
“Sebentar!”
“Apa?” Jin wanita itu bertanya.
“Kita tunggu tiga teman kami yang lain, biar ramai.” Aditia menahan, dia berteriak dan memanggil semua orang untuk naik.
Sekarang formasi sudah lengkap.
“Silahkan lanjutkan.” Aditia meminta jin wanita itu berkata.
“Jadi begini ceritanya ....
Dulu sekali, gedung ini juga digunakan sebagai tempat untuk pernikahan, aku tidak tahu kalian menyebutnya apa? tapi setahuku, itu pernikahan, buah bibir dari satu jin ke jin lain.”
“Oh kayak aula untuk pernikahan gitu? wajah sih, ini kan gedungnya besar, banyak gedung besar baik milik pemerintah maupun milik perusahaan, dijadikan aula atau gedung pernikahan, lanjutkan.” Aditia menyamakan nama agar semua orang dapat mencerna.
“Lelaki berbaju putih itu adalah salah satu pengantin yang menurutku sangat tampan, setelan putih, wajah tampan, rambut klimis, serta sepatu hitam yang membuat dia semakin berwibawa.
Hari ini aku sedang lewat di tempat ini, lantai dua ini, ada banyak orang, mereka saling memanggil dengan sebutan, mama, papa, bude, pakde, adik dan kakak di sini ketika itu. Sayang lelaki tampan itu tidak terlihat bahagia, aku selalu melihat kalian yang ingin menikah wajahnya tegang, bukan tidak bahagia, ini berbeda, aku merasa dia menahan tangis padahal sedang dirias.
Aku tertarik dengan kesedihannya, kau tahu, bahwa kami kaum jin mudah membaca dan merasakan energi negatif karena energi itu berwarna merah dan mengelilingi kalian.
Aku mendekatinya, dia ternyat benar-benar seperti orang yang khawatir dan tidak bahagia.
Karena penasaran, aku yang biasa hanya numpang lewat saja, akhirnya tertarik untuk memperhatikan.
Gerak-geriknya juga aneh, dia terus melihat barang yang kalian lingkarkan di tangan, sepertinya terbuat dari besi dan ada penunjuk arahnya.”
“Oh, jam tangan, kayak gini?” Ganding bertanya.
“Ya, itu. dia terus saja melihat jam tangan. Lalu tidak lama kemudian, aku melihatnya hendak pergi saat sedang didandani, dia berlari terus sampai di sana.” Kunti itu menunjuk kamar paling belakang.
“Apa yang dia lakukan di sana?” Tanya Alka.
“Lompat!” Kunti itu tertawa dengan nyaring, entah karena lucu atau karena apa, Alka tidak benar-benar mengerti kenapa pria itu loncat, padahal ini pernikahannya.
“Jadi, pria itu bagaimana nasibnya sekarang?”
“Sudah tiada, dia sudah tinggal di sini bersamaku, tapi sayang, dia pendiam, dia jarang sekali berbicara.”
“Kenapa sekarang aku tidak merasakan kehadirannya?” Alka bertanya lagi.
“Karena dia tidak tinggal di sini, dia entah pergi ke mana.” Kunti itu menjawab sekenanya saja.
“Dia tinggal di mana?” Lagi-lagi Alka bertanya.
“Entah lah, mungkin rumah calon istrinya.” Kunti itu berkata.
“Rumah calon istrinya? Kau tahu?”
“Tidak.”
“Kau tahu dia kenapa bunuh diri?” Tanya Hartino.
“Kan sudah kubilang, tidak tahu.”
“Lalu kenapa dia tinggal di sini, bukan pulang?”
“Aku mengajaknya tinggal, dia bilang mau.”
“Kau ini!” Hartino kesal, dia memukul kepala kunti itu.”
“Sakit!”
“Makanya jangan sembarang mengajak jiwa pendendam. Karena bisa jadi kau yang akan celaka, sekarang gedung ini jadi terbengkalai karena kalian.
“Aku tidak ikutan ya. Aku hany mengajak ruhnya tinggal, tapi dia yang suka mengganggu, dia bilang tidak ingin tempat ini dijadikan aula pernikahan lagi.”
“Kau tidak pernah tanya kenapa dia lompat dari gedung ini?”
“Pernah, dia tidak mau menjawab.”
“Kenapa tidak kau paksa?”
