Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 51 : Janggit Benthangan 6


__ADS_3

Mereka berjalan menembus hutan, selangkah demi selangkah akhirnya pohon mulai renggang, yang tadinya menghalangi jalanan, menjadi mulai terlihat lengang.


Lalu setelah hutan, terdapat aliran sungai yang sangat deras tapi begitu jernih, di sebrang sungai terdapat lampu-lampu yang begitu terang, seperti banyak orang di sebrang sana, tapi tidak terlihat jelas wujudnya, yang pasti bukan manusia.


“Nanti begitu di sana, jangan berbicara apapun selama saya menjelaskan, mengerti?” Jin tua bertanya pada Alka dan Aditia.


“Iya Mbah.” Mereka menjawab dengan sungguh-sungguh.


Setelah melewati hutan, mereka menaiki perahu yang terbuat dari kayu cukup besar, perahu itu berjalan di sungai tanpa dikayuh tanpa motor juga sebagai penggeraknya, hanya aliran sungai yang mengarahkan mereka untuk sampai di pinggir sebrang hutan.


Begitu sudah sampai, semua turun dan langsung berjalan, ternyata sebrang sungai seperti pasar, banyak sekali ‘mereka’ yang berdagang. Ada yang berdagang pakaian, sepatu dan pernak-pernik lainnya. Tentu makanan juga ada, tapi makanan itu semua terlihat busuk bagi Aditia dan Alka. Karena makanan kesukaan Jin adalah kotoran.


“Transaksi di sini jual belinya pakai apa, Mbah?” Aditia bertanya.


“Pakai emas dan juga barter, tergantung apa akadnya.” Jawab mbah singkat.


“Mereka semua ternyata mirip ya sama kita, ada pasarnya juga.”


“Yang kamu sebut mereka itu adalah penduduk Alas Baha, kita sedang berada di Kerajaan Alas Baha. Perhatikan perkataan dan sikap, kami ini jenis makhluk yang sensitif, jadi jangan sampai ada yang sakit hati, penduduk Alas Baha bisa membuat kalian tersesat lalu terjebak di sini.” Mbah mengingatkan, ternyata mereka sedang berada di Kerajaan Alas Baha.


“Baik Mbah.” Aditiam menjawab.


Wujud penduduk Alas Baha beragam, tapi tidak ada yang mengerikan, tidak mirip manusia tapi tidak mirip setan-setan yang sering dibicarakan oleh orang-orang yang katanya melihat mereka.


Setelah berjalan cukup lama, mereka berada di gerbang Kerajaan, mudah masuk ke sana karena Alka dan Aditia bersama Mbah, penjaga langsung membuka pintunya, tidak ada tatapan aneh dengan kedatangan kami, padahal kami manusia, walau Alka setengah-setengah.


Mungkin itu semua dikarenakan sudah banyak manusia yang berkunjung sebelumnya, Para Tetua jaman dulu dan keturunannya misalnya.


Lewati gerbang kerajaan, mereka dijemput pakai kereta seperti delman, Aditia pernah berkunjung ke rumah neneknya yang kalau dalam bahasa Sunda biasanya Aditia memanggil Enin, dulu kalau kerumah Enin, Aditia pasti naik delman untuk ikut ke pasar. Tapi delman di Kerajaan Alas Baha ini kuda dan delmannya lebih besar.


Kami semua naik delman dan berjalan menuju Kerajaan.


Delman membawa kami melewati pohon yang tertata rapih, kadang terlihat beberapa penduduk Alas Baha yang melintas, sepertinya dia bekerja di Kerajaan ini.


Setiap melihat delman kami, mereka berhenti sejenak dan menyapa jin tua.


Setelah melewati pohon yang tertata rapih, dari kejauhan mereka melihat kubah kerajaan yang besar sekali, kubah itu sangat menyilaukan, saat ini gelap karena posisinya masih malam di sini, tapi kubah berwarna emas itu terlihat sangat silau, padahal jarak antara kubah dan delman masih cukup jauh, tidak terbayangkan betapa megahnya kerajaan tersebut.


Sudah sampai di pintu Kerajaan, mereka disambut para wanita penjaga Kerajaan Alas Baha, mereka memiliki kulit yang sangat putih dan pucat, kaki menapak karena ini memang dimensi mereka, para dayang-dayang tersebut membawa mereka ke ruangan di mana singgasana Raja berada, begitu pintu ruangan itu dibuka, pintu yang sangat besar dan berat itu harus dibuka oleh masing-masing lima orang pada kanan dan kiri pintu itu, Aditia kaget, karena dia melihat Jarni, Alka langsung berlari mendekati Jarni.


“De, kamu nggak apa-apa?” Alka langsung memeluk Jarni, tapi Jarni terlihat pucat, tapi walau pucat, ada yang berbeda dari penampilannya.

