Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 178 : Hotel 6


__ADS_3

Selly mengikuti gerombolan wanita yang terlihat cantik-cantik itu, kalau di dunia Selly mereka masuk ke pintu darurat lalu naik.


Lantai demi lantai mereka naiki dengan tatapan kosong. Semua wanita itu terus berjalan seperti tidak kelelahan.


Selly mengikuti dengan susah payah. Walau dia yakini bahwa dirinya hanyalah ruh yang lepas raga, tapi rasa capek dan lelah menaiki anak tangga tetap saja dia rasakan.


Lantai tiga, Selly sudah mulai kelelahan, dia terus berusaha mengikuti gerombolan wanita itu.


Lantai empat, kaki Selly mulai kesakitan, dia mengikuti mereka dengan tergopoh-gopoh. Sedikit tertinggal, tapi Selly masih bisa melihat gerombolan itu.


Lantai sebelas, sesak rasanya dada Selly karena harus naik sebanyak itu, sampai ke lantai sebelas . Pintu darurat terbuka, mereka semua keluar.


Selly yang paling terakhir keluar. Dia melihat sesuatu yang di luar nalas. Lantai itu bukanlah lantai pada umumnya yang ada di hotel ini.


Aneh ... Selly berkata dalam hatinya.


Kenapa saat dia keluar dari pintu darurat, ruangan ini menjadi sebuah lapangan besar yang terdiri begitu banyak tenda.


Tenda yang tidak lazim layaknya anak gunung. Tenda yang alakadarnya didirikan agar bisa sebagai naungan tidur saja.


Lalu tampak pemain kendang yang sedang sibuk menabuh, pemain suling juga tidak mau kalah. Alunan musik dari alat musik khas nikahan itu membuat semua wanita yang baru saja keluar dari pintu darurat seketika membuat kuda-kuda. Bukan, bukan untuk berkelahi, tapi untuk menari.


Selly baru sadar, bahwa pakaian mereka adalah pakaian penari. Kebaya transparan yang berwarna warni, kain jarik yang tidak terlalu ketat, sanggul yang tinggi. Itu adalah pakaian khas Penari, penari Jaipong.


Mereka lalu mengambil selendang yang diberikan oleh entah siapa, seorang lelaki berpakaian centeng. Setelah mendapatkan selendangnya, tabuhan kendang memulai tarian.


Semua wanita itu menari dengan bersemangat. Tidak seperti tarian Jaipong pada umumnya. Gerakannya lebih erotis dan sangat bertenaga.


Mereka bahkan melompat cukup tinggi saat gerakan dan melakukan beberapa akrobat.


Selly terpukau dengan tarian itu hingga akhirnya dia duduk menikmati tarian.


Tapi keterpukauan Selly terhenti ketika centeng barusan terlihat sangat gusar. Dia menghentikan tarian semua wanita itu.


Bak sapi di cucuk hidungnya, para Penari langsung diam tak bergerak. Selly bingung, kenapa hening sekali.


“Kenapa, kok berhenti?” Selly bertanya pada centeng itu.


“Kau siapa? kenapa pakaianmu begitu?” centeng itu bertanya.


“Aku Selly, pegawai hotel ini.”


“Hotel?” Centeng itu bingung.”


“Ya, hotel yang sedang kalian tempati ini.”


“Hotel itu apa ya?” Centeng itu bingung.


“Penginapan.”


“Oh, baiklah.”


“Lalu apa yang terjadi? kenapa tariannya dihentikan? Tarian itu bagus sekali, sehingga kau enggan pergi rasanya.”


“Para pasukan itu tidak datang seperti biasanya.”


“Pasukan?”


“Iya, pasukan Jepang yang membayar semua Penari ini.”

__ADS_1


“Penari ini dibayar oleh pasukan Jepang?” tanya Selly.


“Betul, kami semua dibayar oleh para pasukan Jepang untuk menari dan memuaskan nafsu mereka.” Centeng itu menjelaskan lagi.


“Pasukan Jepang? Apakah ini sedang pesta kostum, apakah Pak Teddy sedang sedang mempersiapkan parade atau semacamnya?” Selly masih kehilangan akal sehatnya.


“Parade? Pesta kostum?” Centeng itu bertanya lagi.


“Ya, semacam perayaan atau pesta yang memakai pakaian jaman lampau.”


“Oh, pesta rakyat?”


“Ya, semacam itu.”


“Baiklah, tapi kenapa pasukan itu belum datang juga ya? kami tidak punya waktu banyak.”


“Kenapa tidak punya waktu banyak? Ini masih belum pagi.”


