Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 472 : Nyebrang 4


__ADS_3

“Jak, ini beneran kita disasar?”


Jaka diam saja, dia yakin kalau mereka berbalik pun, akan sama saja, mereka harus melewati potongan kaki itu jika ingin segera keluar dari lingkaran sesat ini.


“Kita lewati kaki itu?”


“Jak, kau yakin?”


“Aku tidak yakin, tapi kita tak bisa berbuat apa-apa lagi, aku juga tak tahu, sudah berapa lama kita muter kayak gini.”


“Tapi, harusnya kalau sudah lama, harusnya kita melewati pagi bukan?” Temannya Jaka bertanya.


“Aku tak tahu, jangan tanya padaku! sekarang kita jalan saja, habiskan bensin ini, bukankah mitosnya, kalau bensinya habis, maka seharusnya kita akan menemukan jalan bukan?”


“Kau benar, ayo kita jalan.” Temannya baru ingat itu.


Mereka pun mulai berjalan lagi, roda motor berputar berkeliling, berputar satu kali, dua kali, 200 kali, 300 kali dan masih terus berputar.


...


“Kalau kerabat Aditia itu, sudah lama sekali meninggal dunia, Bapak ingat, waktu itu Aditia masih kecil ya, pas datang ke sini?” Seorang lelaki yang merupakan tetangga dari kerabat Aditia mengajak mereka ke rumahnya, karena saat kawanan datang, rumah kerabat itu telah kosong lama dan menjadi rumah yang terbengkalai.


“Innalillahi wa innailaihi rajiun, saya tidak diberi kabar Pak, makanya tidak tahu.” Aditia sedih mendengarnya.


“Saya waktu itu mencoba menelepon ayahmu juga, untuk mengabari, karena kerabat bapakmu ini tak punya keluarga, tak ada anak maupun istri, dia tinggal di rumah ini sendirian, tapi ayahmu tak bisa dihubungi.”


“Saat itu ayah mungkin juga sedang sakit Pak, ayah pernah dirawat, saat itu aku juga tinggal dipadepokan, maaf sekali, saya juga tidak mengabari, karena satu dan lain hal, salah satunya saya tidak mempunyai nomor kerabat ayah ini, waktu itu juga handphone ayah dipegang ibu, ibu tidak kenal kerabat yang di sini sepertinya.”


“Oh begitu, saya dengar juga memang ini adalah kakak tirinya ayahmu, mereka beda ibu.”


“Oh begitu, saya juga kurang paham Pak, waktu dulu saya cuma datang ke sini, ingatnya di sini ada keluarga ayah, tapi tak benar-benar tahu apa hubungan kerabatnya, ternyata kakak tirinya ayah.”


“Ya, benar, mungkin ayahmu tak mau kenalkan dengan ibumu karena itu.”


Bahkan ibunya Aditia tidak pernah tahu siapa orang tua asli Mulyana, keluarga Mulyana karena sampai sekarang, tak satu pun, bahkan kawanan tahu, asal-usul Mulyana yang sebenarnya, kalian mau tahu asal-usul Mulyana? Nanti kuberitahu jika waktunya tepat.


“Mungkin Pak.” Aditia terdengar sangat sedih mengingat, dia juga tak paham silsilah keluarga Mulyana.


“Maaf kalau ini agak tidak sopan, tapi tujuan Aditia dan teman-teman ini ada apa ya? apakah hanya sedang liburan atau ada niat lain?” Tetangga bernama Wak Eman ini bertanya.


“Hmm, begini Wak, sebenarnya baru-baru ini saya mengalami mimpi, ayah saya datang, dia meminta saya ke sini, entah ada bencana apa di sini, sampai saya harus banget ke sini, makanya saya ke sini.”


Aditia berbohong, karena dia tak mungkin membicarakan buku Mulyana pada siapapun, itu adalah buku rahasia yang sangat dijaga, dibawa ke mana-mana pun, tetap dijaga dengan sangat baik.


“Oh ... berarti kamu menuruni kemampuan ayahmu ya?” Wak Eman bertanya.


“Kemampuan?” Aditia hanya ingin memastikan, apa yang dimaksud Wak Eman.


