
Aditia dan para asisten Kemala bertemu di suatu restoran, mereka janjian untuk menyetor data yang dibutuhkan.
“Ini semua data yang kau butuhkan.”
“Sudah semua?” Aditia bertanya pada salah satu asisten yang memberikan datanya, dia memberikan datanya di flashdisk, tempat penyimpanan data yang cukup besar.
“Ini semua scanan yang kau butuhkan, tentu kau tidak perlu data dalam bentuk kertas bukan? itu terlalu tidak efisien, kami semua bekerja dengan soft data seperti ini, bukan dengan paper.”
“Tidak masalah yang penting lengkap dan valid.”
“Tentu saja valid, untuk apa kami memberikan data yang tak valid?”
“Namanya soft copy, pasti ada saja celah untuk dimanipulasi.” Aditia terlihat tegas pada asisten Kemala, karena mereka terlihat menyepelekannya, karena yang dia bawa adalah angkot.
“Kau menuduh kami membuat data palsu?”
“Kalau tidak, kenapa kau langsung berasusmsi seperti itu? apakah aku harus mencurigai kalian?” Aditia menatap semakin tajam, asisten itu terlihat gugup.
“Ada lagi yang kau butuhkan?” Asisten lainnya mencoba mencairkan suasana dengan bertanya.
“Tidak, tapi kalau ada data yang kurang dan mungkin aku curigai, aku akan bertanya pada kalian, jadi mohon bantuannya.”
“Kami sebenarnya penasaran, berapa harga yang harus kami bayar?” Asisten itu tiba-tiba bertanya.
“Kami ... maksudku, aku tidak pernah memungut bayaran pada orang yang aku bantu.” Aditia tidak bsia menyebutkan kata kami karena dia bekerja sendirian.
“Oh ya, mulia sekali hatimu, semoga niat dan yang kau lakukan sejalan ya, karena nyonya kami itu sangat dermawan.”
“Tentu saja, kalian tidak perlu mencurigai niatku.” Aditia berkata.
“Kenapa kami harus mencurigai niatmu kalau kau memang jujur? apakah harus?” Asisten itu membalas perkataan Aditia.
“Harus jika tujuanmu menjaga nyonyamu, tapi juga harus menanamkan kepercayaan pada orang yan membantumu dengan tulus, butuh intuisi untuk mengetahui bahwa seseorang benar atau tidak dan intuisi bukan sembarang orang mampu.” Kharisma Jagat tidak mudah ditumbangkan oleh para asisten budak gaji ini.
Setelah berdebat sengit, para asisten keluar dari restoran, Aditia memilih untuk menerima data di luar seperti ini karena ke rumah Kemala itu cukup jauh dan takut terlalu mencolok jika dia ke sana terus menerus, apa kata tetangga nanti.
Walau rumah Kemala sangat mewah, tapi masih di tengah perkampungan yang padat dengan warga, makanya jangan sampai salah langkah, Kemala sendirian, kasihan dia kalau harus menanggung beban dihina lagi.
Aditia membuka laptopnya, masih di restoran itu, setelah membuka laptop, dia mencolok flashdisk yang diberikan oleh asisten Kemala, tidak butuh waktu lama, lalu terbukalah dokumen yang diberikan itu.
Aditia membuka folder pertama yang berjudul, ‘biodata’. Aditia membuka folder itu dan langsung dihadapkan pada file yang berjenis JPG, itu adalah file khusus untuk foto. Aditia membuka halaman satu, berisi riwayat hidup pria bernama Petra Januar, oh jadi itu nama suami dari Kemala.
Halaman pertama dan seterusnya berisi nama, tempat tanggal lahir dan pekerjaan, terakhir dia bekerja sebagai General Manager Purchasing. File hanya diberi nomor.
Wah jabatan yang cukup basah, Aditia tahu itu dari pengalaman para sahabatnya.
Purchasing adalah divisi yang bertugas membeli atau pengadaan atas kebutuhan, baik proyek maupun kebutuhan office, bisa dibilang divisi yang memenuhi kebutuhan semua divisi.
