Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 381 : Toko Emas 11


__ADS_3

“Udah sih Kak, namanya juga kecelakaan, mana orang tahu.” Amanda berkata dengan wajah sedih karena kakaknya menangis terus dan sudah dua hari izin dari kantornya, padahal dia baru masuk kerja.


“Harusnya kakak anter kamu pulang kemarin itu, bukannya biarin kamu sendirian naik bus, kamu tuh didorong ya pas naik bus itu makanya bisa jatuh? Karena orang yang melihat kamu jatuh itu pada bilang kalau kamu udah sempat naik lalu tibat-tiba jatuh.”


“Ini yang aku bingung, aku memang sudah sempat naik, satu kakiku sudah naik ke tangga bus itu, tapi tiba-tiba, aku merasa ada yang menarik kalungku, makanya aku jatuh, karena kalung ini  mencekikku.” Amanda lalu memperlihatkan lehernya memang memerah.


“Kau mau dijambret? Tapi tidak ada yang bilang ada yang menarik kalungmu, Man.”


“Iya, aku juga melihat tidak ada apa-apa di belakangku, aku melihat dengan jelas bahwa aku penumpang terakhir yang belum naik, tidak ada orang di belakangku, makanya aku juga bingung.”


“Mungkin kalung ini tersangkut?”


“Bisa jadi.” Amanda setuju, saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba ada yang mengetuk ruangan rumah sakit ini.


Kakaknya Amanda pergi menuju pintu dan membukakan pintunya.


“Pak Ganding, wah repot sekali datang, Pak Adit dan Bu Alka juga datang, wah saya merepotkan banyak orang ternyata.” Kakaknya Amanda terlihat sungkan, karena kawanan datang beramai-ramai.


“Tenang saja, kami nggak repot kok, memang ada yang ingin kami bicarakan. Ini ada buah sama makanan untuk kamu, pasti belum makan kan?” Ganding memberikan buah tangan yang mereka bawa.


“Pak, waduh, makin nggak enak saya. Yuk Pak, Bu, masuk.” Kakaknya Amanda terlihat sangat sungkan dan mempersilahkan semua orang masuk.


“Manda ini semua bos di perusahaan kakak kerja, ini mereka yang bantu kita buka kamar di rumah sakit ini, karena kemarin kamu kecelakaan, kakak nggak tahu harus gimana, kakak bawa kamu ke sini trus telepon kantor kalau kamu kecelakaan. Taunya dibantu kantor untuk bukain kamar yang bagus ini, kelas satu Manda, katanya nggak apa-apa, fasilitas kantor.” Kakaknya memperkenalkan kawanan, mereka memang membantu kakaknya Manda untuk mengurus kecelakaan yang Manda alami.


Manda harus dijahit bebera jahitan di kepala, melakukan MRI atau scanning kepala setelahnya, memastikan bahwa tidak ada hal serius yang harud ditangani, lalu memulihkan keadaan pasca jahit kepala.


Semua ditanggung perusahaan, tidak pakai BPJS agar diberikan perawatan terbaik, ini salah satu cara kawanan untuk ....


“Sebenarnya kedatangan kami ada maksud yang mungkin membuat kalian agak bingung.” Ganding dan yang lain duduk di sofa di kamar perawatan itu, sementara Manda dan kakaknya di tempat tidur pasien.


“Ada apa ya Pak, apakah saya mau dipecat?” Kakaknya Manda waspada, dia sangat mengharagai pekerjaanya, tapi adiknya lebih penting.


“Oh tidak! tenang saja, itu aman, kau jaga adikmu saja, nanti begitu sudah sembuh, kau bisa langsung bergabung lagi di perusahaan kami untuk bekerja.” Ganding menjelaskan.

__ADS_1


“Kedatangan kami ke sini adalah untuk menanyakan mengenai kalung yang kau kenakan Manda, kalung itu mungkin yang mencelakai banyak orang.” Alka kali ini yang mencoba menjelaskan.


“Apa?!” Manda dan kakaknya tercengang mendengar itu.


“Mungkin kalian bingung, tapi kami berenam ini bukan hanya orang biasa yang membantu kau untuk mendapatkan pekerjaan, Aditia datang ke rumahmu bukan untuk alasan telat takziah, karena ibu dan adiknya sudah datang saat hari pemakaman ibumu, tujuan Aditia datang adalah, karena dia mencium bau, bau yang aneh dari baju ibu dan adiknya, bau itu datang dari makhluk halus yang mungkin mengganggu kalian. Kami biasa menolong orang-orang yang mungkin butuh pertolongan karena diganggu makhluk ghaib, tenang saja kami tidak memungut pembayaran, tapi murni karena kami mengabdi atas perintah Tuhan, yaitu menolong orang-orang yang membutuhkan. Alasan lain, karena kami juga diberi keberkahan dengan kemampuan yang cukup mumpuni untuk menghadapi makhluk ghaib itu. Jadi ini adalah bakti kami kepada Tuhan dengan menolong orang-orang seperti kalian.” Alka menjelaskan lagi dengan jujur.


