
"Kau tahu, sebenarnya aku takut padamu, tapi aku penasaran, kau kalau di kegelapan malam ternyata lebih menakutkan, bisakah kau berubah bentuk menjadi lebih baik daripada sekarang?” tanya Ganding. Dia dan makhluk itu sudah ada di perpustakaan lagi.
Saat Ganding sedang ngobrol asik dengan makhluk itu ada seseorang yang mengintip dibalik pintu, karena penasaran siapa yang sedang bicara, dia akhirnya membuka pintu perpustakaan dengan perlahan, Ganding lupa mengunci pintunya, jadi pintu itu bisa dibuka, dari sela pintu yang terbuka sedikit, dia melihat Ganding sedang berbincang, dia terlihat menghadap ke depan, membelakangi pintu, tapi jelas dia seperti sedang berbincang dengan seseorang, tapi masalahnya, kosong … tidak ada orang.
Ganding kali ini benar-benar ceroboh, tidak heran, dia hanya seorang anak kecil, pasti kadang ceroboh.
Pagi datang, Ganding sekolah seperti biasa, makhluk itu tetap mengikutinya, menempel seperti lem.
Ganding benar-benar menahan diri untuk tidak bicara sedikit pun, karena bahaya, kalau sampai ada temannya yang tahu dia sedang bicara dengan sesuatu tanpa terlihat.
Pelajaran seperti biasa, tidak terlalu sulit, kebanyakan sudah dia baca dan ketahui jauh sebelum masuk kelas ini, kelas satu sekolah dasar, hanya belajar membaca dan juga pengetahuan umum untuk membaca dan juga berhitung.
Beberapa temannya kesulitan mengikuti pelajaran gurunya, apalagi soal berhitung, padahal itu pelajaran dasar ang bagi Ganding sudah mengagumi buku Aljabar, berhitung adalah sebuah soal yang paling sederhana.
Makan siang tiba, Ganding selalu bawa bekal dari rumah, Ganding yang meminta, katanya sayang uangnya kalau di pakai untuk jajan, dia sudah dapat uang saku dari ibunya, tapi uang itu dia tabung katanya untuk membeli buku yang dia suka, buku itu kadang harganya mahal sekali, makanya dia harus menabung, dia tidak suka meminta lebih dari uang saku untuk hobinya, tidak seperti kakaknya.
“Nggak jajan lagi?” Seorang teman yang katanya nakal dan suka meminta uang pada teman lain bertanya, Ganding hanya mengangguk, dia tidak suka dengan orang yang sok kuat.
“Bagi uang jajan dong,” lanjutnya lagi.
“Mohon maaf tidak,” tegas Ganding.
“Kau mau aku pukuli?” katanya lagi. Dia membawa beberapa orang untuk membuatnya terlihat menakutkan.
“Kau tahu bahwa ada hukum yang melindungi korban perundungan? Kau dan keluargamu bisa saja diseret.” Ganding masih menghadapinya dengan tenang.
“Jangan mentang-mentang keluargamu orang kaya, kau bisa seenaknya, orang tuaku juga kaya,” celotehnya lagi.
“Lalu mengapa kau suka meminta uang ke sana ke mari, kau akan membuat orang tuamu malu.”
“Apa kau bilang!” anak gendut itu menarik kerah baju seragam Ganding, Ganding masih tenang.
“Kau pukul aku di wajah ya, supaya aku punya bukti untuk melaporkannya ke Polisi, kalau kau memukul di bagian tidak terlihat, aku akan membayar kedua orang temanmu ini untuk menjadi saksi, orang tuaku akan membujuk orang tua mereka untuk memaksa memberi kesaksian, kau mau coba?” Ganding terlalu pintar untuk ditindas.
“Kau! ….” Anak itu berkata dengan kesal dan bersiap dengan pukulannya ke arah Ganding, tapi sebelum sampai tangan itu ke wajah Ganding, tiba-tiba lemari, tirai dan pintu bergetar tak beraturan, seperti ada angin yang kencang sedang melanda kelas itu, kalau dipikir secara nalar, tentu itu aneh, bukan?
