Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 201 : Tinung 5


__ADS_3

"Ini rumah ketiga Har." Alisha mengingatkan, karena setelah menanyai tiga kepala keluarga dari tiga rumah mereka tidak mendapatkan hasil apapun.


"Ya terus?" Har terlihat tersinggung, karena dia yang dari tadi bertanya.


"Aku merasa pendekatanmu terlalu aktif, mereka jadi merasa curiga."


"Maksudmu?" Har mulai kesal, kerena dia merasa disepelekan.


"Nggak, maksudku tuh gini, kita kan mau bangun mesin listrik tenaga surya, seharusnya kau buka dari sana dulu, jangan langsung tanpa tedeng aling-aling kau bertanya ke arah sana. Mereka pasti enggan jawab, Har."


"Yasudah, aku mau melihat kau mengajarkannya padaku." Har mempersilahkan Alisha untuk melakukan apa yang dia katakan barusan. Alisha tersenyum, karena cara paling cepat untuk membuat lelaki memperhatikanmu adalah, sentuh harga dirinya. Buat dia ingin mengalahkanmu, begitu dia berhasil mengalahkanmu dan merasa menang, sebenarnya dia ada di genggamanmu, karena dia melakukan apa yang sebenarnya kau arahkan, semakin dekat denganmu, karena hakikatnya lelaki itu suka bersaing.


Alisha mengetuk satu rumah, seorang lelaki keluar, dia tersenyum dengan ramah. Mungkin karena Alisha terlihat cantik.


"Kang maaf ganggu, kami petugas dari pusat untuk pembangunan listrik, nama saya Lais, apakah ada waktu, kami mau tanya-tanya untuk keperluan pembangunan tersebut."


"Oh boleh, silahkan duduk." Lelaki pemilik rumah itu mempersilahkan Alisha untuk duduk di halaman yang kebetulan ada bangku terbuat dari rotan.


"Kami rencananya akan membangun mesinnya di tempat yang terbuka, agar mesin terpapar matahari lebih maksimal, sehingga selama seharian mesin bisa menyimpan listrik untuk digunakan pada malam hari oleh warga.


Cuma begini Kang, kami kesulitan mencari lahannya. Kami sedang mensurvei semua orang yang kira-kira rumahnya mau dijadikan sebagai tempat untuk membangun mesin itu, karena tempat yang kami piki bagus itu, adalah rumah milik warga."


"Wah, kalau dibangun mesin di rumah warga, lalu apakah rumah tersebut akan dirobohkan?" Tanya lelaki itu, wajahnya terlihat serius.


"Iya , betul Kang, tapi konpensasinya bisa lebih tinggi dari harga pasaran, bahkan dua sampai tiga kali lipat dari NJOP, nilai jual objek pajak Kang, atau nilai tanah pada saat ini."


"Oh begitu, wah bisa jadi kabar baik itu."


"Betul, makanya kami tanya warga, tentang hal-hal dasar yang harus kami ketahui tentang desa ini, tanahnya, budayanya dan juga terakhir adalah mitos-mitos yang harus kami hindari. Biarpun kami dari kota dan sudah modern, kami cenderung orang-orang yang menghargai budaya."


"Kalau budaya dan adat sih, ya biasa aja, kalau mau apa-apa harus ada selametan dulu, kalau mitos .... tidak tahu ya, apakah ada hubungannya dengan pembangungan mesin itu, tapi sebaiknya kalian tahu, agar tidak heran, jika suatu saat, desa kami malam hari ramai ketika seorang anak berumur enam bulan."


Kena! Alisha tersenyum dalam hatinya, Hartino terlihat kesal, karena Alisha berhasil mengorek informsi dari lelaki ini modal bualan.


"Oh ya, ada apa itu?" Alisha seolah tidak tahu


"Di desa kami ada mitos tentang anak perempuan yang lahir dengan tanda lahir di wajah, pada usianya yang ke enam bulan, dia akan meninggal dunia karena ...."


"Sakit?" Alisha menebak asal, agar lelaki itu semakin terpancing untuk cerita.


"Bukan sakit, tapi ... diambil oleh Ti ... Tinung." Lelaki itu berbisik.


"Hah? Tinung penculik?" Alisha terus membuat lelaki itu berbicar semakin jauh.


"Bukan! Tinung bukan manusia, dia adalah ... setan!"


