Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 359 : Kemala 8


__ADS_3

“Kami, siapa?” Rajima bertanya.


“Lihat ini.” Dewi Sundarwani memperlihatkan guci kecil yang dia ambil dari meja di samping tempat tidur itu, di guci itu ada air putih yang terisi tidak penuh, saat dewi memantrainya, Rajima melihat ada bapak, ibu ... ratu sedang duduk di meja ruang tamu rumah mereka.


Kau akan melihat kejadian lampau, di mana ketika pernikahanmu belum terjadi, saat ini ratu izin pada raja untuk bertemu dengan relasi yang merupakan kerajaan sekutu, padahal tidak, ratu menemui orang tuamu.”


“Untuk apa?” Rajima bertanya.


“Untuk membicarakan kesepakatan.”


“Kesepakatan?”


“Sudha kubilang bukan, kau boleh menolak raja, kau boleh menolak takdir, kalau kau ingin selamat, adakan perjanjian denganku. Kau ingat itu?”


“Ya, aku setuju untuk melakukan perjanjian itu.”


“Maka aku menepati janji. Kau tidak jadi menikah, orang taumu saat ini mendapatkan apa yang mereka inginkan sejak dulu.”


“Bagaimana mungkin?”


“Mungkin, jika saja aku bantu.”


“Mohon jelaskan Dewi, aku tidak mengerti.” Rajima sudha putus asa mendengar cerita sepotong-sepotong.


“Seperti yang kau ketahui, kalau aku dan raja itu adalah musuh, aku ingin membangun kerajaan di istana itu, tapi raja menolak, katanya tidak boleh ada dua kepemimpinan dalam satu wilayah, padahal wilayah kami berbeda dimensi, dia tetap ingin menjadi pemimpin bahkan di dunia ghaib yang berdiri di kerajaannya, sungguh manusia serakah, tidak heran selirnya banyak.


Kami bertarung selama belasan tahun, tapi kami tetap sama-sama tidak pernah kalah untuk satu sama lain hingga perang diantara kami terus berjalan.


Aku mencoba segala cara untuk menembus kerajaan itu, di mulai dari pengawalnya yang tak ada satupun mampu aku bujuk, para dayang, selir dan terakhir ... ratu.


Padanyalah akhirnya rencanaku bisa memiliki kemungkinan untuk berhasil. Tapi kami butuh eksekutor, seseorang yang bisa sangat dekat dengan raja, tidak memiliki keinginan untuk menikah dan yang terpenting adalah, memiliki keberanian.


Maka aku menemukanmu. Di hutan itu, di sana aku melihat gadis cantik jelita yang terlihat ingin bebas. Tak seperti gadis lainnya, kau sangat menawan dengan pemikiran yang bebas.


Aku menarikmu ke sini, kau jadi ananda yang mampu aku tugaskan untuk mendekati raja.


Maka ketika kau siap, aku dan ratu yang bertemu di luar istana, sudah mempersiapkan segalanya untuk masuknya dirimu ke dalam istana. Dimulai dari menyebar rumor tentang dirimu yang sangat cantik, cerdas dan pemberani.


Raja suka dengan wanita cantik dan cerdas, mudah bagi kami menarik perhatian raja agar terpatri padamu.


Pada akhirnya raja mengeluarkan surat titah, surat itu melamarmu sebagai selirnya.


Rencana awal kami berhasil. Kau bisa masuk ke sana dengan mudah.


Langkah kedua, memastikan kalau kau akan bersedia dinikahi, maka kami membuat semua orang mendukung pernikahanmu, termasuk orang tuamu.


Orang tuamu mudah dibujuk, apalagi soal kekayaan, sungguh orang yang mudah ditebak.


Lalu semua terjadi begitu saja, kau terpojok, kau ikut iringan pengantin dari rumahmu ke istiana, bertemu denganku dan melakukan perjanjian, lalu menikah dengan raja dan malapetaka itu terjadi.


Aku dengan mudah menyelundupkan tusuk konde itu ke istana setelah sebelumnya mengosongkan isi dari tusuk konde itu, hingga tusuk konde hanya akan menjadi tusuk konde, bukanlah benda pusaka.


Aku memastikan tusuk konde itu sampai padamu, lalu kau ....”


“Aku menganggapnya pesan darimu, karena tusuk konde itu di pakai pada hari aku bertemu dengan para selir dan sarapan untuk pertama kalinya dengan raja, aku memakai tusuk konde itu dengan perasaan yang kacau.”


“Ya, tentu saja, kau tahu kalau itu tusuk kondeku, kau melihatnya, maka kau mengerti maksudku. Walau tujuanku sebenarnya adalah jantungnya! Bukan matanya, tapi tak mengapa, membuatnya cacat permanen, tetap memuluskan jalan kami, aku dan ratumu.”


