
“Bawa mereka ke tempat sepi, aku perlu penjelasan!” Aep melihat Mulyana sudah dalam sikap serius, tidak berani membantah, pasti ada alasan, makanya dia akhirnya patuh, mereka membawa Adi dan Rahman ke tempat yang lebih sepi, yaitu belakang gedung perpustakaan, sebuah gang yang jarang di lalui.
“Siapa Nando?” Mulyana bertanya lagi, Rahman yang terdiam akhirnya mulai bicara ....
KETIKA ITU NANDO, RAHMAN DAN ADI MASIH SMP
“Man, aku pulang duluan ya, aku harus membantu ibu nunggu warung sembako di pasar, kami harus bergantian lagi, soalnya kan nggak ada yang bisa gantiin ibu selain aku, kalian tahu kan, ayahku sakit dan tak bisa bangun gara-gra Stroke, maaf ya tidak bisa belajar bersama lagi.” Untuk kesekian kalianya Nando izin pulang tak mau belajar bersama.
Di SMP dengan gedung sekolah yang sama saat mereka SMA di mana mereka bertemu Mulyana dan Aep, di sinilah persahabatan tiga orang itu dimulai sejak kelas 1 SMP, sekarang mereka kelas 2 SMP.
Tiga orang ini terkenal sebagai orang-orang pintar yang menguasai kelas, maksudnya nilai. Kelas 1 SMP mereka sekesal, urutan ranking selalu Nando, Rahman dan Adi. Nando selalu menang dna unggul dalam hal apapun.
Setelah kelas 2 SMP mereka berpisah kelas, akhirnya masing-masing orang menjadi ranking 1 karena memang mereka adalah anak-anak yang pintar.
“Dia pasti tak ingin kita tahu rumus yang dia buat sendiri, aku tahu menjaga warung hanya alasan saja, dia ingin belajar sendiri. Dia selalu begitu, dulu saja setiap kali kita tanya apakah dia sudah belajar untuk ulangan harian, dia selalu bilang tak sempat. Tapi, tak sempatnya itu membuat dia mendapatkan nilai bagus. Aku kesal, dia tak ingin disaingi, aku tahu itu!” Rahma berkata dengan ketus pada Adi.
“Kan sudah kubilang, dia memang begitu, takut kita saingi, beruntung kita pisah kelas jadi bisa ranking 1, tapi sekarang ada dia pasti mengincar juara umum untuk beasiswa, makanya dia ga mau kita saingi, licik sekali anak itu.” Rahman mengambil kesimpulan sendiri, padahal Nando belum tentu seperti itu.
Adi dan Rahman akhirnya belajar berdua saja.
“Bu, gantian jaga warungnya ya, ibu bisa pulang untuk jaga bapak sekalian istirahat.”
“Iya Nak, terima kasih ya, nanti kalau sudah mau magrib, kamu tutup aja ya, buat makan beli sendiri, uangnya ambil di laci uang itu ya Nak.” Ibunya bersyukur, memiliki anak berbakti seperti Nando.
“Nando lalu membuka bukunya untuk belajar, kebanyakan waktu yang dia habiskan itu untuk belajar, seperti sekarang ini. Nando selalu mengolah rumus untuk diaplikasikan pada soal-soal matematikanya, inilah yang menjadi kekuatannya hingga selalu jadi juara kelas. Sedang anak lain hanya mengikuti rumus yang diberikan, tapi ini yang mungkin menjadi kelemahan Nando. Dia ....
“Nandoooooo ....” Terdengar suara yang sangat samar, tapi membuat bulu kuduk merinding.
Nando mendengar itu, menjadi terdiam, padahal semula dia sedang semangat untuk mengerjakan PR dan membuat formulasi rumus yang masih banyak kurangnya.
Nando terdiam tanpa menoleh, dia tak ingin lagi menggrubris panggilan itu, karena kalau dia gubris, pasti jadinya akan menyulitkan dia.
Nando memulai lagi belajar seolah tak mendengar suara itu.
Tapi saat dia sedang belajar, ekor matanya menangkap seseorang sedang berdiri di depan warung sembakonya, “Mau beli apa, Pak?” Nando kira dia adalah orang yang ingin beli sembako.
Tapi saat dia benar-benar menoleh ke arah tersebut, betapa terkejutnya dia, ternyata bukan pelanggan atau calon pembeli, dia adalah ....
__ADS_1
Wajah itu mengerikan, matanya bolong, kepalanya botak berlumuran darah tanpa kulit, hanya menyisakan tengkorak, tangannya mencoba menggapai-gapai Nando, Nando mundur, dia tak bisa berteriak, dia sangat takut, ternyata makhluk-makhluk itu lagi.
Nando tidak bisa lagi pura-pura tak melihat, karena dia jelas tadi menanyakan akan membeli apa pada makhluk yang jelas tak butuh sembako.
Nando mundur, walau harus perlahan dia lakukan, karena tubuh pun sulit untuk digerakkan, tapi makhluk itu terus maju mendekati Nando dengan tertatih, sambil berkata ... “Laparrrr ... lapar ... lapar ....:
Nando tahu, jika makhluk yang ini datang, maka dia ingin merasuki Nando dan dengan tubuhnya kelak, Nando akan menjadi kesurupan, menjadi suka makan hingga akhirnya makhluk itu puas, sayangnya, nanti Nando akan menjadi orang lain.
Nando menutup matanya, berharap makhluk itu tak lagi menunjukkan dirinya dan memaksa masuk ke dalam tubuhnya.
Tapi sayang dia gagal, makhluk itu terasa semakin dekat, wajah mereka semakin berdekatan dan akhirnya tubuh Nando terasa dingin, bukan dingin karean cuaca, tapi dingin yang menyelusup ke dalam jiwanya, Nando tahu, makhluk itu perlahan masuk dan akhirnya, gelap ....
