
Aditia berlari ke arah sungai tempat kemarin ditunjukan oleh anak perempuan itu, Aditia buru- buru meminumnya, rasanya segar dan manis. Sungguh bau busuk itu tidak tertahankan, seperti bangkai tikus ada di depan matamu.
Aditia meminum sebanyak mungkin air sungai agar dia merasa lebih enakan. Ingatan bau tadi sungguh membaut frustasi.
Aditia melihat keadaan sekitar, dia merasa lapar, kemarin anak perempuan itu menunjukan jalan untuk ke perkebunan, Aditia akhirnya pergi ke perkebunan seperti kemarin dia ke sana.
Aditia mengambil sembarang buah, sebesar kepalan tangan, bentuknya seperti apel, tapi warnanya ungu muda, seperti terong. Apel yang berwarna terong. Aditia tertawa, terong saja bisa dia ingat, lalu kenapa dia hanya ingat tentang orang tuanya tapi tidak yang lain?
Aditia mendekatkan apel ungu itu dan membuka mulut bersiap untuk mengigitnya tapi saat dia mencoba menggigitnya, lagi-lagi terong itu berbau sangat busuk, lebih parah seperti teh yang disajikah Yahnaweja tadi.
Aditia membuang buah itu ke tanah, seketika menyentuh tanah, buah itu menjadi sangat busuk dan belatung muncul dari tanah untuk memakannya. Buah yang aneh, Aditia tidak bisa berpikir lagi.
Dia mencoba mengingat, kemarin anak itu memberinya tiga buah yang berbentuk seperti ceri tapi berwarna hijau, Aditia mencari buah itu, ketemu, tapi buah itu ternyata tidak terlalu banyak, hanya tumbuh satu di setiap pohon.
Aditia mengambil tiga buah, dia inga kalau anak perempuan itu hanya memperbolehkan Aditia untuk memakan dalam jumlah ganjil. Aditia mengambil tiga saja, dia tidak ingin terlalu serakah, toh kemarin hanya makan tiga buah saja dia sudah cukup kenyang hingga pagi.
Aditia memakannya, seperti dugaan, buah itu terasa enak sekali, manis dan asam bercampur menjadi sesuatu ang sangat lezat, airnya dari buah berukuran mini itu juga terasa sangat banyak, Aditia menikmati makanan ringannya.
Setelah menghabiskan tiga buah itu, dia kembali ke desa.
Semua orang sibuk dagang di warung, ada yang di rumahnya saja sembari mengobrol, ada yang sedang menjemur pakaian.
Aditia bingung, siapa yang harus dia mintai bantuan untuk menemukan orang tuanya.
Maka dari itu Aditia memutuskan untuk bertanya pada pemimpin mereka.
“Assalam ... mu ... ala ... ik ... umm.” Aditia lagi-lagi berat sekali mengucapkan salam, seorang wanita tua menengok dan mengangguk.
“Kau siapa?”
“Boleh aku bertemu kepala desa?”
“Rumahnya paling ujung yang menghadap ke arah kami, namamu siapa?”
“Kalau begitu aku permisi.” Aditia bergegas ke tempat yang ditunjukan.
Saat sudah sampai Aditia kembali mengucapkan salam dengan susah payah, seorang lelaki paruh baya yang memiliki wajah teduh keluar.
“Silahkan duduk, kau pendatang?” tanyanya.
“Iya.”
“Kau sudah makan di salah satu rumah penduduk sini?”
“Belum.”
“Minum?”
“Hanya di sungai dna kebun di belakang situ yang dekat sungai.”
“Bagus, bagaimana kau bisa ke sini?”
“Entah aku tidak ingat.”
“Baiklah, yang membuka pintu pasti Yahnaweja lagi, dia sebenarnya hanya kesepian saja.”
“Maksudnya Pak?”
“Saya Sarjibahno, panggil saja Sarji. Saya bisa membawamu pulang, tapi ... kau harus beritahuku jalan masukmu.”
“Itu dia masalahnya Pak, saya hanya ingat menemukan anak kecil menangis setelah berjalan lurus dari situ.” Aditia menunjuk jalan dia menemukan anak itu dan dia merasa telah berjalan lurus.
“Kalau begitu sulit untukmu pulang.”
__ADS_1
“Kenapa Pak? bisa hubungi orang tuaku pakai surat atau telepon umum?”
“Kau lihat di sini tidak ada hal yang seperti kau bilang kan.”
“Aku ingin pulang Pak.”
“Ya, kau satu-satunya yang ingin pulang setelah sampai di sini.”
“Di sini itu desa apa ya Pak?”
Pak Sarji menatap Aditia lekat dan menghembuskan nafas dengan keras.
Desa ini bernama Gupata Kawadaka, ini adalah desa anak cucu, keluarga, orang tua dukun yang ... dijadikan tumbal!”
“Astagfirullah!” Aditia kaget. Walau dia belum terlalu dalam mempelajari ilmu ghaib, tapi kata tumbal sudah sangat familiar, bahkan bagi remaja awam.
