
TAHUN 1979
Seorang Pemuda bernama Banu yang berusia sekitar tiga puluh tahun sedang sibuk mencari tanaman obat di hutan untuk istrinya yang telah bersamanya selama sepuluh tahun, pada tahun itu hutan tersebut belum bernama hutan bata, karena belum ada yang membuat bata di sana.
Di pertigaan hutan itu ada sebuah pohon besar yang katanya daun dari pohon tersebut sangatlah mujarab, sehingga banyak orang yang mengambil daunnya untuk berbagai penyakit, sedang Banu saat ini sangatlah kecewa, tidak ada satupun daun tersisa untuk dia ambil, dia menyesal, kenapa tidak seperti yang lain, mengambil daunnya sebanyak mungkin, lalu menjadikannya ramuan untuk jaga-jaga jika anggota keluarganya sakit.
Banu dulu berfikir, akan mengambilnya jika butuh saja, tapi setelah berita pohon itu menghasilkan daun obat yang bisa menyembuhkan segala penyakit, banyak sekali orang yang akhirnya jadi eksploitasi pohon itu, mengambil daunnya tidak kira-kira, bahkan minggu lalu sampai ada yang berkelahi untuk mengambil daunnya.
“Sayang maafkan aku, aku tidak dapat membawa pulang daunnya, tidak tersisa satu daun pun di sana, terlalu banyak orang yang ambil daunnya.”
Istri Banu hanya tersenyum saja.
“Biarlah Kang, bukan rejeki kita, pasti banyak yang butuh.”
“Tidak Sayang, mereka mengambil sebanyak mungkin walau keluarganya tidak sakit, mereka bahkan menjadikan itu ramuan, jika ada tetangga yang meminta ramuan dari daun itu untuk keluarganya yang sakit, tarif ramuan daun itu menjadi sangat mahal sekali.”
“Manusia memang begitu kan, Kang?” Istrinya Banu berkata dengan sangat tenang, walau batuk parah menghiasi bicaranya.
“Aku dulu menanam pohon itu untuk membantu wabah yang terjadi di desa ini, tapi saat aku butuh sekarang, tidak ada yang tersisa untuk istriku.”
“Kang, Ikhlas, agar semua jerih payahmu bernilai pahala di mata Allah.”
“Bagaimana aku ikhlas, aku yang tirakat bertahun-tahun, bertapa di satu gunung ke gunung lain, lalu dari tirakat itu aku mendapatkan benih pohon obat itu, aku sangat ingin penduduk di sini sehat dan selamat dari wabah penyakit yang membuat siapapun mati dalam hitungan hari, tapi sekarang, istriku sakit aku tidak bisa bantu apapun, aku bahkan mengambil daun itu secukupnya kemarin-kemarin, tapi mereka benar-benar serakah.”
“Sudah sifat manusia Kang, jangan dibuat pusing, pohon itu mungkin bisa menyembuhkan segala penyakit, tapi ingat, kematian bukan penyakit, jika memang umurku sampai waktunya untuk habis, tidak ada satu daun pun yang bisa menolongku.”
“Aku akan mencari obat lain ya, aku tidak percaya rumah sakit, mereka masih saja coba-coba pada kita sebagai manusia, aku takut kau jadi manusia percobaan obat-obatan mereka.”
Pada tahun itu, ilmu Kedokteran belum berkembang seperti tahun-tahun ini, kepercayaan masyarakat juga belum sebesar ini pada ilmu kedokteran, mereka lebih percaya orang pintar dan pengobatan alami yang dihasilkan alam.
Seperti Banu yang bahkan tirakat dan mendapatkan benih pohon itu yang tumbuh subur dalam waktu 10 tahun.
“Tidak perlu Kang, aku takut, kau akan terlambat jika pergi sekarang, kau akan terlambat melihat jasadku.”
“Jangan bicara yang aneh-aneh Sayang, aku akan berusaha, doakan aku, akan kembali dengan cepat, aku menanam tiga pohon itu di tiga tempat berbeda, dulu untuk tiga tempat dengan wabah paling parah, salah satunya di desa kita, semoga di dua tempat itu masih ada yang daunnya subur dan bisa aku ambil.”
