Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 88 : Borok 5


__ADS_3

Seperti rencana semalam, mereka mendatangi orang yang tahun 1985 itu terkena penyakit borok yang sama seperti Ami.


Namanya Mono, dia seorang petani padi di desa ini, kebetulan hari ini dia tidak pergi sawah, jadi bisa bertemu dengan lima sekawan itu.


Rumah Mono cukup besar dan juga mirip seperti rumah Aki, tidak ada gerbang tapi agar kayu saja tanpa daun pintu, sehingga siapapun bisa masuk, bedanya, dia tidak menggunakan pagar ghaib.


“Kalian siapa ya?” Mono bertanya setelah dia membuka pintu rumahnya dan lima sekawan sudah di halaman rumahnya Mono.


“Kami adalah Mahasiswa Pak Mono, saya Aditia, ini Alka, Jarni, Ganding dan Hartino, kami sedang membantu teman yang sakit, sakit yang mirip seperti Pak Mono dulu.”


“Masuk dulu deh, mau minum apa?” Mono mempersilahkan mereka masuk dan menawarkan minum, setelahnya dia masuk dan mengeluarkan teh hangat, teh di desa memang selalu memiliki bau dan rasa yang berbeda.


“Terima kasih Pak, saya lanjutkan lagi ya, jadi Ami itu pernah ke desa ini, entah kenapa mungkin dia memegang pohon borok itu, jadi saat sudah pulang ke Jakarta, dia sakit borok yang sangat parah, disekujur tubuhnya kecuali wajah, borok itu mengeluarkan nanah yang cuku banyak,


Kami tahu dari surat kabar dahulu, bahwa Pak Mono juga dulu pernah sakit yang sama karena pohon itu.” Aditia menjelaskan.


“Ya, kalian benar, saya pernah sakit yang sama karena pohon itu, tapi apakah kalian yakin, teman kalian sakitnya karena pohon itu, bukan karena penyakit lain?”


“Sudah dipastikan Pak, bukan karena penyakit medis.” Aditia Menjawab.


“Baik, kalau begitu apa yang bisa saya bantu?”


“Bisa tolong ceritakan dulu apa yang terjadi dulu ketika Pak Mono kena penyakit itu?”


“Oh begitu, baiklah, jadi saat itu umurku sekitar lima tahunan kalau tidak salah, seharusnya aku sudah tidak terlalu ingat, karena itu terjadi saat aku masih kecil sekali, tapi karena kejadian itu benar-benar sesuatu yang sangat membekas dengan dalam diingatanku, jadinya aku masih dengan jelas mengingat semuanya.


Saat itu aku seperti biasa bermain dengan teman-teman sebayaku di dekat hutan bata, orang tua kami sudah mengingatkan untuk tidak pernah menyentuh pohon itu, bahkan bermain di dekatnya, tapi saat itu entah kenapa, aku malah main petak umpet dan bersembuyi di balik pohon itu, aku ingin temanku yang sedang jaga, sulit menemukanku.


Karena asik bermain, aku tidak sadar, pohon besar yang aku jadikan tempat bersembunyi adalah pohon borok, aku memegang pohon itu untuk bersembunyi, awalnya saat pegang pohon itu, tanganku terasa panas, saat sadar, aku langsung mengusap tanganku ke tanah, itu pemikiran anak kecil saja, siapa tahu aku tidak akan sakit karenanya dan sebenarnya tidak terlalu perduli.


Kami tetap bermain dan sampai ketika akan Maghrib, orang tua kami memanggil dan menyuruh kami semua pulang, aku juga pulang karena ibuku pun menjemputku untuk pulang, lalu aku sampai rumah bersama ibuku, setelahnya sekujur tubuhku panas, sangat panas, aku fikir itu karena terlalu banyak bermain, makanya aku buru-buru mandi, saat mandi, aku memakai sabun ke bagian perut dulu, saat itulah aku baru sadar kalau ... kalau perutku ada luka koreng yang terbuka, tapi koreng itu aku tidak ingat kapan adanya, seperti tiba-tiba ada saja, parahnya luka koreng itu terbuka dan di gesek sedikit saja, kulitnya mengelupas dan mengeluarkan nanah, yang sangat-sangat bau.


