Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 487 : Nyebrang 19


__ADS_3

Tubuh ini seorang tubuh wanita, tubuh ini walau tak utuh, tapi masih memakai pakaian, jadi terlihat jelas, itu pakaian wanita, potongan tubuh ini hampir membusuk, lalu Alka mendekati potongan tubuh, dia bermaksud memenganya, karena ingin tahu, ini potongan tubuh yang benar atau hanya manekin.


Tapi saat dia hendak memegangnya, tiba-tiba ada sesuatu yang menggelinding, Alka dengan tenang melihatnya  dan itu adalah ....


“Jangan pegang tubuhku.” Kepala seorang wanita dengan rambut yang cukup panjang, kepala itu menggelinding mendekati tubuhnya, dari kejauhan ada sesuatu yang berlari, itu adalah ... sisa tubuh dari perempuan ini, kakinya yang terpisah, berlari mendekati tubuh dan kepala itu.


Tubuh mereka menyatu satu demi satu dan menjadi kesatuan yang utuh. Wanita itu tertawa setelah berhasil menyatukan tubuhnya.


Wak Eman heran, kenapa kok Didin tiba-tiba tertawa, Wak Eman menjauhinya, Alka mendekati Wak Eman, takut kalau Wak Eman dikerjai.


Didin yang tadi terlihat ketakutan lalu tiba-tiba tertawa dan ... satu persatu tubuhnya lepas, lepas menjadi beberapa bagian, kepalanya putus tapi masih dalam keadaan tertawa terbahak-bahak.


“Ini apa!” Alka bingung, dia tidak takut, tapi bingung harus menghadapi mereka seperti apa?


“Lari!” Wak Eman berteriak pada Alka, Alka menuruti dan mereka berlari.


Alka hanya mengikuti Wak Eman saja, arah mereka tidak jelas, karena mereka terus berjalan.


Sembari berlari, Alka melihat ke arah sawah, dia melihat ke sana terus sembari berlari.


“Wak, kenapa kita harus berlari?” Alka bertanya, karena dia tidak suka ketika harus berlari ketakutan seperti ini, tadi dia berlari reflek diteriaki oleh Wak Eman.


“Karena mereka takkan bisa kita taklukkan.” Wak Eman berkata masih sembari berlari, Alka berhenti mendengar itu.


“Tahu dari mana?” Alka bertanya.


“Hanya menebak, lagian, siapa yang bisa melawan setan yang tubuhnya sudah hancur lebur, tapi kembali menyatu, kau mau apakan dia, tetap saja akan kembali.”


“Dari mana kau tahu, Wak?” Alka mengejarnya lagi, karena jarak mereka cukup jauh di titik Wak Eman berhenti.


“Aep memberitahuku, dia bilang tempat ini bukan tempat yang bisa kau kendalikan, karena dia dan Mulyana yang menciptakan tempat ini.”


“Hah?!” Alka bingung mendengarnya.


“Kalau begitu, kau tahu juga jalan keluar dari sini?”


“Tidak, makanya aku lari asal saja di sini.”


“Kau tahu banyak Wak, tapi kenapa ceritamu tidak lengkap pada kami?”


“Aku sudah tua Alka, kadang ada yang aku lupa, maafkanlah.” Wak Eman berkata dengan wajah yang tidak merasa bersalah.


“Hei ... kalian mau ke mana?” Didin sudah berada di belakang mereka, Alka berbalik dna bersiap.


“Alka, ayo kit lari.”


“Lari? Kenapa harus lari?” Alka lalu mulai memasang kuda-kuda, dari belakang seorang wanita yang ikut mengejar dengan tubuh yang baru saja menyatu, hingga larinya terlihat aneh, karena kakinya tidak menyatu dengan sempurna, dengan kecepatan lari yang luar biasa itu, akan menyerang Alka juga.


Alka bersiap, dia mengeluarkan cambuknya, yang diujung cambuk telah terlilit kain hijau, Karembo penanda pasukan Ayi.


