
“Ibu bikinin kopi susu dulu ya kayak bisa, supaya kamu bisa belajarnya fokus dan kuat.” Ibunya Ani berkata. Ani hanya mengangguk, dia sedang sibuk membaca buku pelajaran Bahasa Indonesia.
Ibunya lalu ke dapur dan seperti biasa membuatkan kopi susu untuk anaknya, anaknya yang berumur lima belas tahun, duduk di bangku kelas dua SMP itu, memang tidak susu putih ataupun coklat, tapi suka susu kopi buatan ibunya.
Menurut ibunya tak masalah, jika anaknya suka kopi susu, mungkin sedikit kopi bisa membuatnya fokus belajar saat malam hari karena efek kafein itu kan membuat seseorang jadi lebih bertenaga, jika diberikan dengan takaran yang tepat, takaran ibu.
“Ani ini minum dulu, Nak.” Ibunya memberikan kopi susunya, Ani bangun dari meja belajar yang ada di kamarnya, menghampiri ibu yang ada di depan pintu kamarnya, mengambil kopi susu itu dan meminumnya, seteguk, dua teguk, tiga dan selajutnya hingga habis.
Lalu kembali ke meja belajarnya dan mulai belajar.
Ibunya sangat senang, Ani sekarang jadi anak yang sangat raji belajar, karena dulunya, dia itu anak yang malas belajar, sukanya hanya baca komik, main dengan teman sebayanya dan tentu saja, sibuk dengan telepon pintarnya.
HIngga akhirnya dia tidak naik kelas dan harus mengulang kelas satu SMP, ibunya sangat malu dengan gujingan tetangga, bahkan ayahnya Ani juga jadi jarang pulang, ibunya tahu, itu pasti karena malas melihat anak yang tidak berprestasi itu.
Tapi beberapa bulan belakangan, Ani jadi rajin belajar, dia jadi sangat rajin, bangun pagi saat akan sekolah, makan siang tepat waktu hanya makanan yang dibawakan ibunya, pulang tanpa mampir dulu ke tempat teman-temannya dan langsung mengerjakan PR, makan siang lalu tidur, sore dia bangun untuk mandi dan selepas maghrib Ani akan mulai belajar agar ujian nanti dia sudah bisa mengerjakan dengan lancar, karena belajar jauh-jauh hari.
Ibunya bangga. Karena dia mendapat kabar dari wali kelasnya Ani, semua perubahan terjadi cukup cepat, mereka kira karena tidak naik kelas benar-benar mmebuat Ani malu dan sekarang berusaha untuk bisa naik kelas.
[Yah, pulang dong, udah dua minggu nih kamu nggak pulang.] Ibunya menelpon ayah Ani, membujuk untuk pulang.
[Tidak bisa, pekerjaan sedang banyak, Ayah selalu dibebankan banyak kerjaan, repot kalau pulang pergi Bandung, Jakarta, capek juga. Ngerti aja, Bu. Ini juga buat kalian, supaya kita bisa hidup dengan tenang kelak tanpa kesulitan uang.”
[Tapi Yah, anak kita itu sudah rajin belajar, dia anak yang baik sekarang, Ayah nggak perlu kesal dan marah sama dia lagi.]
[Bu, paling dia hanya sebentar begitu, wajarlah anak remaja, sudah dulu ya, Ayah mau istirahat dulu, besok kan mesti bangun pagi untuk kerja lagi.]
Istrinya menutup telepon dengan sedih, dia kesepian, karena sebenarnya dia ingin suaminya lebih mengerti, tidak selalu kerja dan lupa pulang. Untung anaknya sekarang sudah baik, tidak seperti dulu nakal.
Bukannya tidak tahu bahwa ada imbas karena kurangnya perhatian ayah yang membuat Ani seperti itu, dia merasa ibunya yang selalu kalah dalam hal apapun darinya, membuat Ani lupa diri, dia tidak paham bahwa ada aturan dan orang tua yang harus dihormati.