Anak itu terdiam karena kaget, tapi tangannya masih mengepalnke arah Ganding, sebuah buku yang ada di meja guru tiba-tiba terbang dan terlempar ke arah anak yang hendak memukul Ganding, anak itu jatuh tersungkur, karena buku itu cukup tebal dan pasti terasa sakit di kepala anak itu yang terkena lemparan bukunya.
"A-ada setan!" kata salah satu anak. dia yang bersama anak nakal itu dan berdiri di dekat pintu, dia yang memantau apabila ada yang datang.
"Lu miara setan!" Anak gendut menuduh Ganding, dia lalu pergi setelahnya.
Perkelahian yang tak selesai itu membuat Ganding menjadi terkenal dalam artian negatif, anak-anak kecil itu berbicara di belakang Ganding kalau dia memelihara setan, anak-anak takut padanya, ada yang bilang juga bahwa kecerdasannya karena dia ditemani setan.
Walau secara kenyataan kejadian itu memang ulah si bulu, tapi tidak seperti yang mereka katakan, Ganding terlahir memang dengan berkah kejeniusan yang luar biasa.
Perihal dia dibantu oleh si bulu, itu karena kelakuan si anak nakal itu, jelas si bulu marah jika dia bermaksud mencelakai Ganding, mereka tidka tahu bahwa itu memang tujuannya berada di sisi Ganding.
Ganding awalnya tidak terganggu, ia bukan orang terlalu perduli apa kata orang, tapi yang jadi masalah adalah orang tuanya, mereka itu keluarga terpandang, makanya mereka tidak mau ada anggota keluarga yang mencoreng nama baik itu.
"Mom dapat laporan dari banyak orang soal itu, awalnya Mom nggak tanggapi, tapi semua orang mengatakan itu, termasuk beberapa Pelayan di sini yang bilang kamu suka ngomong sendiri."
Ganding sedang disidang oleh mommynya, sedang daddynya sering pergi ke luar negeri urusan bisnis, jadi tidak terlalu mengurus hal seperti ini.
"Mom, menurut Mommy Ganding gitu nggak?"
"Mommy yakin Ganding jauh lebih bijaksana dari itu, tapi saksi juga nggak bisa diabaikan, karena ini sidang yang sedang Mommy lakukan, maka Ganding sekarang harus paparkan buktinya ke Mommy."
Mommynya memang adil jika ada masalah di rumah.
"Bukti apa? Ganding kan nggak tahu apa aja tuntutannya? sekaranGLg justru Mommy yang harus memaparkan bukti."
"Mommy tidak punya bukti, tapi punya saksi yang lebih dari cukup untuk memenuhi kriteria saksi dalam persidangan, lebih dari tiga prang Nding, baik di rumah maupun di sekolah."
"Baiklah, Ganding tidak punya saksi, tidak punya bukti, tapi izinkan Ganding membela diri, Ganding akan bacakan Pledoi tapi Ganding butuh waktu, kasih Ganding waktu gimana?"
"Nggak bisa, kalau Mommy lepas terdakwa sekarang bisa saja terdakwa menghancurkan barang bukti, karena saat ini buktinya adalah para saksi, ada kemungkinan kamu membuat saksi berubah fikiran. Jadi, jawab Mommy sekarang."
Ganding lupa dia berhadapan dengan wanita yang melahirkannya, Ganding jenius, Mommynya cerdas ditambah umur, jadi dia jelas kalah jam terbang.
"Ya dan tidak."
"Apa maksud jawaban itu?"
"Maksudnya adalah, apa yang mereka lihat benar, tapi apa yang mereka asumsikan tidak benar."
"Memang kau sudah tahu asumsi mereka apa?" mommynya bertanya.
