
Kabar mengenai Saba Alkamah seorang bayi yang sangat cantik tersebar denga sangat cepat, banyak warga datang berduyun-duyun untuk melihat dan membawa buah tangan, ada juga yang membawa uang.
“Pak, aku heran.” Istrinya berkata.
“Ada apa Bu?” Suaminya hendak ke hutan mencari kayu bakar, istrinya sudah tidak ikut lagi karena harus menjaga bayi mereka.
“Aku membuang sampah di belakang, ketika akan aku bersihkan, tidak sengaja beberapa helai toge tertinggal, aku tidak sadar, hingga seminggu ini tiba-tiba toge itu tumbuh Pak, Alka anak kita jadi bisa makan sayut toge.”
“Hah? bukankah tanah itu sangat tandus, kita sudah berusaha menanam padi dan juga umbi-umbian tidak ada yang berhasil, tapi ini toge hanya digelatakin saja bisa tumbuh? kau yakin”
“Ya, karena aku tidak pernah lagi mencoba menanam apapun di tanah itu. Jadi pasti itu karena toge yang terbuang di tanah yang tidak aku sadari.”
“Kalau begitu, kamu coba tanam singkong atau ubi, kalau benar tanah kita subur kembali, berarti kita bisa mulai tanam padi lagi.”
“Iya Pak, nanti aku akan ke pasar membeli pupuk dan juga bibit, tapi kalau untuk membuktikan bahwa tanah kita telah subur lagi, maka kita tanam wortel saja, karena wortel itu kan cepat, cuma sekitar dua bulan saja sudah ketahuan.”
“Ya, kau atur saja Bu, semoga benar tanah kita subur kembali.” Suaminya lalu bergegas pergi ke hutan mencari kayu bakar.
Sementara istrinya telah memberi Alka makan bubur diusia dua minggunya itu lalu bergegas ke pasar dengan menggendong Alka berjalan cukup jauh, letak pasar itu sekitar 8 kilometer, jarak yang dekat jika ditempuh dengan kendaraan, tapi jarak yang cukup jauh jika berjalan kaki.
Hari itu lumayan panas, tapi Alka terasa tidak berat sama sekali, ibu angkatnya senang dengan semua tingkah lucu Alka, bayi yang tidak pernah menangis.
Begitu sampai pasar, semua orang yang melihat Alka langsung menyambut, menitipkan sayuran, bahan masakan dan bahkan bumbu untuk makan Alka kepada ibu angkatnya.
Benih wortel pun didapat dengan gratis beserta pupuknya, walau penjual heran, kok mau beli benih wortel padahal desa mereka terkenal dengan tanah yang tandus, bibit itu biasa dibeli oleh para tengkulak untuk disebar ke berbagai penjual tanaman kecil, jadi memang ada di pasar, orang di desa itu jarang sekali membeli bibit, karena tanahnya terkenal tandus, jadi percuma menanam apapun akan tidak jadi.
Tapi ibu angkat Alka cerita bahwa togenya kemarin tumbuh liar di tanah karena tidak sengaja berserakan jatuh saat dia sedang membersihkan sampah.
Beberapa pedangan menyangsikan, merasa itu sesuatu yang sulit terjadi, jadi ya hanya menganggap sebagai sebuah lelucon saja.
Tiba di rumah ibu angkat Alka datang dengan begitu banyak tas jinjing yang dia bawa, memang berat, tapi berjalan dengan Alka membuat hatinya bahagia, jadi berat itu terasa ringan.
Begitu sampai rumah, ibu angkat Alka kaget, karena suamiya sudah sampai lagi di rumah, biasanya sore dia baru pulang.
“Pak, sudah pulang?”
“Ya, hari ini mudah sekali mencari kayu bakar, hanya dua jam, aku sudah mendapatkan sebanyak itu.” Dia menunjuk pada tumpukan kayu bakar yang cukup banyak, biasanya untuk mendapat sebanyak itu dibutuhkan waktu tiga sampai empat jam, dilakukan berdua.
