Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 175 : Hotel 3


__ADS_3

"Kan gue bilang juga apa! Mogok kan!" Hartino kesal. Dia sudah mengutarakan keinginannya untuk memakai mobil miliknya saja, tapi semua menolak dan memilih memakai angkot untuk liburan ke apntapi menggunakan angkot. Ke pantai pun adalah keinginan Hartino makanya dia tidak memaksa menggunakan mobil Rubicon miliknya.


"Berisik lu!" Ganding kesal karena Hartino bukannya membantu mendorong malah banyak mengeluh. Alka yang menyetir, Jarni duduk di sampingnya.


Semua lelaki mendorong angkot itu.


"Udah malam nih masalahnya."


"Har, emang udah malam, trus kenapa? Lu takut setan? Takut begal? Yang ada mereka takut sama kita bodoh!" Ganding mengejek.


"Sorry ya mobil bobrok gue nggak semewah mobil lu." Aditia meledek.


"Padahal dia pemegang saham terbesar di perusahaan. Masih lu bulang kalau lu ga sekaya kita."


Semua orang tertawa karena Hartino sebenarnya bukan takut setan apalagi begal, karena satu orang Jarni saja bisa melawan beberapa kawanan begal. Dia hanya lelah, anak kaya itu memang tidak suka berkeringat dan kelelahan. Dia lebih suka melawan jin daripada mendorong angkot.


Setelah libur panjang bersama keluarga, lima sekawan itu pergi ke pantai bersama pulang pergi rencananya. Tapi, ternyata tidak sesuai dengan rencana karena angkot ini mogok.


"Cari penginapan deket sini aja ya, ini harus panggil tekhnisi sih." Alka turun dari angkot


"Kak, nggak bisa cek dulu?"


"Nding, kalau kamu suruh saya benerin kelakuan jin saya bisa, tapi kalau soal mobil Aditia lebih jago. Jadi, kalau dia aja udah nyerah, artinya emang ini masalahnya berat." Alka menjawab dengan kesal.


"Udah cek deh di map, liat ada penginapan dekat sini nggak." Alka meminta Ganding mengecek.


Ganding mengambil telepon pintarnya dan mulai mencari hotel.


"Jaraknya nggak jauh Kak, kita bisa jalan kaki aja. Mobil biar diderek," Ganding berkata.


"Ya, Dit hubungi derek deh, kita tunggu dia datang baru ke hotel terdekat," kata Alka.


Tidak lama mobil derek datang, mereka membiarkan angkot diderek dan dibawa ke bengkel terdekat. Sementara mereka pergi jalan kaki ke hotel yang telah Gading temukan sebagai hotel terdekat. Di peta online ditunjukan bahwa jarak dari tempat mereka berada untuk sampai ke hotel itu, dibutuhkan waktu setengah jam berjalan kaki.


Waktu menunjukan pukul dua belas malam, tengah malam. Tentu banyak hal yang mereka temui di jalan semalam ini, apalagi ini bukan perkotaan, tapi tentu saja tidak ada yang berani menyapa karena yang terlihat manusia mereka berlima, sedang yang ‘mereka’ lihat ada 9 makhluk karena 4 diantaranya bersama dengan khodamnya.


Siapa yang berani menantang anak-anak muda dengan khodam tua seperti itu?


Sampai gerbang hotel, dari gerbang dibutuhkan waktu lima menit untuk sampai ke pintu lobby hotel.


“Bentar!” Alka meminta semua berhenti di depan gerbang hotel itu.


“Kenapa Kak?” Tanya Ganding.


“Ramai banget.”


Semua orang akhirnya fokus memandang ke depan, mereka tadinya fokus mengobrol satu sama lain, sedang Alka langsung merasakannya.


“Iya, ramai banget.” Semua setuju.


“Mau cari tempat lain?” Ganding menawari, karena tujuan mereka menginap adalah istirahat, bukan ‘nugas’.


“Ya, cari tempat lain aja.” Alka tidak ingin membuat keributan, karena ‘bawaan’ mereka juga banyak, bisa-bisa terjadi tawuran di sini.


Semua berbalik untuk pergi mencari penginapan lain, walau hanya sekedar motel tak masalah. Mereka kelelahan dan malas mencari ribut dengan penghuni yang tidak perlu di tolong.


Tapi saat kaki mereka melangkah hendak menjauh, Aditia tumbang, dia memegang dadanya.