“Untuk apa, aku tidak perduli.”
“Lalu kenapa kau ajak dia untuk tinggal di sini?”Hartino geram sekali dengan jawaban enteng jin ini.
“Iseng.” Kunti itu tertawa lagi cekikikan.
“Setidaknya kita tahu akan mulai dari mana.” Alka berdiri dan mengajak lima sekawan.
“Kalian tidak mau memberi upah, semacam kopi atau bunga? Makanan ringan juga boleh.” Kunti itu meminta imbalan.
“Kami tidak bernegosiasi dengan bangsa kalian.” Alka menjawab tegas, karena bagi bapak, memberikan imbalan bagi jin adalah tindakan salah. Mereka bukan partner diskusi jika mereka bertingkah. Begitulah orang Pasundan menangani jin nakal.
“Tapi kau meminta informasi dariku!”
“Ya informasi, bukan negosiasi.”
“Ah, kalian pasti dari Pasundan! Mereka pelit kasih imbalan untuk kami, kalian sukanya menghancurkan bangsa kami. Padahal kita bisa loh tukar informasi dengan imbalan.”
“Hei, sudah kubilang kami tidak beri imbalan, bahkan jika kau tidak beri informasi pun, aku tetap bisa mendapatkannya.”
“Kalau aku tidak berbaik hati, bagaimana kau mendapatkan informasi itu?”
__ADS_1
“Dengan ini, mau coba?” Alka mengeluarkan cambuknya.
Jin wanita itu tiba-tiba menghilang.
“Kak, galak amat.”
“Nggak perlu baik-baik ama yang nakal begitu, apalagi kasih imbalan, salah kok dikasih imbalan.”
Lima sekawan lalu akhirnya pergi dengan angkot jemputan lagi.
“Kita mau ke mana Kak?” Tanya Ganding yang berada di bagian belakang mobil angkot.
“Ke perpustakaan nasional, cari artikel dari koran, kita cari tahu, siapa yang melakukan bunuh diri di gedung itu, lalu setelahnya kita temui keluarga lelaki yang bunuh diri itu dulu, baru perempuannya. Kita harus gali dulu masalahnya apa, baru bisa memutuskan jalan apa yang harus diambil.”
Semua patuh dan setelah sampai perpustakaan nasional mereka menyebar untuk mendapatkan artikel itu dari koran lama atau majalan yang membahasnya.
“Alka mencari majalan di bagian belakang perpustakaan, sedang yang lain menyebar di beberapa titik, sebelumya sudha bertanya juga pada petugas perputakaan.
Supaya lebih cepat, Hartino bantu dengan komputer canggihnya.
“Eh maaf.” Seorang wanita terlihat mengambil majalan yang sama dengan Alka. Alka hanya membalas senyum. Wanita itu terlihat sangat anggun walau berpakaian kasual. Alka cukup terpana, karena wanita itu cantik sekali. Alka yang kecantikannya bertahan lama saja bisa merasa seperti itu, apalagi laki-laki.
“Nggak apa-apa, kalau butuh, ambil aja dulu.” Alka lalu mencari di rak buku sebrang majalah yang tadi diambil berbarengan dengan wanita itu.
“Kau sedang cari apa?” Tanya wanita itu.
“Bukan sesuatu yang penting.”
“Oh begitu, aku mau membantu, karena aku sudah hapal letak banyak majalah di sini, aku sering sekali ke sini.” Wanita itu menawarkan bantuan.
“Aku sebenarnya reporter majalah horor fiksi,” Alka memelankan suara, agar terdengar tidak mencurigakan, dia mau menerima bantuan wanita ini, “aku sedang ingin membahas tentang gedung terbengkalai pemerintah, bekas pelatihan para calon pegawai negeri.”
“Oh, kasus itu! Aku tahu, itu dibahas di beberapa majalah di rak buku itu, koran juga ada, tapi di bagian depan, bukan di sini.”
“Wah kau hebat sekali bisa ingat.” Lagi-lagi Alka kagum.
“Ya, bagaimana tidak, aku menemani tanteku ke acara pernikahan itu, makanya kau tahu.”
“Oh begitu, apa kau tahu lebih jauh tentang berita itu?” Alka bersemangat.
“Tidak, aku hanya mengantar tanteku, katanya itu adalah pernikahan temen bosnya, tanteku di suruh datang menggantikan bosnya.”