“Wah kita beruntung sekali ya akhir-akhir ini, lihat, aku mendapat banyak sekali bahan masakan, ada beras, ada ikan, bumbu, sayuran dan ini bibit wortel saja gratis, aku bahkan diberikan pupuknya juga.”
“Wah, kita makan enak hari ini?” Suaminya senang, karena dia sekeluarga akan makan dengan baik seperti hari-hari selanjutnya.
Istrinya lalu meletakkan Alka di tempat tidur, dia bersiap untuk masak sembari menanam wortel dengan bibit yang sudah dia dapatkan dari penjual tadi.
Alka masih saja anteng, tidak menangis, dia diajak bermain oleh ayah angkatnya, yang istirahat sehabis mencari kayu bakar itu.
Setelah selesai memasak dan menanam, istrinya mengajak suami untuk makan siang dengan ikan goreng dan juga sayur sop, Alka makan bubur yang sudah ditambahkan dengan suiran ikan rebus, Alka lahap sekali makannya, setelah itu dia minum dan tertidur, Alka tidak meminum susu karena susu mahal dan sedari dia ditemukan, Alka memang tidak diberikan susu.
“Wah, akhir-akhirn ini kita makan enak ya Bu, aku pikir setelah memiliki Alka, hidup kita akan semakin sulit, tapi sekarang setelah dua minggu bersama dia, kita jadi sering makan enak ya Bu.” Suaminya senang karena biasanya dia makan hanya tahu atau tempe, kadang hanya makan dengan sayuran saja, seperti daun singkong atau kangkung yang dibeli di tukang sayur, kadang daun-daunan dari hutan yang sekiranya bisa dimasak, tapi sekarang sudah bisa makan ikan goreng, keluarga itu sangat bersyukur.
Alka kecil menjadi berkah bagi mereka, karena banyak yang kasih bahan masakan yang sangat berguna untuk kehidupan mereka maupun kehidupan Alka.
“Pak, tapi kalau malam aku suka merinding, entah kenapa ya, malam di rumah kita akhir-akhir ini menjadi lebih dingin dibanding hari biasanya, trus setiap jam dua malam Alka terlihat bangun dan tertawa sendiri, seperti ada yang ajak main.”
“Bu, sudah jangan terlalu dipikir yang itu, namanya anak bayi, memang begitu, dia masih sensitif dengan hal itu, jadi jangan terlalu takut.”
“Iya Pak, aku hanya merasa aneh saja.”
“Jaga baik-baik anak kita ya, jangan sampai dia sakit atau terlihat kelaparan, karena orang akan selalu memantau kita apakah benar mengurus Alka, sumbangan bahan makanan mereka pasti hanya untuk Alka, kita harus bertanggung jawab.”
“Iya Pak, aku akan ingat itu, lagian tidak susah menjaga anak ini, karena dia sangat tenang dan tidak rewel sama sekali, aku selalu senang bersamanya.”
“Ya, anak ini memang menyenangkan, dia selalu tersenyum, dia benar-benar anak yang manis dan baik, aku juga senang saat bersamanya.”
Alka menjadi perimadona di desa itu dalam waktu sekejap, anak cantik yang sangat tenang.
Dua minggu kemudian, istrinya kaget, karena bibit wortel yang ditanam siap panen, hanya dalam waktu seminggu, karena biasanya, butuh waktu paling cepat satu bulan, tapi sekarang dalam waktu dua minggu wortel itu sudah siap dipanen dengan bentuk yang cukup besar dan segar.
“Pak, lihat! Ini hasil panenku hari ini, wah, tanah kita sudah subur kembali Pak.” Istrinya senang sampai dia berjingkrak-jingkrak sembari menggendong anak angkatnya.
“Wah, luar biasa sekali, berarti kita bisa menanam padi dan yang lainnya, aku akan mencoba meminjam benih padi dan juga semua yang dibutuhkan untuk menanam padi pada juragan, kita bisa bagi hasil jika padinya siap dipanen nanti.”