Dia menyabet Didin terlebih dahulu, lalu menahan cakaran yang ditujukan padanya dari wanita itu, tangannya sudah bersiap mencakar wajah Alka, tapi tertahan karen Alka menahan tubuh itu dengan kakinya, sementara tangannya sibuk menyabet Didin.


Didin terkena cambukan beberapa kali, tapi masih terus bangkit, dia bangkit bahkan setelah tanganya putus lalu, tapi terus kembali ke tubuhnya dan berfungsi seperti semula, tentu saja, ini dunia ghaib, apa saja bisa terjadi.


Alka terus menyerang dan melakukan pertahanan dalam satu waktu, karena ada dua orang yang dia sedang hadapi.

__ADS_1


Wak Eman? Dia tidak bisa diandalkan, bahkan dia telah menghilang entah kemana, wajar, sebagai orang awam, dia juga memiliki ketakutan, tapi kalau takut, kenapa juga dia harus ikut ke sini. Sekarang dia malah menjadi bebaan Alka, karena Alka harus memastikan dia baik-baik saja.


...


“Siapa tuh!” Aditia melihat seseorang berlari dari kejauhan, kawanan bersiap, mereka sedang beristirahat agar tidak ditendang keluar dari zona ini, menunggu Alka sampai di sini.


“Wak Emang!” Yang lain berteriak begitu melihat sosok itu mendekat.


“Bagaimana Wak ada di sini?” Alisha bertanya, semua orang mendekati Wak Eman.


“Aku bersama Alka ke sini.” Wak Eman masih ngos-ngosan.


“Alkanya mana!” Aditia khawatir, karena perempuan itu tak ada di sini.


“Dia tidak mau ikut lari malah bertarung dengan arwah Didin dan juga pacarnya, arwah itu bagian tubuhnya putus-putus lalu menyatu lagi.”


“Kalian menemukan sesuatu? Didin?” Ganding bertanya.


“Iya, dia itu pasangan yang menyebrang dan akhirnya ditemukan meninggal jauh dari jalan ini, ingat? Aku pernah cerita loh.”


“Ya, aku ingat, lalu sekarang Alka mana?” Aditia bertanya lagi.


“Di sana, dia ada di sana.” Wak Eman menunjuk ke arah belakangnya, kawanan naik angkot dan bersama Wak Eman, akan ke tempat di mana Alka berada.


Aditia melajukan kendaraannya dengan sangat cepat, dia tak ingin kekasihnya terluka, karena mereka tak pernah tahu apa yang dihadapi sebenarnya.


Mobil terus melaju, lalu Ganding berteriak, “Berhenti Dit! Cek indikator mesin, aku takut kita terjebak di 10 menit lagi!” beruntung Ganding teringat, tidak seharusnya mereka memakai mobil, seharusnya mereka berjalan kaki saja dan membiarkan angkot di sana. Bukankah lebih baik kehilangan angkot daripada kehilangan Alka?


Aditia memberhentikan mobilnya, tidak tahu, apakah benar mereka baru berjalan sebentar atau sudah lama berkendara, mereka kehilangan kesadaran tentang waktu.


“Betul Wak, kita terjebak di waktu 10 menit, sekarang kita bahkan kehilangan arah untuk bisa meneui kakakku, tidak ada patokan, tempat ini hanya dikelilingi ... sawah!!!” Ganding teringat sesuatu.


“Kenapa Nding?!” Yang lain berharap, kalau Ganding sudah berteriak satu kata, dia biasanya mendapatkan ide yang briliant dan sering kali membawa mereka pada penyelesaikan kasus.


“Perhatikan sawahnya, jangan perhatikan jalannya?” Ganding memastikan dan semua orang mengangguk.


“Turun!” Ganding meminta semua orang turun, termasuk Wak Eman.


Tidak ada yang bertanya karena tahu, tidak ada waktu untuk penjelasan.


Ganding berjalan terus di jalan aspal itu, yang lain mengikuti. Saat berjalan maju ke depan, dia tiba-tiba mundur berhenti wajahnya menunjukkan dia sedang berpikir keras..


“Kenapa?” Hartino bertanya.