"Ihhh!" Alisha terlihat ketakutan dia berakting, "saya nggak percaya gitua Pak, mana ada begituan, itu cuma dongeng aja kali."


"Enggak dongeng! Beneran kejadian kok, saya kan ada saat itu terjadi, kami yang menunggu anak terakhir yang diambil Tinung, semua kesirep, kami dinyanyikan lagu anak-anak dan akhirnya bermain kayak gini." Lelaki itu menirukan permainan jaman dulu khas anak dari keturunan Sunda.


"Hah? Trus anak itu gimana?" Alisha mencoba mengorek terus.


"Ya, anak itu meninggal saat kami semua sadar, entah apa yang dilakukan Tinung pada anak-anak itu."


"Anak-anak itu? Memang banyak yang meninggal dengan tanda lahir diwajah? Aneh sekali."


"Ya, banyak! Nih ya ...." Lelaki itu mulai menyebutkan nama-nama anak yang lahir dengan tanda wajah dan meninggal pada umurnya yang ke enam bulan.


Har merekam pembicaran mereka dengan telepon genggamnya, agar nanti dia bisa cari identitas anak-anak itu, apa kesamaan yang membuat mereka lahir dengan tanda itu.

__ADS_1


"Wah banyak juga ya menjadi korban Tinung, Kang, itu meninggalnya deketan apa gimana?"


"Hmmm, kalau tidak salah si anak terakhir yang meninggal itu hari rabu, lalu yang sebelumnya saya lupa euy, tapi jaraknya nggak lama sih, sekitar beberapa bulan saja."


"Kalau begitu, kami akan hati-hati deh, saat ada anak enam bulan mempunyai tanda di wajah, kami akan mengerti ketika itu warga akan berkumpul untuk menjaga kan, Pak?"


"Betul Neng, makanya, hati-hati aja, di desa ini, semua masih banyak pantangannya."


"Kami akan ingat itu Pak, terima kasih ya."


Alisha dan Hartino lalu pamit pulang.


"Kan bisa?" Alisha merasa menang.


"Nggak karena skill itu sih, Lais. Itu karena wajahmu, makanya lelaki itu menjawab dengan sukarela."


"Memang kenapa wajahku?" Alisha pura-pura tidak tahu.


"Ya, enak dipandang." Wajah Hartino memerah.


"Maksudmu cantik kan?" Alisha mengatakan itu dengan tenang, Hartino yang jadi gugup, dia juga bingung, kenapa dia bisa gugup begini.


"Mimpi kau, yaudah, yuk kita ke rumah selanjutnya."


Karena mereka berdua tidak bisa menanyai keluarga korban bayi terakhir yang meninggal akibat Tinung, sebab istrinya masih dalam keadaan sakit mental serta suaminya menjaga istrinya. Makanya, mereka akhirnya menemuia bayi yang sebelum bayi terakhir yang meninggal. Mungkin yang ini sulit, karena pendekatannya tidak bisa seperti tadi.


"Kita akan bicara apa?" tanya Hartino.


"Apakah kita jujur kalau sedang ingin membantu?" Alisha mencoba memberi solusi.


"Cuma kakak yang boleh jujur, karena cuma kakak yang bisa menilai suatu kondisi. Sehingga jujur itu jadi pilihan bersama."


"Tidak, kita rembukan saja dulu." Hartino menolak.


Hartino berjalan hendak menjauhi rumah dari korban Tinung itu, tapi Alisha malah berjalan ke arah sebaliknya.


Hartino mencoba mengejarnya tapi terlambat. Seorang perempuan keluar dari rumah itu. Alisha terlihat langsung berbicara padanya.


Hartino terlambat untuk mencegah, Alisha bergerak tidak sesuai perintah.


"Jadi begitu Bu, bisa kami sebentar bicara soal pembangunan listrik itu?" Alisha terpaksa memakai alasan yang sama, daripada salah lebih baik nekat dengan cara lama.


"Oh boleh kok, silahkan masuk kita bicara di dalam."


Alisha dan Hartino dipersilahkan masuk oleh wanita itu. Mungkin dia ibu dari anak korban Tinung, korban sebelum bayi terakhir yang meninggal di usia enam bulan.


Alisha terus menjelaskan apa yang mereka maksudkan dengan bertamu, hingga di suatu titik dia merasa bisa masuk ke dalam masalah Tinung.


