
“Boleh kami bertemu dengan Ani?” Alka bertanya, Aditia Menatap Alka karena merasa aneh.
“Kan lagi tidur,” ayahnya berkata.
Alka mengarahkan telapak tangannya pada lelaki itu, dia membaca mantra dan akhirnya lelaki itu tertidur.
“Kau pakai gendam juga? Trus ngapain tadi pake nyamar begini segala kalau akhirnya pakai gendam?” Aditia kesal, Alka masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru, dia membuka pintu kamar yang ada tiga di rumah berlantai satu itu, pada pintu ketiga yang dia buka, dia baru meliaht seorang perempuan terlihat sedang duduk memandang kasur, sementara dia duduk di pinggirinya, ada seanndung halus yang dia nyanyikan, walau tidak terlalu terdengar.
“Bu ….” Alka menyapa.
“Kalian siapa?” Ibunya Ani kaget.
Alka kembali mengarahkan telapak tangan kepada ibunya Ani, membaca mantra dan akhirnya ibunya Ani tertidur juga.
“Ani lagi apa?” Alka bertanya, dia duduk di pinggir tempat tidur, dia mengusap kepala anak itu.
“Mau tidur, tante siapa?” Ani bertanya.
“Tante namanya Alka, ini Om Adit.”
“Ibunya Ani kenapa?” Anak remaja itu berkata dengan wajah bingung.
“Ani ikut tante yuk.”
“Kemana?”
“Pulang.”
“Nggak mau.”
“Kenapa?” Alka bertanya lagi.
“Nanti ayah sama ibu sama siapa?” tanya Ani.
“Ayah sama ibu, ibu sama ayah. Jadi Ani bisa pulang.”
“Nggak mau!” Ani berkata dengan kasar.
“Tapi Ani harus pulang, nggak boleh di sini terus, ini bukan tempat Ani.” Aditia ikut menasehati.
“Tapi Ani nggak mau pergi, Ani mau sama ayah dan ibu.” Ani menatap dengan kasar.
“Dit, botol.” Alka meminta botol yang sudah mereka persiapkan, walau Ani bukan tujuan mereka datang, karena tujuan mereka datang adalah untuk mendapatkan jawaban atas apa yang terjadi dengan para korban.
__ADS_1
Ani yang tadinya terlihat tenang dan cantik, berubah menjadi anak dengan wajah yang mengerikan, matanya membulat hitam, bajunya lusuh, dia lalu bangun, Alka menjauh, dia memegang botol yang diberikan Aditia.
Ani sudah melayang, menjauh dari tempat tidurnya, dia mengejar Alka dan Aditia, Alka membuka tutup botol yang terbuat dari kayu itu, Alka dan Aditia berlari, mereka harus memasukkan Ani ke dalam botol tanpa menyakitinya, sedang menghadapi kemarahan jiwa anak kecil itu jauh lebih berat dibanding menghadapi jiwa orang dewasa.
Ani mendapatkan Alka, dia mencengkram tubuh Alka dengan tangan dan kakinya dari punggung Alka, Alka akhirnya jatuh, dia meminta Aditia menarik Ani, karena Ani menggigit pundak sebelah kirinya dengan sangat brutal, hingga pundak Alka terlihat robek.
Aditia mengambil botol dari tangan Alka, lalu menarik jiwa Ani dengan tangannya, mereka tidak mungkin menggunakan cambuk ataupun keris, hukuman bagi mereka yang menyiksa jiwa anak-anak adalah dicabutnya keberkahan, bahkan panca indera juga akan menjadi sasarn jika sampai jiwa anak kecil itu musnah karena kena senjata.
“Ani, jangan gitu, tantenya kesakitan tuh!” Adit terus menarik tubuh Ani dengan sekuat tenaga, karena kesal, Ani melepas Alka dan berbalik menempel pada Aditia dan hendak menggigit leher Aditia, Aditia menahan mulut anak itu dengan botol yang dia pegang, karena itu botolnya pecah karena terkena gigitan Ani.
