
“Mas, masa malem gini mau narik lagi.” Zubaedah yang biasa dipanggil Edah bertanya pada suaminya, karena suaminya adalah ojek online, sebelum maghrib suaminya pulang ke rumah untuk solat dan makan, setelah itu dia bermaksud narik lagi.
“Iya, kan kamu tahu kalau anak kita harus beli susu, setoran abang masih sedikit nih.” Sardino yang biasa dipanggil Dino itu mengingatkan istrinya. Anak Dino baru umur 6 bulan, tapi tidak bisa meminum ASI, karena ibunya sakit setelah melahirkan, jadinya tidak bisa menyusui anak.
Sementara susu anak termurah pun, sangatlah mahal bagi seorang tukang ojek online itu.
“Iya sih, tapi Edah takut sendirian terus di rumah, apalagi malam.”
“Edah kunci pintu, trus jangan lupa doa, lagian ada banyak tetangga, Edah bisa minta tolong sama tetangga kita kalau ada apa-apa.”
“Iya Bang, yaudah, hati-hati di jalan ya, Abang juga harus jangan lupa baca doa ya.” Istrinya itu mengingatkan suaminya juga.
“Iya Edah, yaudah Abang pergi dulu ya. Kunci pintunya dulu.”
Lalu istrinya mengunci pintu dan suaminya pergi mulai mencari penumpang.
Ada sebuah lahan kosong yang sering dijadikan tempat mangkal para tukang ojek online, di sana mereka menunggu orderan yang datang dari aplikasi, biasanya orderan datang tak jauh sekitar tempat mangkal itu.
“No, narik lagi?” Seorang teman bertanya, dia rekan ojek juga, tapi belum menikah.
“Iya nih, buat susu anak gue.”
“Yaudah, duduk sini lu, ngapain di situ.” Temannya menyuruh Dino untuk duduk mendekat.
Tapi Dino menolak karena rekan-rekan kerjanya sedang merokok, mengingat di rumahnya ada bayi, makanya dia tak ingin tubuhnya tertempel asap rokok.
Saat dia sedang asik memainkan telepon pintarnya sembari menunggu pesanan, tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang, Sardino kaget.
“Bang, bisa anter?” Seorang wanita ternyata, tepukannya sangat mengagetkan.
“Bisa, tapi pake aplikasi aja ya Mbak, biar temen-temen yang udah duluan mangkal nggak iri.”
“Nggak bisa Bang.” Wanita itu berkata, dia memakai kerudung berwarna hitam, kerudung yang dipakai sekenanya saja, bukan seperti jilbab yang menutup rambut dengan sempurna.
“Kenapa? HPnya lowbett ya?” Dino bertanya.
Wanita itu hanya mengangguk.
“Ada yang mau anter mbaknya nggak nih, tapi nggak bisa pake aplikasi, hpnya lowbett.” Dino berteriak, tapi teman-temannya sibuk ngobrol, tidak ada yang mendengar.
“Abang aja.” Wanita itu berkata.
“Yaudah Mbak, ayo.” Dino memberikan helmnya, dia lalu berteriak, “Gue jalan dulu ya anter mbaknya, pada nggak mau kan?” Dino masih menunggu jawaban, tapi teman-temannya tidak menggubris, asik dengan obrolan dan telepon pintar masing-masing.
Dino senang karena kalau mengantar tanpa aplikasi, ongkosnya juga lebih besar dan tidak ada potongan.
“Mau ke mana kita mbak?” Dino bertanya, mereka baru saja jalan.
“Jalan Kamboja.” Wanita itu berkata.
“Ongkosnya 50 ribu ya Mbak, soalnya jauh.”
Dino yang membonceng wanita itu di belakang melihat ke arah spion motornya, untuk tahu apakah wanita itu keberatan dengan tarifnya, tapi sepertinya tidak, Dino melihat wanita itu mengangguk.
Dino lalu fokus lagi untuk mengendarai motornya.
Lampu merah mereka temui, itu membuat Dino harus menghentikan laju motornya.
“Mbak pulang kerja?” Dino basa-basi.
Tidak ada jawaban, Dino melihat ke arah motor, takut kalau penumpangnya tertidur, ternyata tidak, penumpangnya malah melihat ke arah spion, Dino dengan jelas melihat penumpang itu melihat ke arahnya melalui kaca spion.
