Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 57 : Janggit Benthangan 12


__ADS_3

Malam semakin larut, lubang-lubang yang dibuat dari tubuh Jarni masih menganga, Jarni lemas, dia tertidur hampir jatuh ke sungai, namun dipegang oleh khodamnya agar tidak jatuh ke air.


“Bawa kembali ke hutan, tubuhnya bereaksi atas pengambilan serpihan tersebut, Ganding, kau baik-baik saja?” Alka bertanya.


“Agak berat seluruh badanku.”


“Ya, kau menanggung ajian wahita yang dimiliki Raja itu, kau harus kuat dan menyesuaikan diri, memang berat, tapi ini semua untuk Jarni.”


“Ya, Kak, aku lakukan ini untuk dia.” Ganding berkata dengan sungguh-sungguh.


Setelah sampai gua Alka, semua duduk dengan harap cemas menunggu Jarni bangun, setelah menunggu sekitar satu jam, akhirnya Jarni bangun.


“De, bangun dulu.” Alka membantu Jarni duduk.


“Kak, kok aku di sini?” Jarni bertanya.


“Memang seharusnya kau dimana?”


“Aku … kita terpisah Kak, aku sendirian, lalu ada seseorang yang datang, aku merasakan dia bukan manusia, setelahnya aku tidak ingat apapun.”


Sepertinya Jarni sudah sadar.


“Coba lihat dia, siapa dia?” Alka tadinya berada tepat di depan Jarni, sekarang dia bergeser sehingga Ganding terlihat.


“Ganding, lah! Apaan sih, Kak!” Jarni kesal, Alka tersenyum.


“Ganding, terlihat seperti apa?”


“Ya terlihat seperti Ganding! Dia memangnya harus terlihat seperti apa?” Jarni kebingungan.


“Dia tidak terlihat pendek, hitam tanpa alis dan ….”


“Siapa itu, Kak? Masa Ganding terlihat seperti itu.” Jarni semakin bingung.


“Ok, sekarang kamu pulang ke rumah dulu, jin penggantimu di rumah sudah terlalu lama, dia tersiksa karena orang tuamu selalu memaksa untuk mengikuti mau mereka.” Alka meminta Jarni pulang, tidak lama supir Jarni menjemput, tentu supir-supir anak-anak kaya itu selalu dikendalikan dengan khodam mereka, sehingga tidak ingat menjemput mereka di tempat-tempat yang aneh.


Setelah Jarni masuk mobil dan pulang, Alka meminta Hartino, Ganding dan Aditia berkumpul.


“Jadi, kenapa Jarni terlihat seperti tidak terjadi apa-apa, seharusnya dia menjadi tergila-gila pada Ganding, kan?” Aditia tidak sabar karena penasaran.


“Aku tidak begitu yakin, tapi, sepertinya, ini adalah karena energi Ganding cukup kuat, sehingga membuat Ajian Wahita itu menjadi netral.”


“Begitu?” Ganding terlihat kecewa.


“Lu maunya, Jarni tergila-gila sama lu? kecewa ya?” Hartino memang terkadang menjadi menyebalkan.


“Lu mau gue hajar?” Ganding kesal.

__ADS_1


“Nggaklah, gue kalah kalau berantem sama lu, sama Adit aja kalau mau berantem, Dit, wakilin ya.”


“Ah elu, laki kok nggak berani berantem.” Aditia meledek.


“Sayang muka gue, mahal ini perawatannya, beda sama kalian.”


“Wah, sial! maksud lu, kita berdua kurang perawatan!” Ganding protes.


“Kalian mau aku lanjutin teoriku nggak, sih?! bercanda mulu!” Alka yang kali ini kesal, bersama tiga orang lelaki labil memang tidak mudah.


“I-iya Kak, jangan ngambek dong.” Hartino membujuk.


“Jadi kemungkinan itu yang menyembuhkan Jarni, tapi sebagai langkah pencegahan, Jarni tidak akan pernah ikut kalau kita harus terpaksa ke dunia mereka lagi, aku tidak mau Jarni kena ajian lagi.”