__ADS_1


Dia memakai gaun mirip para dayang itu, bahkan rambutnya yang selalu tergerai cantik di gelung naik ke atas, wajahnya pucat tapi dia terlihat sangat cantik.


“Ka.” Aditia menarik tangan Alka agar menjauh dari Jarni, Aditia sudah merasa ada yang salah.


“Siapa yang kau bawa Kajawani?” Ternyata nama jin tua itu adalah Kajawani. Sang Raja duduk di singgasana yang bertabur emas, dia langsung bertanya. Raja itu bertubuh gempal dan berkulit hitam, bermata bulat tanpa alis, berhidung mancung dan berdagu sangat panjang.


“Ini adalah Aditia anak Mulyana keturunan Kharisma Jagat garis Gandarwara, keturunan tertinggi ketiga setelah Ayi Mahogra.” Aditia mendengar itu dan baru sadar, bahwa garis keturunannya cukup tinggi, makanya Ayi begitu menganggap dia sebagai keluarga, karena memang garis mereka cukup dekat.


“Aditia, selamat datang di Kerajaan kami, makan apa yang kau mau tapi tetap santun ya, anak muda.” Raja menyapa, Aditia menundukan kepala seperti yang dilakukan Mbah Kanjawani.


“Ini adalah Saba Alkamah.” Hanya itu yang disebutkan oleh Jin tua itu.


“Saba Alkamah, anak haram jin dan manusia, kau ternyata tidak secantik yang mereka katakan.


Aditia kesal mendengarnya tapi dia bisa apa, karena dia adalah Raja di sini. Alka hanya menunduk sopan.


Tentu saja Alka tidak terlihat cantik di Kerajaan ini, karena mereka punya spesifikasi kecantikan yang berbeda, sedang di dunia manusia, Alka adalah gadis yang sangat cantik, bahkan lebih cantik dari artis ternama di Negeri yang Aditia tinggali, kulitnya bening putih bukan karena perawatan, hidungnya mancung, matanya bulat, alisnya tebal rapih tanpa di cukur, bulu matanya lentik, rambutnya hitam sehat tergerai hingga sepinggang, semua yang Alka miliki pada tubuhnya adalah impian wanita di Negeri yang Aditia tinggali, mungkin jika Alka datang dalam wujud jinnya, Raja akan langsung jatuh cinta. Ini semua yang Aditia fikirkan hingga tidak mendengar basa-basi yang Raja ucapkan.


“Mereka ke sini rencananya akan menjemput teman mereka yang bernama Jarni, ini orangnya Raja.” Jin tua menunjuk Jarni yang ada di samping kiri mereka, Jarni masih saja berdiri tegak dan menunduk. Alka melihat Jarni yang tidak menoleh padanya sedikit pun.


“Bawalah, aku juga tidak terlalu suka padanya.” Raja lalu tertawa terbahak-bahak, karena sudah dapat izin, Alka berlari dan mencoba menggeret Jarni untuk keluar, tapi Jarni menepi tangan Alka.


“Aku ingin tinggal di sini.”


“Kau! Tidak! tidak kuizinkan! Ayo pulang!” Alka menarik kembali, kali ini Jarni mendorong Alka dengan sangat kencang, hingga Alka tersungkur, Aditia berlari dan membantu Alka berdiri, mata Alka memerah. Dia hendak memaki Raja tapi Mbah Kajawani buru-buru menghadangnya dan mengikat Alka dengan rantai ghaib, dia juga mendudukkannya jauh di ujung ruangan.


Aditia mengerti, itu tindakan untuk menyelamatkan mereka semua, sebagai pendatang, tidak boleh bersikap arogan.


“Sudah kubilangkan, bawa saja, aku tidak suka wanita manusia berwajah jelek itu, dia yang datang ke sini dan begitu ingin aku nikahi, semua orang sudah kesal karena ulahnya yang memaksa untuk menjadi selirku.” Raja menjelaskan dengan wajah serius.


“Gawat, Ka. Dia kena Ajian Wahita!” Aditia mendekati Alka dan mengatakan itu dengan wajah khawatir, Alka melihat Jarni dengan tatapan kasihan.


Ajian Wahita adalah Ajian tipu muslihat, itu ilmu yang dimiliki oleh jin dengan tingkat kelas yang tinggi, mereka memang mendapat berkah ilmu tersebut untuk membantu dalam berkembang biak sesama jin, jadi jin wanita yang disukai oleh jin si pemilik ilmu itu bisa bebas dimiliki dan akhirnya berkembang biak keturunan yang baik dalam hal identitas keturunan.