Bioadatanya biasa saja, dia memang naik cepat saat di perusahaan terakhir, dari Supervisor di tempat lama, langsung naik menjadi GM di perusahaan baru, sungguh luar biasa.
Lalu Aditia membuka folder ke dua yang berisi file foto juga, dengan nama hanya berupa angka, judul foldernya adalah ... daftar kekayaan 1.
Aditia membukanya, pada file dengan nama 1, Aditia ternyata membuka lembar saham dari saham blue chip milik Petra, saham blue chip adalah jenis saham dari perusahaan yang memiliki kondisi keuangan yang prima, serta sudah beroperasi bertahun-tahun lamanya. Perusahaan ini biasanya perusahaan-perusahaan gajah yang sudah Tbk atau terbuka, yaitu perusahaan publik yang menerima modal sebanyak-banyaknya dari siapa saja. Sederhananya, siapa saja bisa beli sahamnya melalui banyak cara. Di Indonesia sendiri sudah banyak aplikasi yang sudah bisa membantu setiap orang untuk memiliki saham hanya dengan install aplikasi di telepon pintarnya, transaksi juga dijalankan online, baik beli maupun jual serta balik dana. Tentu semua aplikasi tersebut, dijalankan di bawah pengawasan OJK atau Otoritas Jasa Keuangan, sehingga legal untuk dapat membina uang masyarakat dalam bentuk saham.
Aditia masih membaca pada nama file 1, perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh Petra adalah perusahaan yang bergerang di bidang perbankan, perusahaan ini terkenal memiliki harga saham yang cukup tinggi, tidak main-main, satu lembarnya dikisaran tiga puluh ribu rupiah dan minimal beli adalah 1 lot yang artinya seratus lembar, begini perhitungannya : 1 lembar Rp. 30.000 x 100 lembar minimal pembelian = 3.000.000 untuk 1 lot atau 100 lembar.
Sedang petra memiliki 50 lot, artinya jumlah satu file ini nilai kekayaannya adalah 150 juta, yaitu sebanyak 50 lot saham.
__ADS_1
Aditia melihat jumlah file yang ada di folder ini, ada 130 file yang kemungkinan adalah lembar saham.
Aditia tidak ingin membuka satu persatu lembarnya, karena akan terlalu banyak, maka dia menghitung secara general saja.
Jika semua lembar sahamnya adalah saham blue chip, maka nilai satu lembarnya memang puluhan ribu dan jika melihat kebiasaan Petra yang membeli puluhan lot saham dalam satu perusahaan, maka, jumlah kekayaannya dari saham saja ada sekitar ... wah, nilainya milyaran, mungkin bisa mencapai belasan milyar. Luar biasa. Aditia bertepuk tangan sehingga membuat orang disekitarnya sampai terganggu, Aditia spontan meminta maaf.
Dia takjub, walau nilai kekayaannya sama dengan dirinya, tapi Aditia mendapatkannya karean warisan, sedang Petra mendapatkannya karena kerja keras dan kembali lagi, nilai saham itu naik turun, jadi itu hanya hitungan kisaran saja, akan naik jika tidak dicairkan dalam waktu dekat, karena saham itu memang termasuk investasi jangka panjang, kecuali kau mampu membuat portfolio yang mumpuni, di mana nilai baliknya bisa tinggi dalam waktu cepat, itu juga harus dikendalikan oleh orang yang ahli.
Lembar saham sudah di dapat kisaran nilai, sekarang Aditia keluar dar folder kekayaan 1, dia berpindah dari folder kekayaan 2.
Begitu dibuka, lagi-lagi file dalam bentuk foto, ternyata kekayaan 2 berisi lembar deposit, tidak sebanyak lembar saham, tapi memiliki nilai yang sama fantastisnya.
“Umur 30 tahun sudah memiliki keayaan yang sangat besar, padahal dari biodatanya, Petra berasal dari keluarga yang biasa saja, bukan keluarga kaya raya yang bisa memberinya warisan sebanyak itu, dia mengusahakan kekayaannya sendiri.” Aditai berguman sendiri.
