
TIGA TAHUN LALU
“Hei, hei, hei.” Ganding menengok ke belakang, saat itu umurya baru 6 tahun, dia baru saja masuk sekolah dasar selama beberapa bulan ini, tapi setelah pulang sekolah pasti ada saja yang suka panggil tapi nggak tahu siapa.
Ganding selalu pulang lebih telat karena di suka baca buku, dari umur tiga tahun Ganding memang sudah bisa baca, dia termasuk anak jenius, hobinya adalah membaca.
Ganding meneruskan jalannya ke arah gerbang sekolah.
Brak!!!
Pintu kelas di belakangnya dibanting, dia cukup terkejut karena suaranya cukup kencang.
“Siapa itu?!” teriaknya.
Ganding menghentikan langkah, di titik ini, dia juga sudah mengenal bahwa adanya dunia alam lain, tapi tidak terlalu yakin.
Ganding berjalan ke arah pintu yang dibanting tadi, dia hanya ingin memastikan. Langkahnya perlahan tapi terarah, setelah sampai pada kelas itu, tidak ada siapa pun di kelas itu, kosong, seperti kelas-kelas lain yang telah dia lewati.
Dia mundur perlahan, dalam hatinya mulai bertanya, apa itu tadi, apalah hantu? dia segera menghentikan rasa penasaran dan bergegas kembali berjalan untuk pulang, baru saja beberapa langkah, tapi semua pintu akhirnya dibanting secara bergantian setiap kali selesai dia lewati, pada pintu ketiga dia semakin penasaran, apa itu, kenapa seolah sengaja dibanting setelah dia lewat, sudah pasti apa pun itu, maksudnya adalah untuk menarik perhatiannya.
“Siapa kamu?! mau apa kamu?!” Ganding berteriak.
Angin bertiup cukup kencang, udara menjadi sangat dingin, Ganding sampai bergidik.
“Gannnn … nddinggg …,” Panggil suara itu. Yang entah dari mana, suaranya lirih dan serak.
Ganding berputar mencoba mencari siapa yang mencarinya. Kosong, tidak ada siapa pun.
“Apapun kamu, kalau ingin bicara, tunjukan dirimu!” Ganding menantang.
Hening, masih tak ada siapa pun.
“Kalau kau tak mau menunjukan dirimu, maka bukan salahku mengabaikanmu!” Ganding berjalan, tapi tiba-tiba ada batu yang terkena pada kakinya, dia jongkok dulu karena cukup sakit, saat menengok ke belakang, karena arah batu dari belakang, sudah pasti yang menimpuk batu itu dari belakang, tapi lagi-lagi tak ada orang, dia kembali menengok ke depan dan ….
“Astaga!” Ganding mundur dengan spontan, ada sesosok tinggi besar, seluruh badannya di penuhi bulu sampai ke wajah, dia mengenakan kain hitam sebagai baju, sosok itu cukup tinggi, Ganding kaget karena tidak pernah melihat manusia dalam tampilan seperti itu.
“Kau, bukan manusia kan?” setelah berhasil menangani keterkejutannya, Ganding bertanya.
Makhluk itu berjalan mendekati Ganding, setelah dekat, dia membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada Ganding.
“Bau, bisa kau mundur sedikit.” Ganding memang terkenal tidak mudah takut.
Makhluk itu mendengus lalu mundur dan berdiri di depan Ganding lagi, memang tercium bau anyir yang cukup tajam saat makhluk itu mendekat.
Ganding berdiri kembali, “Kau mau apa?” tanyanya lagi.
Makhluk itu hanya menunjuk pada Ganding.
“Kau ingin aku? tidak bisa, aku adalah manusia, kau entah apa, nanti aku cari dulu di buku ya, jadi jangan minta hal yang tidak bisa aku berikan.” Ganding lalu berjalan melewati makhluk itu, sementara makhluk itu ternyata mengikutinya.
“Kau ngapain ikut?” Ganding protes, dia khawatir kalau makhluk itu ikut sampai rumah, dia akan dimarahi mommynya.
Mobil sudah diparkiran, Ganding menghampiri mobilnya dan supir sudah ada di dalam mobil.
“Pak, maaf ya saya terlambat.” Ganding memang seseorang yang santun, walau sangat keras dan berprinsip di umurnya yang masih sangat belia.
“Lah, dia ikut.” Ganding berkata.