Tapi masalahnya, yang kena Jarni, seorang manusia, yang tidak dianggap cantik oleh Raja Jin ini, apalagi dia menganggap Alka rendah, sebagai anak haram jin dan manusia, mana mau dia menampung Jarni dan membiarkan Jarni menjadi istrinya, kalau mereka memiliki anak, tentu akan dianggap aib oleh Raja itu, makanya dia tidak berminat sama sekali kepada Jarni, kasihan sekali.


“Kalau kita membawa pulang dia sekarang, kemungkinan dia akan menjadi … gila!” Aditia mengingatkan Alka.


“Aku tahu! Cinta buta memang menyakitkan! Dia pasti gila kalau tidak bisa bersama yang dia fikir dia cintai.” Alka mengerti dengan baik, tadi dia masih mencoba menyangkal.


“Kita harus apa?” Aditia bertanya.

__ADS_1


“Kalau aku tahu, aku tidak akan kesal ini.” Alka menatap Aditia dengan tatapan kesal, karena tidak mampu marah pada Raja.


“Kita harus membujuknya dan mencoba menetralisir pengaruh ajian tersebut.”


“Butuh waktu, aku tidak akan pergi dari sini tanpa Jarni.” Alka berkata dengan sungguh-sungguh.


“Baik, kita minta waktu pada Raja untuk menyembuhkan Jarni, bagaimana?” Aditia memberi usul.


“Lakukanlah.”


Aditia lalu maju ke depan, dia memohon izin untuk berbicara, sementara Jarni sudah duduk di samping Raja dan diabaikan oleh Raja, kasian sekali, cinta bertepuk sebelah tangan.


“Raja, bolehkah kami menginap di sini?”


“Anggap saja rumahmu sendiri, tempat ini terbuka untuk Kharisma Jagat dengan level tinggi.”


“Alka juga akan bersama kami.”


“Silahkan, lagian Alka tidak akan kena Ajian Wahita, hatinya telah hilang, habis oleh … kebodohan, sama seperti manusia-manusia bodoh itu.” Raja langsung pergi setelah mengatakan itu, Aditia bingung dengan apa yang dikatakan Raja, tapi dia abaikan saja, karena dia ingin fokus pada Jarni, saat Raja Pergi, Jarni menyentuh kaki itu dan mencium kaki hitam legam itu, sembari berkata, aku mencintaimu Rajaku. Menjijikan sekali apa yang dilakukan Jarni, seperti seorang yang telah hilang akal, jelas itu bukan Jarni yang mereka kenal.


Semua orang dibawa ke suatu ruangan yang lebih kecil, ada tempat tidur dari kayu jati yang sangat besar, itu ternyata adalah tempat tidur Jarni.


“Raja baik ya, dia memberikan aku ruangan ini.” Di ruangan itu hanya ada Alka, Aditia dan Jarni, sementara Mbah Kajawani sudah pergi, dia masih ada banyak urusan, selama mereka dekat dengan Aditia, tidak akan terjadi apa-apa, karena sudah Raja izinkan tinggal di sana.


“Ini hanya ruangan biasa saja, kau bahkan lebih suka guaku dari ini, kenapa kau sekarang berisik sekali sih?” Alka langsung berkata kasar ke Jarni.


“Aku mencintainya Kak, dia lelaki paling tampan yang pernah aku lihat, wajahnya bersinar, tubuhnya kekar sempurna dan tutur bahasanya begitu lembut, aku mencintainya.” Jarni memang sudah bukan dirinya.


“Kau salah lihat, matamu terkena Ajian Wahita, kau tahu itu kan? aku sudah mengajarkanmu setiap kita harus lewat dunia jin, jangan lihat mata jin manapun, kau pasti melihat matanya!”


“Aku tidak terkena Ajian itu! aku memang mencintainya, Alka!” Untuk pertama kalinya, Jarni memanggil kakak angkatnya dengan sebutan nama saja.


“Bodoh kau! Kau tidak tahu apa itu cinta! Kau bingung dan masih kecil, kau harus menyadarkan dirimu sendiri!” Alka memukul kepala Jarni, tapi Jarni tiba-tiba tertawa.


“Aku memang bodoh karena mencintainya.” Jarni mulai menari-nari, hal yang tidak akan pernah dia lakukan jika sedang sehat.


“Ka, kayaknya bakal jadi sesuatu yang sulit nih buat netralisir dia lagi.”


“Gue bakal lakuin apa aja buat bawa dia pulang.”


Aditia hanya menghembuskan nafas dengan berat, belum juga tubuh itu dikeluarkan dan dikuburkan dengan layak, sudah ada masalah baru yang harus mereka selesaikan, apalagi soal kawanan sendiri, mereka tidak mungkin menyerah, bagaimana Aditia akan kembali ke dunia sesungguhnya untuk menyelamatkan angkot peninggalan ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2