Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 377 : Toko Emas 7


__ADS_3

“Man, kamu kenapa sih?” temannya bertanya. Mereka sedang istirahat makan di tempat kerja, kejadian tadi pagi dan malam sebelumnya membuat teman Amanda khawatir.


“Nggak apa-apa kok.” Manda terlihat tenang, dia hanya tidak ingin temannya khawatir dan menyusahkan dial agi.


“Yakin Man? Apa kamu masih sedih ya? aku juga pas ibu meninggal sedih banget Man, ntar perasaan itu juga lama-lama ilang, sekarang masih terasa mah wajar, tapi kalau ada apa-apa cerita ya, Man, aku pasti bantu.” Jarang ada teman yang seperti temannya Manda ini, tulus dalam menolong orang.


“Makasih ya, aku beneran nggak apa-apa, bener kata kamu, mungkin sedih, karena selama ini aku selalu sama ibu, jadi kehilangannya terasa banget.”


“Iya, yaudah makan yang banyak abis itu fokus kerja, cari uang yang banyak, amanah terakhir ibumu kan, bilang kamu harus kuliah, kamu cerita ke aku gitu kemarin.”


“Iya, ibu bilang aku boleh kuliah pakai uangku, aku bakal cari tempat kuliah, kamu bantuin aku ya.”


“Udah pasti dong, walau aku malas kuliah, tapi aku senang kamu mau lebih maju lagi, nanti kalau udah sukses, jangan lupa aku ya.”


“Nggak akan pernah, aku pasti bakal selalu sama kamu.” Manda lalu merangkul temannya.


Istirahat makan selesai. Mereka lalu kembali bekerja.


Hari semakin sore, pengunjung sepi, Manda lalu izin solat dulu, temanya tadi sudah duluan.


Manda solat di bagian belakang, tempat solat itu bukan mushola yang disediakan, tapi hanya bagian pojok gudang yang dirapihkan, lalu diberi alas triplek untuk solat, sejadah disediakan, tapi sarung dan mukena bawa sendiri, kalau laki-laki biasanya pakai celana panjang cukup, jadi tidak harus membawa sarung, sedang karyawan wanita, harus membawa mukena. Dijaman ini muken travel dengan ukuran sangat kecil banyak, jadi bukan beban membawa mukena sendiri.


Manda sudah wudhu di kamar mandi, lalu dengan menggunakan sendal jepit karet yang sengaja disedikan di kamar mandi oleh para karyawan itu, Amanda menuju gudang, dia hendak solat di bagian pojok.


Gudang itu sangat terang, tidak terlalu luas dan tidak juga kecil, ukurannya sedang saja untuk menyimpan barang-barang stok makanan.


Manda mengenakan mukenanya, lalu memulai solat. Rakaat pertama Manda lakukan denga khusyuk, lalu rakaat kedua Manda masih lakukan dengan khusyuk, masuk pada rakaat ketika, lampu yang berada tepat di atasnya mulai bekedip, Manda kaget tapi tetap membaca Alfatihah dalam hati, kedipan lampu itu makin lama makin tegas dan akhirnya mati.


Manda kali ini terkejut, hingga sempat lupa gerakan solat selanjutnya. Tapi dia tetap paksakan untuk solat, dia ingin solatnya selesai tanpa batal.


Lampu di gudang satu persatu mati, gelap gulita, gudang itu benar-benar sanat gelap.


Manda menangis, tapi tetap berusaha menyelesaikan solatnya.


Saat telah masuk rakaatn terakhir, Manda mengucapkan salam, setelah mengucapkan salam dengan sempurna, Manda  lalu mendekat ke tembok karena ketakutan, suasana ini sangat mencekam.


Manda melepas mukenanya dengan tetap waspada, dalam hatinya, dia takut meliaht ibunya, dia bukannya tak sedih, tapi melihat wajah ibu yang menghitam itu, membuat Manda ketakutan.


Manda menangis dan mengambil telepon genggamnya, dia mencoba menghubungi temannya untuk membantu dia keluar, tapi sayang, sinyal tiba-tiba hilang, Manda makin ketakutan.


