Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 145 : Aditia 5


__ADS_3

Karuhun dalam budaya Sunda adalah jin pelindung yang menjaga tuannya, secara turun temurun. Baik buruknya jin tersebut tergantung tuanya.


Lanjo, adalah penyakit yang diderita Karuhun. Penyakit ini adalah keinginan yang kuat untuk memiliki, mengendalikan, menguasai, memperhatikan setiap langkah dan mencintai tuannya secara berlebihan.


Kata mencintai dari penyakit Lanjo di taruh paling terakhir karena cinta yang dirasakan oleh Karuhun adalah cinta yang salah, karena tidak datang dari ketulusan hati. Tetapi datang dari sakit yang mereka alami, atau dari Lanjo yang mereka derita.


Bahasa sederhananya adalah Karuhun yang terkena Lanjo karakteristiknya adalah sangat Posesif. Menjaga berlebihan, tidak mau berbagi kepada manusia atau jin yang lain. Sehingga manusia yang dijaga cenderung menjadi introvert, tidak mudah bergaul, sakit-sakitan dan terakhir, tidak mampu dekat dengan manusia lain karena auranya dihalangi oleh Karuhun.


Makanya Mulyana melarang Alka bertemu Aditia kelak, apalagi memiliki hubungan percintaan. Karena jika Aditia bisa mencintai Alka dengan tulus, tetapi Alka tidak akan mampu.


Karena cintanya Alka akan palsu, bohong dan bukan karena ketulusan. Cintanya datang dari sakit yang dia derita, yaitu Lanjo.


Lanjo = Karuhun yang Posesif akut.


_______________________________________________________________


Banyak ibu yang menderita penyakit mental bernama Baby Blues, penyakit ini datang karena keresahan, kekhawatiran, kelelahan dan ketidakbahagiaan yang hadir setelah proses melahirkan. Terjadi hanya paling lama satu minggu.


Tapi berbeda dengan postpartum depression dimana penyakit ini juga datang setelah proses melahirkan dengan gejala jauh lebih dasyat. Contohnya membenci bayinya sendiri.


Apakah istrinya Pak Mulyana mengalaminya?


Tentu saja berbeda, Aditia adalah anak yang sangat diinginkan oleh ibu dan ayahnya. Lalu kenapa setelah beberapa hari kelahiran, istrinya tiba-tiba takut melihat wajah anaknya sendiri.


Apakah dia kurang iman?


Ah, iman! jangan bicara keimanan seseorang jika kau bukan Tuhan, karena hanya Dia yang punya parameternya, kita kan cuma punya mulut untuk untuk nyinyir


Lalu apa yang terjadi pada istrinya Pak Mulyana?


Mari kita telisik.


“De, mau kemana kamu?” tanya Mulyana pada istrinya, sementara istrinya seperti orang linglung mencari anaknya yang tampan.


Mulyana menarik istrinya dan melihat wajahnya, tidak ada apa-apa. Mulyana lalu meninggalkan istrinya dan berlari keluar, kalau-kalau pagar yang sudah dia buat berlapir-lapis rusak. Tidak juga ternyata.


Mulyana masuk lagi, istrinya sedang duduk di meja makan.


“De, kamu kenapa?” Mulyana ikut duduk di sampingnya.


“Kenapa apa ya Mas?” Istrinya bertanya, dia terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.


“Kenapa kamu tadi berteriak kalau anak kita hilang?”


“Tidak, aku tidak berteriak seperti itu, tadi malah Mas yang lari ke luar kamar, lalu aku mengejar, setelah itu kau lari lagi keluar, aku tidak mengejarmu lagi, karena takut luka jaitku robek karena berlari. Jadi aku duduk di sini.”


Mulyana semakin heran, dia lalu pergi ke kamar dan ... dia kembali menengok ke meja makan! kosong.


Istrinya sedang tidur di kamar bersama anaknya, bagaimana ini bisa terjadi? tadi istrinya ada di meja makan, saat dia berjalan ingin melihat Adit, istrinya ternyata ada di kamar sedang tidur, lalu siapa tadi orang yang ada di meja makan dan menghilang saat ini.


Mulyana pusing, ini aneh. Mulyana tidak merasakan apapun saat ini, tidak ada yang salah. Dia tidak merasakan apapun, tapi kenapa dia ditipu sana-sini, siapa yang menipunya kenapa dia tidak bisa merasakan apapun.


Mulyana duduk dulu di ruang tamu, dia memikirkan, kenapa dia istrinya bulak-balik melakukan hal yang berbeda di waktu yang sama.


