
Begitu sampai di rumah sakit, istri Bobby yang masih begitu belia, menjerit melihat mayat suaminya yang baru menikah selama dua tahun itu dalam keadaan yang mengenaskan, seluruh tubuhnya terbakar, ibu dan ayahnya Bobby hanya mempu menenangkan menantunya yang memegang anak mereka.
“Bagaimana mungkin kau meninggalkanku? Katamu kau hanya akan pergi sebentar, setelah lulus kuliah dan bekerja, kau janji akan membawaku dan anak kita tinggal bersama, aku menunggumu dan kau meninggalkanku, bagaimana aku menjalani hidup?” Istrinya Bobby histeris.
“Nak, kau itu seorang ibu, kau harus kuat!” Ibu mertuanya yang merupakan ibu dari Bobby mengingatkan karena dia sedang menggendong anaknya sembari histeris.
“Aku memang seorang ibu, tapi aku juga seorang istri, istri yang ditinggal suami Bu, aku harus apa? bagaimana ini, gimana aku sekarang?” Istrinya Bobby kembali histeris, ayahnya Bobby, bapak mertuanya mengambil cucunya, karena takut cucunya akan jatuh.
“Nak, kau harus kuat, harus.” Ibu mertuanya memeluk menantunya dengan erat, dia juga sangat sedih, mengandung Bobby selama sembilan bulan, melahirkannya dan membawanya pada pelaminan yang mungkin menjadi aib karena sudah ada anak berumur satu tahun saat pernikahan itu terjadi, tapi tetap tak menyurutkan kasih sayang seorang ibu. Lalu kembali mengantarnya pada kampus itu, betapa bangganya orang tua Bobby, bisa membawa anaknya sampai perguruan tinggi, walau dia sempat enggan meneruskan kuliah karena malu dengan kondisinya yang masih sangat muda tapi sudah punya anak, Bobby kembali mendapatkan semangat untuk meneruskan kuliah ketika istrinya bilang, ingin anaknya bangga punya papa seorang sarjana.
Tapi sekarang ... Bobby anak yang paling dibanggakan, suami yang sangat disayang, papa dari Nola yang bahkan baru berumur tiga tahun dan kelak sudah pasti takkan mampu mengingat lagi sosok ayahnya, harus kehilngan Bobby, istrinya pingsan beberapa kali dan harus dipapah oleh Perawat hingga akhirnya Jenazah Bobby siap dimakamkan dengan menggunakan peti, karena tidak memungkinkan hanya menggunakan kain kafan, mengingat bahwa tubuhnya terbujur kaku itu, sudah sangat rapuh karena luka bakar 100 persen itu.
Mereka mengadakan pemakaman bukan di kampung halaman, tapi tid pemakaman umum terdekat karena mereka tidak bisa membawa jenazah itu lama-lama. Saat pemakaman, istrinya Bobby tidak mau beranjak, ayah dan ibu mertuanya terus membujuk, dia bahkan tidak bisa menggendong anaknya lagi karena terlalu lemah.
Saat sedang membujuk ada seorang perempuan mendatangi istrinya Bobby, dia bilang ingin bicara dengannya, ayah ibunya Bobby mengizinkan, mereka pulang duluan dengan cucunya dan membiarkan istrinya Bobby berbicara dengan perempuan itu, dia beralasan bahwa ingin memberikan cerita seutuhnya tentang kecelakaan itu dan membawa istrinya Bobby pada barang peninggalan korban kecelakaan di kampus.
Maka mereka berdua duduk di kantin kampus setelah mengambil barang yang masih ketinggalan di kampus, barang milik korban.
“Aku pacar salah satu korban, pacarku namanya Rendi, dia ikut menjadi korban terbakar di sana.” Wanita itu tidak terlihat setegars sebelumnya, dia menahan tangis dengan menggigit bibirnya.
“Aku tidak bisa memberikanmu penghiburan, untuk saat ini hatiku saja hancur lebur, rasanya ingin ikut mati saja, karena kau bilang ingin cerita tentang kecelakaan itu dan memberikan barang-barang peninggalan Bobby, makanya kupaksakan ke sini, karena sejak aku ke sini, tidak ada yang menjelaskan dengan detail soal kecelakaan itu, kenapa kecelakaan itu terjadi, bukankah busnya pun baru? Makanya aku ikut ke sini dan ingin mendengar kejadian sebenarnya.”