“Makhluk halus? Apakah setan maksudnya?” Kakakn Manda bertanya.


“Ya, itu secara sederhana.”


“Kalung ini?” Manda melepaskan kalungnya dan memberikan pada kakaknya, lalu dari kakaknya Manda, Aditia mengambil kaling itu dan berusaha merasakan energinya.


“Apa Amanda merasakan ada yang aneh semenjak memakai kalung ini?”  Aditia bertanya.


“Hmm, aneh gimana ya?”


“Ya, misalnya melihat setan?” Aditia menggunakan kata setan yang umum dikenali sebagai makhluk yang mengerikan, hanya agar komunikasi ini berjalan lancar saja.


“Mimpi apa?” Kakaknya bertanya pada Manda.


“Ibu kak, Manda bermimpi ibu yang wajahnya gosong, seperti terbakar, dia berusaha mendekatiku, tapi aku tidak tahu kenapa dan apakah benar itu ibu.” Manda menjelaskan sembari menangis, karena selama ini dia sembunyikan dan ketakuran sendiri.


“Kamu serius?” Kakaknya bertanya.


“Aku nggak mungkin bercanda soal ini, Kak.”


“Hal lain lagi ada?” Aditia kembali menggali.


“Ada, setiap aku bermimpi buruk, kata teman kostku, aku seperti tercekik kalung dan akhirnya mengerang karena kalung itu sangat ketat melingkar di leherku, temanku selalu menolongku dengan membangunkan dan mengendurkan kalung itu. Aneh sebenarnya, aku dulu sering pakai kalung, tapi nggak pernah tercekik, aku pikir itu biasa, tapi sekarang saat memikirkannya, terasa ada yang janggal.” Amanda baru sadar.


“Selain mimpi ada lagi yang lain?”


“Oh ya, sebelum kecelakaan itu, aku mengalami gangguan saat sedang solat, dalam penglihatanku, aku sudah menyelesaikan solat, tapi dalam CCTV justru aku belum solat dan kesurupan, aku melihat seorang ... seorang perempuan dengan wajah mengerikan, kepalanya terbelah tapi tidak terlalu lebar belahannya, tapi aku tahu kepalanya terbelah.

__ADS_1


Perempuan itu baru aku ingat sekarang, bahwa saat ibu hendak dimakamkan aku pingsan, Kak, aku sebenarnya melihat kejadian yang sangat mengerikan, aku melihat di keranda ibu, keranda yang kalian pikul di bahu itu, ada perempuan mengerikan itu duduk dengan menggoyangkan kaki di atasnya, di keranda itu! dia duduk sambil terus memandangku, aku melihatnya dan pingsan.”


“Manda, ada apa ini, kenapa kau sering diganggu begini?” Kakaknya sedih mendengar itu, karena Manda memendamnya sendiri dan ketakutan sendirian.


“Tidak tahu.” Manda jadi menangis karena ingat itu semua ternyata sangat mengerikan.


“Manda, aku merasakan bau itu sangat menusuk dari kalung ini, tapi kalung ini kosong, tidak ada isinya, tapi bau aneh itu tercium sangat tajam, jauh lebih tajam dari baju ibuku dan tubuh kalian.”


“Tubuh kami juga bau aneh itu ada? Tapi ... aku tidak diganggu.”


“Karena Amanda yang membeli kalungnya, sedang kau ada di rumah itu, jadi kemungkinan kau hanya terkena efeknya saja.”


“Jadi ini karena kalungku? Apa ibu ....”


“Apakah ada memar pada tubuh Amanda? Karena kalau ada ruh yang jahat menempel pada apapun, dia akan meninggalkan jejak pada tubuh orang ayng ditempeli?”


“Ada, Amanda punggungnya memar, kayak orang dipukuli, tapi dari leher sampai setengah punggung. Aku pikir itu karena dia jatuh dari bus, tapi kata Dokter, memarnya terlalu lebar.”


“Punggungku memar Kak?”


“Iya.”


“Kayak, punggun ibu? Punggung ibu juga memar dari leher hingga setengah punggung, apakah ibu benar meninggal karena kalung itu, kalung itu aku yang beli jadi aku yang buat ibu ....”


“Jangan bisa cara hal yang nggak masuk akal deh, namanya meninggal dunia itu udah takdir dari Tuha, jadi kamu jangan asal menebak.” Kakaknya nggak mau sampai Amanda yang sedang pemulihan memikirkannya.


“Soal kematian memang Tuhan yang atur Amanda, makanya supaya tak ada kematian lagi kami akan coba sekuat mungkin untuk menemukan penyebabnya, kalung ini kami bawa dulu, akan dikembalikan setelah kami dapat pelakunya ya.” Aditia izin bawa kalungnya.


“Iya bawa aja Kak, dibuang juga nggak apa-apa.” Manda merasa takut pada kalung itu.


“Kalung ini tidak salah, setelah bersih bisa digunakan lagi.”


Yang salah adalah manusia yang seenaknya mengguanakan kalung sebagai media tumbal.

__ADS_1


__ADS_2