
“Udah ketangkep?” Har yang menunggu di luar terlihat terkejut.
“Udah,” Ganding menjawab.
“Wah keren, cuma 45 menit, kalian tim yang hebat.”
“Bawel lu, cepet masuk.” Ganding lalu menarik Har ke angkot Aditia, sementara Alka dan Aditia sudah ada di bagian depan mobil, Jarni bersama dengan Ganding dan Har.
“Kita harusnya nggak boleh maksa dia Ka.” Aditia terlihat keberatan dengan membawa paksa wanita bergaun merah itu.
“Ini urgent Dit, jangan terlalu idealis lah,” Alka protes.
“Tapi .... “
BUMMM!!! Sesuatu jatuh dari atas dan membuat Aditia kehilangan kendali, mobil oleng ke arah kiri lalu menabrak pohon.
Suasana berubah menjadi mencekam, wanita berjaun merah sudah hilang entah kemana, seperti yang Aditia yakini, kalau dia tidak ingin kembali, maka kita tidak bisa memaksanya untuk pulang.
“Dit!” Alka berteriak, karena melihat kening Aditia berdarah.
“Nggak, aku nggak apa-apa, apa yang jatuh?” Aditia bertanya, Alka memang berbeda, dia sudah ada di luar mobil, kekuatan dan ketangguhan badannya berbeda dari manusia biasa.
Alka melihat ke seliling, sementara semua temannya berusaha keluar dari mobil.
“Siapa yang nimpa mobil kita?” Aditia sudah keluar dari mobil, dia sudah sedikit membersihkan darah yang ada dikeningnya.
“Nggak, ilang, cepet banget. Har, kamu liat sesuatu?” mata Hartino memang yang paling awas, matanya bisa menangkap frekuensi ‘mereka’ dengan lebih tajam.
“Sekelebatan terlihat seperti peliharaan, karena gerakannya seperti di perintah.”
“Hah? Maksudnya?” Aditia bingung.
“Berarti ada yang tidak ingin si perempuan bergaun merah itu pulang,” Alka berkata.
“Dukun!” mereka semua berkata serempak.
“Tapi Har, darimana sih elu tahu dia suruhan? Maksudnya geraknya emang beda?” Aditia masih penasaran.
“Kalangan Jin itu tidak pernah mau usil, kecuali punya urusan, misal dia suka atau dia diperintah. Sepertinya yang ini diperintah, karena dia tidak berani mendekati kita secara langsung, kalau dia memang suka si perempuan gaun merah itu, dia pasti udah hadang kita dari awal, nyatanya, dia hadang kita malah pas udah di mobil, sepertinya perempuan itu mengirim sinyal meminta bantuan pada seorang dukun.”
“Atau kerabatnya,” Alka menyambung kalimat Hartino.
“Kenapa harus kerabatnya?”
“Aditia jarang baca buku ya?” Alka kesal karena Aditia banyak nggak taunya.
“Gimana mau baca buku, orderan minta pulang banyak,” Aditia membela diri.
“Dari jama ndulu juga kita tahu, bahwa ruh yang meninggal terkadang dipanggil kembali oleh kerabat, bisa ayahnya, suaminya, anaknya, karena merasa tidak terima dengan ketentuan Tuhan, inget kan film-film horor jaman dulu, kamu fikir mereka asal bikin film, pasti ada observasi mendalam dulu, jangan-jangan malah filmnya berdasarkan kisah nyata, yang difiksikan.”
“Ka ... kamu nonton TV juga?” Aditia bertanya.
“Adit!!!” semua orang kesal karena Aditia berani mengolok kakak kesayangan mereka, sementara Alka hanya tertawa mendengarnya.
“Sorry ya Ka, jadi kita harus gimana?” Aditia bertanya.
“Wanita itu berarti peliharaan seseorang, kita akan sulit untuk membawanya kembali, pilih makhluk lain untuk dibawa pulang malam ini, Har, coba cek deket-deket sini ada nggak yang kira-kira bisa kita bawa pulang?” Alka menyuruh Hartino cek catatannya, seperti Pak Mulyana, mereka semua punya catatan tertulis tangan tentang kejadian perghaiban.
“Ka, boleh nggak aku ngutarain pendapat?” Aditia berbicara setelah sekita 10 menit semua terdiam menunggu Hartino memberi jawaban.