“Apa kita bisa mendapatkan pinjamannya Pak?”
“Bisa, istrinya juragan kan sangat suka sama Alka, dia pasti akan membujuk suaminya untuk memintajamkan bibit padi pada kita.”
“Oh ya, istrinya juragan memang sering sekali ke sini, dia suka membawa aneka camilan dan juga beras untuk kita, semoga kau bisa mendapatkannya ya Pak, jadi kita bisa panen padi untuk kehidupan kita selanjutnya.”
“Iya.”
Lalu suaminya itu pun pergi membawa wortel hasil panen di tanah belakang rumah mereka yang hanya sebesar tiga kali tiga meter itu.
“Iya Pak, ini wortelnya, hanya dua minggu sudah sebesar ini Pak.” Ayah angkat Alka membujuk.
“Kau sudah gila, tanah kita itu tandus, aku bahkan sudah menyerah bertanam di desa ini, tanahku berhektar-hektar aku biarkan saja, nanti kalau ada uang baru bangun rumah atau yang lainnya, masa sekarang tiba-tiba tanah kita jadi subur lagi, terlalu ….”
“Pak, sejak kapan tanahmu subur lagi?” Tiba-tiba istrinya juragan datang dan nimbrung.
“Sejak beberapa minggu ini lah.”
“Sejak kedatangan Alka bukan?” Istri Juragan ini memang bisa dibilang sebagai penggemar garis keras Alka, dia yang tidak punya anak perempuan jadinya dia sangat menyukai Alka.
“Iya sih Bu, sejak kedatangan Alka, semua kebaikan menghampiri kami, tidak kurang makan lagi karena banyak yang sumbang, tanah di rumah kami juga jadi subur.”
“Kalau begitu benar, anak itu pembawa keberuntungan Pak.” Istrinya juragan terlihat bersemangat.
“Kok kau bisa bilang begitu?”
“Ini alasan aku sering datang ke rumah dan memberi kalian beras dan makanan lain, karena akan selalu ada hal beruntung lain yang aku dapatkan, misal, arisan emasku yang ditipu itu, tiba-tiba pelakunya kembali dan mengembalikan emas-emasku, padahal aku hampir saja mengganti rugi dengan uang pribadi karena aku yang membawa teman-temanku untuk ikut arisan, setelahnya, aku perhatikan, setiap kali aku memberi Alka makan, kemalangan yang akan terjadi, seperti ada penangkalnya, dari yang sederhana, orang rumah bilang hujan, tapi saat aku akan pulang ke rumah, hujan berhenti sejenak, seolah menungguku sampai rumah dulu, setelah aku sampai rumah, hujan kembali turun dengan petir menggelegar.
Itu hanya contoh-contoh sederhana, makanya aku sangat suka berkunjung, karena ketika memberikan kebaikan untuk Alka, kebaikan lain menghampiri kita.”
“Oh, kalau begitu, aku akan pinjamkan benih padinya dan semua kebutuhan untuk berladang, tapi, ada syaratnya, kau tidak perlu membayar semua yang aku pinjamkan, sebagai gantinya, izinkan Alka membantu kami membuat tanah kami kembali subur, bagaimana?”
“Jadi maksudnya Alka harus membuat tanah milik anda subur dulu, baru anda akan benih padi pada saya Pak?”
“Iya begitu.”
“Tapi saya tidak yakin apakah benar Alka membawa keberuntungan dan tidak tahu bagaimana caranya supaya Alka bisa membuat tanah juragan menjadi subur.”
“Itu gampang, kamu titip saja Alka ke kita, dua minggu, dua minggu aja, kalau berhasil kami kembalikan Alkanya, bersama benih padi dan semua yang kamu butuhkan? Gimana?” Istrinya Juragan semakin menggebu.
“Saya harus tanya istri saya dulu Pak, karena dia sangat sayang pada Alka, dia pasti sedih berpisah dengan anak kami.”
“Hanya dua minggu, kami takkan mengambil Alka selamanya, hanya dua minggu, kalau benar kita berdua untung loh.” Istrinya Juragan tidak mau menyerah.
