Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 492 : Nyebrang 24


__ADS_3

“Assalamualaikum ....” Suara berat seseorang membuat khodam Aditia keluar dari tubuh tuannya, panggilan itu terasa jauh, tapi memang memanggilnya, Abah bingung, kenapa dia kok mampu memanggil Abah, tapi tidak melalui Aditia. Aditia sedang sibuk mendengar cerita Wak Eman, Abah keluar dari tubuh itu dan mencoba mencari suara yang memanggilnya.


Setelah menemukan suara itu yang ternyata tak jauh dari rumah Eman, abah melihat sosok pria yang membelakanginya, “Waalaikum sa ... Aep! Kau ... bukannya kata Eman kau telah tiada?” Wangsa bingung, karena dia dan kawanan baru saja sampai di desa ini, karena buku bapak hanya mengatakan perhatikan sawahnya jangan jalnnya.


“Aku meminta bantuan Eman untuk memalsukan kematian, karena aku tahu, hari ini pasti datang.”


“Apa kau bicara tentang ... dukun itu?”


“Iya, aku bicara tentang dukun itu.” Aep berkata dengan khawatir.


“Kau memanggil mereka ke desa ini, kau pasti yang membuat tulisan itu di buku Mulyana? Benar kan? karena Mulyana tahunya masalah ini telah selesai setelah kalian menutup zona gelap itu, lalu tiba-tiba di dalam bukunya ada tulisan itu. Aku bingung tapi tak mau mengambil tindakan, menunggu dulu, kira-kira siapa yang membuat tulisan itu.


Ternyata kaulah yang melakukan itu.”


“Maaf Bah, aku terpaksa, karena aku sudah tak sanggup. Mereka menggunakan lubang itu untuk menyerang orang dan memanfaatkan zona gelap sebagai benteng dari serangan dukun lain, siapa yang bisa menembus benteng buatan Mulyana?”


“Lubang? Maksudmu! Lubang itu berhasil dibuat oleh entah siapanya dukun itu!” Abah kaget. Kawanan masih sibuk mendengar cerita Wak Eman, Aditia tidak merasakan kehadiran abah tapi tidak khawatir, dia mengira abah sedang melihat keadaan sekitar, itu biasa dilakukan jika mereka berada di tempat baru. Untuk perlindungan pertama bagi kawanan. Abah adalah ketua kelompok


“Iya, kemungkinan anaknya Bah. Karena ilmu Rawa Rontek itu bisa diturunkan.”


“Kau harus bicara pada kawanan, mereka dibohongi oleh Eman tentang kematianmu, kenap kau tak jujur saja?” Abah tidak mengerti kenapa Aep malah memanggilnya ke sini jauh dari kawanan dan bicara 4 mata saja, 2 mata manusia dan 2 mata jin maksudku.


“Tidak jangan, karena ini soal ... kau tahu kan Bah, apa yang kau sembunyikan dari Mulyana dan akan selamanya kau sembunyikan dari Aditia.”


“Diam kau, jangan bicarakan itu, salah satu alasan kenapa aku melatih Mulyana lebih cepat bahkan sebelum aku diturunkan padanya, karena aku sudah tidak sanggup.”


“Bah, maka jika kau tidak ingin Aditia tahu, kau harus membantuku, sembunyikan dulu tentangku, aku akan menunjukkan diri saat mereka buntu, tapi sekarang aku butuh untuk mengawasi dulu anak perempuan dukun itu, karena jika dia sudah mulai menyadari kehadiran kawanan dan bahkan menemukan kenyataan aku masih hidup, dia akan menggempur kita, dia bahkan akan membuat Aditia tahu, rahasia busuk yang kalian simpan dari anak Mulyana itu.”


“Kau mau aku melakukan apa?”


“Diam, jangan katakan padanya tentang identitas perempuan itu, diam tentang ku, hanya diam saja.”


“Aku akan mengatakan aku yang memintanya, aku akan bilang hanya ingin melihat kemampuan mereka, makanya aku kerjasama denganmu, dia dan yang lain hanya harus menganggap bahwa kasus ini kasus sederhana, tak ada hubungannya dengan kita ataupun silsilah keluarga kita, pokoknya kau harus pegang rahasia ini, kalau tidak, ini akan membuat Aditia hancur.”


