
Kawanan sudah mempersiapkan segalanya, saat ini adalah pukul sepuluh malam, mereka berhenti di pinggir kali.
“Lihat rel itu, itu adalah rel yang aku lihat semalam setelah melewati hutan bersama ruh anak itu, aku tahu dengan tepat lokasinya karena kereta yang lewat di rel itu adalah kereta Jakarta menuju Bandung dan di antara dua kota itu, hanya ada satu jembatan dengan kali seperti ini.
Kita harus melewati kali ini, lalu setelahnya akan ada gubuk itu.” Alka menjelaskan.
“Kemungkinan dia sudah siap dengan kedatangan kita, aku merasakan energi pagar ghaib yang cukup tinggi.” Aditia berkata.
“Kita sebrangi kalinya.” Mereka lalu menyebrangi kali, ada jembatan yang cukup sederhana di sana, sepertinya jembatan ini juga jarang digunakan, karena di sebrang hanyalah lahan kosong yang terbentang luas seperti tidak terawat hingga tumbuh ilalang yang tinggi. Menurut informasi yang Hartino dapatkan, tanah itu milik seseorang yang kaya raya, belum diketahui kenapa tanah itu dibiarkan saja tanpa dibangun apapun.
Tentunya kawanan tahu dengan jelas kenapa lahan itu dibiarkan begitu saja, itu pasti karena untuk perkumpulan pemuja Dajjal itu, lahan itu sengaja disediakan organisasi mereka untuk memfasilitasi dukun. Mungkin dukun itu adalah support system yang mumpuni untuk mengumpulkan uang, salah satunya pasti. Mereka tidak mungkin hanya memiliki satu saja ladang pendapatan, entah dari apa lagi.
Kawanan sudah melewati kalinya, tanah kosong saja seperti penglihatan mereka dan mata awam lainnya.
“Pagar ghaib yang sama dengan yang bapak gunakan untuk melindungi markas ghaib, ilmunya sangat tinggi. Ditambah Biksa Karma, apakah kita mampu?” Ganding sedikit gentar.
“Entahlah, semua musuh kita selalu memiliki ilmu yang tidak bisa diremehkan, bukan?” Hartino mengingatkan, kalau pertarungan ini memang tidak selalu mudah.
“Aku akan buka pintu ghaib, kita takkan bisa melihat gerbangnya kalau tidak masuk dunia ghaib.” Aditia memberi aba-aba.
“Dit, setelah dibuka trus kita ngapain? Pagar ghaibnya pasti sulit dirobek.”
“Nding, ada apa denganmu? Kau mengeluh terus?” Aditia mulai risih dengan perkataan Ganding yang isinya hanya mengeluh saja.
“Aku hanya … aku tidak ingin Jarni atau Alisha terluka lagi seperti sebelumnya, kau tahu kan, Jarni karena Biksa Karma, Alisha karena cambuk Kakak. Aku takut kalau kita takkan mampu melawan. Dibanding dengan Mudha Praya, kudengar perkumpulan mereka lebih mengerikan.” Ganding jujur, mengemukakan pendapatnya.
“Kalau kita kalah, artinya kita mati bersama, itu saja.” Aditia mengingatkan janji mereka.
“Tapi, Dit.”
__ADS_1
“Kau pulang saja kalau takut, tunggu kabar dari kita.”
“Dit! Tidak bisakah kita melewatkan satu ini saja? Aku mohon. Maksudku, kita sudah membawa pulang Bagus, amanah bapak sudah terpenuhi, bisakah kita abaikan ini satu kali saja Dit?”
“Lalu bagaimana dengan Ani? Dengan anak lain yang dipaksa jadi pembunuh? Bagaimana dengan korban yang berjatuhan kedepannya?” Alisha kali ini tidak setuju pada Ganding.
“Aku hanya ….”
“Kau … mendapatkan penglihatan?” Alka bertanya, dia tahu kalau sesekali kawanan bisa mendapatkan penglihatan menuju masa depan, apa yang akan terjadi. Ganding terlihat gusar berlebihan, di mata Alka, itu tidak wajar, bukan Ganding yang biasanya.
“Iya, kak.” Ganding menangis tersedu-sedu.
“Kapan?” Jarni yang tadinya hanya diam saja akhirnya ikut bertanya, dia tidak mau Ganding menjadi pengkhianat.
“Sudah … beberapa hari yang lalu.”
“Penglihatan apa yang kau dapatkan!” Alka berteriak, kecewa karena adik yang paling jenius bisa diam saja, padahal mereka sudah susah payah untuk mencari lokasi yang dia sudah tahu sejak beberapa hari lalu.
Jika saja Bagus tidak selamat, Ganding ikut andil dalam hal itu. Kawanan mungkin akan menghukum Ganding dengan sangat berat, bukan hanya kawanan, yang terparah adalah, mungkin Ayi akan turun tangan, kemungkinan terburuk adalah, ilmu Ganding bisa saja dimusnahkan.