“Karena kami tidak tahu kapan tempat ini akan diserang oleh pasukan kita.”


“Hah? pasukan kita?”


“Ya, pasukan negara tercinta kita.”


“Kenapa pasukan negara kita menyerang hotel ini?”


“Tentu saja karena ada pasukan musuh di sini. Kami pun terpaksa di sini karena kami berusaha mencari kelemahan mereka. Agar bisa membantu negara kami.”


“Sebentar, ini tahun berapa?” Selly merasa sakit kepala mendengar centeng ini berkata.


“Sekarang tahun 1944.”


“Kau kenapa?” Centeng itu bingung dengan keterkejutan Selly.


“Setahun kemudian kita merdeka.”


“Apa maksudmu? Apa kau dukun? Pantas pakaianmu aneh.” Centeng itu lalu meninggalkan Selly dan berjalan mengitari lapangan, dia sepertinya masih menunggu pasukan Jepang yang biasanya datang.


“Apakah aku kembali ke tahun itu? apakah aku terjebak di tahun 1944? Tapi ini masih hotel yang sama, hanya saja entah kenapa lantai ini menjadi lapangan yang sangat luas.”


Selly mendengar suara adzan, ternyata sudah masuk waktu subuh, Selly berbalik melihat semua ruh itu, tapi ... perlahan satu persatu, penari, centeng, pemain musik, menghilang, tubuh mereka yang tak kasat mata, tiba-tiba lenyap.


Lapangan itu berubah menjadi atap gedung yang tidak terlalu terawat, karena memang tidak pernah dibersihkan.


Selly baru ingat, tidak ada lantai sebelas. Hotel ini hanya punya sepuluh lantai.


Selly lalu kembali mendekati pintu darurat dan kembali menuruni anak tangga, tapi dengan kecepatan yang sangat tinggi.


...


“Aku sudah menemukannya.” Teddy telah berada di 713. Dia lagi-lagi mengganggu waktu istirahat lima sekawan.


“Bisakah kau datang nanti-nanti saja, kami lelah ingin istirahat dulu.” Hartino menegur Teddy.


“Tapi ini kan sudah cukup malam, kalian seharusnya sudah cukup tidur.”


“Yasudah sini, beri kami penjelasan.” Alka meminta semua orang duduk dan tidak tiduran lagi, mereka harus menyelesaikan masalah di sini. Padahal masalah di sini bukan tanggung jawab lima sekawan, ini masalah yang duluar jadwal catatan Mulyana, tentu saja, masalah seperti ini jauh lebih banyak, hingga catatan Mulyana menjadi terabaikan. Lima sekawan memang mendahulukan yang terlihat sangat darurat untuk diselesaikan, seperti masalah Hantu Dina yang suka berkata Ila, lalu Bening yang ternyata memiliki khodam dengan ilmu yang sangat tinggi dan tiba-tiba Alya yang kembali dan meminta pertolongan.


Sekarang tiba-tiba hotel ini.

__ADS_1


“Hotel ini dibangun 1950 tentu tidak seperti sekarang ini, hanya penginapan biasa saja. Lalu tiga tahun kemudian hotel beroperasi dengan baik. Banyak tamu yang datang, penginapan ini sering digunakan tapi itu aneh, karena letak hotel ini dulu sebenarnya terpencil, lalu kenapa mereka semua datang ke sini? A


Aku tidak menemukan alasan hotel ini berdiri dengan sangat baik hingga saat ini.”


“Menurutmu, bisnis kotor hotel itu apa saja?” Ganding memberikan asumsinya, dia sudah menyelidiki soal hotel ini sebelumnya dibantu Hartino tentu dengan tekhnologi yang dia kuasai.


“Bisnis kotor hotel? Prostitusi, minuman keras dan obat terlarang.”


“Tiga bisnis paling basah dan bisa buat orang cepat kaya bukan?”


“Maksudmu, hotel ini memiliki usaha seperti itu? Tapi saat ini tidak, kami menjalankan penginapan dengan benar sesuai peraturan pemerintah, kami bahkan bayar pajak tepat waktu.”


“Kami percaya. Tapi masalahnya dulu pun bisnis ini dilakukan hanya untuk kamuflase saja. Menutupi tujuan utama hotel ini dibangun.”


“Saya makin tidak mengerti Pak Ganding.” 713 yang paling ditakuti, kini menjadi basecamp yang lima sekawan dan Teddy gunakan untuk berdiskusi.


“Coba ceritakan temuanmu Pak.” Ganding balik bertanya.