“Jadi tantemu juga tidak kenal calon pengantin ya?”
“Iya, tidak, maaf ya. Andai aku bisa bantu.” Wanita itu terlihat kecewa, rasanya tulus sekali perkataan itu, dia wanita baik menurut Alka, jarang sekali orang seperti dia jaman sekarang.
“Oh nggak, tenang saja, aku tidak ingin membebanimu.” Seketika mereka berdua seperti dua orang yang sudah lama kenal, Alka langsung merasa nyaman dengan wanita ini.
“Nggak apa-apa, kalau aku benar bisa membantu, pasti aku lakukan, bukan ucapan basa-basi.”
Alka tidak curiga, lalu melanjutkan pencarian.
“Jadi apa yang kalian dapat?” Mereka semua sudah berkumpul di meja besar di ruangan tengah perpusatakaan. Siap membahas temuan yang mereka anggap penting.
“Jadi katanya, pernikahan itu adalah hasil perjodohan, benar bukan?” Ganding berkata.
“Ya, semua artikel mengatakan itu.” Alka setuju.
“Berarti sama, aku juga menemukannya seperti itu dari internet.”
“Jadi dia bunuh diri, hanya karena dijodohkan?” Aditia seperti mengejek.
“Dit, mana lu tahu kalau itu sesepele yang seperti lu bilang.” Hartino kesal karena Aditia menyepelekan kasus ini.
“Ya terus, apalagi yang mungkin?”
“Dit, apa yang tertulis di artikel, koran dan majalah maupun artikel online, tidak selalu betul. Dalamnya hati orang siapa yang tahu?” Alka menengahi.
“Tapi dalamnya hatiku kau tahu, kan?”
“Dit!” Hartino dan Ganding kesal mendengar Aditia menggombali kakak mereka, Jarni hanya tertawa tertahan.
“Trus ada yang dapat alamat lelaki itu nggak?”
“Di koran sama majalah sih, cuma alamat garis besarnya saja,” Ganding menjawab.
“Oh kalau itu aku dapat dong, aku mendapatkannya dari data base data pribadi orang.” Hartino menjawab dengan sombong.
“Kok bisa kamu dapat data pribadi orang?” Aditia protes.
“Salah kalian, mudah sekali mengisi aplikasi untuk kartu apapun, tidak tahu kalau data base pribadi bisa bocor, bahkan diperjual belikan?”
“Kau beli data pribadi orang?” Aditia makin emosi.
“Tidak! masa hacker beli data pribadi orang! ya aku curilah data base mereka!”
“Tapi itu nggak lebih baik Har!” Aditia semakin kesal.
“Mencuri dari pencuri itu bukan sesuatu yang salah, apalagi tujuan kita membantu.” Hartino tersenyum.
“Kak, lihat ini adikmu, dia menjadi pencuri.” Aditia menunjuk muka Hartino. Alka berdiri dan menggebrak meja.
“Har! Good joob.”Alka lalu meninggalkan meja untuk kembali ke angkot, Aditia kesal melihat Hartino dibela Alka.
Tapi akhirnya mereka tetap kembali ke angkot bersama.
__ADS_1
Hari ini tidak dilanjutkan pencarian, karena mulai malam, mereka pulang dulu agar bisa istirahat.
...
“Udah lama Cha?” Hartino bertanya, Icha terlihat sedang menyesap teh melatinya.
“Hmm, udah sekitar belasan tahun sih, Har.” Alisha tertawa.
“Serius ah.”
“Loh kan emang bener, udah belasan tahun loh, aku nunggu kamu.”
“Aku mandi dulu ya, nanti aku temani.” Hartino baru saja sampai rumah.
“Udah dateng, malah pergi lagi.”
“Cha!”
“Becanda kali Har, jangan terlalu sensitif lah.”
Hartino akhirnya masuk ke kamar untuk mandi sementara Alisha masih duduk di ruang tamu.
Alisha terdiam membaca buku yang dia sukai, buku tentang penyakit mental.
Tidak lama kemudian Hartino kembali ke ruang tamu di mana Alisha berada.
“Baca apa tuh?”
