Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 114 : Hartino 8


__ADS_3

“Apa alasanmu menyantet, Har?” Mulyana bertanya lagi.


Kakeknya Har terdiam, dia duduk bersandar, menyalkan sebatang rokok, dia telriaht berbeda, sebelumnya terlihat arif dan bijaksana, menjadi terlihat licik dan sombong.


“Kalian tahu, memiliki anak dengan kemampuan besar itu bisa jadi malapetaka atau malah anugerah. Aku sudah melakukan banyak perjalanan, gunung, sungak-sungai serta hutan-hutan agar mendapat ilmu yang tinggi seperti saat ini, tapi Har? Har adalah anak istimewa yang sedari lahir telah ditandai oleh khodamnya, Har dari lahir sudah terlihat berbeda, dia tumbuh lebih cepat dari anak seumurnya, wajah dan kemampuannya sungguh sesuatu yang tidak bisa ditangani dengan sederhana.


Hartino cucuku, dia memiliki khodam dengan ilmu yang jauh lebih tinggi dibanding milikku, aku sangat terpukau, bak permata, aku ingin memilikinya.”


“Jadi, kau menyantetnya hanya untuk menguasai Har!” Mulyana makin geram.


“Siapa yang bilang aku menyantet dia!”


“Masih saja mau mengelak!” Dirga yang sedari tadi diam, ikut geram.


“Aku tidak menyantet Har, tapi aku menyantet, DIA!” Kakeknya Har menunjuk pada satu arah.


“A-apa ... Ayah ingin mencelakaiku?!” Mamanya Hartino menangis, air mata jatuh, dia lupa bahwa buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya, sekarang dia jadi tahu, darimana sifat bengis suaminya itu berasal.


“Kau ini wanita cerdas, cantik dan kaya raya. Aku menjodohkan kalian dan meminta anakku membuatmu mencintainya, aku melatihnya agar dia terlihat menjadi seperti yang kau suka,wanita kaya raya sepertimu bahkan bisa termakan sesuatu yang naïf seperti itu, ketulusan? kau cerdas tapi dungu.” Kakeknya Har tertawa terbahak-bahak.


“Kau benar-benar jahat!” Mamanya Har semakin menangis.


“Bukan aku yang jahat, karena pelakor sebenarnya adalah kau, anakku sudah berpacaran dengan wanita itu sebelum menikahimu, bahkan sebelum kenal denganmu, aku memintanya menikahimu agar bisnis keluarga kita lancar, kau pun bodoh, membuat bisnis anakku yang dungu itu ikut sukses, sayang dia tidak bisa menahan ***** hingga membuat semua rencanaku berantakan.


Aku sudah menyerah, tapi saat Har bilang dia bisa merasakan kehadiran jin-jin itu dari balik pintu kamar belakang, aku tahu, bahwa aku masih punya harapan menjadi orang yang jauh lebih hebat lagi.


Har bukan akan biasa yang bisa kau tangani dengan sifat naïfmu itu, aku ingin kau sakit! dengan begitu, Har akan diserahkan padaku, aku akan membuatnya menjadi jauh lebih hebat, dia akan bisa menjadi bagian orang yang mampu membuatku semakin kaya dan tersohor dengan kemampuannya.”


“Pak Mulyana, kau bilang yang akan disantet Har, lalu kenapa dia bilang kalau aku targetnya?” Mamanya Har bertanya dan tidak mau mengidahkan perkataan kakeknya Har.


“Kuku dan rambut itu, bukan milik Har, sesuatu yang ada di popok itu bukan milik Har, tapi milik Ibu, seharusnya aku menyadari itu dari awal, karena itu popok bayi, aku jadi fokus pada apa yang terlihat, lupa dengan motifnya.”


“Lalu kenapa bola api itu hendak menyerang Har tadi?”


“Tidak Ma, dia tidak hendak menyerang Har, dia hendak menyerang Mama yang ada di angkot, Saat dai hendak menyerang Mama, Har dan Bapak ada di depan angkot itu, jadi seolah bola api itu hendak menyerang Har, padahal tujuan utamanya adalah Mama, kau sungguh tega Kek.” Har memeluk ibunya dengan erat, dia takut ibunya terluka.