“Ya, kami semua di sini adalah korban tumbal orang tua yang kurang sabar berikhtiar. Anak yang tidak berbakti dan keluarga yang tak punya hati. Kau tahu kan, kalau dukun yang berilmu tinggi sebenarnya dia melakukan perjanjian dengan iblis?”
“Ya, pernah dengar dari ayah.”
“Kami adalah pertukaran dari perjanjian itu.”
“Kenapa harus anak, keluarga dan orang tua dukun? Bukankah si pelaku itu yang ingin kaya, lalu meminta tolong dukun, kenapa harus kerabat dukun?”
“Karena untuk mempertemukan pelaku dengan iblis pecinta tumbal, kau harus memiliki perjanjian dengan iblis itu juga sebagai bentuk deposit atas kerjasama yang kelak akan terjadi.”
Aditia menutup mulutnya. Sakit sekali hatinya, begitu banyak orang yang di lihat, ada yang sudah tua ada anak-anak, ada remaja, semua orang adalah korban perjanjian dukun dan iblis.
“Tapi yang aku heran, kenapa saya bisa di sini? ayahku bukan dukun, ibuku juga bukan, dia tidak suka pesugihan, hidup kami sederhana dan bahagia.” Aditia bertanya.
“Itu dia, terkadang tempat kami ini menjadi tempat tersesat bagi orang yang bisa ‘melihat dan mendengar’ seperti kamu. Lalu ada yang membukakan pintu, biasanya Yahnaweja. Dia memang anak dukun paling hebat di sini, makanya hanya dia yang bisa berkeliaran antara desa ini dengan desa luar.”
“Kalau sudah bisa keluar, kenapa dia tidak pergi saja, kembali kepada Tuhannya, kenapa dia mesti kembali?”
“Karena dialah penjaga kami, dia yang ... mengurung kami.” Kepala desa tanpa kekuasaan itu ketakutan.
“Ya, dia memang jahat. Ada juga beberapa anak yang dia bawa ke sini. Untuk ....”
“Untuk apa?” Aditia bertanya.
“Untuk dijadikan budak.”
“Astaga budak?! anak sekecil itu? pantas tubuh tak kasat matanya penuh lebam.”
“Tubuhnya, bukan tubuh tak kasat mata, tubuhnya adalah tubuh manusia yang terjebak di sini.”
“Astagfirullah!” Aditia kesal, sungguh marah dia dengan kelakuan dukun dan anak dukun itu.
“Aku akan menghajarnya!” Aditia berjalan hendak nyamperin Yahnaweja, tapi ditahan oleh Pak Kades lemah itu.
“Kau tidak bisa menghajarnya, dia sangat kuat.”
“Tak apa jika taruhannya nyawa pun, aku tidak mau terjebak di sini dan melihat ini semua dengan diam!” dia kesal.
“Kau mau apa?”
“Aku mau ajak duel, kalau dia kalah, dia harus mengeluarkan semua ruh dari sini dan juga manusia yang dia tahan di sini.”
“Kau tidak akan bisa mengalahkannya. Kau masih anak kecil.”
“Aku tidak perduli, aku tidak tahan, rasanya sakit sekali hatiku!” Aditia kesal dia berlari ke rumah Yahnaweja ternyata Yahnaweja sudah ada di depan rumahnya seperti tahu keberadaan Aditia.
“Kau tertarik tinggal denganku?”
__ADS_1
“Tidak! aku ingin duel, satu lawan satu.”
“Kau!” Yahna tertawa terbahak-bahak. Baginya Aditia hanya anak kecil, jadi tentu dia merasa apa yang dikatakan Aditia adalah lelucon.
Aditia membuat kuda-kuda, walau hanya beberapa hari dia belajar silat dari Ki Dadan, tapi dia juga pernah belajar silat dari ayahnya dan sekolah, karena dia mengambil ekstrakulikuler silat.
Dia tidak tahu akan menang atau kalah, tapi bertarung saja dulu.
“Jangan tertawa, kalau aku menang, kau buka pintu untuk keluar dari tempat ini, semua ruh berhak kembali ke Tuhannya. Kau atau orang tua kalian yang dukun, tidak berhak menahan jiwa kalian di sini, kalian harus kembali kepada Sang Pencipta.” Aditia berteriak, semua orang yang tadinya sibuk akhirnya berkumpul.
“Baiklah, apakah kalian ingin keluar dari tempat ini? bukankah aku telah memberikan kehidupan yang layak pada jiwa busuk kalian! Jiwa yang dijadikan perjanjian oleh orang tua kalian! Jiwa tak berharga!”
“Aku ingin keluar dari sini, aku lelah, aku ingin keluar dari tempat yang busuk ini.” Seseorang berteriak, yang lain juga mulai mengoceh satu sama lain.