Aditia keluar dari folder kekayaan 2, dia membuka folder foto pernikahan. Bukan hendak iseng, tapi dia perlu melihatnya, kata Kemala mereka hanya akad nikah saja, karena resepsi dilakukan waktu lain saat keluarga Petra yang di luar negeri pulang ke Indonesia.
Aditia melihat foto akad nikah terpesona pada Kemala yang sangat cantik, ternyata dandanan penganten sunda baginya, sungguh membuat wajahnya semakin cantik dan anggun, Aditia sempat melamun melihat wajah yang cantik itu, dasar laki-laki, pada pandanganlah mereka tunduk.
Setelah menguasai dirinya kembali Aditia membuka folder lain, data keluarga Petra.
Saat dibuka, lagi-lagi file dalam bentuk foto, ini aalah folder keluarga Petra.
Seperti dugaan Aditia, dia bukan dari keluarga kaya raya. Ibunya kepala sekolah bukan ketua yayasan yang memiliki sekolah, ayahnya buruh pabrik, semua kakaknya sekolah di luar negeri dari beasiswa, lalu dapat jodoh di sana, menikah dan menetap di sana.
Jadi nilai kekayaannya yang fantastis itu berasal dari mana? Main saham? Untuk beli ratusan lot itu, dia harus memiliki uang yang sangat banyak, lalu untuk deposito juga uangnya yang dia miliki harus banyak.
Ini aneh, darimana nilai kekayaannya, harusnya ini bisa ditelusuri, andai ada Hartino, Aditia akan memintanya mencari informasi, tapi dia kan sedang perang dingin dengan mereka. Jadi harus melakukannya sendirian, dia benar-benar merasa butuh kawanan, tapi gengsi.
Akhirnya Aditia pergi ke jembatan saja, dia ahlinya memeriksa tempat kejadian.
Setelah memarkir angkotnya di dekat jembatan, sudah sore, dia menyebrang menggunakan jembatan itu untuk ke perkampungan sebrang.
Aditia lalu menemui salah satu bapak-bapak yang asik menonnton lomba catur main-main itu.
“Pak saya Aditia, saya wartawan majalah ghaib online, mau tanya soal jembatan itu.”
“Eh, iya, boleh, yuk kita ke tempat saya, sekalian saya bikinkan teh.”
“Boleh Pak kalau nggak ngerepotin, tapi kalau kopi bagaimana?”
“Yah, sayang sekali, kami di sini tidak minum kopi, hukum minum kopi di tempat ini ... haram!”
“Hah? kok? Yasudah air putih saja.”Aditia setuju lalu mengikuti orang ini sampai rumahnya.
Rumah yang asri, tidak terlalu besar, tapi cukup luas, ada bangku yang terbuat dari semen, bangku yang mengelilingi halaman. Mereka duduk di sana.
Aditia disuguhkan air putih dan singkong.
“Apa yang mau ditulis emang?” tanya lelaki itu.
“Soal jembatan itu, katanya jembatan kutukan ya?”
“Ya emang, tapi kita mah biasa aja kalau lewat, orang sama istri suka lewat sana naik motor, tapi ya gini-gini aja sih, nggak cerai, amit-amit sih.”
“Lalu darimana cerita soal jembatan kutukan itu Pak?” Aditia bertanya lagi.
“Oh itu, ya biasalah, anak-anak muda pada datang saat jembatan ini jadi, mereka mau melihat jembatan yang sudah lama sekali katanya akan dibangun, tapi sayang selalu tidak jadi entah karena apa.
__ADS_1
Jadinya pas sudah dibangun, membuat dua desa jadi senang dan berbondong-bondong datang.
Ada yang bawa pasangan, anak dan orang-orang yang dekat dengan mereka, lalu sebulan setelah jembatan itu diresmikan ... banyak cerita datang, katanya setelah melewati jembatan itu, pasangan yang pacaran jadi tidak saling suka lagi, lalu pasangan suami istri bercerai dan hubungan anak ibu menjadi renggang. Bahkan berpengaruh pada bayi, katanya setelah ibunya melewati jembatan itu, anak bayinya tak mau lagi digendong oleh ibunya.
Ini aneh sekali, karena rumor itu cepat menyebar, kalau aku jujur tidak percaya, begitu lamanya aku hidup, baru dengar rumor ngaco kayak gitu.”