Aku kecil saat itu tidak berfikir apa-apa, bahkan tidak takut, bahkan tidak mencari tahu luka koreng itu, apalagi berfikir bahwa itu karena pohon borok di hutan bata.


Setelah mandi, aku berpakaian, makan dan mengaji, semua berjalan baik, sampai malam harinya ketika aku akan tidur, seluruh tubuhku gatal tidak bisa di tahan, saat aku garuk tangan, gatal pindah ke kaki, aku garik kaki, gatal pindah ke punggung, begitu seterusnya berganti dan dari luka garuk itu, timbul koreng yang terbuka dan kulitnya sangat mudah terkelupas, tapi yang aneh, areal wajahku tidak gatal sama sekali sehingga wajahku aman.


Karena takut, aku tidak bicara pada orang tuaku, aku juga mulai curiga bahwa aku kena penyakit borok karena pohon borok itu, jadi semakin takut cerita ke orang tuaku.


Besoknya aku tetap sekolah bermain seperti biasa, tapi gatal di tubuhku tidak mau hilang setelah gatal pasti akan sangat panas, hingga tiba akan makan siang dan aku pulang dari bermain di rumah teman, aku pingsan di jalanan Karena tidak mampu menahan panas seluruh tubuhku, tetangga membawaku pulang ke rumah, tubuhku sudah penuh borok dan nanah, bau tubuhku juga sangat busuk.


Kampung menjadi heboh karena mereka yakin, aku telah memegang pohon borok itu, karena lukanya begitu cepat, ada seorang tetangga yang mengadu melihatku bermain di sekitar pohon borok hari sebelumnya, orang tuaku, buru-buru mencari orang pintar untuk menyembuhkanku, walau di desa kami sebenarnya belum pernah ada orang yang terkena penyakin ini, tapi semua orang percaya, bahwa pohon itu bisa membawa penyakit borok dan sialnya, aku kecil membuktikan itu.”


“Lalu bagaimana setelah orang pintar itu datang?”


“Orang pintar itu datang dan saat dia datang aku jujur menceritakan bahwa hari sebelumnya aku bersembunyi di pohon borok itu dan memegang pohonnya, maka orang pintar itu mencoba mengobatiku dengan minuman aneh yang pahit sekali, minuman itu diberikan padaku selama satu minggu penuh, berangsur-angsur tubuhku membaik dan sembuh dalam waktu satu bulan, tapi minum ramuannya hanya satu minggu saja, gatal dan panas tubuhku hilang.”


“Apakah Pak Mono ingat, orang pintar itu menceritakan sebab dari pohon itu menjadi pohon borok? Missal bercerita pada orang tua Pak Mono?” Aditia bertanya lagi.


“Ya, aku pernah mendengar dukun itu berbicara pada ayahku saat kunjungannya yang terakhir di rumah kami memberikan ramuan obat untukku, dia bilang bahwa pohon itu ada penunggunya, jadi penunggu itu marah kalau pohon itu disentuh, semenjak itu semua orang jadi tidak berani menyentuh pohon itu sama sekali.”


“Lagian kalau pohon sebahaya itu kenapa nggak di tutupin aja sih, atau ditebang.” Hartino asal bicara.

__ADS_1


“Gimana mau nutup, pegang aja nggak berani, apalagi rumor juga mengatakan bahwa, kalau hawanya saja bisa membuat kita borokan.” Mono menjelaskan lagi.


Yasudah Pak Mono, terima kasih karena menceritakan semuanya dengan baik, apakah boleh kami meminta alamat orang pintar yang dulu menyebuhkan Pak Mono?” Aditia meminta alamat orang pintar itu.


