
"Adit pulang." Aditia yang telah sekolah menengah pertama, sudah pulang sekolah.
"Kok sepi sih."
Aditia lalu buka baju sekolahnya lalu ditaruh di tempat baju kotor dan dia mengganti baju bersih setelahnya dia nonton televisi di ruang tengah.
Saat baru saja akan menyalakan televisi ada ketukan pintu dari depan.
"Assalamualaikum." Suara seorang tamu.
"Waalaikum salam." Aditia ke depan dan melihat siapa tamunya.
"Ayahmu ada?" tanyanya. Dia adalah seorang lelaki yang terlihat cukup tua.
"Ayah narik."
"Kau sendirian?"
"Iya, ibu dan Dita nggak tau kemana." Dengan polos Aditia menjawab.
"Boleh saya masuk?"
"Boleh." Anak remaja yang terlalu ramah ini bahkan tidak takut kalau tamu ini mungkin saja orang jahat.
Lelaki tua itu duduk. Dia melihat Aditia dengan tatapan senang.
"Kau umur berapa?"
"Saya Pak? Tiga belas tahun."
"Umur yang cukup."
"Bapak mau minum apa?" Aditia tidak terlalu mengindahkan perkataan lelaki tua itu.
"Kopi hitam nggak pake gula."
"Adit buatin dulu ya."
Aditia ke dapur dan buat kopi. Dia punya pemikirannya sendiri kenapa begitu ramah dengan lelaki tua itu.
Aditia kembali ke ruang tamu hendak menyuguhkan kopi.
Lelaki itu ternyata sedang memperhatikan Aditia.
Dia menyuguhkan kopi tepat dihadapan lelaki tua itu.
"Diminum Pak."
"Ya, terima kasih. Kamu tidak takut padaku?"
Aditia terdiam.
"Kamu sudah tahu kan?"
Aditia mengangguk.
"Kenapa tidak mengusirku?"
Aditia menggeleng.
"Mau mengantarku?"
Aditia terdiam.
"Yuk?"
Aditia masih terdiam.
"Kamu tadi tidak takut menyuruhku masuk?"
"Ayah aja ya Pak."
"Kamu bisa kok."
"Nggak bisa Pak." Aditia berdiri dan hendak mundur.
Dari jarak itu Aditia bisa melihat secara keseluruhan kalau lelaki tua itu mengambanh di udara.
“Lelaki yang kakinya tidak menapak itu berdiri dan mendekati Aditia tanpa berjalan.”
Aditia mundur, bukan karena takut, karena dia tidak takut. Kalau dia takut, sedari awal bisa saja dia tidak mengizinkan masuk lelaki tua itu ke rumahnya.
“Aku tidak bisa antar. Yang antar ayah.” Aditia berkata dengan pelan dan benar-benar tidak ingin disentuh. Karena sentuhan dari ‘mereka’ sangat dingin dan membuat perasaannya tak karuan.
“Tapi kau sepertinya lebih baik dari ayahmu, makanya aku ke sini.” Lelaki tua itu masih memaksa.
“Tidak, kau bisa pergi sekarang.” Aditia berkata dengan tegas.
“Baiklah, aku pergi sekarang, tapi besok mungkin aku kembali.”
Lelaki tua yang tidak pernah menyebutkan namanya itu akhirnya pergi.
Waktu menunjukan pukul sembilan malam, ayahnya pulang sebentar untuk makan malam nanti jam sepuluh katanya dia ada urusan dan akan pergi dengan angkotnya.
Aditia tahu, apa yang Mulyana lakukan, karena dari umur lima tahun, dia terkadang ikut ‘menjemput’ dengan ayahnya. Tapi ibu dan adiknya tidak tahu, mereka pikir urusan penumpang biasa, penumpang manusia.
Tapi sebelum ayahnya pergi lagi, Aditia mengikuti ayahnya sampai di angkot dan duduk di depan.
“Adit jangan ikut ya, Ayah ada urusan.” Mulyana sebenarnya sedang agak sibuk melatih anak-anak angkatnya. Dia tidak ingin Aditia ikut, karena Alka dan Lanjonya.
__ADS_1
“Nggak Yah, Adit cuma mau bilang sesuatu.”
“Bilang apa?” Ayahnya tidak jadi menyalakan angkot.
“Tadi siang pas rumah kosong, hanya ada Aditia, ada lelaki tua datang ke rumah mencari bapak.”
“Dia ....”
