Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 412 : Bulan Madu 10


__ADS_3

Pagi tiba, tubuh kawanan sudah pulih dengan baik, mereka siap untuk bertemu pasien ghaib itu, kawanan dijemput Jajat dengan mobil jeep.


Balian memberikan banyak cinderama khas Bali untuk oleh-oleh, karena  para Balian tahu, kawanan takkan punya waktu untuk jalan-jalan di Bali. Lagian, siapa yang mau jalan-jalan dalam keadaan takut, takut kalau Alka akan ditangkap energinya walau tipis, energi itu tetap ada.


“Gea bagaimana Jat?” Aditia bertanya, mereka dalam perjalanan.


“Saat ini tenang, karena ramuan dari Alka, terima kasih ya sudah memberikan ramuan itu.” Jajat tersenyum pada Alka, kawanan langsung menutup mata, tahu kejadian selanjutnya. Ini si Jajat bodoh atau gimana sih, itu yang ada dalam pikiran kawanan.


“Kau memberikan Jajat ramuan?” Aditia menatap dengan menyelidik.


“Iya, Alka mengirimkan ramuan itu karena takut kalau kalian tidak datang atau menunda kedatangan, Alka kau baik sekali, berkat ....”


“Kau bisa diam dulu!” Aditia menatap Jajat dengan tajam.


“Jat ....” Ganding menaruh jari telunjuknya pada bibir, tanda kalau Jajat harus diam, Jajat ternyata tidak tahu kalau Alka itu tidak boleh sembarangan didekati.


“Aku hanya takut kalau kau akan menolak datang, sementara ada seorang nyawa manusia taruhannya.”


“Tapi itu tidak menampik bahwa kau menghubungi Jajat diam-diam. Kalian tidak tersinggung dengan sikap Alka ini?” Aditia menghasut kawanan untuk menyerang Alka.


“Selesaikan urusan kalian berduanya nanti saja bisa Dit? Ini kita harus sembuhin orang loh.” Hartino kesal Aditia lagi-lagi cemburu tidak jelas, pada Alka memberikan ramuan itu hanya untuk membuat Gea tenang sementara.


“Baiklah, kali ini kau aku lepaskan ya.” Aditia memperingati Alka, Alka hanya menatap tajam pada Jajat, karena lupa memberitahu jangan sampai Aditia tahu dia memberikan ramuan.


Tidak lama kemudian mobil masuk ke sebuah wisma yang sederhana, ini motel.


“Jadi sudah berapa lama mereka di sini?” Ganding bertanya saat mereka berjalan menuju kamar Gea.


“Hampir sebulan.” Jajat menjawab.


“Baiklah, aku sudah merasakan energi hitam yang kuat di sini.” Ganding berkata yang lain mengiyakan. Bahkan ini belum sampai ke kamar Gea, tapi energi itu terasa mengelilingi kamar motel yang cukup luas walau sederhana ini.


Mereka sudah sampai kamarnya Gea, lalu Jajat mengetuk pintu, keluar seorang lelaki yang terlihat sangat berantakan, itu adalh Anto, dia suami Gea.


Kawanan masuk, jendela dan tirainya ditutup rapat, ruangan ini sungguh pengap.


Begitu masuk, Alisha langsung membuka tirai dengan lebar dan juga jendelanya, begit u semua dibuka, Gea bereaksi, yang tadinya tidur dia tiba-tiba terbangun dan mulai mengamuk.


“Mbak jangan dibuka! Nanti istri saya bangun!” Anto marah pada Alisha.


“Kami sengaja memang datang untuk membangunkannya.” Alka membela Alisha, karena kamar ini jadi gelap dan pengap, apa yang jin sukai.


“Bau gosong!” Hartino berkata.


“Aku juga cium bau itu.” Ganding dan yang lain setuju.


“Aku tidak cium.” Jajad berkat dengan polos. Aditia menatapnya dan tersenyum sinis, sedikit merendahkan kemampuan Jajat, rupanya cemburu tadi masih ada efek sampingnya.


“Kalian semua keluar ya.” Aditia meminta suami, adiknya Gea termasuk Jajat keluarg, karena mereka akan melakukan observasi.