"Bu, sepi sekali, anaknya sekolah ya?" Hartino langsung melotot, dia kesal Alisha jelas tahu ibu ini tidak punya anak, dia malah sengaja bertanya.


Raut wajahnya menjadi berbeda, kesedihan jelas di sana.


"Maaf Bu, apakah Ibu sakit?"


"Tidak, tidak. Maaf ... saya tidak punya anak."


"Oh, maaf ya Bu, saya salah bicara."


"Tidak apa-apa, ini bukan salahmu. Saya sebenarnya sempat punya anak, tapi ...." Ibu itu menahan perkataannya.

__ADS_1


"Ada apa ya, Bu? Apakah ini mitos tentang Tinung?" Alisha menembal pertanyaan.


"Kalian tahu tentang Tinung?"


"Iya, kebetulan kami sebelumnya diperingatkan tentang Tinung."


"Ya, anak saya meninggal karena Tinung. Walau anak kami lahir dengan tanda lahir di wajah, tapi bayi itu cantik sekali. Kami sangat menyayanginya." Ibu itu mulai menangis.


"Bu, boleh tahu, hari apa bayi itu meninggal?" Alisha hanya ingin memastikan sesuatu.


"Hari ...."


...


Mereka sudah berkumpul kembali di rumah angker. Semua orang membawa informasi.


Ganding mulai dengan kegagalan yang jauh lebih banyak dibanding yang lain.


Bagaimana itu mudah, karena apa yang mereka cari berbanding terbalik dengan apa yang akan mereka lakukan di desa ini.


Tapi ada beberapa poin yang Ganding dapatkan, yaitu, "Semua anak yang lahir dengan tanda itu, memiliki wangi yang sama."


"Iya!" Alka dan Aditia berteriak, itu informasi yang mereka dapat dari Mbah Nuraeni.


"Baiklah, kalau begitu apa yang kalian dapat?" Laka bertanya pada Alisha dan Hartino.


"Agak sulit memang awalnya, karena mereka akan jadi tidak percaya ketika kami datang bertanya tentang mitos itu. Beruntung Lais menemukan cara lebih baik dalam menggali informasi.


Tapi walau begitu, cara terakhir aku agak kesal, Lais sengaja bertanya tentang anak pada ibu yang lehilangan anaknya. Bukankah itu menyakitkan?" Hartino protes karena di sepanjang perjalanan tidak sempat marah.


"Kadang, untuk mendapatkan hal yang kita inginkan, memang perlu melewati rasa sakit Har, dunia tidak berjalan sesuai yang kau perintahkan. Makanya kita harus jauh lebih pintat jika ingin selalu menang."


"Iya, tapi bukan begitu cara kerja tim kami. Kami selalu meminimalisir menyakiti orang lain."


"Aku tidak menyakitinya, aku melindungi kita dari ketahuan menyamar." Alisha membela diri.


"Tidak! Itu pembenaran, kau menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan yang kau inginkan termasuk menyakiti orang!" Hartino bersikeras.


"Kau memang tidak pernah menyakiti orang?" Alisha juga tidak mau kalah.


"Tidak!"


"Yakin?!" Alisha yang tahu dengan jelas bahwa Hartino tidak pernah ragu menyakitinya kali ini terbawa emosi.


"Ya, aku yakin!"


"Mana mungkin lelaki setampan kau tidak pernah menyakiti wanita." Alisha mulai keluar konteks.


"Kau pikir aku lelaki macam apa?!"


"Kalian berdua, DIAM!" Alka berteriak, Hartino dan Alisha kontan diam.


"Maaf kak." Hartino meminta maaf.


"Sorry Alka." Alisha kali ini yang minta maaf.


"Lanjutkan cerita kalian, jadi apa yang kalian dapatkan?" Alka mengingatkan apa yang sebenarnya harus mereka sampaikan.


"Kami tahu bahwa ada kesamaan lain selain wangi itu, selain wangi kembang tujuh rupa dan pandan. Anak-anak bayi itu lahir di hari rabu. Menurut paririmbon orang Sunda, atau orang jawa menyebutnya Primbon. Hitungan hari lahir itu adalah angka tujuh. Angak tujuh selalu dianggap sebagai angka keberuntungan."

__ADS_1


"Jadi maksudmu ...." Alka mulai menangkap maksud dari penjelasan Alisha.


__ADS_2