“Tapi kak, bisa ceritain detail nggak sih, gimana Jarni bisa kena, Hartino cuma bilang jarni kena Ajian Wahita, udah gitu aja.” Ganding bertanya.


“Aku tidak tahu pasti, tapi kemungkinan saat Jarni melihat mata Raja jin itu, Ajian Wahitanya terkena secara tidak sengaja, pada prinsipnya pelet itu berat dan sulit disembuhkan, apalagi ini sebuah ajian atau ilmu dengan tingkat tinggi, sulit menyembuhkannya bahkan hampir tidak mungkin, makanya ada sebuah cara untuk mengelabui ilmu itu, yaitu tukar srabat, tukar tuan pemilik ajian itu. Karena pada prinsipnya penyakit yang tidak bisa disembuhkan, paling tidak bisa dibuat lebih ringan, pada kasus ajian wahita ini, yaitu dengan tukar srabat itu.” Alka menjelaskan dengan panjang lebar.


“Mulai sekarang aku akan menjaga Jarni lebih baik lagi, Kak.”


“Tidak Nding, kamu tidak salah, yang salah Kakak, seharusnya aku menjaga kalian, tapi kemarin aku terlalu fokus pada arahan dari Dina.”


“Dina?”


“Oh ya, kau belum tahu ya, identitas wanita yang setan itu adalah Dina, dia sudah menghilang sekitar dua minggu, sekarang kita sedang mencari pelaku yang menguburnya di hutan pinggir tol itu. Tapi jujur, kami menemukan jalan buntu.”


“Hmm, kami sudah cek sangat jauh, jadi berdasarkan teman dekatnya Dina, aku dan Aditia jadi tahu, kalau Dina berpacaran dengan Pak Budiman, dia lelaki yang telah memiliki istri. Pada saat hari dimana Dina hilang, dia ternyata melamar pekerjaan ke sebuah yayasan penyalur tenaga kerja luar negeri, anehnya, pemilik yayasan itu adalah istri Pak Budiman.”


“Jadi, istrinya yang mengubur Dina di sana?”


“Itu dia masalahnya, aku yakin bukan dia pelakunya.”


“Kalau begitu Pak Budiman.”


“Dia ada di lokasi tambang tengah laut, berdasarkan absensi, dia ada di sana, jadi kemungkinan bukan dia juga.”


“Kakak yakin kalau Bu Budiman bukan pelakunya dari mana?”


“Dia masih terlihat emosi saat aku menyebut nama Dina.”


“Oh ya, seharusnya kalau dia yang bunuh, dendamnya sudah tersalurkan, jadi rasa benci tersebut seharusnya sudah berganti menjadi rasa takut, karena dia telah melakukan tindak kriminal. Kalau dia masih benci juga, berarti dendamnya belum tersalurkan.”


“Ya, itu yang aku yakini, Nding.”


“Kau tidak curiga pada keluarganya?” Ganding membuat mata Alka terbelalak.


“Maksudmu?”

__ADS_1


“Ya, kau tahu, terkadang, orang yang paling jahat itu adalah orang terdekat, dalam banyak kasus pembunuhan, tersangka bisa jadi sangat dekat, orang yang selalu berinteraksi dengannya, jadi tahu kesehariannya, lalu dia bisa mendapatkan kesempatan untuk melakukan kejahatan pada korban. Contoh, si pembunuh Simmons, dia menghabisi empat belas anggota keluarganya sendiri. Lalu John List, dia membunuh istri, ibu dan anaknya sendiri. terakhir Steven Sueppel istri dan empat anaknya dihabisi dengan kejam, kau sudah menyelidiki latar belakang keluarganya?”


“Astaga! Itulah kenapa aku perlu selalu berdiskusi denganmu Nding, kau selalu bisa menemukan hal-hal yang kadang aku lupakan.” Alka menjadi bersemangat, ada raut cemburu dalam wajah Aditia melihat Alka memuji Ganding, tapi dia tahu, kalau Alka menganggap semuanya sebagai adik angkat. Mereka tumbuh bersama dari kecil di bawah asuhan ayahnya.