“Boleh, ini saya catat dulu.” Pak Mono lalu masuk ke dalam, tidak lama kemudian dia memberikan alamat orang pintar itu yang ternyata masih di desa ini, setelah itu mereka semua pamitan dan Pak Mono mendoakan supaya Ami cepat sembuh, dia tahu betul sehari saja merasakan borok itu sangat tersiksa, apalagi Ami yang sudah beberapa hari.


Lima sekawan itu pergi ke alamat yang dituju, saat mereka mengetuk rumahnya yang ternyata bagian depannya adalah warung kopi, seorang pria tua yang bungkuk datang membuka pintu.


Kaget kedatangan lima orang tatapannya terlihat senang.


“Kalian ada masalah ya?” Tanyanya.


“Wah Bapak hebat bisa tahu.” Hartino meledek saja, ya pasti ada masalah kalau datang ke Dukun.


“Yaudah masuk yuk.” Dukun itu mempersilahkan masuk, “jadi apa masalah kalian.” Dukun itu bertanya setelah mereka semua duduk lesahan di tikar ruang tamu Dukun ini.


“Lah tadi katanya tahu.” Hartino meledek lagi.


“Kami datang untuk menanyakan soal pohon borok Pak, apakah bisa bantu? Karena teman kami sakit yang sama seperti Pak Mono dulu karena pohon itu.” Aditia menjelaskan dengan singkat saja.


“Oh masalah itu, gampang, saya lihat dulu orangnya ya.” Dukun itu berkata.


“Menurut Bapak, kenapa pohon itu bisa menimbulkan borok dan kenapa Pak Mono bisa kena peyakit borok itu dulu saat masih kecil.”


“Pohon itu ada penunggunya Neng, penunggunya marah karena dia tidak suka pohon itu atau rumahnya dipegang sembarangan.”


“Oh jadi penunggunya ini kasih penyakit gitu Pak?” Alka bertanya lagi seperti orang yang tidak tahu apa-apa.


“Berbentuk seperti apa pak penunggunya itu.”


“Penunggunya itu adalah sepasang kekasih, pocong dan kuntilanak, mereka membangun keluarga di pohon itu, makanya mereka sangat tidak suka apabila ada yang pegang pohon itu.”


Lima sekawan tertawa terpingkal-pingkal mendengar itu, sedang sang dukun bingung, baru kali ini perkataan dia tidak disepelekan, bahkan ditertawakan.


“Kalian tidak percaya?”


“Klasik sekali Pak, masa pocong ama kuntilanak kawin, anaknya tuyul?” Ganding kali ini ikutan meledek, sekali lagi mereka semua tertawa.


“Kalian benar-benar kurang ajar!” Dukun itu lalu mengeluarkan sebuah bungkusan putih, itu adalah potongan kain kafan, dia menjapi kain itu dan melempar kainnya pada Aditia lebih dulu, Aditia memegang lehernya seteah kain itu mengenai badannya, Aditia tercekik seperti tidak bisa bernafas, dukun itu tertawa.


“Itu akibatnya kalau kalian semua menertawakanku, mau kalian seperti dia?” Dukun itu membusungkan dada.


“Dit, nggak capek lu akting gitu.” Ganding berkata dengan wajah serius, Aditia juga berhenti berakting tercekik, dia juga memasang wajah serius.


“Bukan dia Ka, palsu nih dukun.” Aditia berkata pada Alka, semua orang setuju, mereka berdisukusi di rumah dukun itu dan di depan wajahnya.


“Brengsek kalian, pergi dari rumah saya atau saya santet!”


“Diam kau.” Jarni mengeluarkan ular ghaibnya dan dia biarkan dukun itu melihatnya, saking tidak memiliki ilmu dukun ini bahkan tidak bisa merasakan betapa tingginya energi lima sekawan ini.


Jarni menatapnya dengan tajam dan melempar ular mininya, dukun itu berteriak tapi tidak bisa keluar suara, tubuhnya juga jadi kaku.

__ADS_1


"Gimana Kak?" Ganding bertanya.


"Pak Mono sembuh tapi bukan dia yang menyembuhkannya, pasti ada orang lain, tapi dia menyembuhkannya tanpa diketahui orang lain, kalau kita menemukan si penyembuh itu maka kemungkinan dia tahu asala-usul pohon itu." 