“Mas, kok nggak tidur.”


Mulyana terhenyak, istrinya tiba-tiba ada di sampingnya, di sampingnya duduk di sofa yang sama.


Mulyana memperhatikan istrinya itu, dia benar istrinya, tidak ada bayangan hitam di sana. Itu berarti tidak ada yang menunggangi tubuhnya.


“Kamu kok di sini?”


“Iya, kan dari tadi aku di sini nemenin Mas, gimana sih?”


“Nggak tadi kamu di kamar sama anak kita.”


“Anak kita? maksud mas?”


“Iya, tadi kamu tuh di kamar lagi tidur sama Adit anak kita yang baru lahir.”


“Mas, ngaco kamu! anak kita ya udah tidur di kamarnya lah. Besok kan dia sekolah. Kamu udah minum obat belum?” Ibunya Adit bertanya.


“Sekolah! kamu yang ngaco De, orang anak kita baru lahir, kok bisa dia udah sekolah.”


“Mas! udah minum obat belum?”


“Mana anak kita yang kata kamu udah bersar? Aku mau lihat.”


Istrinya menunjuk kamar, Mulyana heran. Itu adalah kamar yang dialihfungsikan menjadi gudang sementara waktu karena belum ada yang tidur di sana.


Mulyana berjalan ke sana dan membuka pintu kamar itu dengan kasar. Seorang pria remaja sedang tidur dan wajahnya tertutup bantal.


Mulyana terdiam, siapa anak itu, apakah benar dia anaknya? Mulyana berjalan perlahan dia ingin memastikan apakah benar itu anaknya.


Tapi saat dia mulai berjalan satu langkah, ada yang menepuk pundaknya, spontan Mulyana menengok ke belakang.


“Ini minum dulu obatnya Mas, kamu pasti lupa lagi.” Istrinya membawa beberapa butir obat yang haru dia minum dan segelas air putih.

__ADS_1


“Tidak! aku tidak sakit.” Mulyana lalu kembali ke kamar, dia lelah, dia bingung dan .... istrinya masih tidur di kamar bersama anaknya, lalu dia langsung berbalik hendak memastikan siapa wanita yang membawa obat dan air putih untuknya itu. Kosong, tidak ada siapa-siapa. Bahkan kamar yang sudah menjadi gudang itu juga masih tergembok seperti biasa.


Mulyana semakin pusing, samar, semua terasa bingung. Lelah, Mulyana lalu tertidur.


“Bangun Pak, sudah pagi.” Istrinya membangunkan Mulyana.


Mulyana bangun, dia ada di kamarnya, lupa kejadian semalam tentang kejadian aneh yang terjadi bertubi-tubi.


Mulyana bersiap untuk mandi dia mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi Mulyana masih menggunakan handuk ke luar dan melihat istrinya sedang menyiapkan sarapan.


Mulyana berjalan semakin dekat dengan meja makan.


“Yah, ini nanti anterin Adit ke sekolah ya.”


Mulyana diam, lidahnya kelu hingga tak mampu berucap.


Dia teringat lagi tentang kejadian semalam. Benar, semalam dia juga diperlakukan seperti ini.


Mulyana melihat baik-baik pada anak laki-laki yang kira-kira sudah berumur sepuluh tahun sedang memakai baju seragam sekolah dasar.


Mulyana tidak kenal anak itu, istrinya menyiapkan susu untuk anaknya. Mereka berdua bersikap seolah hal ini terjadi setiap hari.


“Yah, kok malah diam, cepet dong!” Mulyana kaget dan dia akhirnya mengangguk saja.


Dia berjalan ke kamar memakai baju dan keluar kamar lagi, entahlah, dipikirkan nanti saja. Yang penting, itu memang benar istrinya, jadi istrinya tidak mungkin bohong kalau anak kecil di depan itu anaknya.


Mulyana tidak merasakan kehadiran makhluk lain di sini jadi seharusnya tidak ada yang salah. Lalu kenapa dia hanya ingat anaknya baru saja melahirkan. Apakah dia memang benar sakit?


“Bu, ayo, Adit sudah siap belum ya? aku tunggu dia di luar.” Mulyana bersiap keluar tanpa melihat meja makan lagi.


“Mas!” Istrinya berteriak memanggil suaminya.


“Kenapa De?” Suaminya kaget langsung berbalik.


“Siapa Adit!”


Mulyana mundur, Adit siapa? istrinya bertanya Aditia siapa?