“Ayahmu dan kakak tirinya dulu adalah orang yang selalu membantu kampung ini, baik secara materi maupun spiritual, kalau kakak tirinya itu lebih tenang dalam menghadapi masalah, kalau ayahmu ya ... apa kita menyebutnya? Maaf, mungkin kata yang tepat adalah ... galak.”


“Galak? Maksudnya Pak?”

__ADS_1


“Ya galak pada ‘mereka’ yang tak terlihat.”


Wak Eman berarti kenal Mulyana dengan dekat, karena tahu Mulyana bukan orang biasa dengan kemampuan batinnya yang tinggi.


“Oh, bapak tahu soal ayah saya? dan kakaknya juga ternyata memiliki kemampuan.”


“Kamu juga kan? sepertinya laki-laki di keluargamu memiliki semua kemampuan itu ya?” Wak Eman bertanya.


“Tidak tahu Pak, karena saya tidak kenal semua keluarga ayah saya, tapi kembali lagi ke pembicaraan kita sebelumnya, apakah ada kejadian luar biasa di sini Pak? hingga ayah saya harus mendatangi saya dalam mimpi?”


“Baiklah, saya akan ceritakan, tapi mungkin ini panjang, istri saya siapkan kopi dan teh dulu ya, biar kalian hangat dan nyaman, sekalian di masakkan bala-bala gimana?”


“Duh Pak, ngerepotin banget nih, nggak usah lah.” Aditia terlihat tak enak hati.


“Nggak apa-apa Dit, lagian kami jarang kedapetan tamu, anak-anak kami sudah di kota semua, mereka nikah trus kerja di sana, tinggal saya sama istri saya Dit, jadi nggak apa-apa ya, senang saya, rumah jadi ramai.


Aditia sebenarnya masih tak enak hati, tapi Alisha adalah penyelamat.


“Kalau begitu, ini Pak sekedar buah tangan saja ya, maaf cuma bawa ini.” Alisha menyerahkan kue kaleng yang cukup mahal dan lumyan banyak, tadinya akan diberikan untuk keluarga Aditia, tak ada yang memikirkan ini sebelumnya, tapi Alisha adalah Alisha, dia selalu tahu caranya sopan-santun dengan baik.


“Wah, ini baru namanya ngerepotin.”


“Kalau Bapak mau direpotin kami, berarti mau menerima buah tangan ini, biar kita sama-sama menikmati hidangan Pak, ala kadarnya.” Alisha merendah, padahal kue kaleng yang dia bawa cukup mahal.


Lalu Wak Eman memanggil istrinya, istrinya yang sedari tadi di ruang keluarga menonton televisi sepertinya, keluar dengan tergopoh dan bertanya ada apa. Wak Eman meminta dibuatkan bala-bala dan kopi, karena di antara kawanan tak ada satupun yang mau minum teh, mereka pecinta kopi.


Istrinya memperkanalkan diri dan kawanan juga sama, lalu dia masuk ke dalam, Alisha menawarkan diri untuk membantu dan tanpa menunggu jawaban, langsung masuk ke dapur, dia memang jagonya masak, yang lain tetap di depan untuk mendengarkan cerita.


“Panggil aku Wak Eman aja ya, biar akrab. Jadi begini Dit dan semuanya, waktu ayahmu datang ke sini, mungkin dihubungi kakak tirinya, di sini saat itu sedang ada teror bola api yang saut-sautan di atap rumah kakaknya ayahmu, kami warga sekitar melihatnya, tapi kami paham, kalau kakanya ayahmu itu bukan orang jahat, tapi dia dijahati, itu baru mungkin.


Para pemuda digalakkan agar ikut terjun menjaga kampung, dulu ronda itu tak ada, tapi sekarang ada, bahkan setelah kematiannya, ronda tetap dijalankan sesuai dengan amanahnya dulu untuk menjaga kampung ini dari para pencuri dan penjahat lain, karena waktu malam adalah waktunya penjahat berkeliaran.


Saat ayahmu datang, aku ikut mampir dan dikenalkan, aku hanya penasaran, lama kenal kakak ayahmu, tapi tak pernah lihat dia dikunjungi siapapun, maka ketika ada orang yang datang ke rumahnya, aku hanya ingin tahu saja, siapa.