“Satu lagi, apapun yang kalian dengar, abaikan, apapun! Termasuk raungan minta tolong Gea dari dalam. Karena bisa jadi, ‘dia’ akan meminta bantuan suaminya untuk meminta agar apa yang kami lakukan dihentikan.” Ganding menambahkan.


Ada raut ragu dari wajah Anto.


“Nggak apa-apa Pak Anto, mereka semua orang yang bisa dipercaya, lagian kan ada 3 perempuan dan ada 3 laki-laki, istrimu akan baik-baik saja.” Jajat mencoba untuk membujuk suaminya agar percaya.


“Kenapa kami harus keluar?” Anto bertanya.


“Karena ...,” Hartino melepas ikatan Gea, itu membuat Anto sedikit berteriak untuk mencegah. Baru tangan yang dilepas saja, tiba-tiba tubuh Gea terangkat, kakinya yang masih terikat tertahan diikatannya, tapi tubuhnya melayang naik ke atas, “karena ini, ketika dia melakukan ini maka kami harus melakukan itu.” Hartino meminta Alka dan Jarni melakukan perlawanan.


Alka dan Jarni lompat tinggi menarik tangan Gea, berusaha untuk menarik balik tubuh Gea ke kasur dan tidak melayang lagi.


Tapi sulit, hingga Alka harus naik ke atas bahunya, sedang Jarni menarik bahu belakangnya ke bawah, menarik sekuat tenaga.


Anto melohat itu menangis, dia tidak tega melihat Gea sangat tersiksa.


Aditia melompat, membaca mantra dan memukul kening Gea, hingga akhirnya dia jatuh ke kasur karena pingsan.


“Apa kau akan tahan melihat kami melakukan semua perlawanan ini?” Ganding melanjutkan penjelasan Hartino.

__ADS_1


“Aku ... aku ... aku percaya kalian, kalian hebat, karena kemarin kami di Bandara, bahkan tidak mampu menundukkannya. Bisakah kita bawa saja dia pulang dulu?” Anto tiba-tiba mengajukan usul.


“Tidak bisa.” Kawanan berteriak bersamaan.


“Kenapa?” Anto bertanya.


“Pertama, keluar dari Bali mungkin sulit, kemungkinan berhasilnya kecil, kalaupun ... kalaupun berhasil, mungkin istrimu akan berakhir di rumah sakit jiwa.” Ganding menjelaskan.


“Kok begitu!”


“Karena dia akan pulang dalam bentuk raga dan  ruh untuk hidup saja, tidak jiwanya, jiwanya sudah tidak ada di tubuhnya lagi, istrimu kosong, dia tidak di sini.” Ganding menjelaskan.


Anto terdiam karena sangat sedih mendengarnya.


“Aku akan keluar, aku akan menyerahkan semua hal kepada kalian, aku percaya kalian, aku mohon sembuhkan istriku.” Jajat hanya bisa pasrah.


“Kita tak janji selesai sehari, tapi percayalah, kami akan lakukan sampai akhir.” Ganding mencoba meyakinkan lagi.


Lalu mereka keluar, menyisakan kawanan dan Gea.


“Nding, keluarkan daftar kemungkinan.” Aditia mengambil bangku yang ada, hanya tersedia 2 bangku, lalu 1 sofa untuk 2 orang, sisanya duduk di samping tempat tidur, mereka membentuk lingkaran untuk berdiskusi, karena datang ke sini mereka dapat banyak kesimpulan.


“Saat datang, kita semua mencium bau gosong artinya sosok ini berhubungan dengan api, jiwa wanita ini tidak ada di tubuhnya, berarti jiwanya dibawa lari, entah di mana, jiwa itu apakah masih bisa kembali atau tidak, kemungkinan bisa, karena jangka waktu sakit sampai sekarang belum terlalu lama. Ingat prinsip dunia ghaib dan kita adalah berbanding terbalik, kalau di sini satu bulan, bisa jadi di sana tidak sampai selama itu.


Maka kesimpulannya, kita masih bisa menarik jiwanya, tak heran sekarang dia linglung seperti itu.”


“Nding, aku juga merasakan aura gelap yang sangat pekat begitu masuk pintu gerbang motel ini, motel ini telah dikuasai semacam atmosfer hitam oleh siapapun yang mengambil jiwa dari wanita ini.” Aditia menambahkan dan yang lain juga setuju.


