Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 552 : Mulyana 58


__ADS_3

Dana sudah diberikan kepada Yoga dari istrinya, Yoga langsung menguras dana itu dan memberikan sebagian pada ayah Wulan, karena sisanya dia pegang untuk keperluan bisnis.


Lalu dukun itu sudah mempersiapkan semua orang untuk datang, semua dukun maksudku, dukun dengan kemampuan yang sangat tinggi itu.


Yoga bahkan meminta semua pekerjanya berhenti mengerjakan tempat pelatihan itu, tapi menyuruh mereka membangun sebuah bangunan, bangunan itu untuk menampung para dukun yang akan melakukan ritual.


Bangunan itu dibuat dengan cepat, hanya butuh waktu 1 minggu, mungkin ini bisa dibilang proyek Roro Jonggrang, karena mustahil membuat sebuah bangunan hanya dalam 1 minggu, tapi tentu saja, Yoga tidak meminta bantuan dari dukun, dia itu orang yang mumpuni dari bidang kontraktor, dia membuat perencanaan yang matang, material yang tepat dan teknik pengerjaan yang benar, efektif dan efisien.


Pada zaman itu menggunakan baja ringan untuk sebuah bangunan belumlah sepopuler sekarang, karena pada zaman itu, membangun apapun yang digunakan adalan batu bata, tapi Yoga sudah ikut menggunakan baja ringan untuk efisiensi serta efektifitas, dia menggunakan baja ringan yang memang sudah ada, jadi bentuk bangunan sesuai dengan baja yang tersedia, hingga hal ini menghemat waktu.


Rangka baja ringan yang sudah tersedia itu, tadinya diperuntukkan membangun bangunan rumah belakang untuk para pekerja tempat pelatihan ini, tapi sekarang digunakan untuk membangun tempat bagi para dukun yang akan datang.


Maka para pekerja Yoga sempat bingung, karena bangunan yang akan dibangun menjadi berbeda lokasinya, kenapa mendekati suatu areal, padahal baja ringan yang sudah dipesan jauh hari itu seharusnya dibangun di bagian belakang, bukan dekat lapangan, tempat di mana mayat Wulan ditemukan, tempat di mana ritual juga akan dilakukan, maka di sanalah bangunan itu dibuat.


Para pekerja dan bahkan mandor sudah bertanya, Yoga hanya mengatakan bahwa dia dan arsitek sudah membicarakannya, mereka harus patuh pada permintaan Yoga. Maka mereka melakukannya.


Bangunan itu harus jadi selama satu minggu penuh, tapi apakah akan berhasil? Karena Yoga saat ini berada di kantor ayahnya.


“Apa kau sudah gila! Kenapa kau mengubah bangunannya?” Papanya bertanya dengan kasar, mereka berada di kantor, kantor Polisi.


“Aku tidak akan melakukan ini jika saja papa tidak membunuhnya.”


“Aku tidak membunuhnya! Aku hanya minta dukun itu untuk memulangkannya, itu kecelakaan! Sebuah kesalahan yang tidak disengaja.”


“Maka sekarang aku sedang memperbaiki kesalahan yang kalian buat!” Yoga mengingatkan pada ayahnya, betapa dia saat ini sedang berusaha untuk mengembalikan semua pada tempatnya, sebelum papanya dan dukun itu menghancurkan segalanya.


“Apa yang akan kau lakukan?” Papanya terlihat khawatir, takut anaknya melakukan hal gila.


“Aku akan membangkit wanita itu.”


“Kau gila! Apa orang tua wanita itu yang memintanya padamu? Kau percaya?”

__ADS_1


“Ya, aku percaya, ayahnya Wulan akan mengusahakan anaknya untuk bangkit lagi.”


“Mana ada manusia mati bisa bangkit lagi.”


“Berlaku untuk manusia biasa, tidak untuk garis keturunan Wulan, di kampungnya, nenek moyang mereka adalah penyihir yang bisa membangkitkan Wulan.”


Papanya tertawa dengan sangat kencang, dia tak menyangka, menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi hanya berhenti pada kepercayaan tentang membangkitkan manusia mati!


Sungguh dongeng konyol yang seharusnya kaum logika tak bisa termakan akan hal itu.


“Kau mungkin sudah gila tapi aku takkan membiarkan tanahku menjadi tanah terkutuk karena beraninya kau membuat tanah itu menjadi kotor, keluar dari lahanku, atau aku hancurkan ritual kalian! Kau tahu kan, aku mampu melakukannya.”


“Kau takkan bisa melakukannya, karena tanah itu sudah dijaga.”


Yoga lalu pergi setelah melakukannya.


Ayahnya menjadi sangat kesal dan gusar, tanah itu adalah asset untuk hari tuanya, jika dijadikan tempat bermain oleh anaknya, maka kemungkinan tanah itu menjadi tidak berguna lagi.


Maka dia harus mencari cara untuk menggagalkan semua rencana itu.