“Sudah seharusnya kau bersama orang yang lebih handal menangani dirimu, bukankah dia hanya bisa memelukmu seperti anak perempuan saat menangis? makanya aku ingin dia sakit supaya melepasmu! aku ingin memilikimu! aku lakukan ini agar kau bisa bersamaku, kita bisa menguasai negeri ini, aku akan melatihmu.” Merasa sudah terpojok, dia mengungkapkan niat busuknya, karena tidak ada yang bisa dia sangkal lagi.


“Aku tidak akan membiarkan kau mengambilnya! dia milikku lebih berharga dari apapun!”


“Satu hal yang harus kau tahu, anak ini bukan anak biasa dan kau bukan orang yang tepat untuk bisa membuatnya semakin hebat, kau hanya kerikil yang akan selalu membuatnya jatuh!” Kakeknya Har menjadi berbeda, dia menjadi lebih jahat dalam berbicara, mungkin itu memang sifat aslinya.

__ADS_1


“Aku tidak tahu, di waktu yang sudah cukup maju ini, masih ada pemikiran primitif sepertimu, kau menggunakan popok yang terkena kotoran bayi pertama bukan? kotoran bayi pertama terkenal sebagai makanan jin paling dicari, karena bagi jin bau popok bekas kotoran pertama bayi, adalah bau yang paling enak dan nikmat, kau menggunakan itu untuk memancing jin jahat, di dalam popok pancingan itu kau menggunakan kuku dan rambut ibunya Har untuk menyantetnya.


Sayang, saat niat itu kau lakukan, Har sudah disapa oleh khodamnya dengan senjata, senjata itu turun lebih awal karena mengenali bahaya yang datang ke rumah Har, walau itu tiddak ditujukan untuk Har, tapi dikenali sebagai sesuatu yang bisa jadi ancaman, makanya senjata itu buru-buru membawamu keluar dari rumah untuk menghindari santet, serta melindungi rumahmu dengan membawa kalian semua pada dimensi yang berbeda, ibumu tidak sadar dan hanya tidur saja, sedang kau yang memiliki kemampuan, bisa tahu bahwa tubuhmu sedang di bawa ke dunia yang berbeda.


Rumah itu menghilang setiap kali bola apinya datang, rencanamu tidak pernah berhasill, aku membuat senjata itu menjadi senjata sungguhan, makanya dia tidak bisa melindungi kalian lagi, karena sudah ada di tubuh Har.” Mulyana menjelaskan panjang lebar.


“Kau sepertinya bisa menjadi penulis novel, asumsimua harmpir tepat. Tapi, ada satu yang kurang, aku tahu bahwa senjata itu menolong Har setiap hari yang Har anggap mimpi, makanya aku mengirim lebih banyak lagi, aku ingin melihat, seberapa besar ilmu khodam itu, sungguh bukan ujian yang sia-sia, kau adalah cucu yang aku harapkan selama ini,” kakeknya Har berkata.


“Aku tidak sudi menjadi cucu orang jahat yang mau buat ibuku celaka.”


“Aku melakukan itu untukmu, agar kau lepas dari kedunguannya, kau itu anak kuat, tapi dia memperlakukanmu seperti bayi, kau itu anak hebat dan sudah seharusnya kau bersamaku, bukan bersamanya!” Kakeknya Has kesal karena cucunya sekarang terlihat membencinya.


“Kami sudah menghancurkan popok kain itu, yang kau taruh di sumur belakang rumahmu melalui dunia yang berbeda, kami juga sudah menghabisi bola api yang telah mengenali media santet itu, kau tidak punya apa-apa lagi, berhentilah, Har tidak akan mau bersamamu, dia akan jauh lebih baik jika bersama mamanya.” Mulyana sedikit melunak, dia ingin masalah ini di selesaikan secara kekeluargaan.


“Aku tidak akan menyerah sampai Har mau bersamaku, mungkin sekarang aku kalah, tapi besok, lusa atau sepuluh tahun lagi, saat kau lengah, aku akan membuat apa yang Har sangat cintai terluka, jadi sebelum aku lakukan itu, tinggallah bersamaku, jangan bersama mamamu lagi.”