“Aku … aku … aku melihat kematian kita semua dalam penglihatan itu, aku melihat kita semua terkena Biksa Karma bahkan tanpa bisa menyentuh dukun itu sama sekali, karena anak-anak itu dia jadikan bala tentara. Aku melihat Jarni bahkan … dia bahkan … tercekik oleh ular-ularnya sendiri.
Aditia menghunuskan kerisnya sendiri ke dada, Kakak mencambuk dirinya sampai robek kulit tubuhnya, Hartino menggorok leher Alisha lalu menggorok lehernya sendiri dan terakhir … aku menusuk leherku dengan trisula keris yang aku miliki.
Kita semua mati mengenaskan di sana, orang tua kita bahkan tidak bisa menemukan tubuh kita. Mereka menyembunyikan tubuh kita dan mengendalikan jiwa kita kelak untuk dijadikan bala tentara juga, aku takut.” Ganding menangis, untuk pertama kalinya, Ganding terlihat sangat ketakutan.
“Nding, itu takkan terjadi.” Alka mendekati Ganding, dia tahu kalau adiknya sedang kalut, dia takut kehilangan semua orang, kematiannya bukan yang paling ditakuti, tapi kehilangan semua orang sementara dia tahu kalau itu bisa terjadi, membuatnya sangat ketakutan karena tidak mampu mencegah.
“Tapi penglihatan masa depan kita, bisa jadi pertanda, aku mohon, kali ini saja Dit, Kak, kali ini saja, aku mohon.” Ganding bersujud, dia sangat ketakutan, selama ini dia ternyata berpura-pura untuk membantu pasangan, padahal hatinya begitu takut kalau kawanan sampai celaka.
__ADS_1
“Jangan bilang, kalau kemarin kau yang membantu calo dukun itu untuk kabur sementara aku dipukuli! Lalu kau juga yang memberitahu dukun itu kedatangan kak Alka karena dukun tidak mungkin menyadari kedatangan kakak yang berada di zona masa lalu, bersama ruh anak itu, zona yang dia datangi berdasarkan ingatan ruh anak itu, benar begitu!” Aditia sudah mengeluarkan kerisnya, Ganding hampir mencelakai dirinya dan Alka.
“Aku … aku … aku hanya takut kalau kalian akan mati, aku takut, sangat amat takut.” Aku melihat darah kita mengalir dari tubuh tanpa henti, aku bahkan memeluk Jarni yang sudah tak bernyawa sebelum menghembuhkan nafas terakhir dan masih melihat kakakku mencambuk dirinya, aku mohon Dit, aku mohon.” Ganding masih bersujud dan memohon dengan sangat.
“Ka,” Aditia memberi tanda.
Alka menatap Aditia memastikan bahwa perintah itu benar adanya. Sementara Aditia mengedipkan kedua mata tanda dia serius dengan perintahnya pada Alka.
Lalu Alka menjalankan perintah itu, dia mendekati Ganding, menidurkannya.
“Jarni, kau jaga dia di sini.” Aditia memerintah.
“Tidak mau, aku mau ikut kalian, ingat, hidup dan mati bersama!” Jarni menolak.
“Kau aku perintahkan, kau aku perintahkan sebagai Kharisma Jagat pemimpin para ksatria khodam, kalau kau tidak ikut perintah, aku berhak mengambil kekuatanmu dan senjatamu!” Aditia meggunakan kemuliaannya sebagai seorang Kharisma Jagat, Jarni tahu dia sudah harus patuh. Dia menangis karena tahu tujuan utama Aditia adalah, agar Ganding dan dirinya menjadi kawanan yang tersisa jika saja mereka semua mati di medan pertarungan nanti.
“Ada lagi yang ragu untuk maju?” Aditia bertanya pada Alisah dan Hartino, pun pada Alka.
"Hidup dan mati bersama!" semua berteriak tanda ingin ikut bertarung.
Aditia lalu meninggalkan Jarni dan Ganding untuk masuk ke dalam dunia ghaib bersama yang lain, mereka masuk ke dunia ghaib dan begitu masuk dia melihat pagar ghaib yang sangat tinggi dan kokoh itu.
"Benar ternyata, pagar yang seperti ayah buat, apa mungkin ayah dan dukun ini satu perguruan, jangan sampai dia juga seorang Kharisma Jagat, mencoreng nama baik kami saja." Aditia kesal melihatnya, pagarnya sangat tinggi dan tebal.
"Kau bisa buka?" Hartino bertanya.
"Bisa, aku tahu mantranya, kalau ayahku dan dia seperguruan, kemungkinan mantra pembukanya akan berhasil, kalau tidak, ya seperti biasa, kita robek pakai senjata pusaka dinding ghaib ini."
Aditia mulai merapal mantra ....
__ADS_1