
“Tapi apa menurut kalian itu jalan yang bijak?” Ganding bertanya.
“Maksudnya?” Aditia tidak paham.
“Jangan hanya mengisi bensin mobilnya full, tapi bawa beberapa dirigen berisi bensin, biar kalau mau habis dan kita belum dikeluarkan, isi lagi, biar makin lama di tempat itu, lalu bawa juga makanan dan minuman, jadi kita tidak kelaparan, siapa tahu kita juga ditahan disana.”
“Nding, ide bagus tuh.” Mereka sepakat, karena kalau pakai motor, mereka harus pergi terpisah lagi, tidak efisien.
...
"Bensinnya cukup?" Mang Eman bertanya.
Sudah ada 3 Jerigen yang disiapkan oleh Wak Eman untuk mereka, angkot juga sudah dipastikan dalam kondisi baik untuk berkendara beberapa hari.
Pagar ghaib sudah dilepas, karena kalau angkotnya masih memiliki pagar ghaib, maka sulit bagi mereka untuk masuk zona ghaib, entah buatan siapa.
Jam menunjukkan pukul 1 malam, Wak Eman memberi beberapa wejangan sebelum mereka pergi.
"Kalian harus tetap berserah pada Gusti Allah ya, jangan serampangan hanya karena kalian orang yang mengerti dan mampu.
Kita sama-sama tidak tahu, apa yang ada di jalan perdawahan itu.
Kalian juga harus tetap sabar dan ikhlas, apapun yang kalian temukan di sana, tetap tawakal.
Saya sangat berharap kalian kembali dalam keadaan selamat dan bisa membantu kami memecahkan kasus di jalan persawahan itu."
"Iya Wak, makasih ya sudah memberi nasehat, kami akan ingat, terima aksih sudah membantu kami dan dulu membantu pamanku.
Kami akan jalan, iringi kami dengan doa, doakan supaya kami selamat dan mampu pulang dalam keadaan baik." Aditia salim diikuti yang lain.
Mereka semua berdoa dulu, ada aura mencekam tengah malam itu. Projek ini tak ada yang tahu selain kawanan dan juga Wak Eman. Jika mereka kenapa-kenapa Wak Eman pun tak mampu membantu.
Maka mereka hanya bisa bergantung pada Tuhan Yang Maha Esa.
Angkot segera berjalan ke jalan itu. Kawanan bersiap.
"Sudah terbuka pintu ghaibnya, kita akan masuk, sudah kosong kan?” Aditia memastikan.
“Sudah kosong.”
Mereka berlima sudah masuk ke zona lain di jalan persawahan desa itu.
Malam lebih mencekam dari hari sebelumnya, malam itu begitu masuk ke zona ghaib, sudah tak ada lagi suara jangkrik yang khas ada di persawahan pada malam hari, tidak ada lagi suara angin yang terkadang meniupkan rambut, mereka membuka jendela mobil, hanya agar menarik perhatian, siapa saja yang ada di tempat itu.
Perlahan Aditia melajukan mobilnya, ban itu berputar jengkal demi jengkal, Hartino terus mengukur waktu mereka berjalan, dia hanya ingin memastikan bahwa mereka tak kehilangan waktu dan bisa menganalisis, kenapa ada perbedaan waktu di sini.
“Kita sudah berjalan berapa lama Har?” Aditia bertanya.
“Sepuluh menit, Dit.”
“Baiklah, tetap perhatikan waktunya.” Aditia berkata dengan sungguh-sungguh, agar Hartino tidak kecolongan.
“Kalian merasakan sesuatu?” Jarni tiba-tiba berkata.
“Tidak ....”
“Sama, aku juga.”
Semua kesal, karena mereka pikir Jarni merasakan sesuatu ketika bertanya, tahunya dia hanya bertanya saja.
Angkot terus saja berputar.
“Har, sudah berapa lama kita berjalan.” Aditia bertanya lagi.