“Dit kenapa?” Alka memapah Aditia untuk lebih ke pinggir karena mereka posisinya di tengah jalan.


“Kalian nggak denger? “Aditia bertanya.


“Dengar apa?” Alka dan yang lain bingung.


“Teriakan barusan, dadaku sakit banget pas teriakan itu terdengar.”


“Nggak Dit, kami nggak denger.” Ganding menjawab karena semua orang sepertinya memang tidak mendengar kecuali Aditia.


“Kak, gimana? kayaknya ada yang minta tolong. Radar kita memang tidak seluas Aditia yang seorang Kharisma Jagat Kak, makanya kita nggak bisa dengar permintaan tolong sejauh itu.

__ADS_1


“Serius!” Hartino mengeluh, dia memang selalu yang paling rewel.


“Terserah, ini bukan bagian kasus kita, nggak ada hotel ini di list bapak, jadi ini optional, voting aja deh.”


“Kak!” Hartino tau dia akan kalah. Pertama, Jarni pasti mengikuti apapun pilihan Alka, Ganding akan selalu menjadi pendukung terbesar Jarni, lalu Alka tentu tidak akan mengabaikan sakitnya Aditia, lanjonya yang tersisa setengah karena belum dilakukan ritual pembersihan masih tetap tertuju pada Aditia walau efeknya tidak separah dahulu.


“Udah tau kan Har, kita bakal apa?” Ganding dan yang lain berbalik lagi hendak masuk ke dalam hotel.


Saat sudah masuk areal hotel, mereka melihat halamannya saja penuh, ada transaksi seperti pasar malam di sana. Hotel ini buruk sekali dijadikan tempat untuk menginap para tamu.


Saat lima sekawan lewat, tiba-tiba mereka semua menoleh, wajahnya berubah menjadi tegang, tapi tidak ada yang berani mendekati, karena aura lima sekawan terlalu mengerikan bagi mereka. Lima sekawan tidak bisa dianggap teman, tapi juga akan sulit jika dijadikan musuh untuk ‘mereka’ yang ternyata menghuni hotel itu setelah sekian lama.


“Jangan ada yang misah ya, karena mereka menunggu kita lengah. Mereka jelas nggak suka kita masuk.” Alka memerintah, sementara yang lain tetap waspada. Walau ilmu tinggi, tapi lima sekawan tidak boleh menganggap remeh ‘mereka’ lima sekawan akan kalah oleh tipu daya yang menjadi keunggulan ‘mereka’ makanya semua harus tetap waspada.


“Yaudah cepat lah.” Hartino meminta semua berjalan lebih cepat.


“Kenapa lu takut?” Ganding menghina.


“Gue ngantuk! Bukan takut!” Hartino kesal karena dia benar-benar tidak perduli dengan apapun sekarang, dia hanya ingin tidur.


Setelah sampai Lobby, mereka disambut oleh security yang membawa mereka ke front office atau resepsionis, mereka harus check in dan mengikuti metode pembayaran yang hotel berlakukan untuk menginap di sini.


Ganding yang mengurus semua, Alka malas kalau harus mengurus masalah administrasi begini. Jarni apalagi, dia takkan mau bicara jika bukan hal penting, suaranya memang sangat mahal.


“Mbak, kami berlima, mau pesan dua kamar, apakah bisa?”


“I-iya Pak, bisa.” Wajah resepsionis itu pucat sekali, Ganding melihat namanya yang tertempel di dada bagian kiri. Selly.


“Mohon maaf Pak, sudah full booked.” Selly menjawab.


“Full booked? Serius Mbak, ini hotelnya keliatan besar, masa nggak ada satu kamar aja, nggak apa deh kita satu kamar, udah malam juga nih Mbak, tolong lah.” Ganding membujuk.


“Maaf Pak, di hotel kami ini sedang ada renovasidi banya kamar, jadi sisa kamar memang tidak banyak. Apalagi ini high season, jadi kamar sudah penuh.” Selly berkata dengan sopan.


“Yaudah gini aja, kasih kami kamar yang paling nggak pernah ditempati juga nggak apa-apa, misal kamar angker gitu, kami ok kok.” Ganding seperti tahu sesuatu. Pasti ada kamar itu, karena hotel ini terlihat berbeda.


“Hmmm, ti-tidak ada ... tidak ada Pak.” Selly terlihat gugup, jelas dia berbohong.