__ADS_1
“Kenapa?” Supir bertanya.
“Loh emangnya ….”
[Sepertinya bapak supir nggak lihat makhluk itu.] Ganding berkata dalam hatinya, karena supir itu tidka bertanya sama sekali begitu makhluk berbulu ikut masuk mobil dan duduk di belakang.
“Kenapa Tuan Ganding?”
“Nggak apa-apa Pak, yuk jalan pulang, aku ada jadwal les di rumah.”
“Iya Tuan,” jawab supirnya, lalu dia melajukan mobil untuk pulang.
Ganding sudah sampai rumah, makhluk itu masih saja mengikutinya, Ganding ingin mengusir, tapi ada perasan penasaran yang membuat Ganding semakin ingin tahu, sebenarnya apa sih makhluk ini, tidak ada yang bisa melihatnya selain Ganding, berarti aman, mommy dan daddy tidak akan marah, karena tidak bisa melihatnya, tapi dia harus berhati-hati saat berbicara dengan makhluk berbulu itu.
“Kau punya nama?” Ganding bertanya. Dia sekarang sudah berada di perpustakaan setelah les bersama guru les panggilan, dia bertanya pada makhluk itu, makhluk itu hanya diam dan berdiri di depannya.
“Tidak menjawab, berarti aku akan memberimu nama, karena akan lebih mudah bagi kita berkomunikasi jika saling tahu nama, bagaimana kalau Si Bulu? kau tidak keberatan kan?”
Makhluk itu masih tidak menjawab, karena itu Ganding mulai mencari buku tentang dunia lain, ternyata ada, di bagian paling belakang perpustakaan ini, pasti eyangya Ganding yang dulu mengumpulkan buku-buku ini, terlihat dari debu yang begitu banyak karena jarang dibaca dan dibersihkan, memang jangkauannya cukup sulit, yaitu terletak di lemari perpustakaan paling belakang dan paling atas.
“Seharusnya mereka membersihkan buku-buku berharga ini, aku tidak mengapa jika mereka melewatkan yang lain, tapi jangan pernah melewatkan buku-buku ini.” Ganding masih berusaha mengambil buku itu, tapi ternyata tidak bisa karena tubuhnya masih kecil dan lemari itu tinggi sekali, di perpustakaan ini ada tangga yang bisa digeser-geser untuk mengambil buku, sayangnya tetap tidak bisa mengjangkau buku itu, kalau minta tolong Pelayan, Ganding malas, Pelayan di sini tukang pengaduan, pasti mommy nanti tahu, kalau Ganding baca buku aneh-aneh.
Tanpa permintaan, Si Bulu itu mengambilkan buku yang Ganding ingin baca, jika ada orang yang masuk dan melihat ini, pasti buku itu terlihat melayang karena bukunya di ambilkan oleh yang yak terlihat.
“Terima kasih, aku akan mencari tentangmu di beberapa buku ini, kau bisa tenang kan? sebenarnya akan lebih mudah bagimu jika mengutarakan langsung keinginanmu, tapi kau tidak sepertinya tidak bisa bicara, tidak bisa atau tidak mau?” Ganding bertanya. Tapi, masih saja tidak dijawab.
Ganding turun dari tangga perpustakaan itu dan duduk di salah satu sofa yang ada untuk membaca, dia membuka halaman demi halaman, buku itu berjudul ‘Makhluk Mitos Tanah Jawa volume 1’.
Ada banyak sekali makhluk yang diulas, tapi dia belum juga menemukan ciri- ciri yang sama dengan dengan makhluk yang dia lihat sekarang.
Sudah masuk volume dua, dia masih belum juga menemukan makhluk itu, sampai akhirnya dia berhenti pada halaman tujuh ratus dua puluh delapan, Gendruwo.
Malam hampir tiba, Ganding masih sibuk membaca, lalu pintu perpustakaan di ketuk, seorang Pelayan memanggil dan mengatakan bahwa makan malam telah siap.
“Aku makan dulu ya, aku butuh orang lain untuk berdiskusi, yang pasti bukan Mommy atau Daddy, bisa dikeluarkan dari salah satu pemegang warisan kalau aku sampai membahas dirimu, kau tahulah, aku butuh uang untuk semua hobiku, apalagi aku ingin sekolah sangat tinggi,” Ganding berceloteh. Pemikiran dewasanya terkadang terlalu reaslistis, khayalan anak kecil tidak pernah mewarnai pikirannya, dia selalu memandang semua hal dalam kacamata logika yang tajam, beberapa orang bilang ini kebijaksanaan tapi yang beberapa orang lain bilang ini pemikiran yang radikal dan belum saatnya.