“Lalu langkah sekarang yang kita perlukan apa?” Alisha bertanya.


“Pertama kita perlu ke vila itu dulu, tempat pertama kali mereka menginap, karena kemungkinan tempat itulah di mana sosok itu bertemu dengan Gea.”


“Suaminya takkan mau menunggu Dit, dia akan sangat tak sabaran, ditambah lagi dia juga sudah tidak bekerja selama 1 bulan, begitu juga adiknya.”


“Kita suruh dia pulang, kita taruh Gea di tempatmu Jat, Alisha, Alka dan Jarni akan bergantian menjaga, karena kita lebih tahu sedang apa, sedang suaminya tidak.”


“Betul, begitu maksudku, untuk kau paham, karena ada yang tiak paham dengan pemikiranku hingga akhirnya memilih untuk melakukan hal diam-diam dari kita semua.” Aditia teringat lagi soal ramuan itu, Alka hanya diam tak peduli, karena dia tak punya pembelaan, dia tahu adik-adiknya akan paham dan tidak terhasut orang yang sedang cemburu.


“Dit, bisa kita tunda drama ini sejenak, karena apa yang harus kita lakukan jauh lebih penting.” Ganding protes.


Aditia menatap Ganding tajam dan diam.


Suaminya Gea dipanggil ke dalam kamar, mereka akan membicarakannya dengan terperinci.


“Kami sudah cek semua hal yang mungkin menjangkiti Gea, kami butuh tempat Jat untuk Gea menginap, zona yang aman dan netral.” Ganding berbicara.


“Kami memang punya tempat untuk pasien. Tapi kenapa Gea harus menginap?” Jajat bertanya.


“Karena kami harus fokus menemukan jiwanya di vila itu.”


“Maksudnya, jadi vila itu sumber masalahnya?” Anto suami Gea bertanya dengan kesal.


“Belum tahun, makanya kami butuh ke sana untuk menyelidikinya, tapi Gea perlu untuk berada di tempat yang aman.”


“Tapi, apakah tidak bisa Gea dibawa pulang saja?” Anto memohon.


“Tidak! kau bisa pulang sementara waktu, Gea akan dirawat oleh Jarni, Alka dan Alisha, mereka bergantian akan menjaga istrimu.”


“Tapi ... aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar kalian.”


Ganding berdiri dan mendekati Anto.


“Kami ini program sukarelawan, untuk semua yang kami lakukan gratis, kau bisa kembali kerja saja dulu di Jakarta, Gea kami yang rawat, kami akan bertanggung jawab akan keselamatan Gea, kami akan membuat pagar ghaib agar makhluk itu tidak bisa mendekati tubuh Gea.”


“Apa benar kalian tidak membutuhkan biaya sama sekali?” Anto bingung.


“Benar, karena ini program tertutup dari pemerintah untuk menolong para pasien ghaib, kami ada kucuran dana jika memang memiliki kasus.” Ganding sengaja mengarang, karena untuk mempercepat penjelasan, memberitahu kenyataan yang langka akan sulit pada orang kota terpelajar, mereka jauh lebih curigaan karena orientasi sudah selalu tentang uang, maka mereka kan sulit percaya bahwa ketulusan masih selalalu ada.


Dengan begini Anto pasti tenang meninggalkan Gea, karena Anto pikir biaya sudah ditanggung pemerintah, dia tidak merasa hutang budi atau curiga kalau kawanan akan mencelakai Gea.

__ADS_1


Anto akhirnya bersiap untuk pulang ke Jakarta, sedang Gea akan dibawa oleh Jajat pulang ke rumahnya.


“Emang benar pemerintah membuat program tertutup untuk kita, Har?” Jajat bertanya dalam perjalanan, sedang Gea ada di kursi paling belakang, di tidurkan. Mereka menggunakan mobil jeep yang cukup besar.


“Memang hal itu mungin terjadi? seperti pemerintah kita tidak punya kerjaan saja. Ini hanya alasan agar suaminya Gea mau memberikan waktu untuk kita.” Hartino menjawab.


“Oh begitu.”


