih menikah dengan orang biasa, karena tidak akan ada pertarungan antar khodam, selain itu, menikah dengan wanita biasa, juga membuat kami harus menutupi identitas, seperti Hartino.”
“Hartino?” Alisha bingung, karena Jarni tiba-tiba menyebut nama Hartino.
“Ya, aku waktu itu pernah mendengar Hartino dan Ganding berbicara mengenai seorang gadis yang Hartino sukai sejak lama, eh ... duh, ini rahasia lagi, aku juga dengar mereka bicara itu pas aku pura-pura tidur, jadi waktu itu aku sudah bangun, tapi karena Hartino dan Ganding lagi bicara soal gadis yang disukai Hartino aku pura-pura tidur lagi. Kau tahulah, dua orang lelaki itu kadang menyimpan rahasia mereka.”
“Memang apa rahasianya?” Alisha semakin penasaran.
__ADS_1
“Tapi janji ya, kau takkan cerita soal ini kepada siapapun, aku takut Har akan marah, dia kalau marah menakutkan, tidak meledak-ledak, tapi kau akan didiamkan sampai marahnya selesai. Kadang marahnya lama sekali.”
“Ya, aku janji takkan cerita pada siapapun, rahasia perempuan, seperti mereka juga punya rahasiakan?” Alisha sebenarny a sudah tidak tahan, dia ingin segera mendengar rahasia itu, tapi Jarni terus saja memutarnya.
“Hartino itu sebenarnya menyukai seorang gadis, sudah lama sekali dia suka, aku tidak terlalu dengar berapa lama dia suka gadis itu. Tapi dia tidak akan pernah menikahinya.”
“Kenapa?” Alisha mulai mengingat semua pacar Hartino, kira-kira yang mana yang dia sukai sangat lama itu.
“Karena ... Har tidak mau seperti bapak, Pak Mulyana ayahnya Aditia, bapak angkat kami. Har tidak mau selamanya menjadi pembohong, membohongi keluarganya karena kemampuannya. Har takut juga kalau dia menikahi wanita itu yang dari kalangan manusia biasa, wanita itu akan menderita karena pasti terus diserang oleh para jin musuh kami.
Makanya Har bertekada akan menikahi kerabat Aditia, karena kerabat Aditia kemungkinan banyak yang seorang Kharisma Jagat, wanita yang seperti kita. Katanya dia lebih baik menikahi wanita seperti itu jika terpaksa harus menikah, karena menikahi wanita yang dia sukai, akan membuat hidup wanita itu hancur. Dia tidak ingin wanita itu tidak bahagia.”
Alisha menahan sesak, pertama dia harus mencari tahu siapa wanita yang Hartino cintai dengan dalam itu, hingga dia tidak bisa bersama siapapun. Alisha juga memikirkan kemungkinan membunuh wanita itu. Lalu setelahnya, dia juga memikirkan akan memburu semua wanita Kharisma Jagat kerabat Aditia, agar tidak ada yang bisa menikah dengan Hartinol. Untuk yang ini, Alisha pasti tidak mampu, karena kalau dia berniat menghabisi semua kerabat Aditia yang seorang Kharisma Jagat, maka Ayi Mahogra takkan berdiam diri. Walau Alisha lebih tinggi ilmunya dari Alka, tapi tetap, dibanding Ayi Mahogra, Alisha hanyalah anak kemarin sore yang dengan mudah bisa ditaklukan. Selain itu, tentu ini hanya pikiran liarnya karena marah, Hartino tidak pernah memikirkan sedikitpun tentang dirinya yang jelas telah menunjukan betapa dia mencintainya selama ini.
Tapi yang ada dipikiran Hartino adalah perempuan lain dan juga perempuan-perempuan Kharisma Jagat itu. Alisha kesal sehingga dia akhirnya memotong semua sayuran dengan kasar, Jarni melihat itu jadi bingung. Karena Alisha memotong dengan acak dan tanpa perkiraan.