Dino sempat terkejut, beruntung motornya tetap stabil karena mereka memang sedang berhenti untuk lampu merah.
Setelah lampu merah berganti menjadi lampu hijau, lalau akhirnya Sardino kembali melajukan motornya, kejadian barusan dia abaikan, dia pikir mungkin perempuan tadi itu tidak suka mengobrol dengan orang asing.
Hingga tiba di persimpangan di mana Dino harus bertanya pada penumpangnya, harus lurus, belok kanan atau kiri.
“Mbak, belok mana?” Dino bertanya.
Wanita itu tidak menjawab, tapi dia menunjuk dengan jari telunjuknya, dia meluruskan tangannya, arahnya adalah lurus.
“Iya Mbak, kita lurus ya.” Sardino melanjutkan jalannya.
Tak lama kemudian dia memasuki sebuah terowongan, aneh, kenapa terowongan ini sepi sekali. Sardino bingung, karena dia sering sekali lewat terowongan ini, tapi tidak pernah sesepi ini.
Tidak ingin terlalu larut dalam kebingungan, dia melajukan motornya, tapi setengah jalan, tiba-tiba lampu terowongan itu mati.
__ADS_1
Sardino terkejut, bahkan motornya sempat goyang, karena dia hampir saja kehilangan kendali karena lampu terowongan mati.
“Maaf Mbak kaget saya, lampu terowongan mati, untung lampu motor saya masih hidup.” Sedetik dia mengatakan itu, tib-tiba lampu motornya mati.
Gelap gulita, tak terlihat apapun di depannya ada apa.
“Mbak sebentar ya, ini bahaya kalau saya jalan, soalnya gelap banget.” Dino menghentikan motornya. Dia berusaha untuk minggir dulu, dengan kakinya dia merasakan bahu jalan yang posisinya agak tinggi dari jalanan.
“Bentar ya Mbak, saya nyalain senter dari dulu dari HP, nanti kita baru bisa jalan.” Sardino baru saja akan menyalakan senternya, tiba-tiba wanita itu berkata ....
“Saya turun di sini aja.”
“Jangan Mbak, bahaya, gelap juga.” Dino mengingatkan, dia tidak ingin penumpangnya celaka, makanya dia berkata seperti itu.
“Turun di sini.” Wanita itu berkata lagi.
“Jangan Mbak, emang nggak takut gelap gini? Kita nyalain senter dulu ya, baru jalan lagi, kalau mau turun, nanti di ujung terowongan aja, biar agak terang, gimana?”
“SAYA MAU TURUN DI SINI!” Wanita itu berteriak di kuping Dino. Itu membuat Dino terkejut, selain suaranya yang begitu kencang, tapi juga perubahannya, suara itu jadi seperti nenek-nenek dan lirih itu membuat Sardino semakin ketakutan.
Reflek dia turun dari motor dengan kasar, motornya jatuh, aneh, wanita itu tidak ada.
Sardino buru-buru menyalakan senter pada telepon pintarnya, beruntung, telepon itu memang sedang dia pegang, karena tadi bermaksud untuk menyenter jalanan karena lampu terowongan mati.
Satu yang dia baru sadari, sejak dia masuk ke terowongan sampai sekarang, benar-benar tak ada satupun kendaraan yang lewat, tadi dia abaikan, sekarang dia menjadi merinding apakah dia telah pindah alam? Itu yang ada dalam pikirannya.
“Siapapun kamu, tolong jangan ganggu saya, saya sedang cari uang buat anak saya, buat istri saya, saya mohon izinin saya pulang.” Sardino berteriak, dia mengarahkan senternya ke arah motor, motornya masih di sana, masih jatuh tergeletak begitu saja,
Sardino benar-benar merasa sendirian.
“Bapak mau pulang?” Dino merasa tangannya di genggam oleh seseorang, dia melihat ke arah bawah dan betapa terkejutnya dia, karena ketika mengarahkan senternya pada arah suara dan genggaman itu, Sardino melihat seorang anak yang begitu pucat, mengenakan baju compang-camping dan sekujur tubuh yang berdarah, telah menggenggam tangannya, persis seperti seorang anak kecil menggenggam tangan ayahnya.