“Jat, kamu cek ya, itu aku kirim bukti transfer untuk biaya makan dan tempat tinggal Gea di rumahmu dan juga nanti kalau Alka, Alisha dan Jarni menginap di sana untuk menjaga Gea.” Hartino mengirim dana pada Jajat karena paham maksud pertanyaan Jajat.


“Wah Har, terima kasih ya.”


“Cukup nggak?” Hartino bertanya.


“30 juta? Cukup lah!”


“Kalau sudah habis, kau beritahu ya, aku akan transfer lagi.” Hartino berkata dengan mudah, karena uang itu memang milik mereka yang didedikasikan untuk menolong sesama manusia.


Mereka sampai di kediaman Jajat, ada banyak orang yang menyambut, rupanya ini adalah kampung para Karuhun, melihat kedatangan Aditia pasti mereka sangat senang, Kharisma Jagat dengan kelas sangat tinggi itu.


Mereka disambut dengan sangat baik, Gea di tempatkan di tempat pasien di bagian belakang rumah, tmepatnya bagus dan bersih, seperti penginapan klinik.


Aditia melihat ada pagar ghaib begitu mereka masuk, tentu saja, karena ini kan kediaman Kharisma Jagat.


“Pak, kami akan pasang pagar ghaib di sekitar kamar Gea, apakah itu boleh?” Aditia meminta izin pada ayahnya Jajat, mereka sedang berkumpul di ruang tamu rumah Jajat, sementar para perempuan menemani Gea.


“Silahkan, aku tahu pasti pagar itu untuk kebaikan pasien.” Izin diberikan.


Sementara di kamar pasien, Gea bangun dan histeris lagi, sedang tangan dan kakinya diikat .


Alka mendekat pada Gea yang histeris dan berontak mesti kaki dan tangannya diikat, Alka merasa bisa menyentuh ingatannya.


Entahlah kenapa, tapi dia merasa harus memegang kening wanita ini.


Alka memegang keningnya dan ....


Alka tertarik dalam ingatan Gea hari itu, di Vila.


Alka melihat suami istri itu baru saja datang dengan keluarganya ke vila, Gea dan Anto menuju kamar yang mewah itu, vila yang sangat bagus.


Lalu Gea masuk ke kamar mandi, Alka terpaksa ikut melanggar privasi, karena harus melihatnya.


Gea mandi dan suaminya masuk, mereka melakukan hubungan suami istri.


Alka buru-buru memalingkan wajah karena tidak ingin melihat adegan itu, lalu setelah selesai Gea keluar dari kamar mandi dan terkejut, Alka juga terkejut karena suaminya ada di luar, bukan di kamar mandi, seharusnya suaminya ad adi kamar mandi, sedang mandi.


Gea berlari ke dalam kamar mandi, Alka mengikutinya dari belakang, suaminya sedang mandi, Gea berlari lagi ke kamar dan suaminya juga masih di dalam kamar.


Gea bingung, begitu juga dengan Alka, karena ini aneh, Alka juga melihat suaminya Gea ada 2, sosok yang benar-benar serupa.


Alka keluar dari situasi itu dan kembali ke ruang perawatan pasien di rumah Jajat.


“Kak!” Jarni menepuk bahunya, karena Jarni tahu kalau Alka sedang masuk ke dalam dimensi ingatan orang lain.


“Sudah 2 jam kau ‘hilang’, kak.” Jarni menjelaskan, maksudnya hilang adalah Alka mematung memegang kening dan kepala Gea dengan kedua tangan, sementara Gea tenang dan tidak berusaha menolak Alka.


“Aku masuk ke dalam ingatan Gea, dia melihat suaminya ada 2.”


“Maksudnya sosok itu benarbenar menyerupainya?” Alisha bertanya.


“Entah, aku tidak melihat wujud aslinya, aku benar-benar melihat Anto, itu Anto.” Alka bersikeras.


“Kau tidak melihat sosok lain di sana?” Alisha bertanya lagi.


“Tidak, itu suaminya itu suaminya ... tapi ada di dua tempat berbeda dalam waktu yang sama.”


“Apakah ini adalah ....”


Jarni dan Alisha saling menatap.

__ADS_1


__ADS_2