“Kakinya mengambang, tidak napak.”
“Baik, bagaimana dia bisa masuk? ‘pagar’ rumah kita baik-baik saja.” Mulyana melihat secara menyeluruh lagi ke arah belakang angkot yang merupakan bagian pagar rumahnya.
“Maaf Yah, Adit yang suruh masuk, dia tadi mengetuk pintu dan Aditia yang suruh masuk.”
“Pantas dia bisa masuk.”
“Maaf ya Yah.”
“Kan Adit udah tahu, kalau yang datang udah pasti bukan manusia, Aditia tidak diperbolehkan mempersilahkan mereka masuk. Karena pagar ghaib kita akan menganggap dia bukan ancaman karena diizinkan masuk.”
“Iya Ayah, cuma tadi Aditia kira dia memang kawan Ayah, karena dia bisa masuk sampai pintu depan.”
“Adit, kawan Ayah yang seperti itu, tidak mungkin berkunjung ke rumah itu, tapi mereka pasti ke ....” Mulyana hampir keceplosan karena tadi akan menyebutkan markas, Aditia tidak tahu menahu tentang markas itu.
“Ke ... kemana Ayah?”
“Ya, ketempat Om Dirga lah, kayak biasa Dit.”
“Iya ya, tapi Yah, dia memaksa ‘dijemput’ Adit, aku udah bilang kalau Adit nggak bisa trus Adit suruh tunggu Ayah, tapi dia masih maksa Adit yang anter.”
“Trus! Adit mau?”
“Nggak lah, Adit tolak, Adit kan belum tahu caranya menjemput dan antar.”
“Bagus kalau begitu.”
“Tapi Yah, dia bilang kemungkinan besok akan datang lagi.”
“Tidak, besok dia tidak akan bisa masuk ke rumah kita, Adit juga kalau di luar, jangan bicara dengan ‘mereka’ yang Aditia sudah tahu betul dia bukan manusia.”
“Maaf Yah, kadang Adit suka lupa, abis mereka terlihat sama nyatanya.” Aditia memang punya kekurangan, saking dia terbiasa dengan ‘mereka’, dia bahkan kadang sulit membedakan antara ‘mereka’ dan manusia.
“Adit, kamu nggak suka dengan ‘mereka?”
“Nggak kok, biasa aja, kadang ada yang baik.”
“Ada yang baik?”
“Iya Ayah, kadang ada jin yang suka antar buah-buahan yang segar dan manis, katanya dari hutan. Aku suka sekali dengan jin itu, dia baik.”
“Perempuan?” Mulyana curiga itu adalah Alka.
“Yasudah, selama dia tidak mencelakai Aditia, maka Aditia harus bersikap baik ya.”
“Iya.”
“Dit, kalau kamu sudah mulai merasa terganggu, kamu kasih tahu Ayah ya, supaya Ayah bantu kamu mengendalikan penglihatanmu dan juga ilmu yang sudah kami miliki.”
“Tenang aja Ayah, Adit lebih suka melihat ‘mereka’ daripada tidak melihat, tidak melihat hanya merasakan saja, itu lebih menakutkan.”
“Anak Ayah memang hebat dan pemberani.”
“Kan udah Ayah latih dari kecil.”
Mulyana setelah ngobrol singkat dengan anaknya, lalu pergi ke gua Alka untuk melatih anak-anak itu dan menyelesaikan kasus penjemputan lain. Sementar Aditia kembali ke dalam rumah.
“Dit, bantu adikmu kerjakan PRnya ya, nanti ibu buatkan camilan untuk kalian berdua.”
“Iya Bu.” Aditia ke ruang tamu, Dita sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya.
“Dit, mana yang nggak bisa dikerjain?”
“Nggak ada tuh, aku kan pinter.”
“Sombong sekali adik perempuan ini!” Aditia kesal karena Dita tidak mau diajarkan.
“Ya, kan tadi tanyanya mana yang nggak bisa dikerjain, aku jawablah nggak ada.”
“Trus kenapa ibu suruh kakak ajarin kamu?”
“Ya, nggak tahu, tanya ibu dong kalau itu.”
“Huh!” Aditia lalu kembali ke kamarnya, dia tidak kesal, tapi gemas dengan kesayangannya.
Aditia akhirnya memutuskan untuk tidur saja, karena dia tidak ada pekerjaan rumah dan Dita katanya bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri.
Aditia menutup mata, lalu terlelap setelahnya.
