Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 297 : Tukang Bubur Tamat


__ADS_3

“Gimana? apa dia sudah mau mengaku?” Alka bertanya begitu sampai lagi di tanah kosong.


“Belum, dia masih belum menyerah, apa kita hajar saja sekalian, kesal aku karena dia tidak mau memberitahu di mana batu merahnya.”


“Jangan, Nding, biar kubunuh saja sekalian! Aditia mengeluarkan kerisnya.” Tentu ini untuk menakuti, karena keris Aditia tumpul bagi manusia.


Herman ketakutan, keris itu sudah ada di lehernya, dia masih saja tidak mau menunjuk di mana cincinnnya, walau suaranya telah hilang, tapi dia masih bisa menunjuk saja.


Walau keris sudah di leher, dia masih saja tidak mau bicara dan membuat Aditia menyadari sesuatu.


“Hei! Bukan dia pelakunya, bukan!” Aditia langsung berlari, diikuti oleh semua orang, kecuali Herman tentunya.


“Dit kau mau kemana!” Yang lain bertanya, Aditia tidak menjawab, dia terus berlari hingga berhenti di satu tempat.


“Bedebah! Jadi dia pelakunya!” Ganding kesal sekali.


“Ya, karena dia yang tadi mengarahkan kita, sengaja mengulur waktu.” Aditia kesal, karena mereka lagi-lagi percaya orang yang salah.


“Kubakar rumahnya sekalian, kalau keluarganya menuntut, akan kuganti harga rumahnya seratus kali lipat, aku benar-benar ingin menghabisinya!” Ganding sangat kesal, dia tidak main-main, si jenius tidak pernah main-main dalam berkata.


“Tahan Nding, kita belum menemukan Manushbala geledah paksa saja rumahnya, taruhan denganku, dia tak ada dirumah sekarang.”


Mereka masuk, seperti dugaan Aditia tidak ada orang di rumah.


“Kau yakin Manushbala ada di rumah ini?” Ganding bertanya.


“Tidak yakin, tapi siapa tahu menemukan sesuatu.”


Aditia dan yang lain menggeledah rumah itu, butuh waktu satu jam untuk Aditia merasakan energi yang sangat berat dan kelam.


“Di sini.” Aditia menunjuk suatu kamar, kamar itu tertutup, Aditia dan Ganding mendobrak intu kamarnya,  begitu terbuka, bau busuk tercium.


“Dia menanamnya. Khas Manushbala, tidak suka memperlihatkan wujudnya, dia takkan berada di media yang gampang terlihat, gampang membuatnya tidak nyaman karena manusia mudah dia lihat, dia hana suka mendeteksi energi hitam, tapi bukan berarti suka melihat manusia dengan frekuensi yang tinggi. Harusnya dari awal kita sadar kalau sedang dipermainkan Pak RT, dia sengaja mengarahkan kita untuk percaya padanya, bahwa Security itu yang menyembunyikan Manushbala, kita lupa bahwa Manushbala takkan pernah ada pada suatu media yang gampang di bawa ke mana-mana dan gampang terlihat orang.” Aditia menjelaskan.


“Dit, kita udah ke sini loh sebelumnya, kenapa kita tidak merasakan energinya?” Ganding bingung.


“Kamar ini tidak ada sebelumnya, kau ingat?” Aditia berkata dengan yakin.


“Aku tidak ingat lah, kita memeriksa banyak rumah, memang kamar ini tidak ada sebelumnya?”


“Iya tidak ada Nding, aku yakin, sebentar. Aditia kembali ke luar lalu memeriksa temboknya, ada bekas semen, berarti kemungkinan kamar ini ditutup semen sebelumnya, tapi dibuka kembali begitu kita selesai memeriksa. Selain menutup pakai semen, kemungkinan Manushbala juga menyembunyikan energinya sekuat tenaga dari kita, bisa jadi juga saat pemeriksaan Pak RT bedebah itu sengaja mengalihkan perhatianku pada benda-benda klenik miliknya yang memiliki energi hitam juga, jadi saat itu aku teralihkan dan tidak lagi memeriksa tempat lain setelah menemukan benda klenik yang dia jadikan pancingan.


Orang jaman sekarang kalau jahat, sungguh-sungguh sekali mempersiapkan semuanya. Benar-benar orang jahat, dibanding Manushbala, sebenarnya dialah yang paling jahat, Manushbala membenci manusia, itu tugasnya, kalau manusia membenci manusia itu namanya apa? adalah tingkatan kejahatan melebihi iblis?” Aditia kesal sekali menjelaskannya.


“Manusia, Dit.”