“Baiklah Pak, Bu, saya akan membawa Alka bersama istri saya besok, semoga benar dugaan Ibu ya, bahwa Alka membawa keberuntungan.”
Begitu ayahnya sampai rumah, dia menyampaikan apa yang diinginkan juragan sebagai pertukaran, ibu angkatnya Alka, sebenarnya berat melepas Alka, karena dia sangat sayang, dia ingin anak itu tetap berada di dekatnya.
Tapi, untuk usaha suaminya berjalan lancar, dia akhirnya setuju, tapi juragan harus berjanji melepaskan Alka setelah dua minggu.
__ADS_1
Begitu diserahkan kepada istri juragan, Alka terlihat baik-baik saja, dia tidak menangis, tidak mencari ibunya atau ayahnya, dia masih tidak pernah menangis sama sekali.
Hari pertama Alka makan enak, dia masih makan bubur dengan lauk yang begitu mewah, ada ayam, telur, daging bahkan telur bebek, semua dibelikan, Alka makan lahap dan terlihat senang, dia tertawa dan mengoceh sendiri, seperti biasa.
“Kau yakin Bu, kalau dia bisa membawa keberuntungan pada tanah tandus kita?”
“Aku yakin, aku merasakan sendiri, setiap aku memberikan semua hal yang dia sukai, maka aku menjadi beruntung.”
“Lalu aku harus bagaimana sekaranga?” Juragan itu bingung.
“Kita berikan saja makanan dan baju yang dia suka, setelah itu besok beli bibit wortel Pak, kalau wortel itu mulai tumbuh daunnya, berarti berhasil, hanya sampai situ saja, kalau tumbuh daunnya berarti kita berhasil.”
“Kalau begitu, mari kita coba dulu ya.” Juragan itu ikut bersemangat.
Keesokan harinya, juragan membeli bibit yang lagi-lagi ditertawai oleh pedagang, tapi juragan itu tidak menceritakan apa yang sedang dia dan istrinya lakukan.
Setelah mendapatkan bibitnya, dia lalu menanam bibit itu dan pulang dengan perasaan penuh harap.
Sementara Alka masih saja dihujani dengan semua makanan enak, Alka juga tenang saja, tapi aneh, istri juragan terlihat tidak sehat.
“Kamu kenapa, Bu?” juragan bertanya.
“Aku mengantuk sekali, semalam tidak bisa tidur.”
“Kok gitu, bukankah Alka sangat tenang dan tidak cengeng?”
“Dia memang tenang dan tidak cengeng, tapi ….”
“Apa?”
|
|
|
SEMALAM
Istri juragan sudah terlelap, tapi dia terpaksa bangun karena ingin mengecek Alka yang ditidurkan di tempat tidur bayi dari rotan bekas anaknya dulu, dia hanya ingin memastikan Alka nyaman, tapi aneh, dia tidak menemukan Alka di tempat tidur bayi itu.
Dia panik, apa yang harus dia lakukan jika Alka benar-benar hilang, dia bisa diamuk masa. Maka dari itu, dia buru-buru keluar kamar mencarinya, tapi saat dia melihat ke arah dapur, ada yang aneh, pintu dapur terbuka, istri juragan buru-buru berlari, tidak ada waktu memanggil suaminya, dia berharap kalau ada penculik bayi, dia masih bisa kejar, tapi, saat dia sudah berada di bagian belakang rumah yang merupakan tanah yang luas, dia seketika jatuh pingsan.
Apa yang dia lihat, sampai terjatuh seperti itu?
Dia melihat Alka sedang ditimang oleh sesosok yang kakinya terikat dengan tali, bagian tubuhnya dan lehernya juga terikat, tangannya keluar sedikit dari lilitan kain putih menimang Alka.
Wajah dari makhluk itu sungguh mengerikan, wajahnya menghitam, matanya putih sempurna dalam keadaan terbelalak, serta cara menimanngya aneh, dia menimang sembari loncat-loncat kegirangan.