“Lais, itu sayurnya emang dipotong begitu ya? jagungnya kok jadi aneh gitu ya?”
Alisha melihat semua sayuran yang dia potong, jadi berantakan.
“Ya, biar mudah saja dimakan, makanya aku potong begini.” Alisha masih saja berusaha tersenyum, walau hatinya terasa teriris dengan apa yang dia dengar tadi.
Makanan sudah matang, mereka semua makan. Alisha jauh lebih diam, biasanya dia akan mencoba mengobrol dengan Hartino dan yang lain, tapi dia jadi lebih tenang.
“Kenapa kamu? biasanya bawel, ngerasa berat ya, kerja bareng kita?” Hartino menggoda Alisha, seperti biasa, Hartino memang selalu membuat lelucon yang kadang menghina orang lain, tapi niatnya bercanda.
“Jaga mulutmu! Kau pikir aku perempuan lemah?” Alisha bangkit dan hendak mencuci piring makannya.
“Har! Jangan bikin orang ilfil deh sama kamu.” Ganding protes.
“Tau nih, kebiasaan kalau bercanda, kan kakak udah bilang, kita harus lebih mawas diri kalau bercanda, kamu udah buat Alisha tersinggung tuh. Ingat, kalau dia capek, wajar, dia yang masak semua makanan yang kita makan loh!” Jarni protes, dia jarang sekali membela orang lain selain Alka.
“Yaudah sana, minta maaf, kalau dia sampai ngadu sama kakak, kelar hidupmu. Dia kan, saudaranya kakak.” Ganding mengingatka Hartino, Hartino jadi merasa bersalah.
Hartino membawa piring kotor, sebagai alasan untuk mendekati Alisha.
“Lais, mau aku bantuin cuci piring?” Tanyanya.
“Nggak perlu, aku bisa sendiri.” Alisha berkata tanpa menoleh, Hartino semakin merasa bersalah dan takut, kalau Alka sampai tahu dia membuat saudaranya sakit hati, bisa mati dia.
“Lais, maaf ya, tadi tuh bercanda. Kami kalau di sini bercandanya kadang di luar batas, jadi maaf ya.” Hartino mencoba meminta maaf.
Alisha hanya mengangguk, padahal dia sedang menahan tangis sekuat tenaga, bukan apda leluconnya dia menangis, tapi pada perkataan Jarni tentang betapa Hartino sudah membuat rencana yang matang untuk hidupnya, sementara dirinya tidak pernah ada dalam rencana itu.
“Lais, kamu itu sangat berguna di tim, pemikiranmu sama-sama luasnya seperti kakak, walau tidak sebijaksana kakak, tapi melihat kalian berdua, seperti melihat orang yang sama. Aku kagum padamu sebenarnya, bisa langsung beradaptasi pada pekerjaan kita.” Hartino menaruh piringnya setelah mengucapkan itu.
“Buat apa bangga, percuma!” Alisha tiba-tiba berbalik melihat ke arah Hartino, “bukan rasa bangga yang aku inginkan! Aku hanya ingin kau!”
__________________________________________
Catatan Penulis :
Salah satu makanan kesukaanku itu bakwan. Saat bakwan ditemani kopi itu, wah, sebuah kolaborasi yang epik sih. Kalian makanan kesukaannya apa? sesederhana aku kah?
BTW, nggak ada yang inget ya? kalau aku hanya menyinggung kematian orang tua Tinung dengan sangat samar, jadi bukan tumbal atau pesugihan ya, jawabannya, udah aku buka dikit nih cluenya. Tinggal aku tutup di beberapa part kedepan ya.
__ADS_1
Terima Kasih yang masih setia membaca, walau aku tahu, kadang keputusanku membuat alurnya tidak selalu membuat kalian puas, tapi aku berterima kasih kalian tetap menerima dan memberi semangat.