“Ya, begitulah, ayo kita gali.” Aditia dan yang lain bersiap menggali, jadi kamar ini begitu masuk ada sebuah meja pendek, kemungkinan meja itu digunakan untuk memuja Manushbala, ada sajen di atas meja kecil itu, dihadapan meja, ada gundukan tanah baru, dibuat seperti kuburan, diantara semua keramik yang ada di kamar itu, hanya gundukan tanah itu saja yang tidak dikeramik, sudah pasti di sanah Manushbala berada.


“Kak, siap-siap, Jarni juga, begitu tanahnya kita gali, dia pasti bersiap juga untuk lari, kau tahu kan, dia juga padai menipu daya, apapun yang kita liat nanti, bisa jadi mengelabui mata kita.” Ganding memperingatkan semua orang.


“Ganding dan Aditia menggali, Hartino berdiri di belakang, karena dia sudah kena Tiri Mayit, jadi kemungkinan dia ditipu lagi akan sangat tinggi, makanya Jarni memasang pagar ghaib di sekeliling Hartino agar dia tidak bisa keluar, khodamnya Hartino diikat di sana, jadi Hartino juga tidak bisa kemana-mana.


Semakin dalam galinya, semakin besar lubang itu, saat semakin dalam, tiba-tiba keluar asap, Ganding dan Aditia mundur, asap itu semakin mengepul dan menutup lubangnya, Aditia dan yang lain membentuk setengah lingkaran untuk menjaga siapapun yang keluar dari sana tidak bisa kabur. Asap mulai berkurang, perlahan menghilang, lalu muncullah sesosok yang mereka semua tunggu-tunggu.


“Dit, udah makan, yuk sini makan sama Ayah, gimana tadi sekolah?” Aditia memakai seragam SMAnya, Mulyana menarik Aditia ke meja makan, Aditia mengikuti Mulyana.


“Belum makan Yah, tadi di sekolah nggak sempet, Aditia ikut ekskul makanya nggak sempet makan.”


“Yaudah, kalau gitu kamu makan ini dulu ya.” Mulyana mengambilkan Aditia mangkuk dan menyendokkan sayur di mangkuk itu.


“Yah, ibu sama Dita mana?” Aditia bertanya.


“Ibu jemput Dita ke sekolah, katanya Dita ada ekskul nari.”


“Oh gitu Yah.”

__ADS_1


“Iya, Aditia makan dulu ya, ini ibu udah siapin tadi sebelum pergi, temenin ayah makan.”


“Iya Yah, ini ayam goreng kesukaan Adit ya Yah?”


“Iya Nak, ayo makan.”


~


“Nding, istirahat dulu latihannya, sini kamu makan bareng Bapak, kebetulan istri Bapak sudah masakkan lebih.” Mereka berada di belakang gua Alka, tempat latihan kawanan.”


“Iya Pak, wah enak nih masakan ibu, makasih ya Pak.” Ganding duduk  di samping Mulyana, lalu Mulyana terlihat membuka rantang makanannya yang terbuat dari stainless, dia menyodorkan rantang itu pada Ganding.


“Pak ini bebek balado kesukaan bapak ya?” Ganding bertanya.


“Iya, kamu tahu aja Nding.”


~


“Jarni, ular mininya di taruh dulu, biar mereka istirahat, kamu belum makan kan? sini makan sama bapak.”


“Iya Pak, Jarni taruh dulu ularnya.”


“Ya.” Mulyana terlihat hendak memberikan makanan kesukaan Jarni.


“Pak, itu empal kesukaan Jarni ya?”


“Iya Jarni, yuk kita makan bersama.” Mulyana menyodorkan makanannya.


~


“Alka, kamu buat ramuan mulu, yuk kita ....”


Alka mencekek leher Mulyana, dia bahkan tak memberi kesempatan Mulyana untuk menjelaskan apa yang hendak dia katakan.


Begitu juga dengan Aditia, Ganding dan Jarni, mereka semua saat ini sedang mencekek Mulyana, cekikan itu semakin terasa menyaktikan membuat mereka semua akhirnya kembali ke kamar rumah Pak RT.


Mereka langsung sadar begitu Manushbala mengiyakan makanan yang mereka sebutkan, jadi Manushbala belum sempat memunculkan rasa takut, kawanan langsung tersadar, kalau lelaki ini bukan Mulyana.


Seharunya setelah menjadi apa yang kawanan sukain, yaitu Mulyana, Manushbala menjadi makhluk yang mengerikan dulu dan memasukkan cairan yang akan menjadi Tiri Mayit pada kawanan, barulah setelah itu Manushbala bisa menguasai kawanan.


Tapi rencananya gagal, kawanan lebih mengenal Mulyana dibanding Manushbala, Hartino kena karena dia memang sedang memiliki masalah dengan Alisha, sehingga gampang terkena tipu daya.


“Lepaskan aku, aku hanya makhluk lemah.” Manushbala sungguh menjadi sosok yang bukannya menakuti tapi ketakutan.