Bangunan telah jadi, tepat satu minggu, mayat Wulan yang diawetkan sudah dikembalikan tepat diatas sebuah altar yang terbuat dari semen, altar itu cukup besar untuk menampung tubuh yang sudah mati, altar itu dibangun tepat di atas tanah penguburan Wulan, tepat di mana tubuhnya dikubur, altar itu di atasnya dipenuhi dengan tanah yang mengubur tubuh Wulan agar tubuhnya mengenali tempat terakhir hidunya, maka syarat ritual hampir sempurna.


Maka malam ini adalah waktunya, waktunya membangunkan mayat kekasihnya Yoga, mayat yang sudah berumur cukup lama, tapi terlihat tidak berubah, hanya pucat saja. Bahkan tidak berbau sama sekali.


Mayat itu didandani sangat cantik, walau berwajah pucat, dipakaikan baju yang  cukup mahal, tentu pemberian kekasihnya.


Yoga berdiri di samping mayat itu, di sebuah altar yang terbuat dari semen. Dia mengusap kepala Wulan dan mengecup keningnya.


“Setelah anakku bangun, kau harus menikahinya secara siri tak masalah, kau harus membahagiakannya.”


“Pasti Pak, saya akan bahagiakan anamu.” Yoga berjanji.

__ADS_1


“Maka bersiaplah, kau adalah Pandegha dari ritual ini, gunakan jubahmu, jubah itu sudah dibalur dengan minyak kasturi, semua dukun sedang bersiap, kita akan mulai ritualnya sebentar lagi, tepat tengah malam nanti.”


Yoga bersiap semua orang bersiap.


Sementara di tempat lain Abah Wangsa sedang berlatih bersama Mulyana di tempat ghaib milik Drabya.


“Kenapa Bah?” Mulyana yang saat ini masih remaja bertanya, karena Abah terlihat sangat gusar.


“Akan ada kejadian besar malam ini, aku takut membayangkan dampaknya pada kita semua jika itu memang benar-benar terjadi.”


“Apa itu, Bah?”


“Bukan apa-apa, kau fokuslah berlatih.” Abah lalu memendam rasa khawatirnya, kelak kalian akan paham, kenapa Abah banyak diamnya pada zaman Mulyana kelak saat menangani kasus Wulan dan saat zaman Aditia saat menangani kasus ‘Nyebrang’ kasus persawahan yang membuat semua orang tak mampu keluar dari sana saat malam tiba.


Kalian akan maklum kenapa Abah terkesan menutupi dan tidak membantu atau memberitahu informasi apapun padahal tahu, kalian akan paham akhirnya.


Karena di sinilah jawaban yang kalian cari.


“Semua orang sudah berkumpul di bangunan itu, ada dua lingkaran yang dibuat, pertama adalah lingkaran para dukun dengan ilmu yang paling tinggi, lalu lingkaran kedua adalah lingkaran milik dukun dengan ilmu dibawah lingkaran pertama.


Lalu di paling depan, berada tepat di bagian kepala Wulan adalah Yoga, lalu di bagian kaki ayahnya Wulan yang berdiri.


Pandhega sebagai pemimpin membawa sebuah cawan yang berisikan darah perawan, darah itu konon katanya diambil dari seorang tubuh perempuan yang rela darahnya diambil dengan cara medis, darah itu dibutuhkan untuk menyogok semua jin yang ikut membantu mereka untuk melakukan ritual, darah perawan baunya sungguh memabukkan bagi jin hitam, membuat mereka senang akan menguntungkan bagi ritual.


Ayahnya Wulan mulai merapal mantra, mantra yang tidak diketahui apa artinya oleh Yoga, itu adalah mantra untuk sumpah darah, sumpah yang dibaca semua orang dan setelah membaca mantra tersebut, semua dukun menggores bagian jempol sebelah kanan, menjatuhkan darah itu pada lantai, lantai yang sudah dipagari, hingga ketika darah para dukun terkena lantai, mereka semua otomatis terikat sebagai satu kesatuan, sumpah darah itu mengikat semua orang yang bersumpah, jika saja Wulan gagal melakukan ritual ini, maka mereka semua akan mati, termasuk Yoga.


Aneh bukan, bagaimana mungkin orang mau melakukan sumpah yang mengancam nyawa kalau mereka tak benar-benar yakin ritual akan berhasil.


Setelah sumpah dilakukan, sumpah yang semua orang termasuk Yoga lakukan tak terkecuali, mereka mulai pada ritual utama, saat mantra akan dibacakan.


Pintu didobrak, seorang lelaki muncul, semua orang menatapnya, ayahnya Wulan berlari ke pintu itu dan berusaha mengenali, siapakah yang berani mendobrak pintu dan membuat ritual itu terhenti untuk sesaat.

__ADS_1


“Siapa kau!” Ayahnya Wulan tak bisa melihat dengan jelas karena jarak yang masih jauh itu.


“Drabya, Kharisma Jagat Tanah Pasundan!” Drabya berteriak dan membuat semua orang terlihat terkejut.


__ADS_2