“Apakah Bapak pernah bertemu dengan salah satu korban dari jembatan itu? yang putus atau cerai.”
“Iyalah ketemu, yang cerai itu sepupu saya, dia bilang suaminya seperti tidak punya hasrat lagi padanya, makanya mereka jadi bertengkar terus, karena suaminya lebih suka tinggal di luar. Tak lama mereka bercerai.
Tapi pada akhirnya saya buktikan, kalau itu hanya rumor, saya selalu pergi dengan istri saya melewati jembatan, kami baik-baik saja sampai sekarang, tidak bercerai.”
“Bapak ada nggak salah satu nama dan alamat orang yang bapak ceritakan barusan?” Aditia memberanikan diri bertanya.
“Sebentar saya ingat-ingat, kalau tidak salah, ada seorang perempuan yang putus dari pacarnya, hingga sekarang tidak menikah dan menjadi perawan tua, rumahnya di desa sebrang, coba saja kau cari, namanya Ratu. Ratu perawan tua.
Aditia kesal mendengar julukan itu, dia takkan mencari orang dengan nama julukan itu.
“Kenapa dia tidak menikah?” Pertanyaan yang tidak bisa dijawab lelaki itu sebenarnya.
“Mana saya tahu, emang saya bapaknya.” Lelaki itu terlihat kesal.
“Tapi kemungkinan dia memang mendapatkan kutukan itu, sulit untuk tidak percaya dengan kutukan jembatan itu, karena kutukan itu terlihat jelas di depan mata. Makanya saya pikir, kalau saya dan istri saya atau kami yang lewat tapi tidak terkena kutukan, itu karena kami orang yang beriman, mungkin perempuan itu tidak beriman.” Aditia mendengar ini ingin sekali tertawa dengan sangat kencang, bagaimana mungkin dia menilai keimanannya sendiri, padahal itu hal hanya Allah SWT saja yang bisa menilai, bukan kita manusia, apalagi diri sendiri.
“Pak, pernah dengar ada yang bunuh diri di jembatan itu?” Aditia bertanya lagi.
“Eh iya, mana baru nikah lagi, kasian banget, istrinya tapi aneh.”
“Aneh kenapa?” Aditia tahu yang dimaksud adalah Kemala.
“Pas mayatnya diketemukan itu, ngambang loh, istrinya datang ke lokasi, dia memakai pakaian serba hitam, wajahnya sedih, tapi aku tidak melihat air mata jatuh di sama sekali, dia hanya terlihat pucat dan lemas.”
Tentu saja Kemala adalah perempuan yang tenang, walau hatinya mungkin sakit, tapi meraung-raung sepertinya bukan gaya dia.
...
Sementara di gua Alka berkumpul kawanan.
“Apa yang dilakukannya saat ini?” Alka bertanya pada Hartino.
“Aku melihatnya keluar dari rumah dengan seorang gadis, setelah memfotonya, aku mencari data di internet dengan foto yang aku dapatkan, ternyata itu adalah Kemala Raffles Dukari, dia ....”
“Ke-Ke-Kemala! Kau yakin wanita itu Kemala!” Alka bertanya dengan gemetar.
“Iya, dia Kemala, kau mengenalnya?”
“Kau yakin di Kemala Raffles Dukari?”
“Yakin, aku sudah mencocokkan semuanya.” Hartino meyakinkan.
“Dia wanita yang terkenal di kalangan jin.” Alka terjatuh, dia lemas dan gemetar, tubuhnya terasa panas hanya dengan mengingat nama itu.
“Kak, kenapa?”
“Dia sudah bertemu dengan Aditia ... mereka sudah bertemu?” Alka menangis sejadinya, hatinya bagai terhujam sembilu, sakit yang tak terperi. Kemala bukan tandingannya, Kemala adalah wanita yang paling Alka takuti ditemui oleh Aditia dan mereka sekarang bertemu.
“Kak, bisa kau jelaskan siapa Kemala?” Ganding bertanya, mereka memegangi Alka, menariknya ke kasur untuk duduk.
__ADS_1
“Kemala dia adalah ....”