“Sekarang aku sama Aditia akan mengawasi keluarganya, Har, cari sebanyak mungkin informasi tentang keluarga Dina, kedua kakaknya, ibunya dan ayahnya, beritahu aku apapun yang kau dapatkan, sesepele apapun, bisa jadi itu jawaban yang mendekatkan kita pada pelaku. Nding, kamu jagain Jarni ya, sementar kita semua menyelesaikan masalah Dina.” Alka dan Aditia lalu berjalan keluar, mereka menaiki angkot Aditia dan akan pergi ke rumah Dina lagi.


Sementara itu, jauh dari sana, mobil Jarni sudah melaju ke arah rumahnya.


“Mbah, kau tahu, kenapa aku jadi rindu Ganding ya?” Jarni berbicara pada supir yang sudah kerasukan khodamnya Jarni.


“Entah.” Jawabnya singkat, tentu saja dia tahu.


“Aku ingin bertemu dengannya, padahal tadi bertemu.”


“Kau ingin aku mengantarmu kembali ke gua Alka?”


“Tidak, aku malu, aku takut dia tidak suka padaku, dia … terlalu cerdas untuk aku yang banyak kekurangan ini.”


“Siapa bilang, kau itu cantik Cu, kaya dan hebat.”


“Masa, tapi itu saja tidak cukup rasanya untuk bisa meluluhkan Ganding.”


“Yasudah kita pulang saja ya.”


“Tapi aku ingin bertemu dengannya, aku pura-pura sakit sajalah, biar dia datang menjenguk.” Jarni lalu mengirim pesan pada Ganding melalui telepon genggamnya.


[Aku tidak enak badan, rasanya badanku sakit, di bahu, di lengan dan di ubun-ubun, maukah kau datang melihat keadaanku.] Jarni memang selalu kaku dalam berbicara, bahkan dalam pesan singkat pun.


[Aku akan datang ke rumahmu, lewat jendela ya, biar bisa menemanimu tidur.] Ganding membalas hanya satu detik kemudian.


Jarni tertawa karena senang.


“Kau bukannya sudah suka padanya dari dulu?” Khodam itu bertanya.


“Entahlah, sekarang aku merasa, sulit bernafas jika berjauhan dari Ganding, aku sangat ingin terus bersamanya, rindu ini berat sekali.”


Mobil melaju hingga akhirnya sampai, tukar srabat ternyata berhasil, tapi bisa jadi ini jalan Tuhan menyatukan dua hati yang sama-sama polos dan bodoh.


____________________________


Catatan Penulis :


Yuk tebak yuk, udah deket nih, siapa kira-kira yang bunuh, pasti udah pada bisa jawab, cluenya udah banyak tuh.


Btw kemarin ada yang coment kenapa Raja kasih Ajian Wahita kalau tidak suka, lalu kenapa nggak dipatahin. Itu aku kasih jawabannya di atas ya, jadi konsepnya dari awal, memang bukan raja yang kasih ajian itu, tapi Jarni tidak sengaja terkena karena melihat mata Raja Jin, pada part 51 sudah aku jelaskan ya, berkali-kali aku tulis kata KENA AJIAN WAHITA, artinya kena secara tidak sengaja, bukan Raja yang kasih ajian itu secara sengaja, lalu kenapa nggak dipatahin, jawabannya di atas ya. Biasanya aku jarang sekali menjelaskan maksudku, karena akan merusak sisi teka-tekinya, tapi karena ini bukan jawaban dari teka-teki dan aku mencoba menghindari salah paham, makanya aku jelaskan, tentu pada kasus teka-teki aku tidak akan jawab, supaya kalian menjadi pemilik dan menikmati imajinasi kalian sendiri.


Oh ya, AJP sudah kontrak ya, jadi mohon dukungannya, jangan lupa vote, kasih hadiah atau tips juga boleh, yang paling penting, jangan lupa follow akunku.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2