"Mereka pasti bilang aku gila, punya teman khayalan atau sejenisnya. Tapi, aku tidak begitu Mom."
"Lalu kalau tidak begitu, kau termasuk apa? bicara sendiri bisa jadi suatu hal yang tidak bisa dimaklumkan."
"Bisa jadi, aku melihat apa yang kalian tidak bisa lihat." Ganding menatap serius mommynya, karena dia ingin Mommynya jadi orang pertama yang tahu soal itu, walau tidak yakin dengan reaksinya."
__ADS_1
Mommynya terdiam, dia cukup terkejut, menurutnya tahun ini adalah tahun yang cukup modern untuk membahas mengenai hal tersebut, bukan sesuatu yang bisa menjadi hal biasa untuk dihadapi.
"Berarti ... kamu tak bisa membuktikan bahwa perkataanmu benar atau bohong belaka, karena kau sendiri yang melihatnya. Bisa saja, kau hanya dipermainkan oleh pikiranmu sendiri."
"Bisa saja, makanya aku memberitahunya padamu, karena aku berharap, kau menggunakan naluri keibuan, bukankah katanya cinta inubulah yang buta, tak bisakah kau mengabaikan omongan mereka, bukankah prestasiku baik dan aku selalu membanggakan kalian?"
Ibunya makin terdiam, dia ... takut, takut kalau Ganding memang sudah hilang akal karena kejeniusannya itu, di dunia barat banyak ditemukan kasus seperti itu, orang yang sangat jenius berkata bahwa mereka sering mendengar orang berbicara dengannya, seorang intel, agent rahasia dan mengajak untuk berperang, padahal tidak pernah ada yang melihat orang itu, ibunya sudah termakan budaya barat.
"Kita akan konsultasi dengan Psikiater, hasilnya yang akan aku pegang."
"Ah, ternyata omongan mereka tentang cibta ibu yang buta itu tidak benar ya." Ganding protes dengan perkataan yang membuat ibunya kecewa, pada dirinya dan anaknya.
"Mari kita lakukan itu dulu ya Nak, karena aku ingin memastikan kau sehat, aku melakukan ini karena aku mencintaimu, aku takut kalau kau sedang dipermainkan oleh pikiranmu sendiri, makanya, mari kita temui dulu Psikiater ya, aku mohon."
Jika mommynya sudah memohon Ganding tidak mampu menolak, karena dia tahu, mommynya adalah orang yang harus dia hormati dan patuhi.
"Baiklah, ayo kita ke sana." Ganding mengalah.
...
Jadwal bertemu dengan Psikiater akhirnya sudah ditentukan, ini adalah harinya, Ganding harus bertemu dengan seorang Psikiater yang katanya sangat ternama, dia banyak menyembuhkan anak yang memiliki sakit mental.
"Baiklah sekarang saya sudah mendengar lebih dari cukup apa yang saya butuhkan, saya akan bicara dengan Ganding berdua saja."
Lalu Ganding yang di ruang kaca tempat bermain anak itu sedang membaca akhirnya dipanggil untuk berbicara dengan Psikiater itu.
"Jadi, namamu Ganding Prawira?"
"Iya Dok." Ganding duduk dengan santai, bersandar pada kursi dan kakinya memangku kaki yang lain.
"Ganding ada yang mau diceritakan padaku?"
"Tidak ada, Mommy suruh ke sini untuk konsultasi, jadi saya hanya ikuti mau Mommy."
"Konsultasi, jadi kamu tahu bahwa kamu diajak ke sini untuk konsultasi denganku?"
"Ya, lagian untuk apalagi selain konsultasi, kau itu kan Psikiater, ujung-ujungnya juga resepin obat, padahal aku lebih setuju ke Psikolog aja, aku kurang suka minum obat, tapi mommy lebih percay padamu, katanya kau cukup populer."
"Oh, begitu, aku tersanjung."
"Apakah anak-anak itu benar gila, Dok?"