“Aku nggak suka arah omongan kamu.” Alka sepertinya menangkap sinyal yang aneh dari perkataan Aditia.
“Ka, jujur, pekerjaan ini berat buat aku, mungkin saja ini jalan dari Tuhan agar aku bisa hidup normal.” Aditia akhirnya jujur, bahwa keadaan ini membuatnya sedikit merasa lega.
“Jadi, keberkahan itu menjadi beban buat kamu Dit? ayahmu berjuang untuk banyak orang, bahkan ketika nyawanya terancam, dia masih maju terus, itu kenapa buat aku, ayahmu sangat aku hormati, tapi kenapa anaknya begitu lemah!” untuk pertama kalinya Alka berbicara kasar pada Aditia.
“Aku capek Ka, setiap malam hari harus ketakutan, bingung, ninggalin ibu dan Dita sendirian, pulang dini hari, tapi aku tidak bisa membuat ibu nyaman karena masih saja harus hidup serba pas-pasan, Dita juga sebentar lagi kuliah, kalau aku terlalu sibuk dengan yang tidak terlihat, lalu mereka yang terlihat akan terlupakan, aku ingin hidup normal Ka.”
“Tapi kau tidak sendirian lagi Dit,” Ganding berbicara, “kami akan berjuang bersamamu, kami memang harus melindungimu, seperti Pak Mulyana melindungi kami.”
“Jujur deh kalian, kalau kalian dapat kesempatan untuk hidup normal, apakah kalian akan menolaknya?” Aditia masih bersikeras.
“Kalau aku dilahirkan kembali, aku tetap ingin menjadi Jarni! Jarni yang akhirnya bertemu Pak Mulyana, lalu bisa menolong banyak orang, aku tidak mau melepas keberkahan ini.” semua orang melihat ke arah Jarni, untuk pertama kalinya Jarni berbicara, setelah belasan tahun mereka dilatih Pak Mulyana dan selalu bersama, untuk pertama kalinya Jarni berbicara.
“Terserah kalian, aku fikir, ini jalan terbaik, kalian bisa memilih jalan yang kalian yakini, sementara aku ingin hidup normal, aku akan memanggil mobil derek.” Aditia lalu meninggalkan temannya.
Setelah 30 menit mobil derek sampai, ada beberapa mobil mewah yang juga ikut datang, 3 mobil mewah menjemput Jarni, Ganding dan Hartino, sementara Alka, menghilang di balik pohon rindang.
Aditia menatap mereka dengan wajah sendu, dia hanya ingin egois, sekali ini saja, dalam hatinya dia memohon maaf kepada Pak Mulyana, ayahnya.
...
Aditia sudah sampai di rumah, dia membuka pintu, seperti biasa, ibu dan Dita sudah terlelap di kamarnya, saat Aditia melangkah setelah melewati pintu, dia terjatuh, lalu dia menarik nafas panjang, dia tahu sedang dikerjai, oleh sesuatu, tapi dia tidak bisa lihat, menyebalkan, tapi Aditia akan berusaha beradaptasi.
Setelah mandi dan berwudhu, dia masuk ke kamar tidur, berjalan kearah lemari, lalu pintu kamarnya dibanting kencang sekali, Aditia kaget dan sempat terbentur dinding karena dia merasa ada yang mendorongnya.
__ADS_1
“Dit, udah pulang?” suara ibu.
“Iya bu, udah.” Lalu Aditia menoleh ke belakang, kearah pintu, di mana suara ibu berasal, tidak ada orang ... lalu Aditia memakai bajunya dan berjalan ke laur, dia mau mencari ibunya, mungkin ibunya menyiapkan makanan.
Saat sudah di luar kamar, dia tidak mendapati ibu ada di sana, Aditia mulai paham, dia lalu memastikan sesuatu dengan pergi ke kamar ibunya, benar saja.
Ibunya dan Dita masih terlelap di tempat tidur, berarti tadi yang panggil bukan ibu.
Hawa dingin tiba-tiba terasa menyergap punggungnya, tidak terasa dingin saja, lama kelamaan, Aditia merasa berat, lalu tubuhnya terjatuh, karena berat di punggungnya semakin terasa, seperti dia sedang menggendong beberapa orang.