“Aku jauh lebih tahu soal ini dibanding kau! Aku akan ikuti maumu, karena aku tahu, kau keluarganya Aditia, kau takkan mencelakakan keponakanmu sendiri, tapi jangan salahkan aku kalau ... perempuan itu aku habisi jika saja rahasia ini harus terbongkar.”


“Ya, aku setuju Bah.”


“Oh ya, kau tahu kalau adik tirimu itu sudah ....”


“Kau sudah turun ke Aditia, pastilah adikku itu telah tiada, aku hadir saat pemakamannya, tapi tak ada yang sadar, karena aku dengan tubuh Eman melihat dari jauh.”


“Sedih sekali jadi kalian, bahkan keluarga meninggal saja, kau tak bisa melihatnya untuk terakhir kali.”


“Aku berbicara dengannya Bah, sebelum dia masuk ke alam kubur, dia menitipkan Aditia dan kawanan, aku sanggupi. Makanya terkadang aku juga mengawasi mereka, tapi ternyata ... mereka sudah dijaga oleh Ayi, apa yang Mulyana yakini ada, akhirnya aku juga melihat beliau, wanita yang memimpin para Kharisma Jagat.”


“Kau sudah bertemu dengannya?”


“Ya, dia memanggilku saat anak buahnya yang mengawasi kawanan melihatku juga mengawasi, dia langsung memanggilku dan menginterogasi, aku tahu dari sana, kalau kawanan dijaga dengan baik oleh ratunya.”


“Ayi memang selalu protektif pada seluruh pasukan, dia takkan pernah membiarkan pasukannya celaka saat menjalankan kasus, kau tahulah, Ayi bagaimana, untuknya keselamatan Kharisma Jagat jauh lebih penting.”


“Aku menyesal dulu tak percaya kalau Ayi itu memang ada, sayang Mulyana tak bisa berperang bersamanya.”


“Kalau begitu aku akan kembali pada Aditia, karena dia pasti curiga kalau aku hilang lama.”


“Baiklah.”


Aep lalu menghilang, Abah kembali ke tubuh Aditia, mereka ternyata sudah di rumah Aep yang baru saja dibersihkan, beralas tikar, Eman terlihat melanjutkan cerita, sebelum kawanan malam ini, untuk pertama kalinya masuk ke zona gelap dan akhirnya menyebrang, Alka dan aditia serta Hartino dan Alisha yang terpisah, di mana Hartino menemukan Jaka.


...


“Kita semalam dari sana, bukankah tempat itu sudah di pagar?” Aditia heran, kenapa bisa ada yang masuk lagi, Jarni sudah memagarinya agar tidak ada yang bisa lewat.


Mereka masih di tempat soerabi, sarapan. Mendengar obrolan orang tentang seseorang yang terjebak lagi.


“Sudah kupagari, sudah kupagari! Aku yakin!” Jarni geram, berarti pagarnya dirusak, hingga ada yang bisa masuk lagi.


“Siapapun dukun itu, pasti dia sangat kuat, bahkan pagar Jarni bisa dirobek.”


“Pagar Mulyana saja dia bolongin, Dit, maaf bukannya aku merendahkan kemampuanmu, Nak. Tapi Mulyana gurumu kan? itu pagar gurumu saja dirobek, apalagi pagar muridnya. Maaf ya Jarni, Uwak cuma berusaha menenangkanmu, jadi kau jangan terlalu merasa bersalah, kalian sudah selalu berbuat sebaik mungkin.


Sekarang kalian selesaikan sarapan, pasti malam ini akan jadi pertempuran yang berat untuk kalian, maka kalian harus bersiap dan makan cukup. Istirahat cukup kalian tidak dapat penuhi, kalau makan, aku bisa bantulah ingatin kalian.”

__ADS_1


“Terima kasih Wak, aku jadi ingat Pak Dirga, teman ayah.”


“Ya, bahkan ayahmu saja bilang ingat Dirga saat melihatku, aku jadi penasaran pada orang itu.”


...


Malam tiba, Aep dan kawanan sudah berada di pintu antara zona gelap dan dunia manusia, Jarni sudah menambal pagarnya agar tak ada lagi yang lewat, selain itu, Wak Eman juga meminta bantuan pada Polisi untuk menutup jalan ke situ dengan alasan banyak orang hilang misterius, nanti mereka butuh menjelaskan, tapi kawanan terbiasa untuk membuat Polisi percaya, kalau masih ngeyel, tinggal kasih liat setan di tempat kerja mereka, pasti langsung paham.