“Ini? penyakit mental, ini karangan anak dalam negeri, jadi pengalaman dia mencintai seseorang gitu, tapi dikhianati, tidak lama kemudian dia jadi punya kepribadian ganda karena saking sakitnya perasaan dikhianati itu, secara psikologis ini disebut split personality, untuk supaya dia bisa menghindari rasa sakit itu, dia jadi orang lain, jadi dia bisa kayak kabur sebentar dari rasa sakitnya. Bisa begitu ya orang?” Alisha berkata tanpa menoleh.
Penjelasan itu membuat Hartino menatap Alisha dengan dalam. Dia sudah duduk disampingnya.
“Kenapa baca buku tentang mental illnes?” Hartino bertanya hati-hati.
“Ini buku Psikologi Har, kamu lupa ya, aku kan dari dulu suka buku kayak gini, aku suka dibuat tersesat oleh penulis, tapi akhirnya bisa menjawab teka-teki dekat pada bagian akhir, rasanya punya kepuasan tersendiri ketika kita bisa memecahkan teka-teki yang penulis berikan. Kayak menyelesaikan puzzle atau TTS ya?” Alisha masih sibuk membaca.
“Cha, kenapa nggak cari lelaki lain?” Hartino memberanikan diri berkata begitu.
“Maksudnya?” Alisha menutup bukunya.
“Ya, maksudku, jika terlalu sakit menungguku, kenapa tidak menyerah?”
“Karena kau tahu kan, aku keras kepala, daripada pengganti, aku lebih suka tidak dapat sama sekali.” Alisha kembali membaca bukunya setelah menulis itu. Dia dengan rok dan pakaian serba pink bak putri raja terlihat semakin cantik jika sedang membaca buku. Itu yang Hartino rasakan.
“Kalau memang kita tidak berjodoh bagaimana, Cha?”
“Ya berarti tidak menikah, kenapa bingung sekali kau ini?”
“Kalau kita tidak menikah, apa kau akan baik-baik saja?”
Alisha terdiam, walau matanya tetap fokus pada buku yang dia baca, tidak bisa menutupi dia kaget dengan pertanyaan itu.
“Mungkin aku tidak akan baik-baik saja.” Alisha menjawab dan menatap Hartino dengan wajah iseng.
“Apakah kau bisa hidup tanpaku?” Hartino bertanya lagi, jauh lebih dalam.
“Kau? apa kau bisa hidup tanpaku?” tanyanya balik.
“Mungkin bisa.” Hartino pasti ingin menyakitinya, walau Hartino tidak pernah tahu apakah dia mampu.
“Kalau begitu selamat, kau akan baik-baik saja.” Alisha tersenyum.
“Lalu bagaimana denganmu?” Hartino bertanya lagi.
“Selama kau baik-baik saja, maka aku juga akan bahagia.” Alisha lalu berdiri.
“Kau mau kemana?”
“Pulang lah, sudah jam berapa ini?” Alisha mengingatkan Har, karena ini sudah ja, sebelas malam. Har memang selalu pulang malam.
“Cha, aku minta maaf ya.”
“Har! Jangan minta maaf, soal perasaan itu, bukan salah siapapun.” Alisha lalu memeluk Hartino untuk pamit, dia hendak pulang.
Begitu keluar dari rumah Hartino, dia mengendarai mobilnya sendiri, keluar gerbang rumah Hartino dan berhenti di pinggir jalan.
Alisha menangis sejadinya, sakit sekali rasanya hingga dia sesak nafas.
Perkataan itu, selama ini Alisha tidak baik-baik saja, setiap inci tubuhnya adalah lebam. Tulang rusuknya bahkan masih patah. Hatinya sudah hancur berkeping. Bagaimana Hartino bisa bertanya apakah dia kana baik-baik saja tanpa dia.
Alisha menangis dengan sangat kencang di dalam mobil mewahnya yang cukup kedap suara.
Dia menyalakan juga musik dengan keras.
Sementara Hartino di dalam kamarnya, sedang termenung, ada air mata yang menetes dari matanya.
Dia tahu, pasti Alisha menutupi rasa sakit yang dia torehkan, lagi dan lagi. Tapi Alisha lebih aman tanpa dirinya, kalau sampai dia salah membuat keputusan, maka Hartino yang tidak dapat hidup dengan baik.
Cinta memang gila.
_______________________________________________
Catatan Penulis :
Crazy Up guys, jarang-jarang kan? nikmatilah.
__ADS_1