Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 512 : Mulyana 17


__ADS_3

Mereka berdua sungguh terkejut.


“Kita ... sudah menyebrang Nando! Kau pernah menyebrang?”


“Hah? tentu saja, kalau di jalan kan kita sering menyebrang.”


“Bukan itu bodoh! Ada seseorang yang membawa kita ke dunia ... mereka!”


“Oh Tuhan, matilah kita!” Nando gemetar, karena ketakutan, padahal tadi sebelum masuk dia yang khawatir Mulyana ketakutan. Tapi pada kenyataannya, sekarang dia yang sangat takut.


“Apakah kita sudah mati,” Nando bertanya.


“Belum, kita masih hidup, ini tubuh kita bahkan dibawa sekalian ke tempat ini.”


“Kau tahu banyak tentang dunia ghaib, Yan/” Nando heran.


“Tidak terlalu banyak, hanya sekedarnya saja, makanya kau banyak baca majalah Hidayah, di situ banyak pelajaran.”


Nando mendengar itu antara percaya dan tidak, karena dia juga pernah membaca majalah itu, tapi apakah benar sedalam ini majalah Hidayah membahas soal dunia ghaib?


“Ayo jalan.” Mulyana meminta Nandi untuk mengikutinya.


“Ke mana?”


“Ikut saja, kalau ada pintu masuk, pasti ada pintu keluar, tapi masalahnya, yang membuat kita masuk, membuat pintu keluarnya tidak terlihat.”


“Itu tidak menjawab, kita mau ke mana?”


“Kita temui kakek itu lagi, karena menurutku setelah bertemu dia, kita tak sadar apa yang terjadi di sini, bisa jadi saat bertemu dengannya, kita sudah masuk ke dunia lain.”


“Hmm, analisa yang bagus, ayo kita ke sana.”


Mereka kembali ke tempat itu, ke tempat kakek itu berada.


“Kek, ini bukan dunia kami kan? Kenapa kami di sini?” Mulyana bertanya tanpa sopan santun.


“Entahlah.” Kakek itu tak mau menjawab.


“Kau tahu sejak kapan kami masuk ke dunia ini?”


“Kau bertanya padaku?” Kakek itu kembali memajukan badannya dengan cara melayang.


Tubuh kakek itu mendekat pada dua orang anak muda yang sok tahu.


“Kau … kau ini … kenapa kau mau bersamanya?” Kakek itu bertanya pada Nando, seolah Mulyana adalah orang yang salah.


“Memang kenapa dia?” Nando dengan polos bertanya.


“Seharusnya kau Bersama orang yang lebih kuat, anak ini bukan apa-apa, jika kau ingin ilmumu semakin tinggi, kau harus mencari dukun lagi.”


“Brengsek!” Mulyana mengatakan hal yang kasar untuk umurnya, tapi omongan itu akan membuat Nando berpikiran yang tidak-tidak, dia pasti akan menganggap bahwa Mulyana adalah dukun!


Mulyana lalu segera mengajak kakek itu untuk duel, tapi kakek itu tiba-tiba menghilang.


“Sudah kuduga, dia warga sipil.” Mulyana bergumam.

__ADS_1


“Warga sipil? Memang akan ada pasukan militer?” Nando bingung sekaligus takut.


“Kalau warga sipil tak mungkin mau bertarung, bala tentara akan turun.” Mulyana bersiap, dia mengeluarkan senjata yang baru saja dia dapatkan sebagai hadiah dari ayahnya karena berhasil memecahkan kasus pertamanya, sebuah tombak.


Apakah kalian ingat tombak ini?


“Kau punya senjata? Bagaimana kau mengeluarkannya dari tanganmu? Apa senjata itu tertanam di tubuhmu? Atau kau ….”


“Jangan banyak tanya, kau ingin keluar?” Mulyana meminta Nando untuk tetap fokus karena akan sangat bahaya kalau mereka terlalu lama di sana.