Maka dari sanalah aku berkenalan dengan ayahmu, nama ayahmu Mulyana, dia datang waktu itu denganmu, kau masih sangat kecil, aku ingat sekecil itu pun, keluarga kalian sangat suka kopi, seperti kalian saat ini.


Kakaknya ayahmu, aku dan ayahmu kami berbincang, jujur saat itu aku tahu tentang kakak ayahmu, karena dia selalu terbuka apapun tentang hidupnya, aku tahu dia begitu, pasti karena tak punya keluarga dan percaya padaku.


Dari sana aku tahu kalau Mulyana adalah adik tirinya, lalu mereka mulai membahasa masalah bola api yang selalu ada di atap rumahnya.


Kakak tiri ayahmu mengatakan bahwa mungkin itu kiriman dari musuh lama, karena katanya dia dan ayahmu adalah orang yagn cukup paham soal ghaib, mereka banyak musuh dukun karena berusaha memberantas perdukunan.


Aku percaya dan sangat amat percaya itu, maka aku mendengat Mulyana akan datang lagi nanti dua hari setelahnya, dia bilang akan menghajar yang mengirim bola api.”


“Ini bala-bala sama kopinya, dimakan ya, saya kembali lagi ke dalam, ini juga kopinya di teko, kalau kurang tinggal dituang ya, Alisha dan istrinya Wak Eman keluar dan membawa bakwan yang sudah jadi.


Alisha setelah membantu memasak bakwan, sudah keluar dan ikut mendengar penjelasan. Dia tak perlu ada di ruang tamu untuk mendengar pembicaraan itu, karena Rangda sudah menjadi wakilnya, duduk sedari tadi di ruang tamu itu sembari terus menari dan mendengarkan penjelasan, kawanan sudah tidak terganggu lagi dengan kelakuan Rangda, karena mereka sudah terbiasa dengan kelakuan khodam Alisha.


“Saya lanjut ya, sekalin bala-balanya di makan, pakai saus sambal ini, khasnya di daerah kami.” Aditia melahap langsung bakwan dengan saus pedas yang cair, khas tempat itu, Aditia tidak bisa menemukannya di kota kelahiran, karena kebanyakan kota kelahirannya memberikan cabai atau saus kacang untuk teman bakwan.


“Iya Wak, silahkan dilanjut ya.” Aditia menjawab sambil menyomot bakwan yang sudah dibasahi oleh sambal pedas yang cair itu.

__ADS_1


“Setelah hari itu, ayahmu sering kembali, tapi sendirian, tidak bersamamu lagi, Dit, kau hanya diajak sesekali saat mereka tidak melakukan ritual.”


“Ritual? Ritual apa Pak?”


“Mengusir bola api itu Dit, kau tahu, ayahmu tidak seperti kakaknya, selalu ragu dan kasihan jika ingin membalas, kalau ayahmu, dia sangat galak pada dukun-dukun itu.


Saat itu aku melihatnya mencobam menghajar bola api yang sering datang malam hari di atap kakaknya, lalu tak lama kemudian, aku mendengar bahwa ada seorang dukun di dekat tempat kami tinggal mati dengan mengenaskan, seluruh tubuhnya menghitam seperti terbakar, gosong. Padahal kondisi rumahnya sangat amat baik.


Maka aku tahu, ayahmu yang membuat dukun itu mendapat pelajaran. Aku pikir, sudah selesai, tapi ternyata aku salah.


Malam itu, aku yang baru saja pulang dari ke luar kota karena pekerjaan, saat itu aku masih bekerja dan posisiku mengharuskan untuk kerja di luar kota, sudah larut ketika aku pulang, saat itu aku melihat bola api itu berada di atap rumahnya lagi.


Tanpa pulang, aku langsung menggedor rumah itu, tak lama kakaknya ayahmu lalu membuka pintu, dia terkejut dengan ketukanku yang begitu kencang, rupanya dia sedang solat tahajud, kalau tidak salah, saat itu memang sekitar jam 2 atau jam 3 pagi.