“Botol sudah siap, aku membawa sekitar 30 botol kecil, apakah benar kita harus memusnahkan jin dengna ilmu Rawa Rontek itu Paman?” Aku bertanya.


“Ya, jangan sampai ada yang tersisa, karena aku akan menghancurkan zona gelap ini begitu kita selesai.”


“Paman takut ada timbul bolongan lagi ya, kalau sampai zona ini masih ada?”


“Ya, kau benar Dit.”


“Kalau kita koleksi saja bagaimana?”


“Tidak, tidak perlu karena mereka jin yang licik, nanti malah jadi masalah selanjutnya.” Paman berbohong, sebenarnya dia jauh lebih takut kalau sampai mereka membual tentang rahasia yang dijaga oleh Abah.


Mereka masuk ke dalam zona gelap, seperti yang mereka harapkan, semua jin sudah berkumpul, ternyata dukun perempuan itu tahu keberadaan Aditia dan juga Aep, mereka bersiap.


“Tetap waspada ya, kita tak tahu apa yang sudah mereka rencanakan untuk menghadapi kita.”


“Iya Paman, kami akan selalu waspada, karena kami sering menghadapi kasus seperti ini.” Aditia menjawab, yang lain bersiap mengeluarkan senjata masing-masing.


Paman melayang, sungguh Alka takjub, karena Bapak saja tak mampu seperti itu, sungguh Sabdah dan Paman telah berlatih bersama, sehingga kemampuan Sabdah bisa sepenuhnya dikendalikan oleh Paman. Tubuh melayang itu adalah tubuh paman sendiri, karena Sabdah telah keluar, mereka telah saling bertaut begitu lekat, ini mungkin alasan Paman butuh waktu untuk saling butuh, sehingga kemungkinan Sabdah dipengaruhi dan kabur itu tidak ada atau mustahil.


Paman mulai menebas leher jin-jin itu, sementara kawanan menangkap leher yang sudah ditebas, kawanan sibuk menangkap kepala-kepala jin itu untuk dimasukkan ke dalam botol, agar tubuh itu akan mati, karena kepala jin itu tidak menyentuh tanah sebagai kekuatan mereka untuk menyambungkan lagi tubuh jinnya, tubuh mereka seketika musnah begitu kepala masuk ke dalam botol.


Kecepatan Paman menebas leher jin sungguh tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, kawanan yang berjumlah 6 orang bahkan kelimpungan menangkap kepala itu, ada yang lolos sehingga kepala itu bisa balik lagi ke tubuhnya.


Mereka terus bertarung menghadapi jin yang jumlahnya puluhan, botol itu bisa digunakan kembali setelah tubuh dari jin itu musnah hingga botol menjadi kosong kembali.


Tidak ada yang sadar kalau Sabdah mengejar dukun wanita yang kebaradaannya entah ada di mana di suatu tempat di jalan persawahan ini.


Mereka terus bertarung selama satu jam, setelah sudah habis, Paman ternyata kelelahan.


“Kalian semua cari orang kemarin malam berhasil masuk dan tersesat di sini, aku akan mencari dukun wanita itu.” Paman langsung pergi tanpa memberi kesempatan pada kawanan untuk membantah dan meminta grup dibagi dua.


“Sudahlah, ikuti saja, dia itu yang paling paham tempat ini, jadi kita ikuti saja, mungkin juga karena dia bisa mencari lebih cepat dukun itu, lihat saja, tubuhnay melayang, sedang kita berlari.” Aditia membela keluarganya itu.


“Yasudah, ayo kita jalan dengan memperhatikan sawahnya, supaya kita ketemu dengan mobil itu.”


“Hah, jalan begitu lagi? sungguh muak aku.” Aditia baru sadar ini adalah pekerjaan yang memuakkan, berjalan perlahan melihat ke sawah itu.


Mereka mulai berjalan, sementara itu dari kejauhan Sabdah terus berlari dengan tubuh besarnya, dia mencari dukun itu, Paman menyusul dari belakang.


“Kau menemukan jejaknya?” Paman bertanya, Sabdah menggeleng, artinya dia tidak menemukan jejak wanita dukun itu.


“Kalau begitu, kita menyebrang, kalau kau saja tidak bisa menemukan jejaknya, kemungkinan dia menyebrang ke suatu tempat, dia mungkin sudah membuat jalan pintas dari tempat ini ke tempatnya, dia sudah menemukan cara membuat jalan pintasnya, kau tahukan, kalau dukun perempuan itu bukanlah perempuan sembarangan.