“Ini Pak, ada yang mau menginap, tapi kamar kita kan full booked. Tapi Bapaknya memohon karena ini sudah tengah malam, jadinya mereka memohon untuk menginap di manapun.” Selly menjelaskan, wala udia telah memakai make up tapi matanya tidak bisa bohong kalau tubuhnya tidak baik-baik saja saat menjelaskan pada atasannya.


“Iya Pak maaf ya, ini tuh udah penuh kamarnya, pasti tadi Mbak Selly sudah kasih tahu kalau kami sedang renovasi banyak kamar, jadinya tidak banyak kamar yang bisa dipesan.”


“Pak, tadi saya juga bilang sama Mbak Selly ini, kalau kami nggak keberatan walau kami ditempatkan di kamar yang paling tidak pernah di tempati, misal kamar angker gitu.” Ganding memaksa.


“TIDAK! tidak ada kamar seperti itu di sini Pak.” Teddy malah semakin membaut Ganding yakin bahwa kamar itu memang ada.


“Pak, ayolah, tidak kasihan apa melihat kami, kami lebih takut begal Pak daripada setan, lihat kami berlima, barang bawaan juga banyak, besok kalau kami dibegal, pasti kama bakal bilang karena ditolak di hotel ini. Apakah kalian tidak punya saudara seperti kami yang sedang kesulitan, bantulah, kasihani kami. Mobil kami diderek, kami tadi ke sini jalan kaki, sudah sangat lelah berharap bisa istirahat.” Ganding masih terus membujuk.


“Ya, kami kasihan, tapi tidak ada kamar yang seperti itu, maaf ya Pak.”


“To ... long!!!!” Suara Alka, semua menoleh, Teddy dan Selly juga langsung keluar dari meja resepsionis dan berlari mendekati suara teriakan Alka.


“Kenapa Kak?” Ganding bertanya, dia melihat Jarni pingsan, dia sangat khawatir.


“Ini Pak, adik saya sakit, dia demam, maukah kalian menolong? Kami bayar kok, tapi dia harus istirahat, tidak mungkin kan kalian taruh orang sakit di lobby ini, apalagi jarak rumah sakit jauh, adik saya hanya perlu istirahat, dia perlu minum obatnya dan istirahat itu saja.” Ganding terdiam melihat Jarni lemas dan hampir pingsan.


“Kita bawa ke rumah sakit saja, pakai mobil hotel kami. Akan berbahaya kalau kalian di sini.” Teddy tetap berat memberikan mereka kamar itu.


“Tidak perlu, dia hanya perlu minum obatnya dan istirahat, dia memang sakit kambuhan.” Hartino menjelaskan.


“Ayolah Pak, tolong kami, kami bayar dua kali lipat deh.” Hartino menggunakan kemampuannya, dia tahu, uang adalah bujukan terbaik.


“Pak, bukan itu masalahnya, tapi memang tidak ada kamar lagi.” Teddy masih sulit dibujuk.


“Yaudah gini aja, tiga kali lipat?” Hartino masih saja membujuk.


“Ini bukan masalah uang Pak, ini ....”


“Tawaran terakhir dan jika ini kau tolak, maka kalau nanti di jalan menuju rumah sakit adikku kenapa-kenapa, aku pastikan kalian semua akan masuk penjara karena menghalangi kami istirahat, walau jelas, masih ada kamar di sini. Lima kali lipat. Bagaimana?” Hartino mulai mengancam, dia memang pintar, walau sedang kecapean dia tetap bisa sepintar itu.

__ADS_1


“Sel, tolong ambilkan kunci 713.” Hartino tersenyum, mereka mendapatkannya.


Selly berlari dan dengan gemetar memberikan kunci itu pada Teddy.


Sebelum Teddy mengantar mereka ke kamar, Teddy berkata, “Apapun yang terjadi setelah ini, bukan tanggung jawabku, kalian yang memaksa.”:


“Tenang saja Pak, setelah ini, hotel kalian akan jauh lebih tenang dan nyaman.” Ganding ternsenyum penuh makna.


Teddy tidak mengerti maksud Ganding, tapi dia tetap saja mengantar mereka ke kamar itu.


Begitu sampai di depan kamarnya, lantai tujuh itu. Teddy membuka kamar dengan kartu, dia membuka kamar dan kembali berkata, “Kalian yang memaksa ya, ini kamar paling kami hindari untuk ditempati, karena ada banyak rumor tentang hal yang tak kasat mata, kalian tahu resiko itu bukan?”