“Oh ya, kejanggalan yang aku temukan dari hotel ini adalah, walau hotel ini berjalan dengan baik dan sangat diminati, tapi pergantian pegawainya juga sangat tinggi, kebanyakan pegawai wanita resign pada tiga bulan setelah masuk kerja.


Tercatat dari didirikannya hotel ini, puluhan wanita telah resign, tapi ... kebanyakan yang bekerja di front office atau resepsionis yang menerima tamu.


Aku melacak beberapa tahun kebelakang tentang keberadaan wanita-wanita mantan pegawai yang telah resign itu, aku hanya mampu menarik lima tahun kebelakang dan menemukan keberadaan mereka, tapi sayang kabar yang aku dapatkan sangat aneh. Kabar itu adalah, bahwa wanita-wanita yang resign itu ... kebanyakan telah meninggal dunia karena sakit.” Teddy menceritakan temuannya.


“Sakitnya pasti sama bukan?” Ganding menebak.


“Pecah pembuluh darah, koma dan meninggal.” Ganding dan Teddy berkata bersamaan.


“Betul itu, bukankah itu aneh, maksudnya kenapa wanita-wanita yang sudah resign dari pekerjaan di hotel ini, memiliki riwayat kematian yang sama. Pecah pembuluh darah. Itu baru saya tarik lima tahun ke belakang, karena kalau lebih lama, saya tidak bisa mendapatkan lagi data dan juga kabar mereka lagi.” Teddy kembali menjelaskan.


“Hartino sudah mendapatkan semua datanya, sudah dapat dipastikan, semua wanita itu meninggal dengan penyakit yang sama. Jadi, hotel ini jelas tidak hanya soal 713 Pak Ted.” Ganding menyinggung kembali maksudnya.


“Tapi gangguan itu selalu datang dari 713 saja, sisanya tidak ada gangguan.” Teddy masih berusaha menyangkal.


“Pak, kami berlima melihat mereka yang tak kasat mata itu sama seperti kami melihat Pak Teddy, jelas dan nyata. Sayangnya, hampir setiap sudut hotel ini, ada ‘mereka’” Teddy mendengar Ganding langsung merinding, dia tidak tahu bahwa bekerja di tempat yang sangat mengerikan.


“Lalu kami harus apa?”


“Terserah Pak Teddy, kami gampang aja melakukan pembersihan, tapi masalahnya, pemilik hotel ini apakah dia mengizinkan kami melakukannya?” Aditia yang sedari tadi hanya diam karena masih lelah akhirnya buka suara, dia tidak suka Ganding terlalu bertele-tele. Gayanya kalau sedan menyelesaikan masasalah seperti Dosen, Teddy saja disuruh cari data dulu macam mau menyusun tesis saja.


Menurut Aditia padahal semua itu mudah, tinggal Ganding ceritakan temuannya lalu meminta Teddy mempertemukan mereka dengan pemilik hotel.


“Pemilik hotel pasti senang dibantu.”


“Belum tentu Pak, karena syarat dari kami selalu, izin dari pemilik tempat. Kalau ternyata ada hal yang mungkin tidak bisa kami jamah, itu lebih berbahaya buat kami dan juga pemilik hotel ini.” Aditia gantian, dia menjadi leader dari diskusi ini.


“Memang ada sesuatu yang kalian tidak bisa jamah?” tanya Teddy.


“Ada, misalnya perjanjian dengan jin. Itu hal yang tidak bisa kami sentuh, harus diselesaikan sendiri. Pembersihan bisa saja kami lakukan, tapi pemilik perjanjian harus menanggung deritanya, misalnya adalah penyerahan jiwa.”


“Penyerahan jiwa? maksudnya mati gitu?”


“Ya, itu salah satunya.”


“Wah, kalau begitu saya harus segera menghubungi pemiliknya, tapi masalahnya pemiliknya sudah sangat tua, kalau tidak salah, umurnya sekitar sembilan puluh tahunan. Sudah sangat tua, tapi masih cukup kuat untuk memimpin, makanya anaknya belum mengambil alih hotel ini.


Lagian hotel kecil ini memang tidak diminati oleh anak-anak beliau yang lulusan luar negeri semua.” Teddy sempat bergosip tentang bosnya.


“Yasudah, pokoknya segera hubungi pemiliknya, katakan kami akan membantunya membersihkan hotel ini.” Aditai berkata lalu Teddy pamit untuk segera menghubungi bosnya.

__ADS_1


Malam ini pasti terjadi perkelahian lagi dnegna pasukan Jepang itu, mereka harus bersiap dan mengunci kamar.


__ADS_2