“Kang ... aku mohon aku ingin kamu di sini, temani aku.”
“Maaf Sayang, tunggulah sebentar, aku akan kembali secepatnya.”
Banu lalu pergi ke dua daerah lain yang ia Tanami pohon obat ini, saat ke salah satu daerah dia menjadi kecewa karena ternyata pohonnya memiliki kondisi yang sama dengan pohon di desanya, tidak ada satu pun daun yang tersisa.
“Cari daun obat ya Kang? Nggak ada lagi, pada diambilin sama juragan desa ini, mereka membuat daun itu jadi teh herbal lalu menjualnya pada orang-orang kaya lain, mereka makin kaya, kita yang miskin lalu sakit, hanya bisa menyaksikan para orang kaya itu sehat dengan banyak uang.” Seseorang yang lewat berkata.
“Aku yang menanam pohon itu sebelumnya.” Banu berkata.
“Hah? Jangan ngaku-ngaku Kang, nanti kamu dipenggal kayak Pemuda yang ngaku itu pohonnya dan meminta daun herbal untuk kesembuhan ibunya, sayang, bukannya ditolong, dia malah dipenggal oleh Juragan itu dan semua orang yang mengaku-ngaku akan diperlakukan sama.”
“Sungguh manusia-manusia biadab!” Banu kesal, walau Pemuda itu mengaku-ngaku, tapi dia pasti terpaksa agar diberikan teh herbal dari daun itu, tapi bukan obat yang dia dapat, kematian yang menimpanya.
“Dimana rumah Juragan yang telah membunuh Pemuda itu.” Banu bertanya.
__ADS_1
“Kau sudah gila, ingin mengantar nyawa?” Jawab seseorang itu.
“Tidak, aku akan buktikan bahwa, benar akulah yang menanam pohon itu.” Akhirnya Banu mendapatkan alamatnnya dan dia langsung bergegas ke sana.
Saat sampai sana, rupanya dia adalah juragan padi, di halaman rumahnya banyak padi yang sedang di jemur, sementara sang Juragan sedang asik mengipas tubuh gendutnya ditemani kopi dan pisang goreng.
“Siapa kau?” tanya juragan itu.
“Aku adalah Banu, aku yang menanam pohon itu dari mulai benihnya, aku adalah orang yang melakukan tirakat untuk mendapatkan benih pohon obat itu, berikan sisa teh daun pohon obat itu padaku, semuanya.”
Sang Juragan tertawa terbahak-bahak, dia lalu ebrdiri dari bangku kayunya yang panjang itu dan memerintah pengawalnya untuk bersiap dan ebrdiri di belakangnya.
“Rupanya ada yang sedang ingin mengantar nyawa, kalian semua, kalau ada yang berhasil membawa kepalanya padaku, aku akan member kalian sekarung beras.
Para pengawal itu langsung menyerang Banu, karena mereka tergiur oleh sekarung beras yang saat itu harganya mahal sekali.
Banu membuat lingkaran, dia lalu menginjak bumi beberapa kali, setelahnya tanah di sana bergetar, efek dari apa yang dia lakukan adalah, setiap ada pengawal Juragan itu mendekati, dia akan langsung jatuh terjungkal karena tanah yang dia pijak menjadi licin atau bahkan terlempar ke tubuh mereka bagai senjata.
Rupanya Banu menggunakan ajian tanah lingkaran tanah liat sebagai senjata.
Sang Juragan terlihat khawatir, karena sebelumnya tidak ada satu pun orang yang bisa melawannya di sini, kalau Banu bisa, reputasinya akan tercoreng, dia akan dilawan karena kehilangan muka, dikalahkan orang asing.
Seluruh Pengawal telah kalah telak, tidak ada satu pun yang berhasil menyentuhnya, jangankan kepalanya, menyentuh dia saja tidak mampu.
“Berikan teh herbal itu padaku atau kau akan aku habisi berserta hancurnya seluruh kekayaanmu.” Ancam Banu.
“Ambilkan teh itu.” Juragan mundur dia berteriak pada pembantunya.
Saat Pelayan itu keluar dan membawa keranjang yang berisi botol-botol daun kering yang telah dibuat menjadi herbal ajaib itu.
