
Setelah selesai, mereka lalu sepakat untuk pisah jalan, Hagir juga sudah mendapatkan uang yang dijanjikan, sementara Badrun pulang bersama truk yang dia bawa dari tempat pelatihan itu.
Setelah jalan itu sepi tak ada lagi lalu lalang, terdengar suara rintihan-rintihan yang sangat mengerikan, rintihan kepanasan, kesakitan dan bau gosong bercampur bau minyak kasturi, tempat itu menjadi neraka bagi para mayat yang dikubur di sana.
…
“Apa yang kau lakukan pada kekasihku!” Yoga berteriak di sebuah rumah yang disewa ayahnya untuk tempat dia menginap di sana.
“Mayat itu maksudmu! Aku tidak melakukan apapun, aku hanya menguburnya lagi, bersamaan dengan semua dukun yang mati karena sumpah darah itu.”
“Kalau mereka mati, kenapa aku tidak mati! Karena aku juga mengikuti sumpah darah itu!” Yoga kembali berteriak, di rumah sewaan itu tak akan ada yang dengar teriakannya, karena rumah itu begitu terpencil dan juga di luar pintu, dijaga dua orang bodyguard.
“Karena aku membebaskanmu dari sumpah darah itu.”
Hagir masuk ke ruangan, lalu pintu ditutup lagi untuk mencegah Yoga kabur.
“Kau siapa!”
“Aku bukan siapa-siapa dan aku tidak perlu kau kenali, yang perlu kau ketahui hanya, kau telah dibodohi oleh suku itu, mayat itu akan bangun tapi bukan sebagai manusia! Mayat itu akan bangun sebagai monster yang suka darah manusia, dia akan membunuhmu pada akhirnya, tidak ada di dunia ini yang mampu membangkitkan orang mati!”
“Ada! Leluhur mereka adalah Calon Arang yang mampu membangkitkan mayat menjadi manusia biasa lagi, kau tidak tahu karena ilmumu yang tidak tinggi!”
“Yoga, apa kau tidak belajar dari kesalahan sewaktu Wulan akhirnya harus mati! Kalau memang mereka sehebat itu, lalu kenapa tak ada yang mampu mencegah kematian Wulan! Apakah ayahnya benar orang sakti, sedang melindungi putrinya saja tidak bisa!
Sumpah darah itulah yang harusnya tidak kau lakukan, karena aku tidak pernah membebaskanmu dari sumpah darah, tapi aku hanya menidurkan mantranya, seharusnya kau sudah mati dengan mereka semua, para dukun itu, tapi kau tidak mati karena kemampuanku yang kau bilang rendah itu berhasil menidurkan mantranya, kelak mantra itu bisa saja terbangun!” Hagir membentaknya, Badrun hanya duduk di salah satu sofa dan melihat adegan ini dengan tenang sembari menghisap rokoknya.
__ADS_1
“Aku tidak percaya padamu, aku percaya pada ayahnya Wulan!”
“Kau percaya pada lelaki itu? Yang kabur saat semua orang mati, seolah dia tak tahu kalau cepat atau lambat dia juga akan mati karena sumpah darah yang dia lakukan, ritualnya tak berhasil bukan?” Hagir memang memutarbalikkan fakta karena sebenarnya mereka tidak memberi kesempatan untuk para dukun merasakan sensasi mati karena sumpah darah, mereka membakarnya hidup-hidup. Walau sumpah darah itu benar adanya, karena Yoga sempat muntah darah sebelum akhirnya mantra itu ditidurkan oleh Aki Hagir hanya agar Yoga selamat.
“Jadi … ayahnya juga mati?” Yoga lemas.
“Ya, ayahnya juga pasti mati entah di suatu tempat di mana, aku tak tahu, tapi melihat efek sumpah darah padamu, sudah dapat dipastikan dia pasti mati juga, karena takkan ada yang mampu menidurkan mantra sumpah itu selain aku, dukun mereka telah mati semua.”
Yoga semakin lemas mendengar itu.
“Sudahlah Nak, jalani hidupmu dengan biasa saja, kau punya istri dan kelak juga harus membesarkan anakmu, maka kau fokuslah lagi pada perusahaanmu, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, tapi aku mohon padamu, kembalilah hidup seperti biasa.” Badrun menutup perkataannya, dia dan Hagir lalu keluar kamar, meninggalkan Yoga yang masih bingung dengan semua ini dan memilih pasrah.
“Kau yakin kalau pelet yang wanita itu berikan sudah tak bersisa lagi di tubuhnya?” Badrun bertanya pada Hagir yang menyesap rokoknya dan meminum kopi hitam.
“Aku sudah memagarinya, lebih ketat dibanding yang muridku lakukan, makanya kau juga harus terus mendukungku, karena aku butuh banyak uang untuk memastikan Drabya kalah, uangnya sangat banyak dari upeti para dukun, sedang mereka tak lagi menyetor padaku karena lebih takut pada Drabya, aku harus mengalahkannya agar tetap hidup dan untuk tetap hidup aku harus tetap memberi banyak uang pada pengikutku agar mereka tetap setia, kau tahulah, uang bisa membuat orang setia.
Jadi, kalau kau ingin anakmu tetap hidup dengan baik, kau harus tetap memberiku banyak uang.” Hagir menekankan itu semua.
“Aku akan tetap memberimu banyak uang asal kau setia padaku, jangan bermain di belakangku dan mencelakai kami seperti muridmu itu.” Badrun mengingatkan soal loyalitas.