Walau sadar bahwa suaminya kurang perhatian pada Ani, dia tidak berani mengatakannya terang-terangan, takut bertengkar dan akhirnya membuat suaminya makin tidak betah di rumah.
Kalau uang bulanan dari suaminya memang selalu cukup, itu juga jadi alasan, ibunya Ani enggan mencari masalah, karena dia hanya ibu rumah tangga yang tidak punya pekerjaan, sumber keuangannya hanya suami saja. Makanya walau tahu sikap Ani adalah imbas dari sikap suaminya, dia tidak bisa mengeluh, syukurlah ada Endah, temannya yang mengerti, dia akhirnya bisa membantu ibunya Ani untuk membuat Ani jadi lebih baik.
...
“Si Ani kenapa sih? nyebelin banget, di ajak ke kantin nggak mau, di ajak maen pulang sekolah nggak mau, trus diajak main abis maghrib juga nolak! Males gue sama die lama-lama.” Teman-teman yang dulu sangat akrab dengan Ani mengeluh, saat ini jam istirahat, mereka di kantin, dulu Ani selalu gabung dengan mereka, tapi sudah beberapa bulan ini Ani tidak ikut gabung ke manapun, saat istirahat dia makan di kelas, bekal ibunya. Padahal dulu bekal ibunya selalu diberikan ke orang lain dan dia jajan di kantin, buat geng remaja itu, makan bekal itu hanya untuk anak cupu.
“Dia kayaknya malu deh sama kita, makanya nggak mau gabung, kan lu tahu dia nggak naik kelas, jadinya sekarang kita beda kelas dan beda tingkat, makanya dia malas gabung. Dasar cupu, masa gara-gara nggak naik kelas dia jadi sok anak baik gitu.” Temannya yang selalu membuat onar, berpakaian seksi dan sering bolos itu berkata.
“Malu? Ani? Harusnya dia malah bangga, ingat, kan, moto kita, nakallah semasih bisa.” Mereka berlima lalu tertawa.
“Iya juga sih, aneh ya si Ani, kita samperin yuk entar abis pulang sekolah. Kalau nolak lagi, kita seret dia ke tempat tongkrongan, kasih Vape, dia kan suka banget tuh rokok elektrik gitu.”
“Wah ide bagus, yaudah kita semua ngumpul buat seret anak itu ya.” Salah satu wanita yang adalah ketua dari geng itu berkata.
Waktu pulang sekolah tiba, Ani sedang berjalan untuk pulang seperti anak lain, dia terus berjalan. Saat sudah melewati gerbang, dia melihat gerombolan teman-temannya hendak menghampiri, dia hanya acuh tak acuh, tidak berusaha menghindar atau berusaha untuk mendekat.
“Ni, nongkrong yuk.” Ketua geng itu yang bernama Kamila menghampiri, dia berusaha menarik tangna Ani, tapi bukannya Ani ketarik, malah dia yang jatuh. Seolah Ani itu ditarik dari sisi lainnya dan Kamila jadi jatuh karena tarikan dari sisi lain itu, karena ketarik balik.
__ADS_1
Kamila melihat sisi lain dari Ani tapi tidak ada siapa-siapa di sana, Kamila sempat merinding, karena ekspresi Ani sungguh datar, dia tidak bergeser sedikitpun dari berdirinya, padahal Kamila menariknay dengan kencang.
“Kamila, bangun.” Teman yang lain berusaha menolong Kamila yang jatuh.
“Ni, ayolah kita main.” Teman lain berusaha membujuk.
Ani lalu melihat ke arah temannya itu, tubuhnya masih menghadap depan sedang kepalanya menengok, dia hanya menatap tajam lalu menjawab, “Aku tidak mau bermain dengan anak bodoh.”
Setelah mengatakannya dia lalu pergi begitu saja, membuat yang lain bingung dan terkejut, kenapa Ani berubah drastis begitu? kenapa Ani tidak seperti dulu lagi? Kamila dan yang lain gagal membuat Ani ikut ke tongkrongan mereka.