Belum juga berat dan dingin ini hilang, tiba-tiba Aditia merasa waktu berhenti, tubuhnya tidak bisa bergerak, dari kupingnya dia mendengar suara-suara berisik, seperti ada banyak orang yang membisiki dia dengan suara serak, sengau, mendesah dan bergema, suara-suara itu seperti sedang saling memerintahkan Aditia untuk melakukan sesuatu, tubuh Aditia semakin hilang rasa, dia tidak mampu bahkan menggerakan matanya hanya untuk berkedip, Aditia benar-benar ketakutan saat ini, bukan, bukan soal dirinya, tapi soal ibu dan Dita, bagaimana jika akhirnya mereka melihat keadaan Aditia yang sedang seperti ini, mereka pasti bingung dan panik, Aditia satu-satunya lelaki di keluarga ini, Aditia ketakutan, diantara semua serangan ini, Aditia masih bisa melihat ibu dan Dita yang terlelap di atas kasurnya.
Lalu semua gelap.
...
“Adit udah bangun?” suara ibu, Aditia membuka mata. Sudah pagi, tapi Aditia masih saja tidak mampu bergerak.
“Bu, Kak Adit gimana?” suara Dita.
“Ini baru bangun De. Dit, Ibu suapin bubur ya, Adit telen aja, nanti kalau nggak bisa baru kita ke Dokter lagi.”
“Kak Adit, ini Dita, Kak, kata Dokter Kak Adit kena Stroke, Kak Adit sabar ya, Ibu sama Dita bakal terus jagain, jadi Kakak harus sabar dan ikhlas, kita pasti bisa lalui.” Dita mengusap kepala kakaknya.
“Ini salah Ibu, harusnya Ibu larang Adit kerja sampe larut malam, ini pasti karena Adit kena angin malam, maafin Ibu ya Nak, kamu harus menjadi kepala keluarga, mencari nafkah, padahal kamu masih kuliah, maafin Ibu Nak.” Ibunya Aditia mengusap air mata di pipinya.
Aditia ikut menagis, dia benar-benar marah dengan keadaannya saat ini, dia tidak bisa bergerak, walau sekarang matanya sudah bisa berkedip.
Ibu dan Dita sangat telaten menjaga Aditia, Aditia semakin hari semakin merasa terpuruk, sudah 1 bulan dia dalam keadaan stroke, setiap hari ibu dan Dita semakin terlihat murung, mereka sedih dan lelah sepertinya, walau di depan Aditia mereka selalu terlihat tersenyum dan sabar, tapi Aditia tidak bisa berbohong saat melihat raut sedih ibu maupun Dita.
Malam ini Aditia termenung, biasanya dia tertidur lelap setelah ibu berikan obat, tapi entah kenapa dia tidak bisa tidur, jendela kamarnya terbuka, hembusan angin terasa menusuk tubuh Aditia yang semakin kurus, dalam hati Aditia berkata, lebih baik mati saja, kalau hidup hanya menjadi beban.
Jendela Aditia terbuka dan menutup dengan berisik sekali, bahkan untuk menutup jendela saja Aditia tidak mampu, setan mana lagi yang sekarang mengincarnya, itulah yang ada dalam fikiran Aditia sekarang, semakin hari tubuhnya semakin berat, dia hanya terlentang saja, di minggi pertama, ibu dan Dita masih mampu membantu Aditia untuk memiringkan tubuh, agar tubuh Aditia tidak kaku sepenuhnya, tapi semakin hari, tubuh Aditia semakin berat, kadang ibu dan Dita harus meminta bantuan beberapa orang tetangga mereka, untuk sekedar membuat tubuh Aditia terbaring, kata mereka, tubuh Aditia yang kurus ini, terasa sangat berat, seolah tubuhnya berbobot 150 kilogram.
Dalam hati Aditia juga menggerutu, kemana orang-orang itu, katanya mereka teman, katanya mereka akan melindungi Aditia, tapi Alka, Jarni, Ganding dan Hartino tidak datang, mereka pembohong.
Aditia masih saja menggerutu, di saat yang sama, dia mereka kakinya perih sekali, dia merasa ada kuku yang tajam sedang mengiris kakinya, sakit sekali, Aditia menahan perih yang luar biasa.
Dari telapak kaki, lalu sampai ke paha, tidak lama kemudian Aditia merasakan perih yang sama di wajahnya, dia merasa seperti kuku-kuku jahat sedang menyayat-nyayat wajahnya, dalam keadaan tidak mampu bergerak, Aditia melihat ada tetesan darah yang jatuh daru pipinya, perih sekali, Aditia terus menahan perih itu, seluruh tubuhnya terasa sangat perih, dia meresa kuku itu semakin banyak dan semakin menyiksanya.