“Muridku? Dia mah bodoh, ilmunya masih cetek, lihat bagaimana aku bisa memilih waktu yang tepat untuk menghabisi mereka semua, kalau bukan karena aku tahu Drabya mendukung ritual pembangkitan itu, aku takkan pernah mau membantumu, karena kalau mereka berhasil dan Drabya ada di kubur mereka, pasti pamorku makin turun dan para dukun yang saat ini masih di bawahku akan kabur semua dan berlari pada perlindungan Drabya, makanya aku mau menolongmu walau kemungkinan menang itu tipis, makanya kita pilih hari yang tepat saat mereka lemah.”
“Soal ayahnya Wulan, apakah dia benar sudah mati?” Badrun bertanya lagi untuk memastikan.
“Ya tentu saja, mereka melakukan sumpah darah kok, dia pasti mati.” Hagir tertawa terbahak-bahak, yakin kalau pamornya akan naik karena berita tentang kematian ayahnya Wulan akan membuat banyak dukun percaya bahwa dia lebih hebat dibanding Drabya.
__ADS_1
Tapi satu yang mereka tidak paham, ada seorang pria yang sedang mengamati mereka dari jauh, pria yang mereka yakini telah mati karena sumpah darah.
Pria itu mendengar semuanya dan akhirnya menjauh dari tempat itu, walau kediaman yang dia sewa, tidak terlalu jauh dari sana.
Dia duduk dan menahan marah, dia sangat marah karena tubuh anaknya dibakar dan semua pengikutnya juga dibakar hidup-hidup, dia sangat ingin memotong leher Hagir dengan tangannya sendiri, tapi … dia tak bisa lakukan karena saat ini dia sendirian.
Ya, ayahnya Wulan tidak mati, dia kabur dari tempat itu, tapi pertanyaannya kenapa dia tak mati karena sumpah darah itu? Bukankah dia juga melakukan sumpah itu? Apakah karena ritual itu berhasil? Tidak mungkin karena tubuhnya Wulan sudah dibakar, lalu apakah ritualnya tidak berhasil dan dianggap belum selesai saja hingga dia tak terkena bala sumpah darahnya?
Maka teori kalian semua salah, lelaki ini sungguh licik, keyakinan yang dia gadang-gadangkan pada semua orang tentang ritual juga sebenarnya sangat tipis. Rasa sayangnya yang besar hingga membuatnya mau melakukan ritual agar anaknya bangkit, walau dalam hati kecilnya, dia justru lebih yakin ritual akan gagal, makanya dia meminta semua orang melakukan sumpah darah, bukan untuk membuat semua orang mengerahkan kekuatan, tapi apabila ritual gagal dan Wulan tak bangkit, maka semua orang akan mati dan berita tentang kegagalan ini tak pernah sampai keluar, nama baiknya sebagai orang pintar yang hebat tetap terjaga, maklumlah persaingan dukun antar daerah memang sangat mengerikan. Semua dukun haruslah menjaga nama baik agar tetap memiliki pengikut.
Dan saat ini pemegang seluruh dukun itu adalah Drabya, dia yang paling memiliki massa dukun yang paling banyak, sedang Hagir, hanya bertahan pada anak buah dan para dukun yang bisa dibilang hanya 30% dari massa yang dimiliki oleh Drabya, karena itu dia sangat menjaga posisinya agar para dukun di bawahnya masih loyal dan tidak kabur pada Drabya.
Maka ketika ada penyerangan dari Hagir, ritual dianggap tidak selesai dan dianggap gagal, sumpah darah menjadi aktif bagi para manusia yang melakukan sumpah itu. Karena itu, seharusnya ayahnya Wulan mati akibat sumpah itu, jika dia tak mati, satu-satunya teori yang benar adalah … dia tak melakukan ritual itu, dia menipu semua orang seperti menipu niatnya akan sumpah darah, dia memang telah yakin untuk membunuh semua dukun sekutunya jika ritual itu tak berhasil dengan mantra sumpah darah termasuk Yoga, tapi kecuali dirinya, dia telah melakukan langkah licik, saat semua orang melakukan sumpah darah dengan tangan yang diiris, ayahnya Wulan curang, dia tidak mengiris tangannya seperti yang lain, hingga darahnya tidak keluar, dia menggunakan darah perawan yang didonorkan untuk menipu semua orang, tidak ada darah yang keluar dari tangannya, darah yang menetes saat sumpah dilakukan bergantian itu, hanya darah perawan. Jadi … dia selamat dari sumpah itu karena kelicikannya.
Badrun tak tahu, kelak, dia dan anaknya akan kena bala karena lelaki ini, lelaki licik yang selamat dari sumpah bala.
Maka lelaki ini jugalah yang kelak akan menjegal Mulyana untuk membantu Wulan kembali pulang kepada Tuhan.
Apakah kalian ingat, ketika Mulyana ditembak oleh istrinya Badrun dan harus masuk rumah sakit, lalu Dirga terpaksa menggantikannya di rumah sakit agar Mulyana bisa pergi untuk menyelidiki kasus ini?
Saat itu Mulyana keluar dari rumah sakit lewat pintu belakang, saat dia melangkah keluar pintu gerbang, maka dia masuk ke dimensi lain dan melihat seorang lelaki dengan pakaian serba hitam?
Maka dialah ayahnya Wulan, yang hendak menghalangi Mulyana mengembalikan Wulan ke alamnya, dia ingin anaknya selamanya bersama dia.
Satu lagi pertanyaan kalian terjawab. Maka bab Mulyana menuju beberapa part terakhir, bersabarlah. Jika bosan, bacalah novelku yang lain, Cinta Gila Sang Aktor juga bagus, tidak akan menemukan kisah cinta yang biasa. Kau akan dipermainkan dengan imajinasimu sendiri.
__ADS_1