Bagaimana mereka tidak ingin keluar, setiap hari berjalan sama, mereka hanya bekerja bertransaksi itu saja, mereka tidak punya kendali atas diri mereka, mereka diperintah dan bergerak. Mereka lelah ingin kembali ke Sang Pencipta, karena jiwa mereka adalah jiwa-jiaw suci yang tertumbalkan karena keburukan sifat orang tua dukun.
“Semua orang sudah setuju, sekarang kau harus bersiap!” Aditia memasang kuda-kuda.
“Sebentar anak muda, kau bilang kalau kau menang, maka aku harus membuka pintu keluar, tapi jika aku yang menang bagaimana?” Yahna weja bertanya dan dia telah berjalan mengambang mendekati Aditia.
“Maka kau boleh ambil tubuhku.”
“Tidak, tubuhmu tidak terlalu berharga.”
“Baiklah, kalau begitu, apa yang kau inginkan?”
“Lakukan perjanjian penumbalan, tumbalkan orangtuamu supaya mereka bisa tinggal di sini bersamamu? Bagaimana?” Yahnaweja tertawa, sementara Aditia kaget, karena itu pertukaran yang cukup besar.
“Baiklah, aku akan melakukan itu tapi apa yang bisa aku pegang jika kau tidak menepati janji?” Aditia menerima perjanjian itu.
“Perjanjian manusia dan jiwa yang tersesat, bukan perjanjian omong kosong. Sekali kita setuju, maka perjanjian itu akan menjadi kekal dan menghancurkan jika dilanggar. Apa itu kurang?”
“Baiklah, sekarang mari kita mulai untuk duel.” Anak remaja ini berani sekali, entah setan apa yang merasukinya sehingga keberanian muncul bahkan tanpa mundur, ketika orang tuanya dijadikan perjanjian saja, dia tidak gentar.
Aditia membuat kuda-kuda. Dia mulai menyerang Yahnaweja, dia memukul Yahnaweja tapi perempuan iblis itu berhasil menghindar, dia bisa melayang dan melempar rambutnya yang entah sejak kapan menjadi jauh lebih panjang dari sebelumnya.
Rambut itu melilit leher Aditia dan perlahan mengangkat tubuh Aditia ke atas. Tanpa senjata membuat Aditia harus memikirkan cara lain. Maka dia menarik rambut itu dengan kencang, sehingga kepala Yahnaweja ikut tertarik.
Rambut itu melepas Aditia perlahan setelah ditarik dengan kencang. Duel ini terlihat seperti duel yang aneh, duel jenggut-jenggutan.
Aditia tidak perduli jenis duel apa ini, yang dia tahu, Yahnaweja harus dikalahkan. Titik!
Aditia kembali menyerang, dia sekarang tahu, betapa Yahna sangat mencintai rambutnya, itu adalah senjata sekaligus mahkota, maka Aditia hanya perlu mencari sesuatu yang bisa membuat dia menggunting rambutnya.
Aditia melihat sekeliling, tidak ada gunting! Tentu saja! Itu adalah kelemahannya tentu tidak ada yang jual kelemahan sang pemimpin yang dijual di sini.
Aditia terus melihat sekitar untuk mencari apa yang mungkin bisa dia gunakan.
Dari arah rumah Yahna dia melihat anak perempuan yang dia temukan pertama kali di sini sedang berlari, dia membawa sesuatu! dia membawa ... pisau! Pisau besar yang terlihat tajam.
Aditia berlari menghampirinya dan mengambil pisau itu. Gunting tak ada pisau pun jadi. Itu yang ada di pikiran Aditia, dia hanya perlu mencari alas agar rambut bisa di pangkas menggunakan pisau.
Aditia kembali menyerang Yahna dia tidak akan memukul atau menendang membabi buta, dia hanya akan menarik rambutnya, salah sendiri terlalu mencintai rambut busuk itu.
Aditia berlari terus mengelilingi Yahna hingga dia bisa menggapai rambutnya, Yahna sadar rambutnya diincar, dia lalu terdiam, menggelung rambutnya dengan cepat agar tiadk dipegang Aditia, setelah itu Yahna kembali menyerang Aditia dengan membabi buta. Aditia hilang fokus, serangan Yahnaweja kena di perutnya, Aditia jatuh.
“Perempuan busuk!” Aditia memuntahkan darah.
“Kau lelaki tampan, aku suka wajah itu. Kau mudah sekali di bawa ke sini hanya dengan tangisan anak itu.” Yahnaweja tertawa.
Aditia bangun, tapi ada yang salah, tubuhnya tidak bisa bergerak. Aditia baru sadar, dia tadi tertusuk tusuk konde dari gelungan rambut Yahna, apakah itu beracun hingga membuat Aditia jatuh terkapar tidak bisa bergerak.
Yahnaweja mendekati Aditia, dia hendak memastikan kemenangan.
__ADS_1
Samar Aditia melihat semua orang terlihat kecewa dan sedih, Aditia merasa bersalah, sekarang bukan hanya orang-orang itu yang menjadi korban, tapi orang tuanya juga akan menjadi korban.
Aditia menitikkan air mata karena tahu, mungkin ini kekalahannya.