...
“Ndo, udah kamu tutup warungnya?” Ibunya bertanya, karena Nando sudah pulang, ini memang mau masuk waktu maghrib, walau masih terlalu dini seperti hari-hari biasanya, ibu tidak terlalu rewel, karena dia merasa mungkin Nando lelah sehabis pulang sekolah harus menjaga warung.
Nando hanya mengangguk, lalu ke belakang rumah, tepatnya dapur.
Ibunya heran, biasanya dia akan langsung mandi, ke kamar mandi yang dekat dengan ruang tamu, bukannya langsung ke dapur.
“Kamu belum makan memang? Lapar ya, Nak? Itu ada sop sama telur ceplok, itu tadi ibu masak buat ayahmu, tapi dia belum bangun, kamu makan saja dulu. “ Ibunya berkata, tapi tak ada jawaban dari anaknya. Ibu merasa aneh, takut anaknya sakit, makanya dia segera pergi ke dapur untuk melihat Nando.
Nando melihat ibunya dengan mata menyalang tanpa bicara.
“Nando astagfirullah!” Ibunya berteriak sambil menangis, ini bukan kejadian pertama kali, tapi tetap saja ibunya tak mampu terbiasa.
Ibu segera mengunci pintu dapur, pintu menuju keluar rumah yang ada di dapur dan pintu yang menuju ruang tamu dari dapur, dia ingin Nando tetap di sana tak kabur lagi seperti dulu.
Lalu ibu pergi keluar untuk mencari ... mbah.
Tak lama ibu datang dengan mbah ....
“Mbah, dia kumat lagi.”
“Buka pintunya, biar aku lihat dulu, yang mana sekarang yang masuk.” Mbah Syarip yang merupakan dukun terkenal di kampung itu.
Ibu membuka pintunya dan begitu pintu terbuka, Nando langsung menyerang siapapun yang masuk, beruntung Mbah yang sebenarnya tak tua, karena panggilan mbah hanya karena dia merupakan dukun termasyur, umurnya mungkin baru saja menginjak 40 tahunan, yang masuk duluan.
__ADS_1
Jadi begitu dia diserang, Mbah langsung bisa menahan serangan itu dengan menahan cakaran Nando agar tak terkena wajahnya.
Mbah membaca mantra, sembari memegang kepala Nando, ubun-ubun yang dia incar, agar setan yang masuk tubuhnya itu bisa langsung keluar karena merasa kepanasan yang disalurkan dari ubun-ubun lalu masuk ke dalam jiwa yang dirasuki itu.
Nando berteriak, dia berteriak kepanasan dan melepas Mbah Syarip yang tadinya hendak dia serang.
Setelah kepanasan, Nando lalu terduduk sambil menangis, “Lapar ... lapar ... lapar!” Setan itu hanya berteriak lapar terus.
“Keluar, ikut aku, aku akan memeliharamu, jangan ganggu anak kecil.”
Nando terdiam, lalu tak lama kemudian dia pingsan, jin lapar itu sudah keluar dari tubuhnya.
Setelah selesai memasukkan jin kelaparan ke dalam botol kaca kecil, Mbah Syarip menerima bayaran dari ibunya Nando sebagai konpensasi karena menolong anaknya, dia baru pamit. Dapat dua bayaran sekaligus, koleksi jin baru dan uang. Sungguh dukun yang beruntung.
Saat terbangun, Nando sudah ada di kamarnya, dia tak ingat apa yang terjadi.
“Bu, Nando kapan pulang ya? Nando nggak ingat?”
Ibunya sedang menyuapi ayah yang baru bangun juga, Nando bingung karena dia tak ingat kapan jalan pulang.
“Tadi kamu pingsan di warung, jadinya kamu dibawa pulang pelanggan yang lihat kamu tidur di tanah, dia tahu kamu pingsan. Warung sudah ditutup tetangga warung, kamu tenang aja, makan dulu gih, habis itu mandi, solat baru belajar lagi.” Ibunya tak ingin cerita apa yang sebenarnya terjadi, karena dia tak ingin anaknya menjadi kepikiran dan tidak fokus pada sekolah.
“Iya Bu, aku mandi dulu.” Nando langsung ke kamar mandi untuk mandi, tapi saat dia melihat ke kaca, tiba-tiba dia teringat bahwa tadi di pasar dia melihat apa dan tidak ingat apa-apa lagi setelahnya.
“Bu ... Nando kesurupan lagi ya?” Nando tidak jadi ke kamar mandi dan langsung kembali mendekati ibunya lalu bertanya.
“Sudah yang seperti itu tak usah dipikirkan, kamu mandi sana.”
“Apa ada yang melihatku kesurupan, Bu?” Nandi khawatir.
“Tidak ada, kau langsung pulang untuk makan.”
“Dia tahu rumahku? Kok bisa?” Maksud Nando apa yang merasukinya tahu rumahnya.
“Tidak tahu, mungkin dia sudah tahu kalau kau itu gampang dirasuki, makanya dia mengikutimu dulu dan tahu rumah kita.”
“Oh begitu, yasudah, yang penting tak ada yang lihat Nando kesurupan. Nando malu, karena dulu saat ada yang lihat Nando kesurupan, mereka jadi takut dan nggak mau temenan lagi sama Nando, takut kalau itu kejadian lagi.” Nando berbicara ketika dia masih SD.
__ADS_1
“Iya Nak, kamu tadi langsung pulang kok.” Ibunya meyakinkan, Nando akhirnya tenang dan mandi.
Tapi sayang, ibunya salah, ada yang melihat Nando kesurupan dan ini yang akan menjadi malapetaka baginya kelak.