“Sepuluh menit, Dit.”
“Ok.” Aditia hanya ingin dia mereka tidak kecolongan karena tidak memperhatikan waktu.
__ADS_1
Sementara roda berputar lagi.
“Har ... sudah berapa lama?”
“Sepuluh menit, Dit.”
“Ok.” Aditia bertanay, mereka hanya tidak ingin kecolongan.
Kendaraan terus saja melaju, lalu Aditia bertanya ....
“Har, sudah berapa lama kita di sini?”
“Sepuluh menit menit, Dit."
“Ok.” Aditia hanya ingin tahu sudah berapa lama mereka ada di sini.
“Har, sudah berapa lama kita di sini?”
“Sepuluh menit, Dit.”
“Ok.”
Kendaraan melaju dengan sangat lambat, karena bukan tujuan yang mereka usahakan, tapi hasil.
“Har, udah berapa lama kita di sini?”
“10 menit, Dit.”
“Ok.” Aditia menjawab, lalu tiba-tiba ....
“Kenapa Dit?” Hartino bertanya lagi, karena tiba-tiba angkot berhenti.
“Entahlah, tidak mungkin mogok, aku sudah memastikan mesinnya baik-baik saja, kecuali kita dikerjai.”
“Baiklah, kita keluar semua.”
Saat mereka keluar, udara malam semakin dingin, tapi terasa pengap, udara dingin yang tidak segar, ada bau gosong yang samar, kadang juga ada bau busuk yang tercium meski tak intens.
“Mesinnya gimana?” Hartino bertanya.
“Panas Har, aneh, padahal baru 10 menit kita berkendara.”
“Sebentar, aku merasa dejavu dengan kata 10 menit itu, sebentar!” Ganding lalu berlari ke dalam mobil, dia lalu meminta kawanan untuk mendekatinya.
“Kita dikerjai.” Ganding berkata dengan kesal.
“Maksudnya?” Aditia bingung.
“Lihat indikator bensin, Dit.”
Aditia lalu melihat indikator bensin, hampir habis.
“Har, katamu kita baru jalan 10 menit, tapi kenapa bensinku hampir habis?” Aditia bertanya.
Mereka semua terdiam.
“Ya memang baru 10 menit, lihat jam kalian.”
Hartino meminta semua orang melihat jam tangan, lalu mereka melihat, memang baru 10 menit di sana, jam tangan masih menyala dengan normal, tapi ... kenapa bensin mobil sudah hampir habis.
“Kalau dihitung-hitung, kira-kira beginilah perhitungannya, tangki angkot jemputan maksimal bisa menampung 43 liter bbm, 43 liter bbm itu bisa menempuh jarak sejauh 500 – 600an kilo meter, tergantung cara mengendarai. Maka sudah sejauh mana kita jalan Har, Dit? Sedang Bandung dan Jakarta saja hanya sejauh 150 – 200an kilo meter, berarti sudah sejauh mana kita jalan, Dit, Har?” Ganding meringis mengingat itu.
“Pantas saja kakiku terasa sakit, 10 menitmu sungguh ambigu, Har, kita sudah bolek balik Jakarta dan Bandung.” Aditia terlihat sangat khawatir.
“Baiklah, kalau jakarta Bandung sekitar 4 jam, bolak balik berarti 8 jam, kurang lebih ya, maka kita sudah berkendara sekitar 8 sampai 10 jam, wah sungguh mengerikan tempat ini.” Ganding merinding membayangkan, kalau saja mereka berjalan kaki saja, apa yang terjadi? bisa saja, terjebak di sini selamanya. Beruntung mereka yang terjebak di sini, rata-rata berkendaraan, jadi mereka masih bisa selamat dengan habis bensin.
“Kita isi dulu bensinnya, supaya kita tidak ditendang keluar dari sini, berarti, kemungkinan kita sudah setengah hari di sini.” Hartino mengambil kesimpulan, lalu Aditi mengambil jerigen bensin dan buru-buru mengisi bbm pada mobilnya, agar tidak benar-benar habis, kalau habis percuma mereka sudah berputar tapi tak melihat apa-apa.