“Mereka kecelakaan karena ban bus itu pecah, bukankah itu aneh? Bus itu bus baru, mereka juga sudah memeriksanya sebelum jalan, lalu kenapa bus itu bisa pecah ban dan akhirnya menabrak pohon dan terbakar, itu aneh.”
“Ya itu aneh, apakah kita bisa menuntut penjelasan pada pihak kampus dan armadanya? Karena mereka harus bertanggung jawab.” Istrinya Bobby berharap penjelasan, itu saja, agar suaminya tenang di sana.
“Daripada itu, ada satu hal yang sangat janggal, bisa jadi wanita itulah penyebab terjadinya kecelakaan itu.”
“Wanita itu?” Istrinya Bobby bertanya.
“Ya, kau memang tidak tahu, kalau hanya satu orang yang selamat dari kecelakaan itu, dia bahkan tidak terluka parah, aku menjenguknya di rumah sakit, tapi sangat aneh, tubuhnya tidak ada memar, wajah cantiknya bahkan masih sangat mulus, aku benar-benar ingin mencabik-cabiknya, kenapa dia harus selamat sementara pasangan kita menjadi korban?” Pacarnya Rendi kesal dengan semua yang Melati miliki, kecantikan, kecerdasan dan keluarga yang berkecukupan.
“Apa hubungannya wanita yang selamat itu dengan kecelakaan ini?” Istrinya Bobby tidak mengerti.
“Wanita itu selamat karena terlempar dari jendela yang pecah, dia tidak apa-apa, dia bahkan bilang sempat bangun dan mendengar orang-orang yang berada di bus itu minta tolong, tapi katanya dia terlalu shock dan tidak bisa bergerak.
Pernyataan macam apa itu! dia sengaja, dia memang ingin semua orang di dalam bus mati.”
“Kok? Apa maksudmu bicara begitu, apa untungnya dia membiarkan semua temannya mati?” Istrinya Bobby marah, tapi dia tidak mengerti.
__ADS_1
“Dia itu terkenal sangat cantik, kecantikannya membuat siapapun terpesona, dia juga cerdas dan pandai bergaul, tapi kami semua yakin, dibalik itu semua, dia adalah budak ... setan!”
“Jangan sembarangan kau bicara, bagaimana mungkin ini semua ada hubungannya, apa kau mau bilang kalau suamiku adalah korban pesugihan?!”
“Ya, suamimu dan pacarku!”
“Tidak mungkin, kau hanya sedang kalut sepertiku, jangan menjadi buta dan menyesatkan orang lain.” Istrinya Bobby masih berusaha untuk tidak cepat percaya.
“Aku tidak asal menuduh, tapi aku punya bukti. Beberapa kerabat dari korban yang memberikannya padaku, katanya kekayaan keluarga Melati janggal, mereka tiba-tiba kaya, mungkin ini salah satu cara mereka menghindari tumbal dari keluarga, makanya mereka memberikan tumbal orang lain, Melati memberikan semua temannya untuk keluarga mereka dan kecantikannya, kau tidak sedih melihat pasangan kita terbakar seperti itu? kecelakaan seperti ini hanya terjadi jika bus itu bus lama, bukan bus baru dan tabrakan beruntun antar satu mobil dengan mobil lain, bukan kecelakaan sendiri seperti ini!”
“Aku tidak ingin percaya, itu terlalu kejam.” Istrinya Bobby takut kalau itu benar, maka kematian Bobby sia-sia dan dia pernah dengar bahwa orang yang menjadi tumbal pesugihan akan menjadi budak dari jin yang menjadi tuan pelaku pesugihan itu. Istrinya tidak mau Bobby menjadi budak dari jin itu.
“Aku dan kerabat para korban akan memaksa wanita itu mengaku bahwa dialah penyebab kecelakaan itu, aku menyebarkan berita ini ke seluruh kampus tentang kekayaan keluarga dan juga kecantikan Melati yang dia dapat dari pesugihan turun temurun, dia sengaja membuat semua teman kelasnya di bus itu mati, untuk memberikan tumbal bagi jin agar kekayaan keluarga dan juga kecantikannya bertahan. Bukankah semakin banyak korban semakin baik untuk mereka.”