Sedang Alka terlihat begitu senang, dia mengoceh sendiri sembari tertawa.
|
|
|
“Kau lihat pocong di pekarangan belakang rumah?!” Juragan kaget, ini pertama kalinya dia mendengar hal semacam itu.
“I-iya, sungguh menyeramkan, begitu adzan subuh aku terbangun, aku kembali ke kamar dan melihat Alka berada di tempat tidurnya lagi, sungguh aku ketakutan Pak, pocong itu benar-benar mengerikan.”
“Jadi, kau mau mundur dengan usaha kita?” suaminya bertanya.
“Tidak, tapi aku mau kau yang menjaga Alka malam hari, aku takut.”
“Kau tidak takut Pak?”
“Kau pikir aku tidak pernah menghadapi yang begini? aku kaya bukan karena orang tua, tapi aku kaya karena aku berusaha, pesaingku bahkan pernah ada yang ingin menyantet, makanya aku tahu dunia seperti ini.”
Suaminya sombong, dia tidak tahu apa yang dia hadapi, seorang anak dengan nama sebuah mantra pembalik, mantra yang merubah nasib buruk menjadi nasib baik, tapi hanya sementara.
Malam tiba, istrinya juragan menjaga Alka, dia tidak tidur, beberapa pelayan tidur di ruang tamu tepat di depan pintu kamar juragan.
Semua terlihat tidak mengantuk, ada yang makan kacang, minum kopi dan bernyanyi, suasana sungguh ramai, istri juragan memutuskan untuk tidur, karena dia lelah, semalam tidak tidur dan semat pingsan.
Waktu menunjukan pukul satu malam, suasana tiba-tiba hening, juragan terlihat mengantuk juga, tapi dia bertahan untuk tidak tidur, dia ingin menjaga anak pembawa keberuntungan ini.
Dia terus berusaha membuka matanya, menjaga Alka yang ada di tempat tidur bayi, semakin dia tahan semakin terasa kantuknya.
Lalu juragan tertidur dalam hitungan detik, dia terlelap, tapi kemudian terbangun lagi, dia kaget karena tidak sadar sempat tertidur, dia bangun dan mengucek matanya sembari menggeleng-geleng agar kantuknya hilang, lalu setelah memastikan bahwa dia sudah tidak ngantuk, juragan kembali melihat kea rah tempat tidur Alka dan betapa kagetnya dia, ternyata tempat tidur itu kosong! tidak ada Alka di sana, juragan seketika langsung takut anak itu hilang.
Dia buru-buru keluar, saat keluar, dia melihat semua orang tertidur, tergeletak begitu saja, bahkan ada yang tidur dalam keadaan duduk, tidak bersandar hanya tertunduk, sementara rokok yang ada di tangannya masih menyala, mereka seperti bukan tidur karena mengantuk, tapi tidur karena kena sirep.
Juragan membangunkan satu persatu, tapi tidak ada yang bangun, keringat dingin mengucur di dahinya rasa takut mulai menyergap, saat sedang berusaha membangunkan semua orang, juragan sadar, ada suara celoteh si bayi, mengoceh seperti sedang bercanda, hal yang selalu dia lakukan ketika sedang berkomunikasi dengan orang di sekitarnya.
Tapi suara itu terasa aneh, dibilang jauh tidak, dibilang dekat juga tidak, makanya dia terus mencari arah suara itu, dia melihat sekeliling tidak ada, dia terus mencari, sampai di suatu titik dia baru sadar, hanya satu tempat yang belum dia lihat, yaitu ... atas kepalanya.
Begitu dia menengok atas kepalanya, dia terdiam, mematung, tubuhnya terasa kaku tidak bisa bergerak.
Ada sosok hitam yang penuh bulu dengan perawakan sangat kurus, makhluk itu merangkak di plafon rumah dengan posisi seperti cicak, sementara Alka ada di bagian perutnya, jadi ketika makhluk itu bergelantng seperti cicak, Alka tidak akan jatuh, terlindungi, karena bagian perut ada dibagian dalam menghadap plafon.