__ADS_1
“Kita makan dulu.” Jarni mengatakannya saat bensin sudah terisi penuh.
“Tapi belum lapar.” Ganding menjawab dengan pasti, yang lain juga.
“Kau kira aku sudah lapar? Kita harus jaga stamina, kalau harus berhadapan dengan siapapun itu, kita akan lemas karena kehabisan tenaga, sepertinya mereka sengaja membuat kita lemah dulu, baru membuat kita bertemu dengan mereka dan memilih kabur dibanding menghadapi.
Sama seperti Jaka dan temannya itu, siapa yang tahu kalau mereka sebenarnya tidak langsung melihat apa yang mereka sebut mengerikan itu? siapa tahu mereka sebenarnya melihat yang mengerikan itu, setelah berjalan satu atau dua hari penuh tanpa mereka sadari, seingat mereka, begitu masuk jalan ini langsung lihat, padahal mereka sendiri ditipu di sini. Ditipu waktu maksudku.” Jarni menjelaskan.
Setelah itu yang lain terpaksa harus makan dulu, karena takut terjadi seperti apa yang Jarni katakan, lagian benar, bisa saja Jaka dan temannya benar-benar tertipu waktu.
Mereka makan dan setelah selesai, mereka melanjutkan perjalanan, menembus kegelapan yang tidak pernah sirna. Entah sampai kapan, jika tidak berhasil hingga bensin mereka habis, padahal persiapannya sampai kosong.
...
“Sudah berapa hari?” Wak Eman bertanya pada seorang gadis di jalan persawahan itu, ini sudah pagi dan Wak Eman mengantarkan nasi serta lauk untuknya. Gadis itu terus memperhatikan waktu dan mencoba menghubungi lewat batin.
Sedang Abah Wangsa, Khodam Ganding, Jarni dan Hartino duduk bersila dihadapan Alka yang juga bersila di sana, jika sudah jam 6 pagi, Alka akan pindah ke bagian saung di tengah sawah itu, agar tidak mengganggu warga, tidak lagi di tengah jalan, bersila bersama khodam yang lain.
“Sudah 5 hari, Wak.” Mereka sudah pindah ke saung di tengah sawah.
“Wah, sudah lama sekali, kau masih tidak bisa menghubungi Adit melalui komunikasi batin? Katamu kau dan Aditia bisa berkomunikasi secara batin?”
“Ya, kami bisa komunikasi batin, tapi kabut yang menutupi mereka terlalu tebal, makanya setiap saat aku terus menembus kabut itu agar suaraku bisa terdenga Aditia tanpa tertahan kabut.” Alka menjelaskan.
“Kau juga makan yang benar, Alka, kau harus tetap fit, kalau mereka tak juga bisa keluar, kau harus menjemput bukan?”
“Aku tidak bisa menjemput kalau pintunya tidak dibuka Aditia, setiap malam aku melihat, ‘mereka’ apapun itu tidak membuka pintu ghaibnya lagi, sepertinya mereka suka bermain dengan teman-temanku. Entah apa yang membuat mereka lama sekali di sana.”
“Kenapa kalian memutuskan untuk tidak membawa serta khodam dan meninggalkanmu di sini? aku tidak tahu itu sampai aku melihatmu di tengah sawah ini. Aku pikir kalian pergi semua.” Wak Eman memang tidak tahu rencananya.
“Kami takkan mendapatkan apapun kalau masuk dengan khodam dan aku, ingat percobaan pertama kami? Hanya sebentar kami di sana, langsung ditendang keluar dari sana, entah oleh apa, walau perbedaan waktu, kami tetap lewati. Jika kami masuk dengan khodam, mereka akan menandai khodam kami dan tentu aku, karena aku berbeda, makanya aku tak disertakan.