[Alka ... Alka ... Alka!!!] itulah yang Aditia gumamkan di dalam hati, sakit ini benar-benar membaut Aditia tidak tahan, dia berharap ada Alka di sini.
“Dit.” Alka tiba-tiba hadir, dia berdiri di samping Aditia, “aku pinjam kerisnya, ya.” Alka lalu mengambil keris yang memang selalu di kantungi Aditia, seperti biasa, Alka terlihat menghajar angin, lalu sekitar 20 menit kemudian datang yang lain, Jarni dengan ular ditangannya, Hartino dengan gaya Don Juannya dan Ganding dengan kepintarannya, mereka terlihat sangat kompak bahu membahu membantu Alka, Aditia merasa, semakin lama tubuhnya semakin ringan.
Sementara mereka masih bertarung, kadang terlempar ke pojok kamar, kadang mereka terbanting ke lantai, sampai sekitar 2 jam, mereka berhenti dan terlihat berkeringat.
“Udah ya? Gila, ada berapa Ka Alka?” Hartino bertanya.
“Nggak tau, kayaknya belasan.”
“Dit, Dit, hidup normal kayak gini yang kamu mau? Itu Jin pada nempel di badan lu, banyak banget lagi, untung masih hidup,” Hartino mengejek, sementara Aditia mulai berusaha untuk bangun dari posisi tidur yang dia lakukan selama sebulan ini, Alka langsung membantu Aditia untuk bangun dan duduk di tempat tidurnya.
“Apa yang terjadi?” Aditia bertanya.
“Mereka berebutan mau nempel di tubuh kamu, jumlahnya ada belasan, nggak ada yang mau ngalah, makanya, akhirnya mereka hanya menempel dan saling bertempur di tubuhmu agar bisa menguasai, itu sebabnya tubuhmu tidak bisa bergerak, kau seperti boneka yang digerakan dengan benang, hanya yang menggerakkanmu ada belasan makhluk, jadi gerakan boneka itu aneh kan, bahkan tidak bisa bergerak. Orang bilang kau terkena stroke, padahal tubuhmu dikuasai oleh belasan Jin itu,” Hartino menjelaskan dengan panjang lebar.
“Ibu sama Dita gimana?” Aditia bertanya.
“Tenang, keselamatan mereka juga prioritasku kok, jadi mereka sudah kami tidurkan, besok siang baru bangun,” Alka menjawab.
“Makasih ya, kalian udah dateng bantuin aku,” Aditia berkata.
“Kangen nggak?” Hartino meledek.
Aditia hanya tersenyum, dalam hatinya dia lumayan kesal, kenapa setelah sebulan mereka datang.
“Kami sebulan ini berkeliling Dit, kami menemui orang-orang sepertimu, Alka sih yang ngusulin, tau nggak? Ternyata ada beberapa orang yang bernasib sama kayak kamu, mereka dihukum nggak bisa liat lagi, ada yang stroke dan ada yang meninggal juga, celakanya, meninggalnya nggak ketahuan dong kenapa, aneh gitu,” Hartino menjelaskan.
“Jadi kalian sebulan ini masih fokus dengan kesembuhan mataku?” Aditia bertanya, “aku fikir, kalian .... “
“Ninggalin kamu?” Alka menebak.
“Ya, aku sempat berfikir begitu.”
“Ka Alka, nggak mungkin ninggalin kali, dia itu kan .... “
“Har, fokus dulu ke mata Adit, ya.” Alka memotong perkataan Har.
“Jadi gini Dit, kita udah nemuin penyembuhnya,” Ganding akhirnya mulai menjelaskan, “Alka udah nyobain penyembuhan ini ke semua orang yang ngalamin musibah kayak kamu, matanya ketutup karena kesalahan dan ternyata berhasil.”
“Apa obatnya?” Aditia penasaran, Jarni terlihat membawa segelas teh hangat, dia langsung memberinya pada Alka dan Alka meminumkannya pada Aditia.
“Minum ini dulu, nanti baru aku jelasin.” Aditia meminumnya.
“Yaudah Har, Nding, bawa Adit ya.” Alka memerintahkan mereka membawa Aditia.
