
“Jadi apa yang kita dapatkan selama dua minggu ini?” tanya Ganding pada rekanan, kali ini dia yang memimpin rapat, mereka sudah berada di kamar yang dibuat seperti ruang rapat, dimana terdapat meja persegi yang cukup besar, dihadapannya ada layar yang ditembak dengan proyektor agar semua orang bisa melihat data yang diproyeksikan sebagai hasil dari laporan yang mereka dapatkan selama meneliti di sekolah TK itu.
“Aku dulu ya.” Hartino berkata dia terlihat bersemangat.
“Yaudah mulai.” Ganding adalah pemimpin meeting, dia duduk paling depan, lalu digantikan oleh orang yang hendak presentasi laporannya, kali ini Hartino yang maju duluan.
Hartino maju ke depan untuk mempresentasikan apa saja yang dia dapatkan dan mungkin bisa menjadi jalan keluar untuk menjemput anak-anak ruh itu.
“Jadi selama dua minggu ini, aku mendekati beberapa anak untuk mengetahui apa yang mereka suka, apa yang mereka tidak suka dan apa yang membuat mereka bahagia, maka aku rangkum dalam laporan berikut, aku menggunakan aplikasi khusus perhitungan susana hati dan yang aku dapatkan adalah, tidak ada anak yang tidak suka hadiah.” Hartino terlihat bangga dengan hasil yang dia dapatkan.
“Har, menurutmu, anak-anak ruh itu dikasih apa ya, yang membuat mereka bisa bahagia lalu ikut kita saat dijemput? Mobil-mobilan? Bonek-bonekaan? Atau uang sekalian? Bagaimana kalau dupa, sajen atau benda keramat?!” Ganding terlihat kesal, memang Hartino kurang bisa diandalkan kalau bermain dengan analisa data. Anak ruh itu tentu tidak lagi suka boneka, mainan, bahkan uang, mereka sudah tidak butuh itu lagi.
“Har minggir, biar aku yang maju.” Aditia terlihat percaya diri.
“Dit, bisa serius, kan? aku mohon, karena kita nggak bisa nunda lagi.” Ganding memohon, karena dua orang ini memang suka membuat lelucon tapi tanpa sadar, membuat orang geram saja.
“Iya, kali ini pasti serius, aku sudah mengobservasi anak-anak itu dengan seksama.”
“Yaudah maju, tapi kalau sampai aku lihat kau hanya membuat lelucon, kupastikan aku akan memotongmu di tengah presentasi, ok?”
“Itu ok, tapi aku takkan mengecewakan kali ini.”
“Yaudah, kamu bisa mulai.” Ganding memberikan tempat dan waktu pada ketua kawanan.
“Pada awalnya aku pikir tak ada jalan, karena anak kecil ternyata adalah orang yang paling sulit didekati, hati mereka lembut sekaligus tegas pada waktu bersamaan. Lembut karena mereka tahu orang yang tulus atau tidak, tegas karena begitu mereka merasa tidak suka apalagi terancam, mereka akan langsung ambil tindakan, tak ada kata tidak enak atau sungkan, karena memang otak mereka belum berkembang pada tahap itu, aku bicara soal anak normal ya, beda perlakuan orang tua, beda prilaku. Apalagi anak-anak yang terbiasa dengan perlakuan kasar, kemungkinan prilakunya jauh lebih keras dan cenderung tidak percaya siapapun.
Aku akan masuk pada kesimpulanku selama dua minggu ini, pada dasarnya, hal pertama yang harus kita lakukan pada anak-anak ruh itu adalah, mendekatinya, sama seperti yang kita lakukan pada semua jiwa yang enggan pulang karena merasa ada urusan. Biasanya jiwa yang tersesat itu, akan kooperatif begitu kita bantu selesaikan masalahnya, berbeda dengan anak-anak ini, kemungkinan urusannya adalah orang tuanya. Aku betul kan?”
Yang lain mengangguk.
“Apakah kita harus membunuh orang tuanya agar anak-anak ini akhirnya bisa ikut kita untuk ‘pulang’?”
“Dit!” Semua orang kesal dengan apa yang Aditia katakan.
“Ya, makanya kita nggak mungkin membunuh orang tua mereka untuk membuat mereka mau ikut kita, jujur itu sempat kepikiran, tapi aku tahu kok, kita tak mungkin mewujudkannya ....”
__ADS_1
“Bisa langsung intinya aja nggak, Pak Aditia?” Ganding mengingatkan, seolah presentasi mereka memiliki batas durasi.
“Ok ok, jadi begini, setelah mendekati mereka, hal yang harus kau lakukan adalah, mencari kelemahan mereka, anak yang aku dekati adalah anak perempuan yang memicu tawuran pada hari pertama kita mengajar, ingat?”