“Pak, mereka yang terlihat jauh lebih menakutkan dibanding apa yang ada di dalam sana.” Ganding mengambil kartunya lalu meminta semua orang masuk, saat mereka masuk, langsung disambut oleh lampu yang tiba-tiba mati.”


“Sudah kubilang, kamar ini ....”


“Pak Teddy, benar Pak Teddy kan? Tidak perlu mengirim tekhnisi ke kamar ini, kami yang akan memperbaiki lampu ini sendiri, kami berlima, lebih dari cukup. Pembayaran akan kami lakukan setelah pergi dari hotel ini.” Ganding lalu menutup pintu kamar.


“Pak, ini beneran nggak apa-apa?” Supri yang ikut mengantar bertanya.


“Entahlah, aku juga tidak tahu, tapi yang aku tahu, mereka terlalu sombong. Mereka pasti sekumpulan anak muda yang tidak tahu apa yang akan mereka hadapi, kita tunggu saja di lobby, paling hanya tahan beberapa jam saja.” Teddy tersenyum, karena dia tahu, anak-anak muda ini pasti tidak akan tahan di kamar itu.


Teddy dan Supri turun ke lobby, sementara mereka berlima hanya mendapatkan satu kamar, karena benar-benar tidak ada satupun kamar yang tersisa karena tamu yang banyak serta renovasi banyak kamar yang sedang dilakukan hotel.


“Woy, lu turun nggak!” Ganding melempar sepatunya ke atas lampu.


Makhluk itu kaget karena ternyata Ganding melihatnya, ‘dia’ memang sedang memainkan lampu itu, dia setan yang suka menakuti dengan memainkan barang-barang.


“Turun nggak lu!” Aditia ikut melempar dia dengan sepatu.


Setan itu makin kaget, ternyata yang melihatnya bukan satu orang.


Alka menatap makhluk yang sedang memainkan lampu itu, dia mengeluarkan cambuknya, makhluk itu tahu, dia sedang berhadapan dengan orang yang salah, dia lalu melepas lampu itu dan hilang.


“Yaelah, pergi gitu aja, bukannya di benerin dulu itu lampur, gelap setan!” Hartino kesal.


Jarni melempar ular mininya agar dia bisa membetulkan lampunya, karena lampu itu dibuat kendor oleh makhluk iseng yang kabur tadi. Pasti sehari-hari dia menggelantung di lampu itu untuk bermain-main.


Lampu kembali nyala, terlihat sepi, tak ada siapapun di sana selain lima sekawan.


“Apapun yang ada di sini sebelumnya pasti telah menyingkir karena kedatangan kita.” Alka curiga sebenarnya kamar ini bukan hanya ada makhluk tadi.


“Aku capek, boleh aku tidur duluan?” Hartino memilih sofa karena jelas kasur itu milik Alka dan Jarni.


"Emang harus banget ya kamu pura-pura sakit kayak tadi? Kaget aku." Ganding protes pada Jarni.


"Nding, aku yang suruh." Alka menjawab karena Jarni terlihat menyesal membuat lelaki yang dia cintai khawatir.


Aditia dan Ganding menunggu extra bed yang katanya akan datang kemudian.


Tidak lama extra bed datang, dia adalah salah satu petugas hotel.


“Pak, apakah kalian yakin akan menginap di kamar ini.” Lagi-lagi bertanya, dia bukan Teddy ataupun Supri makanya dia bingung kamar ini dibuka setelah sekian lama.


“Ya, tenang saja.” Ganding memberikan tip cukup besar pada orang itu agar dia mau membantu membawa extrabednya sampai di dalam, karena tadi dia menolak masuk.


“Pak ini sudah rapih ya, tumben sekali, biasanya kampu kamar ini selalu rusak.”


“Tidak kan sekarang?” Ganding berkata dengan sedikit senyum.


“Pak, kalau ada apa-apa, kalian ke lobby saja ya, nanti Pak Teddy pasti bantu.”


“Ya, terima kasih ya. Tapi sepertinya mungkin kami akan extend deh.”


“Pak, kalian benar-benar tidak tahu apa yang kalian hadapi.” Petugas hotel itu terlihat kesal karena rasa khawatirnya malah diabaikan.


“Bukan kami yang tidak tahu ‘mereka’, tapi kalian yang tidak kenal kami.” Ganding lalu menutup pintu dan mereka bersiap untuk istirahat.


Tidak lama semua terlelap.

__ADS_1


Pagi datang lalu ....


“Astagfirullah!!!” seseorang berteriak.


__ADS_2