Dia merasa sudah terlelap, tapi anehnya tiba-tiba dia mendengar suara ledakan yang cukup memekakan telinga.
Tapi sialnya, dia hanya bisa buka mata saja, lalu terlihatlah sesosok lelaki tua yang tadi siang datang. Dia berada tepat dia tas dada Aditia dengan kaki mengambang.
Dia tersenyum menyeringai, tatapannya tajam dan mengerikan berbeda dengan tadi siang.
Aditia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, tidak juga bisa bersuara, dia hanya bisa membuka mata dan berusaha memejamkannya lagi pun tidak mampu.
Orang bilang ini adalah ketika kau mengalami erep-erep atau rep-rep ada juga yang bilang ketindihan atau mungkin kalian menyebutnya berbeda di wilayah satu dan lainnya.
Tapi dalam istilah medis, ini disebut sleep paralysis. Saat kamu tidur, tubuh akan mengalami beebrapa fase tidur. Fase pertama adalah ketika tubuh kamu akan sangat rileks karena dalam proses inilah pemulihan diri terjadi hingga fase pertama selesai. Lalu fase kedua adalah fase dimana kamu mulai mengalami mimpi dan otot-otot tubuh ‘dimatikan’. Lalu di fase kedua inilah sering terjadi sleep paralysis karena kamu bangun sebelum fase tidur kedua selesai. Akibatnya, otak belum siap untuk mengirimkan sinyal bangun sehingga tubuh masih dikondisikan dalam setengah tidur dan setengah sadar. Itulah mengapa kamu akan merasakan tubuh kaku.
__ADS_1
Tapi tentu, istilah medis dalam dunia ghaib itu hanya omong kosong belaka, sebuah jawaban bagi mereka yang tidak percaya dunia ghaib ada, tapi tetap membutuhkan jawaban. Maka terciptalah jawaban tersebut. Fase tidur apa? bukankah manusia punya otak yang sangat sempurna, yang hebat mampu mendukung kondisi tubuh dalam keadaan apapun.
Aditia kembali mengerang sehingga kalau ibu atau adiknya melihat ini, Aditia terlihat seperti orang yang sedang mengorok saat tidur atau mengigau. Padahal dia sedang dikerjai oleh lelaki tua itu.
Perlahan lelaki itu menginjakkan kakinya ke dada Aditia, berat dan sesak rasanya, Aditia terus mengerang, berharap ayahnya datang dan menyelamatkan dia, tapi tidak ada yang datang, dia akhirnya membaca doa dan memaksakan memejamkan mata.
Tapi tidak berpengaruh sama sekali, Aditia mendengar secara samar dia berkata, sesuatu yang tidak Aditia mengerti.
“Karuh ... hun! Karuh ... hun! Karuh ... hun.” Tiga kali lelaki tua itu berkata. Aditia semakin sesak, karena ternyata kaki lelaki tua itu masuk sedikit demi sedikit ke dalam dada Aditia.
Aditia melawan sekuat tenaga agar lelaki itu tidak masuk ke dalam tubuhnya, dia sekuat tenaga menahan padahal tubuhnya kaku.
...
Pagi datang, Aditia merasa tubuhnya diguncang oleh seseorang.
“Bangun Dit, bangun!” Ibunya kesal karena Aditia susah sekali dibangunkan, tidak seperti biasanya.
“Iya Bu, Adit udah bangun.” Aditia bangun seperti biasa, ini hari minggu dia libur sekolah, tapi tetap harus bangun pagi, karena itu peraturan di rumah ini.
“Kamu nggak enak badan? Kok tumben susah banget bangunin kamu Nak.” Ibunya memegang kening Aditia.
“Nggak kok Bu, cuma emang capek aja kemarin.”
“Iya nggak demam sih Nak, yaudah sarapan, kasihan adikmu, dia bangun duluan udah mandi sekarang lagi baca buku, nungguin kamu bangun buat sarapan bareng.”
“Iya, Bu ... ayah mana?”
“Oh ya, Ayah bilang ke luar kota, antar penumpang, katanya bayarannya lumayan, jadi nggak sempet pulang.”
“Oh gitu, yaudah Bu. Adit mandi dulu deh baru sarapan.”
“Ya, jangan lama-lama mandinya, kasihan adikmu sudah menunggu tuh dari tadi.”
“Iya Bu, bilangin tuan putri, sebentar dulu pengawal ini akan buru-buru.”