“Ya, yang kau keluar dan seenaknya minum di kantin, sementara kita semua kelimpungan dengan anak-anak itu.” Alka mengingat itu dengan jelas, mungkin butuh waktu sepanjang hidupnya untuk melupakan kejadian itu, sangat membekas bagi Alka, bisa-bisanya ketua kawanan santai sementara kawanan harus babak belur diajak tawuran sama anak TK.
“Santai Ibu Saba Alkamah yang cantik jelita, saya lanjutkan ya, kalau dipotong terus nanti kita meeting selesainya dini hari.”
“Silahkan Pak Aditia.”
“Aku mendapatkan kelemahannya, kelemahannya adalah dia peduli pada seorang anak, tapi juga tetap mempertahankan keegoisannya, aku bisa menggunakan itu untuk ‘mengancamnya’ secara halus. Pada saat itu, aku ingin dia menulis dengan tepat, belajar dengan baik, tapi dia jelas tidak bisa dikasari, karena merupakan tipikal anak yang berpendirian kuat, beberapa anak terlahir mengikuti, sisanya terlahir diikuti, jadi memiliki jiwa pemimpin yang tinggi, untuk itu, tidak berlaku memerintah padanya.
Maka aku mencari kelemahannya, ternyata benar perkataan Hartino, anak itu suka diberikan hadiah, tapi ... dia juga sedih, karena ada anak pengasuhnya yang seumuran dengan dia, tidak dapat hadiah yang sama, maka ini menjadi kelemahannya. Kenapa? dia tidak ingin berbagi, tapi juga sedih, maka dia berada diambang keraguan, antara membagi dan tetap egois.
Ada yang familiar dengan keadaan ini nggak? anak-anak ruh itu juga memiliki kondisi ini sebagai kelemahan, mereka ingin pulang karena memang bukan tempatnya lagi di sini, sedang mereka juga ingin tetap bersama orang tuanya. Ini menjadi titik kelemahan mereka, maka setelah kita tahu kelemahannya adalah, menggunakan kelemahan itu untuk mengendalikan mereka.
Kembali lagi ke anak perempuan yang aku tangani, yang memicu tawuran itu. Aku mengatakan bahwa dia bisa saja membelikan anak pengasuhnya mainan kelak, jika dia belajar dengan baik dan akhirnya mendapatkan uang jika sudah dewasa, dia percaya dan mengikuti apa yang aku katakan, karean aku mengendalikan kelemahannya.”
“Kau membohonginya!” Alka kesal di titik ini.
“Kau salah, aku tidak membohonginya, aku menyembunyikan kenyataan, bahwa ketika dia dewasa, maka anak pengasuhnya juga ikut dewasa dan akhirnya tidak butuh mainan lagi, tapi harapannya untuk dapat memberikan apa yang disukai anak pengasuhnya takkan hilang, Alka. Mungkin bukan mainan tapi bisa jadi hal-hal berharga lain, titik ketulusannya takkan hilang, walau umur bertambah, karena dia punya tujuan.” Aditia kali ini ngotot.
“Nah, sudah ada tiga hal yang kita dapat, kan? Dekati, tau kelemahannya dan menggunakan kelemahan itu sebagai senjata kita untuk mengendalikannya, seperti anak perempuan itu yang akhirnya mau belajar dengan sungguh-sunggu dan mendengarku, karena aku memegang kelemahannya, yaitu, ingin berbagi di tengah egoisnya dia. Anak itu yang tadinya tidak mau melihatku sama sekali, jadi menurut dan patuh, aku bisa mengendalikannya, karena tahu titik lemahnya atau bisa jadi keinginan terbesarnya ditengah himpitan takdir yang kejam.
Terakhir, ketika kita sudah mengendalikannya, kita bisa membawa mereka untuk ‘pulang’.” Aditia menutup presentasinya.
“Dit, aku setuju bahwa, pendekatan, gali kelemahan dan mengendalikannya dengan kelemahan itu adalah titik terpenting dalam kasus ini, tapi Dit, tetap berjalan di garis kita, bahwa memberikan apa yang mereka inginkan juga sebagai akhir yang baik, yang harus kita tepati.”
“Tapi Nding, keinginan mereka itu untuk tetap bersama orang tuanya, kita tidak bisa mewujudkan itu semua! Kau mau balik ke ide pertamaku, membunuh orang tuanya?”
“Nggak gitu Dit, pasti ada cara, dari mendekati mereka dan menggali kelemahannya, maka kita pasti tahu apa yang menjadi jalan tengah bagi mereka, seperti anak autis yang aku dampingi, keinginannya hanya bisa makan makanan yang dia inginkan, tapi ternyata makanan itu adalah makanan yang dilarang karena akan membahayakan anak penderita autis ini, maka cara terbaik baginya adalah, diet makanan tersebut, sedang itu adalah makanan yang paling dia sukai.