“Aditia anak kita Bu. Tadi dia kan sedang sarapan, kamu minta aku antar dia sekolah.”


Istrinya menghampiri suaminya dan memapahnya untuk duduk. Suaminya terlihat linglung.


“Aditia anak kita harus diantar ke sekolah kan De?”


“Tidak ada yang harus diantar ke sekolah Mas.”


“Mas ... kita belum punya anak, bagaimana mungkin kita punya anak sementara kita baru seminggu menikah?” Istrinya terlihat khawatir dengan prilaku suaminya.


Mulyana menatap istrinya dengan wajah bingung.


“Si-siapa kamu!” Mulyana mundur dan menunjuk wajah istrinya.


“Mas, aku istrimu!” Istrinya mencoba mendekat.


Istrinya lalu memegang wajah Mulyana, sentuhan yang sama, sentuhan yang hanya Mulyana dan istrinya tahu. Jadi tidak akan ada jin yang bisa menyerupai itu semua, jadi benar ini istrinya.


“Duduk dulu Mas, kau pasti kelelahan, makanya kau jadi bingung.” Istrinya kembali menarik suaminya untuk duduk di sofa ruang tamu.


“Aku ambilkan minum ya Mas.” istrinya lalu pergi ke dapur untuk mengambil minuman, lalu kembali beberapa detik kemudian.


“Loh kok Mas, masih di sini? itu anakmu udah nunggu loh di luar!” Istrinya kembali tanpa membawa air minum dan bertanya hal aneh lagi, yang tidak bisa ditangkap oleh Mulyana.


“Anak kita siapa?” Mulyana bertanya.


“Anak kita Adit lah! siapa lagi?” Istrinya melihat Mulyana dengan khawatir.


“Kita belum punya anak.” Mulyana menjawab tanpa menatap istrinya, dia coba merunut lagi, tapi dia tidak bisa, sepertinya tadi istrinya bilang mereka belum punya anak.


“Mas, pasti deh kambuh lagi. Obatnya udah diminum?”


“Obat apa?”


“Obat Mas yang dari Dokter, Mas kan harus minum obat itu setiap hari.”


“Aku sakit apa?”


“Mas, Mas pasti sembuh, walau Dokter bilang Mas sakit Skizofrenia. Aku yakin, Mas pasti sembuh. Tapi minum obatnya yang rutin ya. Aku tahu, kalau Mas minum obat, Mas jadi ngantuk dan lemas, tapi bertahan ya, kita pasti bisa melaluinya.”


“Aku sakit Skizofrenia?”


“Mas, udah jangan dipikirin, aku tetep di sini kok. Jadi kamu harus tenang ya.”


“Apa itu Skizofrenia?”


“Bukan penyakit fisik Mas, itu penyakit mental dan itu membuat Mas jadi berhalusinasi berpikir melihat makhluk ghaib, Mas merasa diri Mas adalah orang yang penting sehingga Mas sering berkomunikasi dengan hantu. Mas merasa diri Mas adalah orang yang mampu menolong orang yang sakit mental juga.”

__ADS_1


“Aku begitu?”


“Mas, tenang saja ya. Kemarin memang kau sempat ditemukan tetangga sedang ngomong sendiri dan berlagak seperti sedang bertarung dengan hantu. Tapi kami semua mengerti kok Mas, kau itu hanya sedang sakit, jadi kami hanya membawamu pulang saja.


Oh ya, soal Adit, aku yang akan mengantarnya ke sekolah, Mas tidur saja ya.”


Istrinya lalu keluar dan meninggalkan Mulyana sendirian dengan semua kebingungan ini. Kepalanya sakit.


Apakah benar yang dikatakan istrinya bahwa dia sakit? apakah hal yang dia yakini tetang Kharisma Jagat dan Karuhun hanya halusinasi.


Ibu Ratu, makhluk-makhluk yang dia antar untuk ‘pulang’. Apakh mereka semua hanya halusinasinya karna dia sakit?


Mulyana terdiam dengan tatapan kosong.


“Ayah, ayo tidur, kamu kebiasaan deh, pasti lupa belum tidur.”


Belum juga terjawab pertanyaan yang berputar di kepalanya, tiba-tiba istrinya muncul lagi dari dalam rumah, bukankah tadi dia antar Aditia ke sekolahnya?


“Kamu nggak jadi antar Adit ke sekolah?”


“Ayah! Kok gitu lagi! Adit udah nggak tinggal di sini! Adit kan udah nikah, duh kamu pasti deh bengong lagi. “


“Adit udah nikah? Kapan?”