“Jadi serangkaian kisah ini hanya untuk penggulingan raja?” Rajima bertanya lagi.


“Ya tentu saja.”


“Kau memperalatku dan keluargaku?”


“Itu aku tidak setuju, kita sama-sama mendapatkan apa yang kita inginkan bukan? sebuah kemenangan yang sama.


“Tapi kalau kau tidak mengatur raja untuk menginginkanku, aku tidak akan memerlukan perjanjian itu!”


“Kalau aku tidak mengatur pertemuanmu dengan raja, maka bangsawan lain akan dijodohkan oleh ayahmu untuk menikahimu, aku membuat kondisi di mana akhirnya ayahmu setuju untuk membebaskanmu dari pernikahan!”


“Kau yakin dengan kata-katamu! Ayahku tidak akan pernah membebaskanku!”


“Ratu datang ke rumahmu sebelum pernikahanmu berlangsung, dia meminta orang tuamu mengirim surat pada raja kalau mereka tidak bisa datang pada hari penobatanmu karena bapakmu sakit keras. Mereka awalnya menolak, tapi ratu bilang bahwa kau tidak akan membiarkan raja hidup, kami menebak kau pasti akan membunuh raja dengan tusuk kondeku, walau tebakan kami meleset, tapi kau tetap melakukannya dengan baik.


Bapak ibumu awalnya menolak ikut menggulingkan raja, tapi ratu yang datang langsung dengan diam-diam itu, menawarkan sebuah kesepakatan, yaitu posisi penting di kerajaan jika akhirnya kau berhasil membunuh raja, orang tuamu akhirnya setuju, walau mereka tahu, anaknya akan jadi pembunuh.


Pada hari kau pulang ke rumah setelah mencelakai raja, bukankah ibu dan bapakmu sangat tenang?


Tentu saja, mereka sudah melihat kekuasaan yang ada di depan mata.”


“Aku heran, kenapa ratu hendak mencelakai raja? Sedang posisinya sudah sangat aman?”


“Kau benar-benar cerdas tapi tak pintar. Kau tak tahu, kalau ratu tidak punya anak laki-laki, jadi bisa saja posisinya digeser oleh selir lain, makanya dia perlu mengamankan posisinya.


Aku mengejar raja itu dari berbagai sisi dan orang terdekatnyalah yang mampu kugapai, sungguh ironis.”


“Sudah kubilang pernikahan bukan sesuatu yang bisa aku jalani apalagi menjadi selir raja, bisa mati berdiri di sana! Lalu bagaimana dengan bapak dan ibuku?”


“Saat ini? kau akan bersama mereka sebentar saja untuk penobatan, penobatan menjadi abdi kerajaan, mereka akan pindah ke kawasan kerajaan mengemban tugas kerajaan, kau pasti bangga melihat mereka dengan statusnya saat ini.”

__ADS_1


“Lalu siapa yang memimpin kerajaan?”


“Ratu, tentu saja dia, karena berdasarkan hukum kerajaan, jika tidak ada yang bisa memimpin, maka ratu boleh memimpin sampai putra mahkota siap.”


“Jadi sudah ada putra mahkota?”


“Ada calonnya, anak selir dengan golongan tertinggi, tapi belum diumumkan, makanya waktu terbaik untuk mencelakai raja adalah saat ini, dimana jika raja celaka atau sampai mati, maka ratu yang akan menjadi penggantinya, sebab tak ada yang bisa menggantikannya dari sisi manapun.”


“Sungguh rencana gila.”


“Perlu menjadi gila jika taruhannya sebuah wilayah strategis.”


“Hanya untuk kerajaan itu?”


“Ya, aku dan ratu akan hidup berdampingan memimpin negeri kami di dimensi yang berbeda.”


“Aku tak peduli yang penting orang tuaku aman, dapat apa yang mereka inginkan dan aku bisa menjadi berguna untuk banyak orang.”


“Bukankah aku menepati janji?”


“Ya, terima kasih.”


“Bukan itu yang aku butuhkan, tapi balasannya.”


“Maksudmu?”


“Perjanjian kita belum kau tunaikan.”


“Apa?”


“Aku sudah memenuhi keinginanmu tidak menikah dengan raja atau siapapun karena kau dikutuk raja, kau bisa hidup bebas semaumu, berguna untuk banyak orang bukan? lalu sekarang, apa upahku?”


“Aku sudah membunuh raja, ini memuluskan jalanmu untuk mendapatkan apa yang kau inginkan, lalu kau butuh apa lagi!”


“Raja tidak mati Rajima, dia buta dan dikirim ratu ke tempat terpencil menunggu kematiannya, mencelakai raja adalah apa yang kita lakukan bersama, upahmu ibu dan bapakmu aman, lalu upahku?”