Ganding tidak menjawab, dia lalu berputar, menjadi menghadap kawanan setelah sebelumnya dia membelakangi kawanan.


Lalu Ganding berjalan ke depan, membuat barisan kawanan menjadi terpecah karena menghindari ditubruk Ganding, dia memutar arah, yang tadinya maju ke depan, lalu mundur ke belakang, tapi tentu saja berjalan maju, makanya Ganding memutar balik tubuhnya.


Mereka terus mengikuti Ganding dengan berjalan lurus ke depan, Ganding terus berjalan sambil memperhatikan dengan serius ke kanan dan ke kiri.


Lalu entah setelah beberapa saat, dia berhenti lagi, melakukan hal yang sama, memutar balik tubuhnya dan kembali berjalan ke depan dengan arah yang berlawanan dari sebelumnya.


Kalau ini terjadi di dunia nyata, maka Ganding akan terliaht berjalan bolak-balik.


“Nding, kita akan berapa lama lagi begini?”

__ADS_1


“Kalau kau sabar, kita akan menemukan kakak!” Ganding tidak suka diinterupsi, karena jalan ini benar-benar menguras kepalanya, beruntung dia punya kapasitas ingatan yang luas, sehingga bisa menampung ingatan tentang jalan persawahan ini, hitungan Ganding juga tepat, makanya dia bisa memprediksi kapan harus putar balik.


Setelah melakuan putar balik terus menerus entah berapa lama, yang mereka rasakan hanya kaki yang sakit, mereka akhirnya melihat dari kejauhan, ada kegaduhan di sana, Ganding berlari diikuti semua orang kegaduhan itu adalah di mana seorang gadis bermain cambuk berkali-kali dengan tangan yang sudah gemetar, sangat gemetar, hingga kakinya juga tak bisa diajak melayang lagi, dia bahkan menyeret kakinya agar bisa bertarung.


Tak peduli berapa banyak Alka menyabet cambuknya, berapa sering tubuh itu putus, maka akan kembali lagilah tubuh itu menyatu seperti semula, Alka sudah membidik kepalanya, tapi sayang, tetap tak berpengaruh, karena tetap kembali ke tubuhnya, walau telah putus dari leher, di sisa-sisa tenaganya, Ada tombak yang menancap pada ubun-ubun kepala Didin, tombak itu lalu membuat tubuh itu tercerai berai dengan kepingan daging yang berantakan, bukan lagi terputus, tapi tercincang, lalu Ganding dan Hartino mengeluarkan senjatanya, walau tak ada khodam dalam tubuh mereka, senjata tetaplah terpatri di dalam tubuh yang tidak bisa di deteksi, karena kosong seperti tuannya.


Ganding dan Hartino mengambil potongan tubuh Didin yang terlihat besar, lalu mencincangnya lagi agar tidak bisa kembali menjadi bentuk semula.


Mereka tahu kalau tubuh putus itu akan kembali bisa menyatu saat berlari dari tadi, mereka meliaht Didin berkali-kali kembali menyatukan bagian tubuh yagn putus setelah disabet Alka.


Melihat kawanan, Alka lega, karena jujur, dia sudah tak kuat lagi menghadapi mereka, sudah sangat lelah, bukan karena musuh ini punya kekuatan tinggi, tapi mereka punya niat yang sangat tinggi untuk membuat Alka lelah, mereka hanya terus menyambung tubuh itu agar kembali sempurna, lalu Alka mencoba menyerang dan terus terjadilah hal itu secara berulang.


Aditia menarik tubuh Alka dan berdiri di depannya, dia berdiri di depan Alka untuk menghalau wanita setan ini, wanita yang berani sekali membuat kekasihnya kelelahan.


Aditia menombak lagi ubun-ubun wanita ini dan tubuh itu kembali hancur berkeping-keping, yang lain seperti tukang jagal, memotong daging yang terlihat masih dalam potongan besar. Setelah selesai dengan mereka berdua, Aditia lalu meminta semua orang untuk menepi, Ganding dan Hartino juga selesai dengan ruh perdagingan itu.