Juragan berusaha menggerakkan badannya dan ingin berteriak, tapi tidak bisa.
Makhluk itu dan juragan saling melihat, matanya merah dan senyum seringainya sangat lebar, Alka terus saja mengoceh senang, dia seperti nyaman saja berada di perut makhluk ini.
Juragan ingin memalingkan wajahnya bahkan lari, walau dia tahu dan memahami dunia ghaib, tapi berinteraksi langsung dia belum pernah, makanya dia sampai buang air kecil di celana karena ini.
Makhluk itu dilihat oleh juragan, bukannya pergi, dia malah terus tertawa sambil perlahan mulai merangkak ke arah dinding, dia terus merangkak sampai turun dari plafon lalu ke dinding dan akhirnya turun, Alka masih menempel padanya walau tidak di pegang.
Juragan ketakutan, makhluk itu mendekat dalam keadaan berdiri, semakin dekat semakin terlihat jelas wajahnya. Wajahnya menakutkan, dilihat dari dekat kulit itu mengelupas sehingga menunjukan tulang rahang di pipinya.
Juragan terus berusaha melepaskan diri agar bisa bergerak lagi, tapi sulit, dia hanya bisa mengerang dan berteriak dalam hatinya, tidak ada yang bangun dan bisa menolongnya.
Saat sudah sangat dekat, makhluk itu tertawa cekikian, dia menunjuk wajah juragan lalu tertawa lagi cekikikan, juragan melihat makhluk itu berjalan ke kamarnya lalu setelah itu ... gelap.
“Pak ... Pak ....” Istrinya membangunkan juraga, juragan tertidur di samping tempat tidur Alka, dia saat bangun kaget dan buru-buru melihat ke arah tempat tidur Alka, ternyata Alka ada.
“Bagaimana aku di sini?” juragan bertanya.
“Ya, nggak tahu, semalam kau mungkin pindah ke dekat tempat tidur Alka, lalu ketiduran saat menjaganya.”
“Tidak! semalam aku pingsan di ruang tamu.”
“Hah? nggak kok! aku bangun karena ingin membangunkanmu solat subuh, kamu ada di sana saat aku bangun, bukan di ruang tamu.”
“Ayo keluar, aku juga mau marah pada para pegawai, mereka tertidur semua saat aku keluar untuk mencari Alka.”
Juragan keluar, istrinya ikut, lalu semua pelayan terlihat baru bangun.
“Kalian ini! kenapa kalian semua tidur saat semalam Alka hilang?!” juragan bertanya. Dia marah, karena merasa ditinggalkan oleh semua orang.
“Juragan, maaf, tapi kami tidak tidur sampai jam tiga pagi, kami semua bergantian, ada beberapa yang tidur, tapi beberapa jaga,” jawab salah satu pelayan.
__ADS_1
“Apa! aku semalam jam satuan berusaha untuk mencari Alka karena hilang, aku keluar kalian semua tidur, kau! kau bahkan tidur dengan tertunduk sembari memagang puntung rokok, bahaya tau! bisa kebakaran.”
“Maaf Juragan, tapi dia tidak tidur jam satu malam, dia justru baru bangun karena giliran jaga, lagian, kami tidak melihat tuan keluar dari kamar jam satu, kami berjaga lima orang ketika jam satu malam Juragan, kami berlima saksinya, ya nggak?” Pelayan itu meminta dukungan pada beberapa temannya.
“Benar juragan, kami melek sampai jam tiga, karena merasa waktu yang aman.”
“Pak, mereka berlima, Bapak sendirian, mereka sudah pasti benar.”
"Jadi, menurutmu aku yang bohong?"
”Bukan gitu Pak, tapi bisa saja kau mimpi."
"Mimpi? Sebentar, lihat ini, aku kencing di celana, pegang ini, basah kan? Itu karena aku saking ketakutannya, makanya aku sampai kencing di celana."