“Iya aku inign keluar, aku akan percaya padamu.”


Lalu Nando mengikuti Mulyana dari belakang, Mulyana memastikan Nando untuk tidak terpisah darinya.


Dari kejauhan Mulyana melihat seorang wanita dengan pakaian yang aneh sedang membaca buku.


“Dia none belanda?” Nando bertanya. Karena warna rambutnya pirang tak sempurna, gaunnya khas wanita belanda yang hidup di Indonesia pada abad 19.


“Permisi, apakah anda tinggal di sini?”


“Yan, gila lu! Masa ditegor, bukannya kabur.” Nando kesal karena Mulyana malah menegurnya, bukan mengendap-endap.


“Malu bertanya sesat di jalan.”


“Bukan di jalan ghaib juga, Yan!” Nando kesal dalam keadaan takut.


Wanita itu yang tadinya sibuk membaca sembari bersenandung sebuah lagu dari negeri ibu pertiwi.


Sengaja aku datang ke kotamu


Ingin diriku mengulang kembali


Berjalan-jalan bagai, tahun lalu.


Sapaan Mulyana membuat wanita itu berhenti bersenandung.


“Kau siapa? Wangi sekali.” Wanita itu bertanya, walau nada bicaranya aneh, karena berbicara Bahasa Indonesia dengan logat negerinya, saat bernyanyi pun sama.


“Kami bukan dari sini, kami harus keluar dari sini, maukah kau menunjukkan tempatnya.”


Wanita itu lalu mulai berbalik, seluruh tubuhnya sekarang terlihat, karena tadi, sisi kanannya saja yang terlihat.


Nando menutup mulutnya agar tak berteriak, karena apa yang dia lihat sungguh mengerikan, pada bagian bahu, hingga ke bagian pinggang, sudah terpotong, sedang potongannya dari sisa badannya tiba-tiba jatuh, tepat setelah dia berbalik. Keluar darah dari bagian yang terbelah itu.


Pada bagian wajah sebelah kirinya rusak, bekas lukanya meninggalkan garis lurus, persis seperti ketika kau habis diseret di aspal.


“Jika kau berlari, maka kau akan hilang, tetap di belakangku.” Mulyana memperingatkan Nando, karena dia tahu Nando bersiap lari.


Karena diperingati, akhirnya Nando memegang kencang baju Mulyana.


“Bisa tolong tunjukkan ke mana jalan keluarnya?” Mulyana masih tak gentar, melihat ceceran darah di ranah ghaib memang sangat nyata, bahkan seolah darah itu benar-benar terasa menyentuh tubuhmu. Dinginnya darah yang telah menyentuh lantai yang dingin, membuat suhu darah menjadi ikut dingin, ketika akhirnya darah itu sampai di telapak kaki Mulyana, dia hanya melirik lalu tak peduli.


Kualitas Kharisma Jagatnya memang tidak bisa diragukan lagi, karena dia tempaan Drabya yang keras, dia mengejar ketertinggalan karena salah menyangka anak pertamanya yang akan menuruni Karuhunnya, Abah Wangsa. Karuhun tua yang amat bijaksana dan berilmu tinggi itu.


“Kau tahu, aku rindu dengan kampung halamanku, aku ke sini saat masih gadis, aku dinikahkan dengan seorang petinggi pejabat Hindia Belanda. Kami bahagia tinggal di negeri ini, negeri yang begitu kaya. Kami berkecukupan ….” Wanita itu sedih, wajah mengerikannya terlihat sendu.

__ADS_1


“Bisa tolong tunjukkan jalan keluar?” Mulyana masih berusaha.


“HINGGA BANGSA KALIAN MEMBUNUH KAMI!!!” Wanita itu tiba-tiba berjalan dengan langkah cepat hendak menyerang Mulyana, Mulyana paham, bahwa ini waktunya bertarung, walau dia wanita, tapi dia bukan manusia, bisa berbahaya jika Mulyana tidak melawan.