“Kau mengancam cucumu sendiri!” mamanya Har telah habis kesabaran, “tega sekali kau! hanya untuk sebuah keserakahan tentang uand dan kekuasaan, kau bahkan bukan orang miskin, tapi masih saja tergila-gila dengan uang!”


“Aku tidak akan berhenti, sampai uang yang ada di negeri ini menjadi milikku.”


“Kau tidak bisa dibiarkan ternyata, aku pikir akan berhenti sampa di sini, tapi kalau aku diam saja, mungkin kau akan menggila dan mencelakai orang lain, maka dari itu ….”


Mulyana berdiri dengan tiba-tiba, dia memeggang ubun-ubun pria yang lebih tua darinya itu, kakeknya Har kejang saat Mulyana melakukannya, Mulyana terus membaca ayat yang tidak dikenali bahasanya, tapi Har tahu, itu pasti untuk melemahkan kekuatan kakeknya.


setelah beberapa menit kejang, kakeknya Har lalu pingsan.


“Kau apakan suamiku?” neneknya Har bertanya. Dia tidak berbicara dengan lantang lagi, tapi penuh dengan ketakutan.


“Dia akan sadar, tapi begitu sadar, dia tidak akan memiliki kemampuan melihat dunia lain lagi. Aku memutus koneksinya dengan jin-jin itu melalui penyegelan kekuatan, ilmu yang dia dapatkan telah aku ikat sehingga dia tidak mampu lagi mengamalkan sihir hitam itu selanjutnya, baik untuk mamanya Hara tau orang lain.


Sekarang aku akan menghancurkan seluruh isi kamar belakang itu, aku tidak akan meminta izin, karena kalau kalian menolak, aku akan membuat rumah ini menjadi sarang setan.”


“Lakukan apapun yang ingin kau lakukan, tapi jangan celakai suamiku.” Neneknya Har memohon.


“Kau takut suamimu terluka, tapi kau membiarkannya menyantet mantan menantunya, keluarga yang luar biasa busuk.”


“Maafkan kami ya.” Mantan adik ipar itu akhirnya buka suara.


“Kau sengaja kemarin menyuruhku menyelidiki papanya Har dan ibu tirinya Har, itu semua sebenarnay taktikmu untuk melindungi dia bukan?” Mamanya Har menunjuk kakek itu.


“Tidak, demi Tuhan, aku tidak tahu kalau ayahku selama ini adalah pemuja setan. Aku tidak tahu sama sekali, kalau aku tahu, tentu aku tidak akan setuju.”

__ADS_1


“Terserah, yang penting kau harus tahu, hubungan kita, kau dan suamimu, sudah berakhir, aku memutus hubungan ini, tidak akan pernah aku datang ke sini lagi, papa Har dan seluruh keluarganya, telah kami anggap mati!” Mamanya Har berkata sambil menunjuk kakek dan nenek Har yang telah tega kepadanya.


“Aku memang tahu bahwa suamiku bermaksud mencelakaimu, aku tidak dapat mencegah, dia bukan suami yang bisa diatur-atur, tapi aku juga tidak bisa berbohong, memiliki Har bersama kami adalah hal yang kami berdua inginkan.”


“Apa keinginanmu boleh melanggar hak orang lain? toh kami masih suka ke sini, Har masih terus menjalin hubungan dengan kalian, tapi lihat, kalian serakah, Har bukan barang yang bisa kalian kuasai atau anggap sebagai pemiliknya, dia adalah anak yang aku biarkan memiliki pemikirannya sendiri, jika kelak dia hendak pergi tidak bersamaku lagi karena kehidupan rumah tangga, aku akan ikhlas. Tapi, saat ini dia masih sangat butuh aku dan sebenarnya juga butuh kalian, tapi maaf, saya tidak bisa melakukannya lagi, aku sudah bersabar dengan kelakuan papanya Har. Tapi, sekarang aku mengerti kenapa papanya Har terlihat cuek saat Har sudah tiga tahun, aku tahu kalau ada yang tidak beres, tapi selalu mengabaikan, karena aku percaya kalian.