“Yah! ya ampun, kamu tuh ya, makanya kalau disuruh terapi, seharusnya kamu datang.”


Mulyana memperhatikan istrinya, wajah istrinya memang terlihat jauh lebih tua dibanding sebelumnya, tapi Mulyana yakin itu istrinya.


“Bu, apakah aku sakit?” Mulyana menitikkan air mata, dia bingung, yang mana nyata dan tidak, apakah benar kalau dia telah sakit mental?


“Yah, kita sudah membahas ini ribuan kali, kau baik-baik saja asal kau menuruti semua perkataanku.”


Mulyana menatap istrinya.


“Sudah setua itukah kita? “ Mulyana memegang wajah istrinya yang mulai keriput.


“Yuk tidur dulu, kau pasti lelah.”Istrinya menarik Mulyana dan mengantarnya ke kamar mereka.


Saat akan ke tempat tidur, Mulyana melewati kaca, dia melihat pantulan wajahnya sendiri.


Mulyana lemas dan terjatuh, istrinyang memiliki tubuh lebih kecil jadi tidak mampu menahan tubuh Mulyana yang jatuh ke lantai.


“Aku sudah setua ini?” Mulyana menatap kaca itu, wajahnya penuh keriput, sepertinya umur dia sudah sangat tua, sekitar delapan puluh tahun, karna keriput itu begitu kentara.


“Ya tentu, kita berdua sudah sangat tua Mas, ayo tidur.”Istrinya kembali membantu membangunkan suaminya.


Mulyana tiba-tiba merasa tubuhnya sangat lemah, dia sulit berjalan karena kakinya kaku, suaranya juga lebih serak karena umur.


“Mas, jangan pikir yang aneh-aneh ya. Nanti begitu kau bangun, kau akan ingat semua. Nanti aku minta Adit mampir sama istrinya dan juga cucu-cucu kita ya.”


“Cucu? Kita sudah punya cucu?”


“Sudah, nanti jangan sakiti mereka dengan bertanya mereka siapa ya. Kalau kau tidak ingat, kau hanya perlu tersenyum pada cucu kita. Mereka mengeluh karena setiap bertemu denganmu, mereka kesal. Kau tidak ingat mereka, kau selalu bertanya siapa mereka.”


“Bu, yang aku ingat hanya, kau baru saja melahirkan Adit, lalu kenapa sekarang Aditia sudah punya anak?” Mulyana kelelahan dan tubuhnya sudah tua renta.


“Itu pasti kenangan yang membuat Ayah paling bahagia, makanya Ayah selalu mengingat momen itu. Tak apa, aku akan selalu ada di samping Ayah untuk ingetin kalau kita sudah melewati banyak hal.”


“Bu, kalau sekiranya besok aku lupa lagi, ingatkan aku ya.”


“Ya, pasti sayangku.” Istrinya memeluk suaminya dan perlahan Mulyana tidur dalam pelukan suami.


Brak!!!


Rasanya baru sedetik Mulyana tidur, tapi ada suara bising apa itu, dia bangun.


Istrinya tidak ada di sana, bukankah dia tadi ada di sini tadi memeluknya.


Mulyana keluar memastikan suara apa itu, tubuh rentanya makin terasa.


Tidak ada apa-apa, hanya lantai begitu kotor dan ruangan di sekitar rumah juga terasa sangat bau, bau lembab seperti tidak pernah dibersihkan sebelumnya.


Mulyana memeriksa ke meja makan, ada buku di sana.


Mulyana baru bisa melihat dengan jelas ketika buku itu dipegang, ternyata buku yasin.


Mulyana membuka lembar yasin itu dan terdiam.


Ada foto istrinya dan juga nama istrinya, tanggal lahir serta ... tanggal kematian istrinya.


Mulyana terduduk diam. Dia menangis sesegukan seperti anak kecil. Rumah ini terasa gelap dan hampa. Istri yang baru saja memeluknya kenapa sekarang telah tiada, takdir apa ini, kenapa dia sakit mental, apakah memang benar selama ini yang dia telah lalui bertahun-tahun hanya sebuah khayalan dari pesakitan?


____________________________________________________


Catatan Penulis :


Hayoloh, jangan-jangan kita semua dibohongin selama ini, jangan-jangan kita semua selama ini masuk dalam dunia khayalannya Mulyana, jangan-jangan kita juga sakit ....

__ADS_1


 


 


__ADS_2