Aku bilang padanya, aku melihat lagi bola api, aku tidak bisa melihat hal ghaib, seluruh kampung juga mungkin tidak, tapi bola api itu terlihat dengan jelas, seolah ....”


“Ingin memberitahu semua orang, kalau pamanku adalah ... musuh seluruh dukun di tempat ini, membuat ketakutan agar mereka tak menolong pamanku bukan?"


“Betul, kau pintar sekali, aku tidak menyadari itu, karena tak terbesit sedikitpun dalam hatiku mencurigai kakaknya ayahmu. Dia orang baik yang menjaga keluargaku saat aku pergi, dia juga orang soleh, aku saksinya.


Saat aku k ada, dia menjaga istri dan anak-anakku dengan batasan yang sangat ketat, tidak mengunjungi rumahku, tapi selalu membantu jika istriku butuh bantuan pertukangan, syaratnya sat dia bantu, akan ada beberapa tetangga yang dia ajak, sebagai saksi bahwa dia tidka macam-macam dengan istri temannya yang ditinggalkan suami bekerja keluar kota.


Aku sangat percaya padanya, tapi tidak dengan warga di sini.


Entah informasi itu berhembus dari mana, aku mendengar warga mulai berdesas-desus, mengatakan bahwa pamanmu adalah orang yang menganut ilmu hitam.


Buktinya? Karena bola api itu, persis seperti yang kau katakan, saat aku mengatakan ada bola api lagi, aku melihat wajahnya dengan sedih, dia lalu berkata begini ... "Mulyana tidak seharusnya menghajar mereka sekeras itu, seorang dukun pasti punya kelompok yang slaing menjaga, makanya sekarang kakaknya ayahmu jadi memiliki banyak musuh.


Aku ingin membela ayahmu, tapi aku tahu kekecewaan temanku itu, dia orang yang lembut hatinya, dia inginnya dibicarakan saja.


Ketika ayahmu melacak dukunnya dan langsung dapat, karena ayahmu memang sangat tinggi ilmunya, itu kata temanku, dia inginagar ayahmu dan dia mendatangi dukun itu dan bicara dengan lembut.


Tapi ayahmu tidak mau, baginya dukun harus dipukul mundur, agar kapok, tapi temanku tak percaya bahwa mereka akan kapok, definisi dari hilang satu tumbuh seribu tu benar adanya.


Bola api itu selalu mengancam pamanmu.


Makanya dia akhirnya membiarkan saja bola api itu terus berdatangan, aku ingatnya, pamanmu baik-baik saja karena ilmunya juga bagus, jadi rumahnya terpagari.


Pamanmu bilang enggan menghubungi ayahmu lagi, karena takut kejadian itu kembali terjadi.


Dukun-dukun itu tetap mengirim bola api, mulut tetangga juga semakin banyak berbicara tentang fitnah pamanmu, Dit.


Sepertinya ada salah satu kelompok dukun itu yang menyebar fitnah, pamanmu semakin dikenal sebagai orang dengan aliran sesat.


Pamanmu hanya menahan diri, diam tak membalas, aku yang emosi, aku yang selalu melawan mereka, hingga kami juga ikut dimusuhi, tak masalah bagiku, karena aku kerja juga digaji orang di kota, bukan dari mulut-mulut tetangga.


Semakin hari aku lihat pamanmu semakin kurus, makannya ajdi tidak teratur, aku sungguh takut Dit, makanya akhirnya aku meminta nomor ayahmu dari pamanmu, aku bilang saja aku akan ke kotanya, aku ingin sekedar ngopi.


Aku memang benar ke kotamu Dit, tapi bukan untuk kerja, aku menemui ayahmu, aku mengatakan semuanya.


Aku melihat betapa sedihnya raut ayahmu, dia lalu ikut aku kembali ke rumah kakaknya.

__ADS_1


Pamanmu sempat marah padaku, tapi aku lebih takut warga desa akan melakukan hal jahat, jika saja bila api itu masih terus berada di atap rumahnya.


Saat itu aku melihat Mulyana bahkan memohon kepada kakaknya untuk mau dibantu, tapi dia menolak, hingga kejadian naas itu terjadi.


__ADS_2