“Kalau memang benar dia melakukannya, ini terlalu kejam, anakku bahkan baru berumur tiga tahun, dia belum benar-benar menghabiskan waktu dengan papanya.”
“Makanya, kau harus ikut bersama kami, kau harus ikut untuk menuntut kejujuran wanita itu.”
“Caranya?”
“Kau harus tetap di kota ini ya, suruh ayah dan ibunya Bobby pulang duluan dengan anakmu, bilang saja kalau kau sedang urus semua peninggalan Bobby, dua minggu saja, aku janji, kita akan buat dia mengakuinya.”
“Ya, bukankah dia sudah tidak menyusui lagi, ingat, ini untuk pasangan kita, kau mau mereka menjadi budak dari setan dan tidak tenang selamanya?” Wanita itu terus mempengaruhi wanita rapuh ini, dia pun sebenarnya rapuh, sangat rapuh, makanya gampang percaya untuk mengurangi sedikit saja rasa kalut dan sedih karena ditinggalkan oleh orang yang disayang.
“Tapi ....”
“Terserah, kau mau ikut atau tidak, tapi ... kami akan tetap jalan untuk melakukan itu, jika kau tidak ikut, tanggung sendiri kalau suamimu tetap jadi budak setan.”
“Baiklah! Aku akan ikut, apa yang akan kita lakukan?”
“Kami semua sepakat untuk menyebarkan berita ini, tentang dia dan keluarganya yang melakukan pesugihan, agar semua orang memusuhinya hingga dia akhirnya kapok dan ketakutan.”
“Hanya itu?”
“Aku akan cari cara agar kita semua bisa menjangkaunya untuk memaksa dia jujur, pasti ada kesempatan, ini adalah tahun kedua kita kuliah, dia tak mungkin keluar dari universitas ini, kita lihat, kalau dia masuk dan terlihat baik-baik saja, berarti memang dugaan kami tepat, mana ada orang yang satu-satunya selamat bisa meneruskan kuliah di sini, di tempat ini, tempat di mana semua temannya menjadi korban, tempat di mana setiap harinya dia harus melewati lokasi kecelakaan, maka kita tunggu sampai dia masuk, jikapun dia tidak masuk, kita tetap cari cara untuk membuatnya berkata jujur.” Pacarnya Rendi sangat menggebu-gebu, karena sebenarnya ada dendam pribadi jauh sebelum kecelakaan itu, yaitu, Rendi sebenarnya dulu sangat dekat dengan Melati, begitupun Bobby, tapi hanya sebagai sahabat, itu membuat banyak orang salah sangka.
Tidak ada hubungan spesial antara tiga orang itu, pertama Bobby punya istri dan hatinya selalu pada istri dan anaknya, kedua Rendi, dia sangat menyayangi pacarnya yang dia kejar sebelum akhirnya bisa memacari, sedang Melati, dia sangat fokus untuk kuliah, lalu pulang kuliah fokus membantu kakaknya, hidupnya hanya untuk keluarganya.
Tapi orang sering salah sangka karena kedekatan mereka, kemana-mana selalu bersama.
__ADS_1
Bahkan pacarnya Rendi akhirnya cemburu, dia merasa bahwa Rendi selalu mendahulukan Melati dibanding dirinya, padahal urusan Melati dan dirinya selalu soal kampus, tentu dia dahulukan, karena ingin cepat lulus, tapi wanita itu, memang hatinya cepat cemburu jika berhubungan dengan wanita lain, ditambah Melati sangat cantik dan cerdas. Dia takut Rendi lambat laun malah akan memutuskannya dan berpaling pada Melati.
Setelah pulih Melati masuk ke kampus, butuh waktu lima hari untuknya, memastikan kondisinya baik-baik saja dan sembari memberikan laporan ke Polisi dan kampus. Dia ingin masuk kampus dan melupakan semuanya, dia masih sangat bersemangat untuk belajar dan berharap semua teman mendukungnya.