__ADS_1
Mereka berlima akhirnya pergi ke hutan, tempat tinggal Alka dengan angkot Aditia.
Begitu tiba, mereka langsung masuk gua, gua di mana Alka tinggal selama ini.
Begitu masuk, Alka bingung, kenapa semua terasa berbeda, dari luar gua ini terasa kumuh dan menyeramkan, tapi begitu masuk, ini seperti rumah saja. Tapi tidak ada listrik hanya ada lilin besar atau obor, gua ini begitu lebar dan panjang, bahkan ada kamar mandi di sana, bersih dan wangi, sungguh terasa nyaman dan hangat.
“Jadi apa obat?” Aditia bertanya.
Alka lalu mendudukkan Aditia pada bangku yang ada di gua ini, yang lain juga duduk, mereka seperti sudah biasa datang ke sini.
Alka lalu menusuk jarinya, “Dit, cobain dulu ya, di tangan.” Lalu Alka meneteskan darahnya pada tangan Aditia, lalu tangannya melepuh, Aditia meringis, “ok, berarti sama ya,” Alka bertanya pada semua orang dan mereka mengangguk.
“Ok, sekarang, aku mau kamu fikirkan dengan baik, pertama, kami sudah menemukan cara agar, kamu bisa benar-benar hidup normal, maksudnya kamu nggak bisa lihat mereka dan mereka tidak bisa menyerangmu, kamu bisa hidup normal, kamu bisa kuliah, menikah dan punya anak, melupakan kami semua dan keberkahanmu.”
“Caranya?”
“Kau tahu kalau kalian, kamu dan mereka yang sama denganmu, memiliki tugas mengantar, memiliki tubuh yang dingin,” Alka menjelaskan.
“Tidak, tubuhku baik-baik saja, terasa hangat.”
“Sini mana jarimu,” Alka meminta jari Aditia, lalu menusuknya, darahnya keluar, “coba rasain darahmu.” Alka menyuruh Aditia.
Aditia menyentuh jari yang keluar darah, Aditia langsung kaget, karena darahnya dingin sekali.
“Sudah tau kan, dimaksud dengan tubuh dingin? maka caranya supaya kamu bisa hidup normal adalah, menghangatkan darahmu, agar sama seperti manusia lain, dengan begitu para setan itu sulit mendeteksimu, tidak akan ada lagi yang akan menyerangmu setelah ini, tapi caranya, tidak bisa dengan hanya dengan berendam air hangat, nggak akan ngaruh, kamu harus berendam dengan sesuatu yang bisa membuat tubuhmu hangat.” Alka terhenti.
“Maksudnya kamu, darahmua?!” Aditia terkejut.
“Ya,” Alka menjawab.
“Kau gila! kau bisa mandi, sebanyak apa darahmu akan kau kelaurkan untuk merendam tubuhku!” Aditia menolak.
“Ini bedanya aku dan kalian, aku akan bisa memperbaiki kesehatanku, walau butuh waktu, tubuhku bisa kembali fit, mungkin sekitar 3 sampai 6 bulan, tapi ini bisa menjadi jalan keluar untukmu Dit, kau bisa hidup normal.”
“Kau sudah pernah coba pada orang lain?” Aditia bertanya.
“Belum, Ka Alka hanya menebak, dia hanya mencoba pada kasus buta tiba-tiba sepertimu, darahnya Ka Alka bisa menyembuhkan buta mereka, sehingga orang sepertimu bisa melihat ‘mereka’ lagi,” Hartino menjawab.
“Lalu darimana kepercayaan diri itu, bahwa kau akan baik-baik saja setelah darahmu kau kuras untukku?” Aditia menatap tajam ke arah Alka.
“Makanya kita coba.” Alka mencoba meyakinkan Aditia.
“Kak!” Ganding terlihat marah, yang lain juga menatap Alka dengan tatapan kesal.
“Baiklah .... “
Semua orang menatap Aditia dengan kecewa, mereka takut kehilangan Alka.
“Baiklah, kita akan persiapkan semua di bak mandiku, kita akan mulai meneteskan darahku, lalu .... “
“Alka! maksudku, baiklah, sembuhkan mataku, aku mau kau menyembuhkan mataku seperti kau menyembuhkan mereka, mengembalkan penglihatan mereka,” Aditia berkata.
“Kenapa Dit?” Alka bingung.