“Ini.” Alka menyerahkan beberpa botol kaca, semua orang menerima botolnya masing-masing, ternyata khodam mereka, Alka membawa khodam kawanan di dalam botol, termasuk Khodam Alisha, Rangda yang kadang hilang kalau dilepas, karena dia lebih suka bergerak sendiri, tidak mampu bekerja secara koloni, apalagi tidak menjadi pemimpin, tapi beruntung, saat Alka akan masuk ke jalan ini, Rangda bisa dipanggil dan patuh saat disuruh masuk ke botol, Alka berkomunikasi dengan Rangda, dia mengatakan bahwa Alisha dalam bahaya, makanya Rangda patuh. Alisha telah menjadi tuan yang sesungguhnya bagi khodam Bali itu.


“Untung kalian datang, kalau tidak, aku pasti sudah dikerjai dua makhluk brengsek itu, ilmunya sederhana, tapi bisa membuat kita kewalahan, untung ada tombakmu, Dit.”


“Kami tahu kau akan masuk ke sini, makanya kami menunggumu di suatu tempat, entah di mana.”


“Lalu bagaimana kalian bisa menemukanku? Kan jalan ini selalu menjadi jembatan yang melempar kita ke tempat-tempat yang tidak bisa kita prediksi.”


“Karena kami bertemu dengan Wak Eman, Kak,” Ganding menjawab.


“Lalu di mana Wak Emang sekarang?” Alka bertanya lagi, membuat yang lain sadar, bahwa lelaki itu telah menghilang.


“Dia tadi lari bersama kita, ikut kita bulak-balik dan akhirnya Ganding menemukanmu, Ka. Tapi jujur, aku pun tak sadar, kenapa dia tak ada di sini sekarang, waduh, celaka kalau sampai dia tersesat.” Aditia menyesal, kenapa tadi tidak menjaga Wak Eman.


“Ada yang aneh dengannya, Dit.” Alka berkata dengan wajah serius.


“Maksudmu?” Aditia dan yang lain penasaran.


“Dia terlihat sangat hapal dengan tempat dan fenomena di tempat ini, maksudku, aku merasakan dia berbeda saat masuk denganku di tempat ini, Dit. Dia jadi lebih berani.”


“Aku tidak terlalu memperhatikan, tapi apa yang kau curigai?” Aditia bertanya.


“Aku pikir dia mungkin telah dirasuki oleh sesuatu? “ Alka menebak.


“Kalau dia dirasuki, kenapa kita tak merasakannya? Bukankah kita pandai merasakan itu?” Ganding menyangkal pendapat Alka.


“Mungkin dia memang orang jahat? Selama ini dia hanya menyamar dan sekarang di sini, di tempat ini, dia menunjukkan sifat aslinya.” Hartino ikut asal nebak.


“Dia orang jahat? Apakah mungkin? Aku sangat percaya padanya.” Aditia tidak suka kalau itu terjadi.


“Kau memang selalu cepat percaya orang Dit, lupa kejadian Alya? Kau bahkan sangat percaya padanya, padahal dia hanya memanfaatkanmu untuk bisa menaklukan khodam ayahnya.” Hartino mengingatkan itu, Alka terdiam sesaat, bukan cemburu, hanya saja, dia tak suka tentang cerita itu, saat dia dan kawanan belum bisa menunjukkan diri dan membantu Aditia, mereka melihat dari jauh, bagaimana Aditia ditipu dan masih tergila-gila pada perempuan itu.


“Sudah, jangan bicarakan hal yang sudah lewat, terlebih orangnya sudah almarhumah, sekarang fokus pada kasus ini, aku juga butuh penjelasan kenapa Ganding terusa saja berjalan bolak-balik di jalan persawahan ini dan menemukan Alka akhirnya, kenapa kau bisa menemukan jalan ini?”


“Itu semua karena perhitungan dan ingatan yang matang, Dit. Jadi, begini ceritanya ....”


_______________________________


Catatan Penulis :

__ADS_1


Silahkan menebak-nebak tentang Wak Eman, aku bebaskan.


__ADS_2