"Jadi, jadi kau kencing di celana ketakutan?" Istri juragan bukannya membela malah tertawa terbahak-bahak, dia ingat betapa sok beraninya juragan ketika diceritakan soal apa yang istrinya lihat malam sebelumnya.
"Kau malah ketawa." Juragan kesal.
"Maafkan aku Pak, aku tidak bermaksud meledeu, tapi aku semakin yakin kau itu hanya mimpi. Kau pasti kencing di celana saat mimpi itu, bahkan mimpi itu bisa membuatmu kencing di celana saking takutnya."
"Diam kau!" Juragan kesal, dia lalu pergi ke kamar mandi di dalam rumahnya, dia urung marah-marah pada pelayannya, tentu dia kalah, lima lawan satu.
Walau dalam hatinya dia yakin, kalau itu bukan mimpi, saat masuk kamar mandi, dia ketakutan, ingat kejadian semalam. Tapi, akhirnya dia beranikan diri untuk masuk dan mandi, karena sudah masuk subuh waktunya solat.
...
"Bu, kemarin aku merasa dapat begitu banyak keberuntungan, ini sudah satu minggu Alka di rumah kita kan?"
"Kau merasakannya?"
"Ya Bu, matrial kita dna tolo kelontong ramai seminggu ini."
Juragan senang tapi tetap ada yang mengganjal, karena wortel itu belum ada perubahan, bahkan beberapa bibit daunnya mengering, seperti sebelum-sebelumnya saat mereka bercocok tanam, semuanya Gagal panen.
“Apa cara kita yang salah ya Pak?”
“Maksudmu?”
“Ya, apa hanya tidak soal memberikan makan yang dia suka, apa kita belikan dia pakaian, mainan atau bahkan emas agar dia semakin membuat kita beruntung?”
“Hei, kau jangan mengada-ngada, kau yang ingin emas sepertinya.” Juragan tertawa karena merasa menangkap basah istrinya.
“Tidak Pak! aku tidak begitu, aku hanya ingin tanahmu yang berhektar-hektar itu bisa subur lagi.”
“Ya apa yang kau katakan itu tidak masuk akal, memang ayah dan ibu angkatnya membelikan anak itu emas dan pakaian serta mainan yang bagus-bagus? tidak kan? tapi tanah mereka subur.”
“Eh iya ya, tapi Pak, kalau begitu, kita tanyakan saja, apa yang mereka lakukan sehingga membuat Alka bisa membuat tanah mereka menjadi subur lagi.”
“Bu, kita kan sudah tanya, tapi mereka saja tidak tahu.”
“Nah, makanya kita cari tahu, kita bawakan saja satu karung beras, ikan dan telur, mereka pasti mau memberi tahu kita semua yang mereka lakukan sehari-hari untuk Alka, siapa tahu kita bisa menemukan apa yang membuat tanah itu subur kembali Pak.”
“Kalau begitu, ayolah, kita bergegas ke sana, aku tidak mau terlalu lama bayi itu di sini, aku takut.”
“Pak, kau katanya berani.”
“Sudah jangan meledekku lagi.”
Lalu mereka berdua, bersama beberapa pelayan dan juga Alka turut serta untuk datang ke rumah ayah dan ibu angkatnya itu.
“Wah, juragan apakah berhasil? tanah itu sudah subur lagi?” tanya ayah angkatnya.
“Belum Pak, justru kami ke sini ingin bertukar pikiran.”
“Hah? maksudnya?” ayah angkatnya bingung.
“Ya, kami sudah memberikan semua yang terbaik yang Alka butuhkan, makanan terutama, dia terlihat senang, tapi entah kenapa, tanahku masih belum subur.” Juragan menjelaskan dengan tenang.
“Tapi maaf Juragan, ikut saya ya, saya mau tunjukan sesuatu.” Ayah angkatnya Alka berdiri dan meminta bapak dan ibu juragan untuk ikut ke bagian belakang rumahnya yang merupakan pekarangan tidak terlalu luas.
“Lihat juragan, itu ada bawang, ada cabe, ada kangkung, semau tumbuh dengan baik, seminggu ini semua berbuah dengan baik walau belum siap dipanen.”