Bibir Ani terluka karena botol itu, botol yang sudah Alka mantrai, tangan Alka terbakar.
“Dit!” Alka berteriak, karena mulutnya terbakar.
Aditia melepas Ani karena terkejut dengan teriakan Alka.
Ani hilang. Aditia mengambil tissue yang ada di dekatnya membaca mantra dan menutup luka Alka, lalu Alka mulai tenang.
“Mantramu melukai bibirnya, makanya api itu muncul dibibirmu, mulut yang membaca mantra pada botol itu.” Aditia menjelaskan, seoalah Alka tidak tahu, padahal Alka tahu, hanya resiko ini tidak terhitung, mereka tidak tahu bahwa Ani masih di sini.
“Kita harus ke Dokter Adi, memastikan kau akan baik-baik saja.”
Alka setuju, mereka mengembalikan ayah dan ibu Ani ke tempat tidur, lalu menutup rumah agar aman dan pergi ke Dokter Adi menggunakan Angkot.
“Ya, kemungkinan itu. Karena jiwa yang kami hadapi memang jiwa anak kecil. Yang menimbulkan hukuman karma pada setiap kekerasan yang kita lakukan padanya.” Aditia menjawab.
“Ini lukanya tidak terlalu parah, tapi kau harus berhati-hati, itu kenapa banyak Kharisma Jagat meninggalkan kasus ini, karena biasanya kalau kasusnya akan mengakibatkan Biksa Karma, mereka akan celaka dan terancam kehilangan berkah karena jiwa anak yang masih tidak mau pulang itu, lebih sulit diajak komunikasi, rasa cinta mereka pada orang tua dan rasa cinta orang tua pada mereka, membuat ikatan yang kuat, sehingga akhirnya mengajak mereka pulang adalah sesuatu yang sulit. Ditambah mereka dilindungi oleh Biksa Karma, yaitu, apapun yang kalian lakukan pada anak itu, akan berbalik pada kalian, karena mereka dilindungi Biksa Karma. Kematian yang masih diusia belia membuat mereka menjadi jiwa yang istimewa bagi Tuhan.”
“Ya Dok, kami tahu, sungguh tak ada catatan di buku ayahku tentang jiwa itu, justru kami hendak menyelesaikan masalah itu karena takut korban bertambah, bukan membawa pulang Ani. Kami tak punya persiapan.”
“Ya makanya, nggak heran Alka bisa terluka, harusnya kalian obserasi mendalam dulu sebelum datang ke medan perang, kau ini pemimpin, tapi tetap saja alpa hingga menyebabkan Alka terluka.” Dokter Adi menyerang Aditia, dia jelas kesal Aditia lagi-lagi tak bisa menjaga Alka.
“Dok, kau mau kita bertarung?” Aditia kesal.
“Bisa kalian berdua diam, ini panas tau!” Alka kesal, karena bukannya fokus pada lukanya, mereka malah sibuk saling menyalahkan.
“Sorry.” Aditia dan Dokter Adi akhirnya tenang setelah diingatkan oleh Alka.
Setelah selesai dari sana, Alka dan Aditia balik ke markas ghaib, begitu sampai, Aditia heran, karena kakinya Ganding terbalut kain kasa.
“Kakimu kenapa?” Aditia bertanya, dia khawatir.
“Biksa Karma, kenapa nggak ada yang kasih tahu sih, kalau masih ada jiwa anak yang menjadi korban di sana?!” Ganding kesal karena dia juga terluka.
__ADS_1
“Kau pikir kalau kami tahu, Alka akan terluka juga?” Ganding dan Jarni tidak melihat bahwa Alka juga ikut terluka.
“Kak!” Jarni dan Ganding melihat bibir Alka yang terlihat menebal, tidak terlihat seksi sama sekali.