Sosoknya berubah-ubah, dari menjadi Mulyana, lalu menjadi Alisha, menjadi apapun berusaha membuat kawanan untuk tertipu, tapi Manushbala tidak tahu, kebersamaan mereka membuat mereka sulit dikalahkan.


“Manushbala, jangan jadi ayahku, dia lebih tampan dari yang kau perlihatkan, jangan juga jadi Alisha, Hartino takkan menolongmu, dia diikat di sana oleh Jarni, cepat menyerahlah sebelum kami bikin babak belur.


Manushbala terdiam, dia tertawa mengejek.


“Kalian tidak takut pada Masuth Matun? Dia itu iblis yang bisa saja menghabisi kalian dalam satu jentikan jari.” Manushbala sekarang mengancam.


“Kalau dia memang berniat membantumu, dia akan datang sebelum kami ke sini untuk menjemputmu, dia mungkin saat ini sedang menangani orang yang jauh lebih bisa merusak negeri ini dibanding menolongmu, targetmu hanya orang-orang biasa dengan kotoran seujung kuku, dia terlalu sibuk untuk menolongmu.” Aditia menjatuhkan mental setan ini.


“Kau ini pemuda kurang ajar ya, umurku jauh di atasmu, jadi jangan kau bicara kurang ajar padaku.”


“Aku bahkan ingin menusukkan keris ini kepadamu, kalau saja aku tidak tunduk pada peraturan Kharisma Jagat, sudah kuhabisi kau, kutusuk perut buncitmu ini, mungkin Ganding juga akan menebas lehermu, lalu setelahnya Alka akan membuat tubuh tak kasatmu terpisah dan Jarni akan menjadikan tubuh-tubuh terpisah itu sebagai makanan ular ghaibnya yang penuh energi!” Aditia benar-benar geram.


“Kau bilang apa? kau katanya tidak suka terlihat manusia karena derajatmu lebih tinggi, padahal kau hanya tak berani menampakkan diri saja, semakin banyak korbanmu, maka semakin buncit perutmu, semakin pucar wajah ruhmu dan terakhir, semakin tak karuan bentuk tubuhmu. Kau itu bukannya merasa memiliki derajat tinggi, tapi kau tahu, bahwa rupamu itu buruk! Kau benar-benar setan biadab berwajah buruk rupa!” Alka menghina Manushbala dalam satu nafas dengan kata yang begitu panjang, Aditia sampai takjub, karena bentuk Manushbala yang asli ini memang tak karuan, seperti badut dengan versi yang jahat, berbadan tambun dengan perut membuncit dan daging berlebih di mana-mana, itu semua mungkin adalah energi-energi hitam yang dia serap pada korbannya, entah sudah berapa banyak korbannya.”


Setan yang tugasnya mendorong manusia untuk menghina, dihina balik oleh kawanan. Mereka semua menertawakan Manushbala, itu membuat setan penuh tipu daya itu lemah, makin lama dia semakin mengecil dan akhirnya dimasukkan ke dalam botol.


Karena jin itu sudah lemah, Tiri Mayit yang sudah dia tebar pada korbannya juga melemah dan mati seketika. Surti, Ezy dan Mira akhirnya sudah bisa bicara lagi, mereka menangis tersedu-sedu, karena tau dan menyesal, selama ini menggunakan mulutnya untuk hal buruk, menghina orang dan merendahkan orang lain, apalagi mereka juga menilai orang yang susah itu rendah.


Sementara Hartino juga sudah sembuh, Alka dan yang lain kembali ke tenda, Herman masih ketakutan, dia bahkan buang air kecil di celana.

__ADS_1


“Mas Herman, maaf ya, kami salah sangka, kita semua terjebak oleh Pak RT, dia sengaja menggiring kami supaya membuat kau dijadikan tersangka.” Aditia melepas ikatan ghaibnya.


“Kalian mau kutuntut, maaf saja tak cukup!” Herman sangat marah.


“Kenapa menuntut kami? Pasalnya apa?” Aditia pura-pura tidak mengerti.


“Kau tadi menganiayaku!”


“Mana buktinya? Kau harus punya dua saksi dan juga visum, sedang tak ada luka di tubuhmu.”


“Kau tadi menyodorkan keris ke leherku.”


“Mas Herman, nih.” Aditia menunjukkan kerisnya, menarik tangan Herman dan menggores tangan itu dengan keris.


Herman berteriak dan menarik tangannya, tapi ternyata tidak ada darah di sana.


“Kok?” Herman bingung.


“Ini tuh keris tumpul, kecuali kau jin, baru keris ini jadi tajam.” Aditia dan yang lain tertawa.


“Tetap saja, kalian sudah menyekapku dan mengikatku.”


“Mana buktinya? Kalau diikat pasti ada bekas ikatan.” Aditia mengejek lagi.