Juragan takjub, berbeda sekali dengan tanah yang dia miliki masih terlihat kering dan tandus.
“Tapi tanahku tidak begitu, masih belum berhasil ditanami.” Juragan mengeluh, dia ingin tanahnya seperti itu.
“Kalau belum berhasil, juragan coba untuk menyayangi Alka seperti kami, maksudnya seperti orang tua kandung, karena kami tidak punya anak, Alka adalah harapan kami, tumpuan kami dan kami sangat menyayanginya, saya takut, itu adalah caranya.” Ibu angkatnya memberikan pendapat.
“Tapi kalau itu, susah dong Bu, karena kan kasih sayang tidak bisa dimunculkan begitu saja, harus dengan ketulusan, kami memang sangat perduli pada Alka, tapi tidak seperti kalian, karena kami punya anak dan akan sulit untuk bisa menyayangi Alka seperti kalian.” Ibu Juragan terlihat kecewa.
“Lalu bagaimana Juragan?” tanya ayah angkatnya.
“Yasudah, kesepakatan gagal, Alka akan kami kembalikan, jujur aku juga agak takut, karena Alka membuat rumah kami jadi angker.” Juragan mulai terlihat aslinya.
“Maksudnya angker?” ayah angkatnya bingung.
“Ya, ada banyak setan yang terlihat sejak Alka datang, jadi mohon maaf, kami tidak bisa melanjutkan lagi kesepakatan ini.” Juragan kecewa.
“Lalu bagaiman dengan benih padi dan semua keperluannya, Juragan?” ayah angkatnya bertanya.
“Ya tidak bisa, kan gagal, kalau berhasil tuh, aku berikan gratis.”
“Tapi Juragan, aku pinjam saja, nanti begitu uangku cukup, aku akan mengembalikannya.”
“Tidak! masa tanahmu subur bisa menanam padi, tanahku tidak, kembalikan Alka pada mereka Bu. Oh ya, itu juga berasa dan semua bahan masakan bawa kembali.”
Juragan mulai kelihatan culasnya, Alka melihat itu tertawa dan terus mengoceh senang karena kembali pada ayah dan ibu angkatnya.
“Alka, apa yang membuat tanah itu subur?” ayah angkatnya bertanya, setelah tamunya pulang membawa semua barang bawaan yang tidak jadi diberikan karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Pak, sudahlah, salah mereka tidak bisa mencintai Alka seperti kita, wajar tanah mereka tidak bsia subur lagi.”
“Bu, tapi aku takut, kalau dia akan menyebarkan fitnah pada kita.”
“Kok bisa begitu? apa hubungannya Pak?”
“Ya bisa lah, dia melihat tanah kita subur saja iri, apalagi kalau diceritakan pada yang lain, bisa bahaya.”
“Lalu? bagaimana kita sekarang?” Ibu angkatnya Alka sangat sedih, dia takut apa yang dia rasakan saat ini hilang, semua kemudahan ini, makan gampang dan belanja juga gampang.
“Kita harus cari tahu apa yang membuat tanah kita subur kembali, kalau kita tahu, kita bantu semua orang menyuburkan tanahnya, maka setelah itu tidak aka nada yang memusuhi kita, bisa jadi, mereka akan sangat memohon pada kita.”
“Tapi kan nggak mudah Pak.”
“Makanya kita harus usaha, kamu harus mulai perhatikan, sejak kapan, setelah apa dan kebiasaan lain selama Alka bersama kita, kamu harus pelajari dengan baik.”
“Ya Pak, aku akan pelajari, sembari berdoa, supaya kita mendapat jawaban.”
_____________________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Kira-kira apa ya yang membuat tanah itu subur lagi?
BTW part Alka masih beberapa ya, ingatkan jembatannya apa? di part sebelumnya ketika dia pertama kali bertemu Aditia dan menjelaskan jati dirinya, jadi nanti setelah persimpangan itu baru part Alka selesai.