Maka jalan tengahnya adalah, sesekali membiarkan mereka makan dengan jumlah dan takaran yang berada di ambang aman, walau mungkin tidak banyak, seenggaknya mereka bisa merasakan nikmat makanan tersebut seperti anak lain, walau setelahnya kemungkinan kambuh tinggi tapi tidak seberat saat anak itu benar-benar melanggarnya, anak itu tahu resikonya dan akan melakukannya walau resiko itu membuat dia kesulitan menahan kambuhnya. Itu artinya jalan tengah Dit, kita tahu kelemahannya setelah pendekatan, mengendalikan mereka dengan kelemahan itu dan memberikan apa yang mereka mau.”
“Tapi Nding! Itu artinya kau yang dikendalikan anak itu, kau memberikan apa yang mereka ingin, bagaimana kalau keinginannya itu membahayakan kita dan juga orang tuanya! Anak-anak, mau ruh mau manusia belum paham resiko.”
__ADS_1
“Sudah kok, buktinya anak autis yang aku tangani tahu, kalau dia kebanyakan makan yang tidak diizinkan, dia akan kambuh dan itu membuatnya kesulitan. Makanya dia menjaga dirinya sendiri sesuai aturan yang ibunya buat.”
“Nding, Dit, satu yang kalian lupa, pertama cara Aditia terlalu keras, kau membohonginya dengan hanya menitikberatkan pada pengendalian anak itu melalui kelemahan. Lalu Ganding, benar yang Aditia bilang, kau terlalu dikendalikan oleh anak itu, kemungkinan kau membahayakan kita semua, itu kenyataanya Nding. Kalian lupa satu hal, satu yang bisa benar-benar menjadi jalan tengah.” Alka berbicara.
“Apa Kak?” Semua orang terlihat penasaran.
“Nding kau lupa hari pertama ketika ibu Erika mengatakan sesuatu, sebelum tawuran itu terjadi.”
“Apa?” Ganding lupa, padahal dia yang menyampaikan itu pada kawanan di hari pertama mereka rapat.
“Kesepakatan Nding, bukankah anak-anak itu akhirnya sepakat untuk tidak saling menyerang kelemahan masin-masing, agar tercipta kondisi yang damai, Ibu Erika bilang anak-anak sepakat karena semua anak punya kelemahan dan tidak mau saling menyentuh kelemahan itu, makanya mereka sangat patuh walau memang kalau ribut akhirnya akan jadi tawuran, karena membela satu sama lain termasuk memusuhi anak kelas lain yang berani menghina temannya.”
“Oh ya, benar, aku baru ingat kalau Ibu Erika pernah berkata kalau anak-anak itu sepakat. Makanya tercipta kedamaian di kelas itu.”
“Nah, itu dia yang kalian lupakan, setelah mendekati, dapat kelemahannya, dapatkan kepercayaan mereka dengan menjaga kelemahannya sebagai sesuatu yang tidak kita serang, lalu buat kesepakatan sebagai upah dari menjaga kelemahan mereka, itu cara yang terbaik!” Alisha mengerti maksud Alka, sedang yang lain baru mulai mengerti dan akhirnya setuju.
“Kita mulai besok ke keluarga Ani, kita semua yang akan datang ke sana, kalau berhasil, baru kita akan tangani 29 anak lainnya sendiri-sendiri, begitu?” Aditia memberikan perintah, semua sepakat, seperti kesepakatan yang menjadi kunci kasus ini.
...
“Bu, Bagus mau main bola ya.” Anak itu sudah seminggu ini akhirnya mulai suka main ke luar rumah, menurut ibunya, Bagus sudah berprilaku sesuai idealisme kebanyakan orang, pengasuhannya dikendalikan oleh para tetangga, gaya pengasuhan yang banyak seorang ibu adopsi, apa kata tetangga lebih penting dibanding apa yang anaknya sungguh inginkan.
Ibunya Bagus bangga, akhirnya Bagus bisa berprilaku seperti seorang lelaki sejati, seolah bermain ke luar adalah sebuah tanda yang menjadi batasan kesejatian seorang anak lelaki, sungguh pemahaman yang kacau.
“Kopi susu itu berhasil.” Ibunya Bagus berbicara pada tetangganya.
“Kan, aku bilang apa, anak-anak di sini yang nakal juga semuanya minum kopi susu itu, pokoknya kalau habis bahannya, pesan di saya aja ya, nanti saya kasih lagi, sampai Bagus sudah benar-benar sembuh dan membuat bangga orang tuanya.
“Iya Bu, tunggu suamiku gajian ya, soalnya lumayan mahal bahannya.”
“Namanya juga untuk masa depan anak Bu, yang penting anak bisa membuat kita bangga.”
“Iya, makasih ya Bu.”
Sementara Bagus terlihat keleahan karena main bola cukup lama.
__ADS_1
“Aku capek.” Bagus bergumam.
[Nanti kau dibuang ibumu kalau capek.] Seorang anak kecil dengan pakaian lusuh, wajah hancur menghitam dan menggendong di tubuh Bagus berkata dengan berbisik, Bagus akhirnya memaksa dirinya untuk main bola lagi, hal yang paling tidak dia sukai.