Sardino reflek menampik tangan itu agar tidak lagi menggenggamnya, dia terjatuh karena itu.
Dino tetap tak mau kehilangan kesadaran, dia kembali menyenter tempat di mana tadi dai berdiri, untuk memastikan bahwa anak itu masih di sana dan apa yang dia lihat itu nyata.
Tapi dia tidak melihat siapapun di sana. Sardino kembali menyenter ke arah motornya. Motor itu masih tergeletak.
Sardino perlahan bangun, dia mencoba menyenter ke segala arah, kosong, masih sangat gelap. Walau takut, dia mencoba untuk mendekati motornya, biar bagaimanapun, dia harus keluar dari terowongan ini, anaknya sudah menunggu di rumah.
Sardino menangis, dia sangat ketakutan, tapi tetap mencoba menjalankan motornya, saat dia hendak menerobos gerombolan makhluk mengerikan itu, tiba-tiba pundaknya ditepuk dari belakang.
“Bang, ayo jalan lagi.” Suara wanita itu lagi.
Sardino reflek melihat ke arah belakang, benar saja wanita itu ada di sana.
“Mbak! Mbak dari mana aja!” Sardino berteriak, dia melupakan etika sebagai seorang ojek profesional karena heran, kenapa wanita ini tiba-tiba ada di sini.
“Ada apa?” Wanita itu bertanya.
“Mbak nggak liat itu di depan?” Karena lampu motornya sudah menyala, Dino masih saja melihat ‘mereka’ dengan sangat jelas, penampilan berbagai rupa yang mengerikan, sosok laki-laki dan perempuan, anak kecil hingga bayi yang merangkak.
“Memang ada apa?” Penumpang itu kembali bertanya.
“Itu loh Mbak, lihat itu.” Sardino sembari berkata dia melihat ke arah penumpangnya dengan membalikkan tubuhnya.
Tepat saat itu, Dino melihat kepala penumpangnya jatuh, kepala itu menggelinding mengenai kakinya, Sardino berteriak dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, mencoba menerobos semua makhluk mengerikan itu, tapi saat dia berhasil melewati mereka, dari arah berlawanan dengannya, ada sebuah truk yang sedang melaju tak kalah kencangnya, Sardino sulit untuk mengelak lagi, truk itu pun sama, dia terkejut, karena motor Sardino datang entah dari mana, tiba-tiba muncul dan akhirnya ....
BRAK!!! Kecelakaan tak dapat dihindari.
...
“Si Dino kenapa sih?” Tempat mangkal ojek itu masih ramai padahal sudah jam 9 malam.
“Kenapa emang dia?” Teman Ojek yang lain bertanya, karena tidak begitu memperhatikan Sardino yang tadi duduk terpisah karena merokok.
“Pas dateng gue suruh duduk bareng kita dia nggak mau.” Teman ini rupanya yang tadi meminta Sardino untuk duduk dekat dengan mereka.
“Dia kan ngerokok, ini babeh-babeh kita yang udah tua kan nggak ngerokok, takut kali dia, babeh ada kena asep.” Kawan tukang ojeknya memberikan asumsi.
“Iya sih, tapi tadi dia kayak bengong gitu, gue udah panggil-panggil lagi sambil bilang dia jangan bengong, tapi dia tetep aja bengong, pas gue mau deketin, tiba-tiba dia berdiri, ngambil motor trus ngebut.”
“Ada urusan kali, atau kebelet pengen buang air besar.” Teman yang lain tertawa, karena sedang menyepelekan rasa khawatir teman lainnya.
“Bukan gitu, tadi ada yang aneh.”
“Apa yang aneh?” Teman itu bertanya lagi setelah menghentikan tawanya.
__ADS_1
“Pas gue mau deketin, ada bau bunga dari deket situ, trus tatapan Dino tuh kosong, pas ambil motor juga tatapannya kosong gitu. Gue jadi khawatir tuh anak sawan.”
“Huss, udah jangan mikir yang kagak-kagak dah, liat tuh HP lu, ada yang order nggak.” Teman yang lain mencoba menenangkan.
...