Saat si Pelayang hendak memberikan itu pada Banu, Sang Majikan menjegal kaki pelayannya, hingga akhirnya keranjang itu jatuh dan membuat botol yang berisi herbal itu pecah berkeping-keping, daun-daun herbal itu berjatuhan dan perlahan menghitam.
“Kau tahu, aku membaut daun itu bisa bertahan dengan baik dalam botol, tapi mereka akan mati begitu keluar dari botol, aku yang membuat daun itu bertahan hidup melalui banyak percobaan, sekarang kau mau mengambilnya seenaknya, kau fikir aku takut!” Juragan Padi itu ternyata menipunya, dia merasa tidak ada yang boleh memiliki daun herbal itu jika dia tidak bisa memilikinya.
Banu melihatnya sangat sedih dan kecewa, daun yang sangat dia butuhkan untuk istrinya, padahal tiga helai saja, bisa menyembuhkan penyakit istrinya, tapi sekarang seluruh daun yang tersisa, dihancurkan begitu saja.
Banu lalu membaca mantranya, dia membaca mantra Bendu Welak, mantra kutukan yang hanya bisa diberikan pada benda yang telah dijadikan Pusaka oleh sang empunya, kutukan itu akan menimpa pada siapapun yang berani melanggar ketentuan sang pemilik pusaka.
Dalam hal ini, Banu adalah pemilik dari semua pojon yang dia tanam itu, maka dia bisa melakukan mantra Bendu Welak itu.
Setelah membaca mantranya, daun itu lalu menjadi debu dan tertiup angin, debu yang tidak sengaja terkena oleh Sang Juragan dan seluruh pekerjanya di rumah ini, tiba-tiba gatal-gatal, hanya butuh waktu beberapa menit, luka garukan menjadi borok bernanah, melihat tubuhnya mulai muncul borok, Sang Juragan ketakutan, dia bersimpuh di kaki Banu.
“Kau telah terlambat, aku hanya ingin beberapa lembar saja untuk istriku, tapi kau malah menghancurkannya, sekarang tanggung sendiri akibat keserakahanmu, bahkan orang yang tak bersalah pun jadi korban, mulai saat ini, semua yang datang ke tempat ini, akan terkena penyakit yang sama, kau sebarkan itu ke pada semua orang yang ada di desan ini, kau akan tahu, semua orang akan jijik melihatmu, andai dosamu seperti borok-borok ini, tentu borok ini tidak ada apa-apanya.”
Banu berbicara pada salah seorang Pelayan yang dia biarkan tidak sakit, Pelaya nitu buru-buru menyebar berita tentang rumah itu, juragan dan juga penyakitnya, Banu pergi dari desa itu, ke desa lainnya, butuh waktu dua hari untuk sampai, dia benar-benar berharap bahwa desa ini, penduduknya akan lebih baik dari desa sebelumnya, bahkan desanya sendiri.
Saat sudah sampai, dia terduduk lemas lagi, Pohon itu tidak ada, sudah ditebang paksa, entah karena apa, Banu bertanya pada orang yang lewat perihal pohon itu.
“Oh pohon obat itu, sudah ditebang karena orang sempet bunuh-bunuhan di sini, pernah juga ada pembantaian keluarga yang kebetulan ambil daunnya dalam jumlah banyak, akhirnya daun itu dicuri dan orang serta keluarganya dibantai.”
“Astagfirullah!” Banu kembali terduduk lemas, pohon-pohon yang dia harap bisa bantu istrinya semuanya telah menjadi mudharat bagi desa-desanya.
__ADS_1
Bahkan di desanya saja pohon itu menjadi santapan bagi para manusia serakah.
Banu pulang ke desanya kembali dalam keadaan sangat marah, di desanya pun sudah tidak tersisa daun itu, karena diperjual belikan oleh orang-orang serakah ke desa lain, dalam waktu sebentar daun yang berbentuk ramuan itu habis, orang yang memperjual belikannya menjadi kaya raya dan pindah.
Banu tidak bisa membantu istrinya lagi, dia bingung mau bicara apa, tapi dia harus segera pulang dan mencari cara lain, saat hampir sampai rumahnya, dia kaget, kenapa begitu banyak orang yang berkumpul di rumahnya, ada bendera kuning yang di pasang di depan rumahnya.