Herman mencari bekas ikatan tapi tak ada, karena itu ikatan ghaib, kawanan tentu sudah berpengalaman membuat orang tertipu, belajar dari jin jahat yang penuh tipu daya. Bisa dipakai untuk kebaikan ternyata ilmunya.


“Kalian semua! ” Herman kesal.


“Mas Herman, kayaknya tadi bilang lagi butuh uang buat anaknya SMA ya, kan cincinnya udah dijual gimana kalau saya kasih hadiah batu akik yang sama indahnya kayak batu akik merah? Tapi jangan dijual ya, itu asli dari petapa digunung, aku jamin, Mas Herman pasti kebuka auranya setelah memakai cincin hadiah dariku, nanti aku kirim pakai kurir deh, gimana? tapi kami dimaafin ya.” Ganding membujuk, tentu si jenius memang paling bisa menyelesaikan masalah.


“Serius nih? Kalau gitu saya mau.” Herman terlihat senang, dia percaya pada Ganding karena memang melihat kawanan memiliki ilmu ghaib, dari ikatan ghaib dan kemampuan mereka.


“Ya serius, janji deh saya bakal kasih.” Ganding serius.


Lalu Herman pulang, Ganding akan mengirimkan cincinnya nanti kalau mereka semua sudah selesai dengan kasus ini.


Setelah memastikan semua korban sudah sehat, mereka melipat tenda dan pulang ke makas, akhir-akhir ini mereka lebih sering ke markas, karena gua Alka terlalu kecil untuk mereka, markas ghaib milik Mulyana lumayan besar, sedang markas baru yang sangat besar itu, seperti kantor bagi mereka.


“Dit, nih ayam goreng kesukaanmu.”Ganding memberikan ayam goreng dan semua orang tertawa, itu adalah makanan yang membuat Aditia sadar kalau Manushbala bukan ayahnya.


“Dit, kamu sadar kalau Pak RT pelakunya dari mana?” Alka bertanya, mereka semua makan di meja makan, makan malam tepatnya.


“Saat kerisku menyentuh leher Herman dan Herman masih tak mau memberitahu keberadaan cincinnya.”


“Oh aku tahu, kau pasti langsung sadar, karena setiap manusia akan memberitahukan apapun yang dia tahu, begitu terancam nyawa, atau bahkan ketika mereka tahu jika pilihannya mati atau jujur, mereka akan jujur, jadi kalau Herman tidak jujur bahkan setelah yakin sudah diujung tanduk nyawanya, artinya Herman memang benar-benar tidak tahu apa-apa. Kau semakin pintar Dit.” Ganding bertepuk tangan.


“Kau pikir aku bodoh!” Aditia kesal mendengar Ganding mengejeknya.


“Tapi yang aku bingung Dit, apa motif Pak RT?” Hartino bertanya.


“Saat ini, dia buron Polisi, kemungkinan dia pulang ke kampung keluarga istrinya, aku melaporkan dia atas tuduhan menipu dan praktek pesugihan, walau dia tidak melakukan pesugihan dengan tumbal, dia hanya memberi wadah pada Manushbala, yaitu sebuah kendi kayu yang dikubur di bawah tanah di kamar pemujaan itu.


Kemungkinana Manushbala menipunya juga, sepertinya kali ini motifnya bukan harta.”


“Apa Dit? Biasanya selalu uang?” Ganding juga penasaran seperti Hartino.


“Pak RT tidak punya anak, dia dan istrinya sudah menikah cukup lama, belasan atau bahkan puluhan tahun, mungkin itu yang dijanjikan Manushbala padanya, seorang anak dari rahim istrinya.”


“Manusia, manusia, mudah sekali ditipu setan, jelas yang kasih anak itu Tuhan, bukan setan, kenapa mintanya ke setan, bodoh sekali.” Hartino menyindir dirinya sendiri, dia kesal karena Alisha sempat tertipu oleh Esash, tapi Hartino tetap menyalahkan dirinya sendiri karena Alisha melakukan itu untuk dirinya.


“Har, orang kalau udah putus asa, dia bisa melakukan apapun diluar batas, makanya keimanan adalah pagarnya, supaya setiap manusia punya batas.” Aditia sangat bijak menyikapi kekecewaan sahabatnya.


“Jadi kasus ini kelar ya, biar aku dan kakak tulis di kitab kita, buat anak cucu kita kelak Dit, kalau mereka juga bersedia melanjutkan tugas kita.” Ganding tertawa kecil.


“Ya, ini sudah selesai, lihat si badut menggemaskan itu, dia sudah di botol kaca di markas ini, tidak bisa menciptakan karakter tukang bubur setan untuk mengganggu orang yang memang sudah punya sifat gelap dalam hatinya.

__ADS_1


Kalau kalian gimana? masih suka menyakiti hati Author dengan minta crazy up terus? Nih aku kasih crazy up, senang kalian?


__ADS_2