"Tidak ada anak yang gila, semua hanya sedang sakit dan butuh bantuan saja," Dokter menjawab.
"Aku akan memeriksa, wawancara seperti yang kita lakukan sekarang, lalu baru pemetaan penyakit dari wawancara tersebut, tidak asal diagnosa." Psikiater itu masih memjawab dengan tenang, walau sudah banyak menghadapu anak bermasalah, api menghadapi anak jenius, baru kali ini.
"Syukurlah kalau begitu, kebayang nggak Dok, misal ya, Dokter salah diagnosa, ternyata ada penyakit yang Dokter nggak pahami, bukan ranah medis, lalu akhirnya anak itu mendapatkan penanganan yang salah, dipaksa minum obat padahal nggak sakit, apakah dia akan baik-baik saja dengan tubuh penuh bahan kimia itu di umur yang sangat muda."
"Ini diskusi yang bagus, baiklah, mari kita berandai-andai, misalkan, misalkan ya, ada anak yang salah diagnosis, lalu dikasih obat yang memang kecenderungan pada prilakunya sudah sesuai dengan batas-batas yang telah dibukukan dalam ilmu Psikiater, karena biasanya Psikiatet nggak asal ambil kesimpulan ya, pasti melalui banyak pertimbangan."
"Ok lalu apa?" Ganding bertanya.
"Bukan aku yang harus menjawab pertanyaan apa itu, tapi kau. Lalu apa? Apa kemungkinan lain dari diagnosa yang sangat mendekati pada prilaku anak tersebut, apa yang memungkinkan selain kemungkinan penyakit yang telah diobservasi bersama itu."
"Dokter percaya pada dunia lain?"
"Hmm, pertanyaan yang mudah tapi sulit dijawab, baiklah karena di agamaku diajarkan sift ghaib, aku percaya adanya dunia lain."
"Ok, lalu apakah Dokter tahu bahwa satu makhluk pada satu dunia bisa sling bersinggungan?"
Dokter itu terdiam, dia sepertinya sedang memikirkan jawaban yang tidak menyakiti Ganding.
"Pernah dengar tapi aku tidak percaya hal itu, baik dunia kita maupun dunia 'mereka' tidak pernh akan tercampur, karena mereka dan kita dicpitakan di dua dunia yang berbeda, kalau tercampur buat apa diciptakan dua dunia, udah aja satu dunia, tinggal bareng deh."
"Dokter pernah dengar cerita tentang nabi Adam?"
"Pernah dong."
"Berarti Dokter tahu dong, kalau ada bangsa jin yang menentang sujud pada Adam?"
"Hmmm, ya."
"Pernah dengar juga nggak? Kalau dulunya si iblis yang dari bangsa jin itu yang tubuhnya dari api, adalah ahli ibadah sebelum dia menentang perintah Allah."
"Ya aku tahu ceritanya," jawab si Dokter.
"Berarti jin sudah diciptakan jauh sebelum manusia diciptakan dong Dok? dunia mereka juga sudah diciptakan jauh sebelum manusia diciptakan kan, Dok? makanya dunianya berbeda karena dzat pembentuknya aja beda, satu api satu tanah, mana bisa dicampur hidup bareng."
"Jadi intinya adalah?"
"Dokter belum bisa menyimpulkan?" Ganding merasa menang dengan diskusi ini karena Dokternya tidak paham maksud Ganding, atau pura-pura tidak paham?"
"Belum, apa kesimpulannya?"
__ADS_1
"Bagaimana jika sebenarnya mereka adalah anak yang terpilih untuk bisa merasakan dunia lain yang Tuhan berkahi ilmu lebih dari manusia lain bertujuan untuk membantu sesama?"
Dokter itu tersenyum, dia sudah mendapatkan diagnosanya.
"Aku tahu, kau pasti sekarang sudah mengambil kesimpulan bukan? bahwa aku memiliki sifat narsis dimana itu adalah cabang prilaku bagi penyakit gangguan narsistik, abis ini pasti kaumeresepkan obat." Ganding terlihat kesal dan kecewa.