“Kau tunggu di kamarku ya, aku takut keceplosan bicara denganmu dan akhirnya mereka tahu aku bicara dengan yang tak terlihat.”
Makhluk itu keluar mengikuti Ganding dan dia pergi ke kamar Ganding.
“Lagi baca apa sih si lu? ampe lupa waktu.”
“Paling aljabar atau buku science lainnya, buku-buku membosankan itu.” Kakak perempuan yang merupakan anak kedua itu meledeknya.
“Itu bukan buku membosankan, tapi itu buku yang berat, untukmu.” Ganding memang paling sulit untuk diledek, apalagi diisengi.
“Nggak usah sombong apalagi sok jenius, kau tahu kan, kalau anak jenius itu, nggak punya temen.”
Seperti biasa, makan malam akan dihiasi dengan ocehan keluarga yang sangat hangat itu, walau dipenuhi dengan pertengkaran, tapi semua saling sayang.
“Coba kasih tahu gue, apa hubungan antara nggak punya temen dan kejeniusan seseorang?”
“Nih gini hubungannya ….”
“Nih kamu mau apa lauknya?” Mommy bertanya.
“Semur aja Mom, lanjut, gue pengen tahu sejauh mana analisa lu tentang itu.” Ganding meminta kakaknya melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
“Kalau lu jenius, lu akan loncat kelas, kalau di taman kanak-kanak mungkin lu belum bisa loncat kelas, tapi di taman kanak-kanak lu juga waktu itu nggak punya teman kan, karena terlalu cepatnya elu mempelajari sesuatu, itu bukti satu ya kalau elu nggak punya teman, karena cara berfikir lu yang berat dan cepat itu nggak banyak bisa ngerti soal itu atau bahkan bisa ngimbangin lu, itu baru taman kanak-kanak, nanti kalau sekarang nih di SD, elu baru belajar beberapa bulan kan, kalau tiba waktunya guru lu kewalahan buat ngajarin lu yang menangkap terlalu cepat, dia akan usulin ke mommy sama daddy buat loncat kelas dan itu bakal jadi neraka buat lu.”
“Kenapa bisa begitu?” Ganding masih tenang.
“Ya karena elu bakal nggak nyaman dengan orang-orang yang umurnya lebih tua dari lu, pembahasan mereka kan di atas lu, gue nggak bicara tentang akademik ya, tapi gue bicara tentang kehidupan di luar akademik, elu bakal nggak nyambung dan akhirnya menyesal karena terlalu jenius.l”
“Masuk akal sih Kak, tapi pertanyaan gue, dari mana lu tau itu seolah elu ngejalaninnya, padahal, elu kan nggak jenius.” Pukulan telak dari Ganding, hanya dengan satu kalimat itu saja, kakaknya kalah.
“Heh! Anak sok jenius, gue emang nggak jenius, tapi itu masuk akal kan?”
“Masuk akal,” kata Ganding. Dia juga menyuap makannya.
“Yaudah nggak usah belagak sok jenius lagi ya.”
“Nggak, gue nggak akan belagak sok jenius … karen gue emang jenius, ngapain belagak?”
“Ih dikasih tahu malah ngeyel.”
“Siapa yang ngeyel? pointnya adalah, begini, lu bilang kalau gue sok jenius gue nggak akan punya teman, itu terpatahkan dengan, gue nggak sok jenius, tapi gue jenius, ok lah kalau lu bilang gue akan nggak punya teman kelak, tapi apakah gue butuh? butuh mereka yang dikatakan teman? Manfaatnya apa? cita-cita gue bukan punya banyak teman, jadi gue bingung harus takutnya di mana?”
“Berisik lu, panas kepala gue ngobrol ama lu.” Daddy dan mommy tertawa mendengar perkataan itu.
“Nak, nanti setelah dewasa, kau akan tahu, apa manfaat teman, karena teman tidak hanya soal pribadi, tapi juga soal bisnis Nak, kita butuh relasi untuk bisa membuat bisnis berjalan lancar.”