Tapi harapannya pupus, saat masuk kampus berharap disambut dengan kehangatan karena dirinyapun terkena musibah, walau kecelakaan itu tidak membuatnya terluka parah, tapi dia sangat trauma, lalu apakah salahnya ketika Tuhan tetap memilihnya untuk hidup?
Saat masuk kelas, Melati melihat teman-temannya tidak ada yang mau lagi untuk duduk di dekatnya, merka bahkan terlihat berbisik.
Melati mulai sadar dengan sikap yang berbeda saat dia makan di kantin dan seorang pria mendekatinya lalu bertanya, dia pakai susuk tumbal ya, makanya secantik itu? lalu lelaki itu juga berkata, kalau tumbalnya banyak hingga Melati semakin terlihat cantik.
Melati sungguh kaget, omongan macam apa itu? susuk apa? tumbal siapa? Melati tidak nyaman lalu tidak jadi makan dan meninggalkan makanannya di sana tanpa tersentuh sama sekali.
Saat Melati menangis dan berlari, dia jatuh tertubruk seseorang, dia meminta maaf, saat melihat wanita yang dia tubruk ternyata dia kenal, dia langsung berdiri dan hendak memeluknya, tapi wanita itu mendorong Melati hingga terjatuh.
“Kau mau aku jadi korban tumbalmu juga? tidak cukup pacarku dan semua teman kami!” Wanita itu adalah pacar Rendi yang menjadi biang keladi dari berita fitnah itu, dia dan yang lain kerabat dan semua teman korban sepakat membuat Melati bicara yang sebenarnya, yang sebenarnya adalah fitnah yang emreka buat, karena iri, iri ada yang selamat, sementara orang yang mereka sayangi, justru jadi korban, termasuk istrinya Bobby, yang masih di kota ini untuk ikut membalas dendam.
Melati pulang ke rumah dengan berlari dan akhirnya naik bus untuk keluar gerbang, lalu minta dijemput kakak iparnya begitu bus sudah sampai depan gerbang.
Dia menangis sepanjang mobil, kakak iparnya hanya diam saja dan tidak bertanya.
Begitu sampai rumah, dia menangis lagi di kamar dengan sesegukan, kakaknya masuk kamar dengan wajah khawatir karena mendengar dari suaminya, Melati menangis sepanjang jalan.
“Kenapa Mel, kenapa?” Kakaknya ikut menangis melihat adiknya sesegukan.
“Mel dibilang pakai susuk dan tumbalin temen Mel di kampus, makanya kecelakaan itu terjadi.” Melati berusaha mengendalikan dirinya, tapi tidak berhasil, hatinya sangat sakit.
“Bodoh sekali teman-temanmu masih percaya klenik seperti itu.” Kakaknya geram.
“Kau harus keluar dari kampus itu, aku tidak mau kalalu kau terluka, mendengar kemarin kau celaka saja, rasanya aku hampir mati, aku tak mau kau terluka lagi!”
“Nggak kak! Mel mau tetap di kampus itu, Mel nggak salah kok, itu murni kecelakaan, jadi untuk apa Mel takut?”
“Tapi Mel!”
“Nggak Kak, Mel menangis bukan karena takut, tapi Mel sedih dan kecewa, Mel tahu mereka sedih dan tidak mau kehilangan orang yang disayang, tapi Mel juga korban Kak, seharusnya mereka dukung Mel, bukan malah begini jadinya. Makanya Mel mau mereka tahu, kalau Mel nggak takut dan Mel nggak salah!!” Melati memang seorang gadis yang sangat teguh pendirian, kasih sayang kakaknya membuat dia kuat dan berani.
“Mel, Kakak mohon, jaga dirimu, kalau sampai kau kenapa-kenapa, kakak tidak akan bisa hidup dengan baik Mel, ingat, kau punya aku, punya Heru dan juga kakak ipar yang sangat sayang padamu, makanya kau harus selalu berpikir sebelum bertindak, mengerti Mel?”
Kakaknya tidak ingin melarang, karena dia selalu mendukung apapun yang Melati inginkan, bedanya dia sudah tidak bisa lagi menjaga Melati dari dekat, karena sudah memiliki anak, jika saja dia masih single, pasti setiap hari dia akan ikut ke kampus untuk menjaga Melati.
__ADS_1
“Iya kak, Mel janji akan jaga diri.”