"Kau ... bagaimana kau tahu tentang itu?" Dokter itu bingung.
"Ya apa lagi? Kau hanya dapat satu clue, aku merasa mendapat berkah dan bis amenyelamatkan dunia, maka itu adalah ciri gangguan narsistik bukan? merasa diri sangat penting."
"Ya ...."
"Kau tidak menyisakan sedikit saja kemungkinan aku benar? bahwa kami memang terlahir berbeda, apakah baru-baru ini tidak ada kasus sepertiku yang membuatmu sedikit saja goyah?"
Dokter itu tertegun, nama Jarni langsung terbayang di pikirannya, Jarni sempat membuatnya goyah karena dia membuat pundak Dokter terasa berat, ketika mengatakan ada yang datang.
"Tidak." Tentu Dokter ingin dialah pemenang diskusi ini.
"Tidak atau kau menutup mata Dok?" Ganding bersikeras.
"Tidak Ganding, semua apa yang kalian rasakan, ada penjelasannya," jawab Dokter itu.
"Aku tidak mau diresepkan obat."
"Kita belum pada tahap itu, baru satu kali wawancara."
"Apakah mommy sudah beritahu apa gosip yang tersebar di sekolah?"
"Belum, apa itu?"
"Ah pasti kelewat, mommy emmang pelupa. Teman-temanku bilang, aku ini berteman dengan setan, makanya aku jenius."
"Oh, apakah itu benar."
"Ya dan tidak."
"Ya dan tidak?" Dokter bingung.
"Ya aku berteman dengan makhluk tak terlihat, seperti setan tak terlihat, tapi dia bukan setan."
"Bagaiman kau yakin dia bukan setan?"
"Setan itu menggoda berbuat keburukan, tapi dia, bicara saja tidak."
"Kalau begitu, dia ngapain jadi temanmu? si makhluk tu?" Dokter bertanya lagi.
"Dia ... kau mau tahu dia ngapain jika di sampingku?"
"Ya, aku penasaran." Dokter itu bersikap seolah penasaran, dalam hatinya dia yakin, Ganding akan melontarkan lagi kata-kata bualan.
"Baik, tapi janji, ini rahasia kita berdua."
"Iya aku janji." Dokter mengulurkan kelingking tanda janji pada Ganding, glGanding menyambut kelingking itu agar janji itu menjadi terikat melalui kelingking.
"Katakan padaku, kau ingin baca buku apa saat ini?" Ganding meminta Dokter menunjuk buku yang ingin dia baca.
"Sekarang?" Dokter bingung.
"Ya." Ganding mengatakan dengan yakin.
"Itu buku sifat dasar manusia, sebelah kiri dari rak ke lima." Dokter mengajukan judul buku yang ingin dia baca.
"Baiklah, Bul, ambilin buku yang Dokter mau baca ya." Ganding berkata pada seseorang, Dokter mencoba menelaah, karena tidak ada siapa pun selain mereka berdua.
Saat sedang berfikir tentang Ganding yang seperti memerintah sesuatu untuk mengambil buku, tiba-tiba rak di mana buku itu berada bergetar, seperti ada yang bersandar, lalu sedetik kemudian, buku itu keluar dari tumpukannya dan melayang di udara, Dokter terkejut bukan kepalang, dia sampai tidak sadar membuka mulutnya lebar.
Buku itu mendarat dengan sangat lembut di meja Dokter, seolah terbang.
"A-apa yang, apa yang ...." Dokter itu menjadi begitu panik dan mulai berkeringat.
Kan, sudah kubilang, aku nggak suka obat, makanya aku minta tolong si Bulu buat buktikan.
________________________
Catatan Penulis :
Malam semua, menurutku ini part paking keren, kalian suka nggak?
Kalau suka coment dan like ya, kasih vote boleh bgt.
Malam
Terima Kasih.
__ADS_1