“Baiklah, kau mau apa dariku?”


“Aku ingin hal yang sangat sederhana.”


“Apa itu?”


“Aku ingin hidupmu.” Dewi Sundarwani mengatakan keinginannya.


“Kau ingin aku mati?”


“Kalau kau mati, dirimu takkan berguna, justru aku ingin kau seutuhnya.”


“Aku butuh penerus, aku butuh orang yang bisa menjadi muridku, menyebar ilmuku kepada seluruh anak cucu adam, agar mereka tersesat.”


“Bedebah kau! kau ingin aku jadi bala tentaramu!”


“Tentu saja! Kau pikir aku mau apalagi?”


“Aku tidak bisa.”


“Lalu aku cabut juga apa yang sudah kau dapatkan, orang tuamu akan mendapat penghinaan, karena anaknya penjahat yang mencelakai raja.”


“Kau jahat!”


“Tidak jika kita sama-sama sepakat, aku bahkan tidak memaksamu.”


“Tapi kau tidak memberitahu syaratnya! Kau hanya menawarkan kesepakatan tanpa aku tahu konsekuensinya.”


“Salahmu tak bertanya.” Dewi itu berkata dengan sangat tenang, dia bahkan sempat membuat teh dan meminumnya, serta duduk di singgasana yang ada di hadapan tempat tidur yang digunakan oleh Rajima. Pantas saja dia ingin wilayah kerajaan, ternyata karena guanya terlalu sempit untuk dijadikan tempat tinggalnya.


“Aku tidak bisa mencelakai orang, aku ingin berguna untuk banyak orang.”


“Maka aku akan mengubah kata-katanya ... begini, bergunalah untuk bangsamu.”


“Bangsaku?”


“Bangsa jin!”


“Aku bukan jin.”


“Aku bisa mengusahakannya.”


“Kau gila!”


“Tidak, tapi aku mampu.”


“Tidak, aku ingin jadi manusia biasa saja.”


“Dengan menjadi jin, kau bisa hidup jauh lebih lama, maka kau akan berguna jauh lebih lama bagi bangsamu.”


“Umurmu berapa?”


“Entahlah, aku berhenti menghitung diangka 300.”

__ADS_1


“Manusia paling lama hanya sampai 100 tahun bukan?”


“Ya, maka jadilah bangsaku.”


“Ca-caranya?”


“Bertapalah di depan guaku, jangan bergerak, jangan makan, jangan minum dan jangan takut, apapun yang kau temui selama masa pertapaan, jangan pernah tergoda, hujan badai, kau harus tetap di sana, maka tubuhmu akan menyatu dengan alam, jiwamu akan lepas dan bebas, jiwamu akan menjadi bangsa kami.”


“Apa benar itu bisa terjadi?”


“Ya, tapi tidak mudah, aku mengenalmu, kau itu mampu, maka lakukanlah.”


“Aku ... takut.”


“Kenapa takut? kita semua mendapatkan apa yang kita inginkan bukan?”


“Aku ....”


“Hadiri penobatan orang tuamu, pamitan lalu datang lagi ke sini, kita akan memulai ritualnya. Oh ya satu lagi, ini adalah tusuk konde yang kau gunakan untuk menusuk raja bukan, kau harus menguburnya di suatu telaga, timbun dengan tanah di kedalaman air yang cukup dalam. Karena tusuk konde ini berisi kutukan dari raja yang menyertai tubuhmu juga.”


Tanah di dalam air mampu meredam kutukannya, sehingga takkan ada yang bisa menemukanmu kelak jika saja kerabat raja ingin balas dendam.”


“Baiklah aku setuju, mari kita lakukan.” Rajima akhirnya setuju.


Maka setelah Rajima mendatangi penobatan ayahnya, dia mengubur tusuk konde di telaga yang ditentukan oleh dewi, setelah menguburnya dengan tangannya sendiri, dia langsung melakukan ritual, ritual pertapaan yang panjang, selama bertahun-tahun, hingga akhirnya tubuhnya menjadi menyatu dengan alam, orang bilang bahwa patung itu yang dibuat pada tahun 1600 adalah patung Perawan Sunti, jika seorang gadis memegang patung itu, maka dia akan sulit menemukan jodohnya. Sehingga tak ada yang berani memegang patung itu.


Sedang jiwa Rajima telah lepas dari raganya, dia telah menjadi bangsa jin dan akhirnya mengabdi pada Dewi Sundarwani sebagai murid dan anak angkatnya, Rajima memiliki ilmu yang tinggi dan jin yang sudah berumur sangat tua saat dia berada di tubuh Kemala.