Maka dia hunus tombak itu pada perut setan wanita berpakaian Noni Belanda itu. Seketika dia berteriak dan kesakitan.


“Bangsa kalian memang bangsa yang tidak tahu diuntung, kalian sudah kami buat Makmur, hanya perlu tunduk saja, tapi kau masih terus menyerang kami, lihat sekarang, kau hendak memusnahkanku yang bahkan hanya tubuh ruh saja!” Wanita berteriak kesakitan, lalu menghilang, tombak Mulyana sudah dilepas hingga tidak ikut hilang.


“Dia mengerikan sekali!” Nando memegang Mulyana dengan sangat kencang.


“Kau tidak akan kenapa-kenapa asal kau tetap bersamaku.”


“Kau terlihat keren sekali, maksudku, kau tidak gentar bahkan saat darah wanita itu bercecer di wajahmu, kau masih sempat memastikan aku tidak kabur, kau teman yang baik, Yan. Aku sangat senang bisa mengenalmu.”


“Bisa simpan pujianmu jika kita sudah keluar saja?”


Mulyana dan Nando lalu melanjutkan perjalanannya, mereka harus segera keluar, karena bisa jadi, ibu dan kakaknya sudah menunggu, dibandinng zona ghaib ini, Mulyana lebih takut amukan ibunya.


Mereka terus berjalan, tapi semakin berjalan, rak-rak itu sudah mulai berkurang, berganti dengan tempat yang jauh lebih gelap.


“Yan, itu sudah lorong gelap, kau yakin mau ke sana? Bagaimana kalau kita terjebak selamanya di sini?”


“Kau takut?” Mulyana bertanya.


“Ya, aku takut sekali.”


“Makanya tetap menempel padaku.” Mulyana memberi peringatan sekali lagi.


Nando akhirnya semakin erat memegang baju Mulyana, sementara Mulyana tidak ragu untuk tetap berjalan ke depan.


“Ketika kau tidak bisa melihat apapun, hanya dengar suaraku, jangan lepas peganganmu dariku ya, pastikan bahwa kau akan tetap memegangku, jika kau mendengar suara lain, kau harus tetap hanya fokus pada suaraku saja.”


“Yan, kalau aku hilang … apakah kau akan mencariku?”


“Jangan bicara yang tidak-tidak, dengar suaraku, kau harus dengar suaraku, mengerti!” Mulyana berkata dengan sangat lantang agar Nando mengingat suaranya.


Mereka sudah masuk zona yang lebih gelap lagi, tidak terlihat apapun sama sekali, bahkan langkah mereka benar-benar sangat pendek.


“Yan, kau masih bersamaku kan.”


“Ya, kau masih di sini.”


“Hei! ke sini!” Ada suara dari arah kiri Nando.


“Yan, kau masih di dekatku kan?” Nando bertanya, tidak ada jawabam, tapi bajunya masih dipegang Nando.


“Kau ke sini!” Suara berbisik itu lagi, Nando jadi gamang, apa yang harus dia lakukan?


“Yan!” Nando menarik baju Mulyana, dia ingin Mulyana membalas perkataannya, karena tidak terlihat apapun sama sekali, tak sengaja saat sedang menarik-narik baju Mulyana, Nando memegang bahu Mulyana, dingin, dingin yang sangat menelusuk. Nando mulai ragu, apakah yang dia pegang benar baju Mulyana atau bukan?


“Yan! Jawab aku!” Nando berteriak dengan sekuat tenaga, masih saja Mulyana tak menjawab, Nando melepas pegangan itu, mundur dan berteriak tak karuan.


Mencari Mulyana.


“Hei! kau ke sini!” Suara berbisik itu yang hanya menjawab Nando, maka Nando akhirnya bersiap untuk mendekati suara itu, tapi sebelum dia berlari, tiba-tiba lengannya ditarik oleh seseuatu, seseorang atau entahlah, tubuhnya ditarik dengan paksa dan ….

__ADS_1


__ADS_2