Tapi air susu dibalas air tuba, kalian menusukku dari belakang!” Mamanya Har berdiri, dia sudah muak melihat keluarga busuk ini.


Mulyana juga sudah keluar dari kamar belakang, dia terlihat lelah.


Mereka semua akhirnya pergi tanpa pamit, sedang kakeknya Har masih pingsan.


Kembali ke rumah dengan angkot, selama diperjalanan Mulyana menjelaskan apa yang dia lihat di kamar belakang itu.


“Begitu membuka pintunya, bau melati dan kembang tujuh rupa sungguh menyengat, ternyata di dalam sana ada meja sesembahan untuk kepala ular, kamar itu tanpa ventilasi apapun, lembab dan sangat gelap. Dia telah bersekutu dengan setan.


Aku menghancurkan patung sesembahan yang berbentuk kepala ular itu, lalu menginjak dupa serta buga tujuh rupa, ada beberapa jin yang terpengrangkap juga di sana, aku melepas mereka dan mengusirnya pergi jauh, sisa satu jin yang bersemayam dalam tubuh lelaki tua itu, aku mengunci dia di sana dalam tubuh renta lelaki itu, jin itu akan tersiksa dan akhirnya musnah.”


“Bapak hebat.” Hartino terpukau dengan penjelasan Mulyana.


“Yang hebat itu Har, berani, Har anak yang hebat.” Mulyana memuji dengan tulus.


“Aku ingin pulang dan tidur nyenyak malam ini, kami sudah aman kan ya, Pak?”


“Hanya Allah yang bisa melindungi kalian, berdoalah sebelum tidur dan tetap saling dukung ya Har, jagain mamanya.”


“Iya Pak, apa Har bisa berlajar sama Bapak? boleh ya Ma?”


“Maaf sekali Pak Mulyana, Har, Mama tidak izinkan, karena seperti ini bisa membuat jantung Mama serasa mau copot. Jadi, cukup sampai di sini, saya ingin anak saya hidup normal, Pak.” Mamanya Har lagi-lagi menolak, dia tidak ingin anaknya menjadi hebat di bidang ghaib, dia ingin anaknya hebat dibidang science.


“Tapi Ma, Har ….”


“Har, ingat, ibu itu adalah orang yang harus kau patuhi, tidak boleh dibantah, mengerti?”


“Pak Mulyana memberi kode pada Har untuk tidak membantah lagi, dia melihat Har dari kaca spion depan yang terlihat juga oleh penumpang di belakang, matanya Pak Mulyana menyiratkan hal lain, dia ingin Har diam dulu saja saat ini, karena akan sulit membuat mamanya setuju, hal kemarin yang dia lami pasti membuatnya trauma, Mulyana tidak ingin mamanya Har semakin terpuruk karena selalu kehilangan. Dia mungkin khawatir kehilangan Har juga, jika Har ikut telribat dalam dunia seperti itu, mamanya Har pasti tidak akan mampu bertahan lagi kalau Hartino kenapa-kenapa.


“Iya Ma, maaf ya.” Har terdiam.


“Aku juga ingin kau mengembalikan apapun itu yang kau sebut senjata pada Mulyana ya, kau tidak memerlukannya.” Mamanya Har memerintah.


“Ini memang punyaku, kenapa kau dikembalikan?”

__ADS_1


“Karena kalau kau masih memegang senjata itu, akan bahaya! aku tidak mau kau masih ada sangkut pautnya dengan hal seperti itu. Har, mengerti itu kan?” Mamanya bicara dengan sangat tegas penuh penekanan.


“Iya Ma.” Har menunduk, jadi anak tunggal dari single parent, tidak bisa membuatnya bersikap seenaknya, tapi satu hal yang dia tidak tahu, Har sudah punya rencana, dia tidak ingin keluarga bahagia ini dipaksa menerima hal yang tidak bisa dilihat oleh mata orang biasa, tapi dia juga ingin Har semakin hebat dengan pilihannya, dia sepertinya suka dengan hal yang baru saja mereka lewati, dunia lain, dunia ghaib, dimana hanya orang yang istimewa saja yang bisa melewatinya.


__ADS_2