“Karena aku lebih takut kehilanganmu, daripada kehidupan normalku, lagian, aku sudah dari lahir hidup dengan penglihatan ini, sekarang hanya tinggal melanjutkan bukan? yang terpenting, sekarang aku tidak sendirian.”
Alka menatap Aditia dengan dalam, dia tidak pernah merasakan hangat yang meresap ke dalam tubuhnya, walau darahnya hangat, tapi hatinya begitu dingin sebelum bertemu dengan Aditia, Alka memegang dadanya,dia takut kalau detak jantungnya bisa terdengar oleh semua orang.
“Yaudah Kak, sekarang aja ya, yuk pegangin Aditia.” Ganding dan yang lain memegang tangan dan kakinya dengan kencang.
“Bentar deh, kenapa mesti dipegangin?” Aditia bingung.
“Kamu lupa, darah Alka kena tanganmu aja, melepuh, kebayang nggak, gimana kalau harus ditetesin ke mata?” Hartino tertawa terbahak-bahak, yang lain ikut tertawa, mereka seperti menikmati penderitaan yang akan Aditia rasakan.
“Serius bakal ditetes ke mataku? Benera Ka?” Aditia memastikannya pada Alka, sementara Alka hanya menganggung dan bersiap.
“Bentar, bentar, aku siap-siap dulu, bentar Ka.” Aditia berusaha melepaskan pegangan semua orang, tapi mereka tidak perduli, mereka memegangnya dengan keras.
Alka meneteskan darahnya sebanyak 3 kali, tepat pada bagian mata Aditia, saat darah Alka terkena pupil matanya, Aditia menjerit, rasanya seperti dicolok pakai besi panas, sakit sekali, Aditia berfikir mungkin saat ini matanya berdarah darah.
Belum selesai rasa sakit pada mata kanannya, Alka mulai meneteskan pada mata kiri Aditia, sakit hebat yang sama Aditia rasakan, yang lain hanya terlihat senang dengan penderitaan Alka, seolah Aditia akan baik-baik saja, Aditia merasa nyawanya sudah di ujung tenggorokan, sakit sekali.
“Lihat ini.” Alka menyuruh Aditia melihat ke arah kaca yang Alka bawa, “matamu baik-baik saja kan?”
Aditia melihat tidak ada perubahan yang berarti pada matanya, bahkan tidak merah sama sekali, seolah yang barusan tidak pernah benar-benar terjadi, semua orang tertawa.
“Tadi kenapa sakit banget ya?”Aditia bertanya.
“Kamu tahu kan? Bahwa kornea tidak di aliri oleh darah, itu sebabnya, darah Kak Alka begitu menyakitkan ketika terkena bagian itu, kan memang bagian kornea yang akan Kak Alka sembuhkan, lalu setelah itu, darah Kak Alka akan mengalir di seluruh tubuhmu, di mana darah dinginmu akan membuat darah Kak Alka menjadi netral, darah Adit yang dingin, ketemu darah Kak Alka yang panas, lalu menjadi netral, jadi rasa sakit itu karena memang darahmu tidak mengalir ke kornea, Tuhan memang sudah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna, seperti darah Kak Alka yang ternyata adalah obatnya, untuk menyembuhkan korneamu, bagaimana bisa menyembuhkannya, karena kebetulan kornea semua manusia tidak dialiri darah kita sendiri, sehingga darah Alka bisa menjadi obat secara maksimal, kalau saja darah mengalir ke korneamu, darah Alka tidak akan memiliki kemampuan mengobati, karena darah Alka akan menjadi netral, begitu.” Ganding menjelaskan, dia memang paling pintar, diantara semua.
“Jadi, udah siap buat bertarung lagi?” Hartino bertanya.
Semua orang mengangguk dan terlihat bersemangat, sementara Alka hanya tersenyum, diam-diam dia mengamati Aditia dengan tatapan yang dalam.
5 Orang dengan kemampuan hebat ini akhirnya memiliki satu visi dalam hidupnya, yaitu, membantu ‘mereka’ yang tersesat untuk pulang dan membantu semua orang untuk lepas dari belenggu ghaib yang jahat, Aditia tidak sendiri lagi, dia sudah memiliki para pelindung yang tangguh, dia merasa bahagia, dia sangat bersyuku, ayahnya meninggalkan orang-orang hebat bersamanya.
__ADS_1