Dia lalu menyalakan senter pada telepon genggamnya, senter itu berada di dekat kamera bagian belakang.


Saking takutnya, Manda sempat gugup saat hendak menyalakan senter di telepon genggamnya itu, tapi tidak lama kemudian dia berhasil menyalakan senternya, dia senang dan mengarahkan senteri itu ke depan dan di detik selanjutnya, Manda berteriak sangat kencang, karena dihadapannya, sosok perempuan mengerikan itu berdiri tepat di hadapannya, aneh, kenapa lehernya memanjang dan wajah jauh lebih dekat ke pada wajah Manda dibanding tubunya.


Manda ketakutan lalu akhirnya pingsan.


...

__ADS_1


Anak pemilik toko emas sudah boleh pulang, dia lalu dibawa ke apartemen milik mereka, walau agak kesal karena dia yang diungsikan, tapi anak pemilik toko emas itu tidak ingin protes, dia juga masih teringat dengan kejadian sebelumnya, kejadian menakutkan itu.


“Kamu sama mbak ya, Mami sama papi mau ke rumah dulu ambil keperluan kamu.”


“Kok nggak sekalian tadi ambil keperluannya? Jadi bolak-balik kan?”


“Udah tenang aja, kamu sama mbak ya, kalau butuh apa-apa kamu minta.”


“Iya Mi.” Anak gadis itu akhirnya setuju.


Lalu pemilik toko dan suaminya itu keluar dari apartemen menuju mobil mereka, berdua saja.


“Kita akan mempir dulu ya ke tempat itu.” Pemilik toko mengingatkan suaminya.


“Ya.”


“Aku tahu ini berat untuk kita, tapi daripada kita kehilangan keduanya.”


“Ya aku mengerti.” Suami pemilik toko itu terpaksa mengikuti istrinya. Karena ini untuk kebaikan bersama.


Mereka sampai pada suatu tempat, tempat yang terlihat normal saja, rumah biasa, hanya entah kenapa begitu banyak orang yang mengantri setelah gerbang rumah itu dibuka.


Pemilik toko lalu menghampiri seseorang yang duduk di meja paling depan, tepat sebelum pintu masuk. Pemilik toko emas itu hanya berbincang sebentar saja, lalu mereka berdua langsung diizinkan masuk oleh orang yang ternyata adalah admin dari pemilik rumah yang buka ‘praktek’.


“Babah, maaf kami tiba-tiba ke sini.” Pemilik toko sudah berada di suatu kamar bersama seseorang dan juga suaminya, seseorang itu terlihat normal juga, hanya mengenakan kaos dan celana pendek, duduk di bangku, kamar itu hanya tersedia bangku yang berhadapan dengan meja sebagai pemisah.


“Nggak apa-apa, kenapa?”


“Coba kulihat?” Babah meminta tangan suaminya, lelaki itu menyodorkan tangannya.


“Hmm ... kalian sudah menjalankan yang aku suruh? Kamar itu dikunci kan? tidak ada yang masuk selain kalian? Lalu soal persembahan yang aku suruh bagaimana?”


“Semua sudah kami jalankan sesuai dengan apa yang Babah suruh, tapi tetap sajat Tuan Putri marah.”


“Kalian mau mengembalikan dia?” Babah bertanya.


“Tidak!” Pemilik toko itu tidak mau melepaskan.


“Kalau begitu, periksa sekali lagi, apakah ada yang masuk kamar itu, lalu apakah semua yang aku suruh kalian sudah lakukan!”


“Tapi soal anak kami yang kecelakaan bagaimana Babah?” suaminya bertanya.


“Kenapa anakmu?” Dukun tidak mampu menebak.


“Anak perempuanku jatuh dari tangga, tapi dia ditarik Tuan Putri, aku tidak dapat mencegahnya, karena Tuan Putri marah atas omongan pedasnya.” Pemilik toko emas itu menjelaskan.


“Kalian masih ingin dia di rumah itu?”

__ADS_1


“Tentu saja Babah.” Pemilik toko menjawab dengan sungguh-sungguh.