Lalu Sabdah masuk kembali ke tubuh Aep dan Aep menutup mata sebentar, setelah membaca mantra bersama Sabdah, dia membuka mata, mata itu bersinar begitu terang di kegelapan jalan persawahan itu, matanya menunjukkan begitu banyak jalan yang sudah bolong, bolongan itu dibuat oleh dukun, bolongan itu yang membuat banyak orang masuk ke sini, lalu keluar ke tempat lain jika bensinnya habis, karena ketika bensin mereka habis, mereka tidak bergerak lagi, tempat ini akan menyesatkanmu saat kau terus bergerak, tapi jika kau akhirnya berhenti, kau akan dilempar menyebrang ke bolongan dan tiba ditempat yang entah di mana, tergantung berapa lama kau berkendara.


Dukun wanita itu sungguh tak berpikir sama sekali jika bolongan itu mencelakakan orang lain, dukun itu memang pantas dibasmi.


Kawanan masih terus berjalan dengan perlahan, dia berjalan terus sampai akhirnya menemukan mobil yang sudah terparkir, sementara orangnya di dalam.


Kawanan berlari mendekati orang itu.


“Hei, keluar kau.”


Orang itu kaget dan terlihat senang melihat kawanan.


“Ka-kalian siapa?” Orang itu terlihat sangat kaget tapi juga senang, pasti dia bingung karena terus saja berputar.


“Kami akan menolongmu, kau berada di tempat ghaib, kami manusia sepertimu, tenang saja, ayo turun, kau harus ikut kami keluar.” Aditia akan membuka pintu ghaib dan mengantarkan pria ini untuk keluar dari sini, mobilnya nanti saja dibawa, karena katanya mobil itu mogok.


“Sebentar, temanku ... temanku tadi berjalan keluar karena mobil mogok, aku disini takut mobil ini dicuri orang, jadi kami terpisah.”


“Hah! kau!!! kalian ini! kenapa sih manusia tuh kalau sedang ada masalah memilih mencari jalan keluar terpisah, tak bisakah kalian bersama terus!” Alka kesal mendengarnya, sekarang harus mencari orang itu di mana dengan variable yang begitu banyak. Harus bejalan selangkah demi selangkah berapa lama lagi dengan memperhatikan sawahnya.


“Kau memang bukan manusia? Kok kau bilang kami manusia?” Orang itu masih sempat mengkoreksi Alka.

__ADS_1


“Aku memang bukan manusia, aku jin!” Alka kesal melihat lelaki tak punya tanggung jawab ini masih berkelakar, perkara mau pacaran saja menerjang mitos, bodohnya.


“Aku keluarkan saj adulu dia, setelah memastikan dia sudah bersama Wak Eman, aku akan kembali lagi, kita lanjutkan pencarian temannya, temanmu itu laki-laki kan?”


“Bukan, temanku ... perempuan.”


“Apa! bukannya katanya kau akan ke rumah pacarmu lewat sini, lalu kenapa kau malah sama perempuan lain?” Alisha mulai geram, dia sudah curiga lelaki ini bukan lelaki yang baik.


“Itu temanku, dia menebeng, rencananya aku akan menurunkan dia di desa ini sebelum ke rumah pacarku, dia juga tinggal di desa ini.”


“Jangan bohong kau! wanit aitu sellingkuhanmu kan? makanya kau mencoba untuk memulangkannya karena sudah malam lalu ngapel ke rumah pacarmu, jangan bilang dia sahabat pacarmu!” Ganding si jenius melihat gelagat pembohong pada pria itu.


“Ampun, ampun, aku akan bertobat setelah ini.” Lelaki itu tak bicara secara gamblang kalau dia adalah orang yang suka berselingkuh, tapi kawanan paham, dia bukan orang baik.


“Yasudah, urusanmu dan Tuhan, tapi kalau aku tahu atau mendengar kau begitu lagi ke perempuan, akan aku buat kau terjebak di dunia ghaib selamanya, mengerti!” Aditia teringat adiknya yang sangat dia sayangi, kalau ada pria yang berani menyakit adiknya, Aditia akan buat pria itu menyesal pernah mengenal adiknya, maka dia benci sekali peselingkuh.


Adit membuka pintu ghaib, lelaki itu yang melihat pintu ghaib dibuka, takjub, tak bohong kalau lelaki ini memang bisa membuka dan menutup dunia ghaib, sependek itu saja pengetahuannya.