Rajima memiliki pangkat tertinggi dalam kancah dunia jin, karena ... dia mampu memisahkan pernikahan seorang wanita dengan suaminya hanya dalam waktu sekejap, seperti yang kita tahu, pangkat tertinggi jin laknat adalah yang mampu memisahkan pernikahan sepasang manusia di bumi ini. Makanya Rajima ditakuti oleh kalangan jin dan digemari oleh manusia karena kecantikannya karena pangkat tertingginya itu.


Sedang Rajima mampu menjadi seorang jin yang sangat tinggi ilmunya, karena dalam pemahamannya, pernikahan itu hanya membuat perempuan terikat dengan kencang, bahkan perempuan terpaksa untuk menjadi tulang punggung dan juga sekaligus tulang rusuk bagi keluarganya.


Selama masih banyak lelaki bedebah yang tidak mampu membahagiakan istri dan anak-anaknya, maka Rajima dengan senang hati menggoda istrinya untuk mengakhiri pernikahan itu.


Dan ironisnya, Rajima bahkan melihat jauh lebih banyak lelaki bedebah di dunia ini yang menjadi targetnya semakin waktu berjalan semakin bertambah, menyedihkan.


...


“Jadi dia ini wanita suci yang melegenda itu?” Ganding merinding mendengar cerita Alka, karena cerita ini hanya ada di kalangan jin, sedang manusia tidak ada yang tahu, kalian jangan kasih tahu siapa-siapa ya cerita ini.


“Ya, dia adalah jin wanita yang ditakuti oleh setiap jin di dunia ini, karena kemampuannya tidak main-main.” Alka menjelaskan lagi.


“Pantas saja auranya sangat berbeda, karena isi dari tubuh Kemala bukan wanita biasa.” Hartino memuji, Alisha bersiap melempar vas bunga yang ada di dekatnya, Hartino langsung melotot karena sadar sudah memuji wanita suci ini.


“Kau sekali lagi bicara, aku akan ke pengadilan agama untuk mengurus surat cerai, dengar itu.” Alisha kesal.


“Maaf aku hanya ... aku ... aku hanya.”


“Dia terpengaruh sihir Rajima Alisha, tak heran, semua lelaki di sini terbuai dengan kecantikannya.” Alka melerai.


“Jadi ini Kemala atau Rajima?”  Aditia bertanya.


“Yang kau lihat ini Rajima, dengan pakaian yang sangat megah dan indah.”


“Aku tidak bisa mendeteksinya saat bertemu Kemala.”


“Siapa yang bisa mendeteksi jin berumur ratusan tahun? dia juga mungkin sedang tidur jika kau bertemu dengan Kemala. Maka kau tidak bisa mendeteksinya Dit.”


“Kalau begitu, apa kita bisa mengusir Rajima dari tubuh Kemala agar Kemala bisa menikah dan hidup dengan normal?”


“Kau berani mengusirnya, Dit?” Alka bertanya.


“Aku ... takut dan sungkan.”


“Itu dia, siapa yang berani masalahnya.”


“Ayi gimana?” Ganding bertanya.


“Rajima sahabat Ayi, mereka bestie, bahkan Rajima jauh lebih baik setelah berteman dengan Ayi. Tidak mungkin Ayi mau ikut campur, apalagi Rajima menjaga Kemala seperti Karuhun, hanya kutukan Rajimanya saja yang membuat Kemala tidak bisa menikah.”


“Buntu dong, kita nggak bisa menolong dia.” Aditia bertanya lagi.


“Ada satu cara, ada ritual agar dia bisa menjalani hidup normal dan menikah, tapi ... berat.”


______________________________________________


Catatan Penulis :


Triple update temen-temen, apakah kalian bahagia? saya ... mimisan ini mah, 7000 kata dalam 1 hari, alias 22 lembar halaman A4 dengan setingan standar. Kebayang nggak tuh dikerjain sehari, ga muntah darah sih bagus banget.


Ok, karena sudah beberapa hari ini aku crazy up, minta izin sehari untuk cuti nulis, sehari aja ya, kasihan otakku, perlu di refresh supaya nggak vertigo, jadi jangan ada yang ngeluh aku cuti sehari ya.


Part Kemala belum tamat, nanti kita masuk ke zaman sekarangnya ya, alur maju.


Apakah kalian sudah bosan? kasih tahu kalau bosan.


Yang belum akun IGku, add dong. sama kok namanya. MUKA KANVAS aku suka bikin puisi harian.


Yang belum add akun noveltoonku, kamu keterlaluan, add dong biar kalau aku bikin judul baru kalian dapat notifikasinya.

__ADS_1


Jangan lupa like ya, kasih hadiah boleh, kasih vote apalagi, makasih buat kalian yang selalu mampir, percayalah aku baca komentar kalian, makasih supportnya, makasih hadiah dan votenya dan makasih apapun yang udah kalian lakukan untuk AJP dan novel lain.


__ADS_2