Kawanan sudah di markas ghaib lagi, mereka cukup lelah, walau sangat nyaman pulang dengan private jet.
Semua berkumpul di ruang tamu, para asisten rumah tangga sudah menyiapkan makanan, Alisha sudah mempersiapkan semuanya agar saat mereka ke markas ghaib, mereka bisa istirahat dengan tenang, tentu para asisten rumah tangga adalah orang-orang spesial yang indigo juga.
“Alisha, jadi apa senjata barumu?” Aditia tiba-tiba bertanya.
“Iya, aku juga penasaran, karena Pak Malik hanya bicara dengan kau dan suamimu.” Ganding juga ikut penasaran.
“Nanti juga tahu, kan kalau kita bertarung pasti akan aku gunakan.”
“Yaelah, kasih tahu aja sih.” Hartino protes pada istrinya.
“Tidak mau, kejutan.” Alisha lalu ke belakang, dia hendak melihat meja makan apakah sudah siap. Semenjak ada Alisha, makan dan juga fashion kawanan jadi lebih terjamin, Alisha sangat keibuan, dia selalu mengatur segala yang dibutuhkan kawanan.
“Har, emang apa senjatanya?” Ganding berbisik.
“Kau kasih tahu, tidur di luar kau malam ini.” Alisha berteriak dari dapur.
“Aku berbisik loh, Har, kok dia bisa dengar?” Ganding kaget karen Alisha berteriak mengancam dari dapur.
“Sejak ada Rangda, seluruh panca indranya jadi memiliki kemampuan berkali-kali lipat.” Hartino menjelaskan.
“Tidak hanya pendengar, penglihatan dan yang lainnya juga sama.”
“Wah beruntung sekali Alisha.” Ganding iri, karena dia sampai saat ini masih memakai kaca mata jika harus membaca, akibat terlalu suka membaca, membuat matanya jadi minus.
“Dit, Karembo Hejonya keren ya.” Hartino berkata tiba-tiba. Aditia hanya mengangguk.
“Kau kenapa?” Alka bertanya, karena Aditia tiba-tiba diam.
“Perasaanku tidak enak.” Aditia menjawab dengan wajah khawatir.
“Kenapa? kau dapat penglihatan?” Alka bertanya lagi, yang lain diam, Alisha biarpun di dapur dia masih bisa mendengar percakapan itu.
“Tidak, hanya merasa ada sesuatu yang membuat hatiku jadi tidak enak.”
“Kau dapat pertanda mungkin, Dit.” Jarni berkata.
“Kau mau kita bantu dengan menggambungkan kekuatan?” Ganding menawarkan.
“Memang bisa?” Aditia belum pernah menggunakan teknik ini.
“bisa saja, tapi mungkin Alisha masih belum bisa ikut, kita bisa membuatmu memiliki kekuatan Alka, tapi dengan frekuensi yang lebih tinggi, karena dibantu dengan energi kita semua.” Ganding menjelaskan.
“Kenapa Alisha tidak bisa ikut?” Hartino protes.
“Karena dia akan membuat kepala Aditia meledak jika saja salah perhitungan memberikan energi.”
“Kau itu!” Aditia kesal karena Ganding bicara dengan mudah sekali tentang kepalanya yang meledak.
“Oh ok.” Hartino baru ingat.
“Kalau begitu ayo kita mulai.” Mereka semua berdiri dan bersiap menyalurkan kekuatan melalui bahu ke bahu.
Semua bersiap, saat mereka fokus tiba-tiba Alisha berteriak.
“AKU NGGAK IKUT KAN!”
“NGGAK!” Kawanan kesal karena Alisha mengganggu mereka yang sedang berkonsentrasi.
“SORRY GUYS.” Alisha meledek, sebenarnya dia kesal karena tidak bisa bergabung.
“Bisa diem nggak?” Jarni kesal.
“BISA!”
“ALISHA!!!” Yang lain ikut kesal termasuk suaminya, mereka berteriak bersamaan untuk menghentikan Alisha bicara.
Hening, mereka akan mulai lagi menyalurkan energi.
Saat energi itu tersalur, mata Aditia tiba-tiba bercahaya, tapi yang dia lihat sebenarnya gelap, sangat gelap ....
__ADS_1