Lalu begitu keluar dari zona gelap, Aditia mengantar lelaki itu ke rumah Wak Eman, Wak Eman menerima lelak itu lalu akan mengantarnya pulang dengan motor.


Soal mobilnya, nanti saja dikeluarkan karena susah mengeluarkan mobil mogok dar zona gelap itu.


Lalu Aditia kembali ke jalan persawahan dan masuk kembali ke zona gelap.


Tapi ....


Tak ada kawanan, kemana mereka, bukankah tadi Aditia dengan jelas menyuruh mereka untuk diam saja di sini agar mereka tak terputar oleh sawahnya.


Aditia mencoba memanggil Alka dengan panggilan batin, tak da jawaban, kemana mereka!!!


Aditia mulai panik, kenapa di sini banyak sekali yang hilang? Aditia mulai lelah dengan semua ini.


...


Aep menemukan jejak keluarnya dukun itu, pada bolongan itu dia keluar dan begitu keluar, dia melihat hutan belantara.


“Rupanya di sini dia membuka pintu ghaib, jalan pintas yang cerdas.


Aep kembali melayang dan mengeluarkan Sabdah.


“Berpencar, panggil aku jika kau menemukannya.” Aep memerintah Sabdah, dia hanya mengangguk.


Aep mulai berlari terus ke arah yang berbeda dengan Sabdah, hingga dia menemukan sebuah pondokan yang terbuat dari bilik bambu, masih diterangi dengan obor, Aep berlari mendobrak pint uayng terbuat dari bilik bambu juga, seketika pintu itu terbuka dan tidak ada siapapun di sana.


Samar Aep mendengar suara dari belakang bilik itu. Dia belari ke belakang dan melihat seseorang berdiri dengan pakaian serba hitam, orang itu membelakanginya, tapi dibelakang orang itu ada banyak orang.


“Kang Aep, selamat datang.” Orang itu berbalik dan ternyata dia adalah seorang wanita yang berpakaian serba hitam, celana komprang dan juga atasan hitam seperti baju bagi pesilat lelaki, tapi wanita ini menggunakannya.


“Kau sudah dewasa ternyata, di sini kau ebrsembunyi.”


“Pria dewasa yang semakin tua, selamat datang.” Dukun wanita itu tersenyum melihat ke arah lelaki yang pernah sangat dia kagumi saat kecil dulu. Tapi berubah setelah ayah dari lelaki itu membunuh bapaknya. Ya, dia adalah anak dukun ternama yang berhasil dikalahkan oleh ayahnya Mulyana dan Suraep, dukun itu meninggal tapi sempat memberikan ilmu ajian Rawa Rontek padanya, makanya dia memimpin perguruan ilmu hitam ayahnya sekarang, dia juga yang membolongi zona gelap itu, buatan Kharisma Jagat dengan kelas yang tinggi, berarti, wanita ini bukan orang sembarangan.


“Kau yang menyebar fitnah itu, kau juga yang membuat istriku meninggalkanku kan?”


“Ya, tentu saja, aku takkan membiarkan keluarga kalian bahagia sementara keluargaku menderita karena ulah ayahmu!”


“Ayahmu dukun yang jahat, itu yang tak kau pahami.”


“Maka aku akan berubah menjadi sejahat dia.”


Lalu tiba-tiba dari belakang, anak buahnya membawa 5 orang bersama mereka, 6 orang yang sudah babak belur, orang itu diikat lalu dilempar hingga tersungkur di belakang dukun wanita itu, dukun wanita menyingkir, membiarkan Aep mellihat siapa saja orang-orang itu.


5 orang kawanan dan tentu saja ... Eman! Dukun itu tahu kelemahan Aep. Punya orang untuk dijaga selalu bisa membuat seseorang lemah.


Lelaki yang kawanan temukan dengan mobil mogok itu adalah ... salah satu murid dukun wanita.


Aditia harus bergegas, karena nasib mereka tergantung padanya.


________________________________________


Catatan Penulis :


Kisah rahasia Abah yang dia jaga, tidak akan aku buka di sini, akan dibuka di sub bab Mulyana ya, jadi kalian jangan tanya rahasia itu.

__ADS_1


Ada yang ingat dukun musuh ayahnya Aditia? pasti nggak deh, kalian mah gitu. Sebel aku, eh tapi nggak jadi, aku menang lagi.


Jangan lupa komentar, Author menang lagi.


__ADS_2