Ibunya tertawa karena perkataan anak sulungnya yang sayang tapi juga kadang gemas dengan anak kecil yang terlalu disiplin waktu itu.
Aditia mandi lalu setelah itu pakai baju dan sarapan bersama.
“Dit, kok sarapannya gitu?” Ibunya bingung, Aditia menaikkan kaki ke bangku dan makan dengan kelima jarinya, dia menyendok nasi dari piringnya dengan tangan secara bar-bar. Kelima jarinya dia gunakan sehingga kepalan nasi penuh di tangan itu, setelahnya kepalan nasi besar yang berada di tangannya itu dia masukan ke dalam mulut yang dibuka lebar-lebar.
Aditia adalah anak yang sopan, dia makan saja dengan aturan, menggunakan tiga jari dan tidak meletakkan nasi di telapak tangannya saking banyaknya nasi yang disendok seperti sekarang ini.
“Enak Bu, makasih ya. Udah lama banget Adit nggak makan seenak ini.”
“Ih apa sih Kak, orang kemarin juga sarapan nasi goreng kayak gini.” Dita protes.
Ibunya tertawa karena melihat tingkah Aditia yang aneh.
“Yaudah nambah Nak, mungkin kamu kelaparan karena terlambat bangun.”
Aditia menyendok nasi goreng dari bakul yang disediakan ibunya ke piring miliknya, dua kali lebih banyak dari sebelumnya.
“Makan banyak boleh, nambah boleh, tapi jangan berlebihan Nak, nanti perutmu sakit.”
“Tau nih, yang sopan dong di meja makan.”
“Bawel kamu.” Aditia menatap Dita dengan tajam, dia menghentikan makannya dan terus menatap tajam Dita.
Dita sedikit takut dengan tatapan aneh itu.
Aditia lalu tertawa terbahak-bahak.
“Bercanda Dita sayangku.” Aditia memegang pipi adiknya, Dita malah semakin tidak suka, dia menepis pegangan kakaknya.
“Dita sudah selesai makan, mau ke dapur taruh piring dulu di tempat cucian kotor.” Dita bangkit lalu pergi ke dapur.
Ibunya melihat anak lelakinya masih meneruskan makan dengan cara yang tidak sopan, nasinya dikepal sebanyak mungkin hingga sampai ke telapak tangan, lalu dimakan dengan membuka mulut sangat lebar.
“Dit, pelan-pelan ya makannya, takut keselek.”
Aditia tidak menjawab, dia hanya terus makan. Ibunya lalu meninggalkan Aditia membawa piring bekas sarapannya yang telah habis.
Dita masih di belakang, badannya terlihat gemetar.
“Dita kenapa Nak?” Ibunya langsung menghampiri Dita mengarik tubuhnya, Dita tadinya sedang berjongkok karena tempat cuci piring mereka memang hanya lahan kecil di dekat kamar mandi di lantai tak berkeramik hanya bersemen saja.
“Kakak aneh lagi Bu, dia kayak bukan kakak lagi!” Dita trauma.
“Dita maafin kakak ya.” Ibunya memeluk Dita.
“Dita takut, tadi mata Kakak itu kelihatan merah, Dita merasa kakak ... jahat!”
“Nggak kok, kakak cuma kecapean, kemarin kan tugas sekolah banyak, lalu kakak kan harus latihan silat, setelahnya mengaji, jadi kakak kecapean. Dita jangan benci sama kakak ya, Dita tahu kan, kalau kakak paling sayang sama kamu.”
“Iya tapi Dita takut Bu.”
“Kalau begitu, Dita dekat ibu terus ya, supaya Kakak nggak kayak dulu lagi.”
“Iya Bu, Dita takut kakak kayak dulu lagi, benci Dita.”
“Nggak, dulu itu kakak nggak benci Dita kok, dulu itu kakak sakit, makanya jadi begitu, mengerti sayang?”
Dita hanya diam tidak menjawab, jika mengingat kejadian waktu itu, Dita rasanya tidak ingin bertemu kakaknya lagi. Rasa sesak itu, rasa sakit itu dan semua perkatannya, membuat Dita sangat membenci Aditia waktu itu.
“Dita kalau gitu, kita nginap di rumah kakek aja ya? gimana?” Ibunya takut kalau trauma Dita kembali lagi, makanya dia akan mengungsikan Dita dulu sementara waktu.
Ibunya juga merasa Aditia kambuh lagi.
__ADS_1