"Tuh kan, aku yakin pasti Aki itu nih, dari pagar kayunua aja kita nggak bisa masuk." Ganding kembali mengemukakan pendapatnya mengenaik Aki yang mengusir dia dan Jarni kemarin.


"Kita ke rumah itu, kalau benar dia, kita harus berjaga, ingat kalian hanya berempat." Alka takut kalau Aki ini ilmunya tinggi, alka tidak bisa membantu banyak karena sedang disegel.


Mereka berlima keluar dari rumah dukun palsu itu, sebelumnya juga membebaskan tubuhnya dari bisa racun ular ghaib Jarni dan memperingatkannya agar dukun itu tidak banyak menipu orang.


Saat sampai di rumah Aki, Jarni, Ganding dan Hartino mencoba masuk dan masih terpental sementara Alka dan Aditia bisa masuk tanpa hambatan apapun, tadinya Ganding hanya ingin membuktikan perkataannya tentang betapa tingginya pagar ghaib di rumah Aki ini.


"Kok kalian bisa masuk?" Ganding iri, Alka dan Aditia berada di bagian dalam pagar kayu rumah Aki sementara Ganding, Hartino dan Jarni ada di bagian luar.


"Kharisma Jagat nih Dit, kalau Aditia jelas bisa masuk karena dia berada di kelas cukup tinggi perkharisma jagatan, kalau aku, karena aku tidak punya khodam maka tubuhku ini tidak dideteksi sebagai ancaman karena sedang disegel juga, dianggap orang biasa sama pagar ghaibnya, makanya aku bisa masuk."


"Kalian lagi, rame-rame ke sini mau apa?" Aki ternyata di dalam, dia berteriak dengan kesal. Tapi saat Aditia membalik badannya dan melihat ke arah Aki, Aki tertegun lalu dia berlari mendekati Aditia.


"Kau anaknya Mulyana? Si Kasep?!" Aki seperti kaget tapi wajahnya senang.


"Iya betul Ki, kok tahu." Ini baru namanya Cenayang, Aditia berfikir begitu.


"Setiap Kharisma Jagat memiliki warna energi yang berbeda, energi itu diturunkan dari ayah ke anak, Mulyana sahabatku, aku tahu betul energinya."


"Kalau Ayahku sahabat Aki, kenapa di buku catatan ayah, tidak ada catatan tentang pohon itu ya?"


"Jadi, masih tentang pohon itu?" Aki bertanya.


"Tolong kami Ki, kasihan temenku ini." Aditia mengambil tangan Aki dan mencium tangannya.


"Masuk dulu semua, kalian letakkan dulu khodamnya, kau Alka ya? Anak angkat Mulyana?" Aki ternyata juga mengenali Alka.


"Iya Ki." Benar-benar Cenayang, Alka tersenyum, Ganding benar.


"Duduk semua, hampura nyak kemarin diusir, nggak tau kalau kalian orangnya Mulyana."


"Iya nggak apa-apa Ki." Ganding tulus mengatakannya.


"Soal pohon itu gimana Ki?" "Hmm, pohon itu memang tidak ada yang tahu keberadaannya, bahkan aku menyembunyikan pohon itu dari Mulyana."


"Kenapa?" Aditia bertanya.


"Karena Mulyana pasti akan menebangnya."


"Apakah pohon itu benar-benar bahaya Ki?" "Iya Dit, Mono saja dulu hampir terenggut nyawanya."


"Jadi Aki tang menolong Pak Mono dulu?" "Ya."


"Tapi dukun itu yang mendapat nama." Aditia kesal.


"Biarkanlah, Kharisma Jagat seperti kita, menyembuhkan tanpa pamrih, apalagi ini ...."

__ADS_1


Aki terdiam, seperti sulit mengatakannya, yang lain semakin penasaran. Kalian penasaran juga ya? Besok ya, jangan lupa Vote dan isi bukcet hadiah ya.   Terima kasih.


__ADS_2