“Udah jangan tanya, susah jelasinnya.” Alka kesal, karena dia juga masih kesakitan.
“Kenapa kakimu?” Alka bertanya.
“Aku tidak sengaja menendang anak itu pakai kaki, aku kesal karena anak itu berlari terus, lalu aku tendang, kakiku terbakar.” Ganding kesal karena kejadian tadi, dengan anak itu.
“Ternyata kasus ini cukup rumit, kemungkinan tiga puluh anak itu masih di rumah keluarganya, ini sih butuh kerja ekstra.” Hartino dan Alisha terlihat serius.
“Baru dua nih udah babak belur, gimana caranya kita pulangin tiga puluh anak sekaligus!” Ganding kesal.
“Jangan-jangan bapak kalian meninggalkan kasus ini karena tahu ini kasus yang mustahil dilakukan.”
“Kau jangan merendahkan ayahku, dia takkan mungkin lari dari kasus hanya karena takut.” Aditia kesal karena ayahnya direndahkan Alisha.
“Aku tidak merendahkan ayahmu, justru aku sedang memujinya, karena cerdas, dia tahu kapan harus mundur.” Alisha jawab dengan ketus, Hartino pura-pura tidak dengar, malas ikut campur kalau Kharisma Jagat sedang bertengkar dengan mantan dukun lintas Negara.
“Aku nggak mau mundur, Ani sudah mengacaukan hukum alam dan ayah ibunya, mereka berdua tidak gila, tapi mereka hanya terkadang lupa Ani sudah tiada, mereka diikat di rumah itu oleh anak-anaknya, kau lihat tadi kan, rumah mereka berantakan dan kotor, itu pasti karena mereka telalu fokus pada Ani, yang sudah tiada dan tersisa hanya jiwanya saja.” Alka berkata.
“Aku juga tak mau menyerah, semua kasus ayahku harus diselesaikan, ini amanah.” Aditia setuju pada Alka.
“Ya terserah, aku kan hanya mengucapkan pendapatku, lagian aku bukan kawanan.” Alisha lalu pergi ke luar.
Keinginan Alisha sebenarnya adalah tidak ingin Hartino ikut campur, ini bahkan lebih bahaya menghadapi raja jin monyet yang kemarin, karena mereka tidak bisa melawan, sekali jiwa anak itu terluka, fatal bagi yang mencelakainya.
Biksa Karma itu memang istimewa, hanya untuk jiwa anak yang meninggal di usia muda, tidak ada yang boleh menyakiti anak, meski mereka hanya dalam wujud jiwa.
Itu cara Tuhan mencintai anak-anak. Sedang bagi kawanan ini menyiksa, karena mereka harus menemukan cara lain untuk memulangkan anak-anak itu.
“Kita harus apa, Kak?” Ganding bertanya.
“Observasi dulu ke orang tuanya, tapi agak susah, karena anaknya ada di rumah itu, jiwa-jiwa itu ada di rumah mengikat orang tuanya. Lambat laun, mereka akan mencelakai ayah dan ibunya, walau itu bukan tujuannya, biar bagaimanapun mereka masih anak-anak walau berubah menjadi jahat, karena begitu takut dipisahkan dengan orang tuanya.
Yang harus kita lakukan sekarang adalah observasi, apa yang membuat anak-anak itu meninggal, lalu mengantarkan mereka pulang dengan membujuk, bukan bertarung, kita harus melakukan pendekatan. Jadi kemungkinan kita akan melakukan pengantaran satu persatu, dengan 6 tim.” Alka memberi solusi.
“Maksudnya kita jalan sendiri-sendiri?” Aditia bertanya, dia keberatan, karena sudah biasa menyelesaikan kasus bersama.
“Dulu juga elu jalan sendiri, kenapa sekarang jadi manja!” Ganding kesal.
“Iyaaa, yaudah!” Aditia setuju.
__ADS_1