“Yasudah kalian cek sekali lagi, lalu ini, ini jimat kalian pakaikan pada anak perempuan kalian, bilang jangan lepas meski ke kamar mandi, sekali dilepas, maka kemampuannya akan hilang seketika.


Kalungkan jimat ini dengan baik, kalian harus nasehati anak kalian juga, agar jangan asal bicara, di manapun dia berada.”


“Baik Babah, terima kasih.” Mereka selesai, lalu didampingi salah seorang pegawai dari tempat praktek ini, menuju pintu luar.


“Nanti aku transfer kayak biasa ya buat Babah, sama sedikit juga buat kamu, kayak biasa, 1 juta, tolong kami ya, setiap ke sini dahulukan kami.” Pemilik toko itu berkata.


“Iya Ci, makasih ya, nanti yang buat saya pisah rekening kayak biasa.”


“Iya, yaudah kami pamit ya.”


Lalu kedua orang itu melanjutkan perjalanan ke rumah, sesuai janji pada anaknya untuk mengambil keperluan.


Begitu sampai rumah, suaminya mengambil semua keperluan, sementara istrinya memanggil semua orang yang bekerja di sana, total ada 5 orang, sedang yang satu menjaga anaknya di apartemen, jadi ada empat orang yang dipanggil. Itu adalah 2 orang pembantu, 1 orang supir yang sebenarnya digunakan, lalu satu orang tukang kebun.


“Saya mengumpulkan kalian ke sini karena ingin bertanya.”


Semua orang duduk di bangku belakang, mereka berbicara di bagian belakang rumah yang dihiasi dengan bangku rotan sebagai tempat duduk.


“ Silahkan Bu, ada apa ya?” Tanya salah satu pembantu yang paling lama bekerja di sana.


“Adakah dari kalian yang masuk ke kamar itu?” tanya pemilik toko emas itu.


“Seingat saya, tidak ada bu, kami tidak berani.” Jawab pembantu itu dengan takut-takut, sementara yang lain terlihat setuju, mereka juga tak merasa masuk ke kamar itu karena diwanti-wanti sejak hari pertama kerja di rumah ini, kalau kamar itu tidak boleh dimasuki siapapun, katanya itu ruang sembahyangnya majikan mereka, ada bau dupa yang terasa memang setiap kali mereka lewat kamar itu tapi tidak berani sama sekali masuk ke sana sesuai perintah.


“Kalian yakin?” Pemilik toko masih menyelidik.


“Ya, kami yakin bu, kami takut masuk ruang itu. karena dilarang sejak dulu. Memang kenapa bu? Apakah ada yang hilang?” Pembantu itu bertanya karena tumben sekali majikannya bertanya dengan memaksa.


“Tidak ada apa-apa hanya sedang memastikan saja. Kalau begitu, kalian semua kembali bekeja ya.” Pemilik toko emas itu percaya.


Tapi saat semua orang sudah kembali kerja seperti biasa, pembantu paling senior itu tiba-tiba meminta waktu majikannya.


“Bu, saya mau ngomong.”


“Ada apa?” Pemilik toko bertanya.


“Kalau kami memang nggak masuk, tapi kalau anak ibu, mungkin.”


“Anak saya?”


“Iya Bu, beberapa hari yang lalu, saya melihat dia ada di depan kamar itu, saya pikir dia mau masuk, saya larang, karena kan memang nggak boleh selain ibu dan bapak, saya pikir dia baru mau masuk, tapi bisa aja sebenarnya anak ibu itu sudah masuk kan dan saat itu saya nggak ngeh, malah mengira dia baru mau masuk.”


“Oh begitu, baiklah, kamu tetap pantau semua orang ya, pastikan tidak ada yang masuk selain saya dan bapak, karena itu ruang sembahyang kami yang suci, nggak boleh sembarang orang masuk, menghilangkan kesakralannya, anak kami itu beda agama dengan kami, jadi dia tidak boleh masuk ke kamar sembahyang itu, nanti kakinya mengotori ruang itu dan dewa kami akan marah.”

__ADS_1


“Baik Bu, saya mengerti.”


Pemilik toko itu memicingkan mata, akhirnya mengerti, darimana kegaduhan ini berasal.


__ADS_2