“Oh tentu Dad, aku tahu bahwa kita butuh relasi untuk dapat melancarkan bisnis, tapi itu seharusnya bukan tema, kan? karena bisnis dengan emosi pertemanan akan berjalan buruk, karena terkadang bisnis itu mengorbankan nilai-nilai itu, apalagi jika jelas, teman kita kelak membuat bisnis kita dalam bahaya.”
Daddynya Ganding terdiam, dia sempat terpaku, dia merasa sedang berbicara dengan Mahasiswa jurusan bisnis, bukan dengan anak umur enam tahun.
“Easy Dad, dia hanya membaca buku, anak ini jagoan teori, jadi nggak usah terlalu serius,”kakak sulungnya berkata. Dia adalah mahasiswa yang kurang cemerlang, kerjanya hanya minta uang untuk keperluan tak jelas.
“Bu, semur ini siapa yang buat? kok tumben rasanya beda, sepertinya komposisi bahannya berbeda.”
“Nding!!!” Semua orang kesal karena Ganding protes dengan analisa yang terlalu detail, itu membuat orang sakit kepala.
Apa yang dikatakan kakak perempuannya memang benar, Ganding tidak punya teman, dia merasa tidak ada yang mengerti perkataannya, dia merasa temannya tidak nyaman dengan minat bacanya yang luar biasa, dia meresa topik pembicaraannya sangat berbeda dengan mereka.
Ketika di taman kanak-kanak dulu, saat teman-temannya sednag ngobrol tentang betapa hebatnya Doraemon dengan kantong ajaibnya, Ganding datang dengan topik, bahwa Fujiko F. Fujio pencipta Manga Doraemon itu adalah seseorang yang menciptakan Doraemon untuk menolong seorang anak yang malas, yaitu Nobita, Ganding lalu memberi tahu teman-temannya yang baru berumur lima tahun itu tentang analisanya pada manga itu, bahwa ini mungkin saja berdampak buruk pada mereka yang tidak bersungguh-sungguh belajar, manga ini membuat anak-anak jadi malas dan berharap memiliki Doraemon dan mengatakan dengan jelas bahwa Doraemon hanya tokoh fiksi, bohongan, rekaan dan murni karangan Penulis.
Karena itu beberapa anak menangis karena tidak terima Doraemon dibilang tokoh karangan dan membuat semua anak menjadi malas, terlebih dari itu, anak-anak itu tidak mendapat point yang Ganding hendak sampaikan, orang tua Ganding sampai dipanggil karena anak-anak itu menangis tak henti, sakit hati bahwa tokoh yang mereka kagumi dihina.
Ganding jadi kesal dan marah, dia merasa telah memaparkan sesuatu yang penting, tapi kenapa teman-temannya tidak dapat menerima itu.
Terlepas dari itu, Ganding memang belum paham, bahwa dia diberi anugerah otak yang jauh lebih cemerlang dibanding teman-teman seumurnya, makanya dia fikir pemikirannya itu wajar dan bisa jadi topik yang bagus untuk ngobrol santai.
“Kau masih di sini, ku kira kau sudah pergi, aku masih bingung, kenapa kau ke sini sih?” Ganding bertanya lagi. Tapi makhluk itu masih diam saja.
“Kalau malam begini, aku merasa tampilanmu lebih menakutkan, semoga tidak hujan, karena petir pasti membuat malam ini menjadi mencekam karena ada kamu.” Ganding menyelimuti seluruh tubuhnya, ternyata masih ada jiwa anak kecil di dalam hati Ganding.
Hujan tiba-tiba datang, dia melihat ke araha makhluk itu, benar-benar terlihat lebih mengerikan jika malam hari.
“Kau bisa menghilang dulu nggak sementara, aku takut,” katanya.
Makhluk itu mengangguk dan dia pergi.
“Baguslah, kau pergi.” Ganding lalu merubah posisi tidurnya, dari menghadap ke kiri menjadi terlentang tubuhnya menyentuh sesuatu, saat dia menengok ke arah kanannya.
“Tuhan!!! Kenapa kau malah tidur di sampingku!” Ganding sampai jatuh karena kaget, bukannya menghilang dia malah tidur di belakang Ganding tadi.
__ADS_1
“Sepertinya aku akan kesulitan tidur malam ini, kita ke perpustakaan saja ya, lanjut baca, besok libur ini.”
Ganding lalu mengajak makhluk itu kembali ke perpustakaan, dia hendak mengalihkan rasa takutnya melalui membaca, sungguh kebiasaan yang aneh.