Rencana ini terpikir ketika kami baru akan masuk, kami semua setuju, Ganding bilang, ini kemungkinan kita berhasil sedikit, tapi kalau tanpa khodam, kemungkinan mereka tak mengenali kita.”
“Rupanya begitu, apakah kalian terbiasa, saling ... membahayakan diri masing-masing?” Wak Eman lega, Alka akhirnya mau makan, dia takut kalau Alka sakit dan kawanan juga hilang, ini sudah 5 hari. Beruntung mereka bawa makanan dan juga minum.
“Kami tidak saling membahayakan Wak, justru, langkah kami adalah yang paling minim bahayanya, untuk orang-orang seperti kami, kalau mau membantu, ya begitu resikonya, makhluk ghaib itu, adalah makhluk yang paling sulit dipelajari, karena mereka tidak terlihat, kecuali oleh orang seperti kami.
Kami ingin mengatakan ini anugrah, tapi ... banyak dari kami ingin hidup biasa saja, tanpa harus menjadi orang yang terberkahi begini.
Jadi kalau pertanyaannya, apakah kami menjadi terbiasa membahayakan diri kami masing-masing? Tidak kok Wak, kami sudah memperhitungkan begitu banyak resiko, walau sebenarnya, kami lebih suka untuk bekerja bersama, dibanding terpisah, tapi terkadang, kami harus melakukan langkah terpisah agar bisa berhasil menyelesaikan kasus.”
“Kalian anak-anak muda sungguh membuatku menjadi merasa tidak berguna, pasti begitu banyak yang kalian lakukan di luar sana, untuk membantu banyak orang, sedang aku, membantu Aep saja tidak bisa sampai akhir.”
“Wak, ingat berapa lama kira-kira makanan mereka bisa bertahan?” Alka teringat sesuatu.
“Mereka membawa makanan yang cukup, mungkin bisa sampai 7 hari jika mereka irit, tapi jika mereka tidak menghitung, ya cuma 4 atau 5 hari saja makanan itu bisa bertahan.”
“Aku sungguh sudah tidak sabar, aku harus segera menemukan jalan untuk menghubungi mereka, karena mereka tidak juga keluar, kalau kelamaan, aku takut, mereka lupa jalan pulang.”
“Apa itu mungkin terjadi?”
“Seperti yang aku bilang, bahwa dunia ghaib itu adalah dunia yang paling sulit diprediksi, sulit dipelajari dan paling tidak bisa dibaca polanya, kita hanya harus terus percaya ada jalan dengan niat yang baik.”
“Kalau begitu, kalian pasti akan berhasil kan? niat kalian baik.”
“Niat kami baik, maka Tuhan akan bantu, tapi bagaimana jika, niat dari tempat ini juga ... tidak jahat? Maka menurut Wak Eman, yang mana Tuhan akan pilih? Kami ... atau mereka?” Alka tiba-tiba merasa khawatir.
“Maksudmu?”
“Entahlah, ini terlalu lama, kawanan tidak pernah tersesat sama sekali, suara batinku tidak bisa tembus ke sana, jadi mungkin memang ada campur tangan Tuhan untuk menjaga tempat ini, bagaimana jika Tuhan memang memberi izin agar tempat ini tetaplah menjadi seperti ini, bagaimana jika ... tempat ini memang tidak boleh kita jamah dan bukan bagian dari kasus yang harus diselesaikan, kenapa catatan bapak juga hanya menulis kalimat ... perhatikan sawahnya, jangan jalannya. Apakah maksudnya adalah ... kami harus diam dan tidak ikut camput?”
__________________________
Catatan Penulis :
Ada yang sadar ketika aku menulis kata, lima orang yang ada di zona ghaib itu? ada yang sadar ketika aku bilang persiapannya kosong adalah maksudnya mereka masuk tanpa khodam?
__ADS_1
Tulis di komentar ya, yang jujur loh ....
Selamat membaca.