Banu berlari, dia bahkan hampir terjatuh, dia takut, takut kalau omongan istrinya benar.
Saat sampai di depan pagar kayu rumahnya, seseorang memeluk dia, itu adalah ayahnya, ayah yang sebenarnya tinggal beda desa dan cukup jauh, kenapa orang tuanya ada di sini, kemana istirnya.
“Banu, kemana saja kau Nak, istrimu ... istrimu sudah meninggal dunia.” Ayahnya Banu menangis, Banu terdiam sejenak, dia tidak dapat mencerna perkataan ayahnya, dia lalu melepas pelukan ayahnya dan bergegas ke dalam rumah, air matanya jatuh tak tertahan, padahal dia tidak sedang menangis.
Saat sampai depan pintu rumahnya, dia melihat seseorang tidur di dalam rumahnya, dia tertidur dengan sangat cantik, tertidur dengan kain kafan putih yang ditutupi kain jarik, wajahnya dibiarkan masih terlihat, itu jelas wajah cantik istirnya yang sangat dia kenal, wajah yang terlihat jauh lebih sehat.
“Sayangku, aku pulang, maafkan aku, aku tidak dapat obatnya sayang, maafkan aku sayang.” Banu memeluk wajah itu di dadanya, semua orang terisak mendengar itu.
“Sudah Nak, istrimu sudah tiada, relakan, ikhlaskan.” Ayah mertuanya berkata, Banu hanya terdiam melihat semua orang, dia lalu sedetik kemudian menjadi marah lagi.
“Ini semua karena kalian yang serakah! Andai kalian tidak mengambil daun itu dengan serakah, istriku akan baik-baik saja, aku yang menanam poho itu!” Banu berteriak-teriak sembari memeluk istrinya. Semua orang berbisik, mereka berkata bahwa Banu gila karena istrinya, tidak ada yang percaya kalau Banu yang menanam pohon itu.
“Nak! Kematian itu milik Tuhan, Nak, jangan kau hina Tuhan dengan mengatakan hal yang buruk tentang kematian istrimu, kau harus menerimanya!” Ayahnya Banu berusaha menenangkan anaknya.
“Jangan ada yang berani sentuh istriku, aku akan menguburnya dengan tanganku sendiri, tangan serakah kalian tidak aku izinkan memegang tubuh istirku dan akan aku pastikan, tidak ada satu pun dari kalian yang bisa menggunakan pohon itu lagi sebagai obat, pohon itu akan menjadi malapetaka bagi kalian yang berani memegangnya.
Banu menggendong tubuh istrinya dengan sangat mudah, dia adalah seorang Kharisma Jagat yang memiliki Khodam, dia dibantu beberapa Khodamnya untuk mengangkat tubuh istrinya, lalu dia menggali kuburnya dan setelah itu mengubur tubuh wanita yang selalu sederhana, ikhlas dan menemaninya selama sepuluh tahun ini tanpa anak, mereka selalu saling mencintai dan berdua kemana-mana, Banu tidak mampu lagi mencintai siapapun setelahnya, dia tidak bisa menikah dengan siapapun setelahnya.
Janji Banu akan pohon itu tertunaikan, pohon itu menjadi pohon borok, warga yang tidak percaya nekat mengambil daunnya, lalu tepat setelah daun itu di tangan, perutnya menjadi borokan lalu seluruh tubuh kecuali wajanya, Banu tidak membantu menyembuhkan orang serakah itu, maka setelahnya tidak ada satupun orang yang berani mendekati pohon itu karena takut
Barulah di tahun 1985 ada seorang anak yang kembali membuktikan tentang mitos pohon itu yang benar.
_____________________________
Catatan Penulis :
Sejarahnya dulu ya, ada yang udah tahu sejarah ini? Belum? Ya tentulah, ini kan karangan Penulis. Ingat ya teman-teman, ini hanya fiksi, memang kadang landasannya benar ada, tapi sisanya itu semua karangan aku, jadi jangan percaya apakah pohon obat itu pernah ada, apalagi menuduh cikal bakal Sidomu*cul adalah pohon obat ini, nggak bener ya.
Terima kasih.
__ADS_1