Setiba di rumah Ani Ani lalu mengganti baju sekolah, setelahnya dia mengerjakan PR.
“Ni, udah pulang?” Ibunya masuk kamar, Ani hanya mengangguk saja, tidak menengok sama sekali.
“Mau ibu bikinini kopi susu, biar belajarnya kuat?” Ibunya bertanya sembari mengusap kepala anaknya, anak yang sangat dia banggakan sekarang, tidak malu lagi saat berkumpul dengan ibu-ibu yang membeli sayur di tukang sayur setiap pagi.
Mereka biasanya selalu melapor bagaimana berandalnya Ani, tapi sekarang, tidak ada laporan lagi, yang ada hanya pujian, karena Ani anaknya sopan, mau membantu kalau tetangga ada yang kesulitan dan murah senyum.
Kalau dulu, Ani selalu saja membuat marah semua orang, kelakuan brandalnya, kurang ajarnya dan kata-kata kotor yang selalu terlontar itu, semuanya berubah.
“Mau, Bu.” Ani menjawab pertanyaan ibunya yang menawarkan kopi susu.
“Sebentar Ibu buatkan, ya.” Ibunya keluar dari kamar dan membuatkan kopi susu kesukaan Ani. Setelah jadi, dia masuk ke kamar dan memberikannya, Ani menerima gelas kopi susu itu dan meminumnya dalam beberapa kali teguk.
“Makasih ya, Bu.” Ani lalu kembali meneruskan untuk mengerjakan PR.
Ani meneruskan belajarnya.
“Kau pikir kau anak pintar?” Ani kesal, lagi-lagi suara itu, benar-benar mengganggu.
“Hei, hei ... kau!” Ani mencari lagi suara itu di sekeliling kamarnya.
Tidak ada! Kosong.
Ani kembali mengerjakan PRnya.
“Ani ... kau itu ... bodoh!!!” Suara cekikikan yang Ani tidak tahu darimana datangnya kembali terdengar.
Ani sebenarnya lelah, karena beberapa bulan ini suara itu terus muncul, suara itu membuat dirinya takut, pada awalnya. Tapi lama kelamaan Ani jadi penasaran, suara apa itu, siapa itu? Kenapa dia selalu menghina Ani.
“Ani ... kau itu bodoh!” Suara itu lagi, Ani berdiri, dia lalu mencoba untuk keluar saja, dia kesal dengan suara itu, tapi ... saat dia hampir sampai di pintu dan melewati kaca, dia terkejut bukan main dan berteriak, karena ... karena ... di kaca dia melihat seorang anak perempuan seumuran dengannya, sedang menggendong di belakang tubuhnya, wajahnya menghitam dengan pakaian putih yang lusuh.
“Kenapa Nak?” Ibunya terlihat berlari dan langsung masuk kamar Ani.
“Ibu, Ani takut Bu, ini ada perempuan di punggung Ani.” Ani menunjuk punggungnya, ibunya memerksa punggung Ani dan tidak melihat apapun.
“Nggak ada apa-apa di punggung Ani, mungkin tadi binatang aja, Ni. Jangan takut ya, Ibu ada di sini.” Ibunya memeluk Ani, Ani masih takut, tapi dia memberanikan diri untuk melihat ke kaca lagi, tempat tadi dia melihat anak perempuan itu di punggungnya, sudah tidak ada. Tidak ada apa-ala di punggung Ani, Ani memeluk ibunya dan meminta untuk makan saja, dia takut.
Selama beberapa bulan ini memang Ani sering mimpi aneh, ada anak perempuan berpakaian putih persis seperti yang dia lihat barusan, anak perempuan seumurannya dia ini menatap tajam padanya sambil berteriak kalau Ani bodoh dan nakal.
__ADS_1
Ani ketakutan, makanya dia mulai belajar, tapi anak perempuan itu ternyata tidak hanya mengejarnya di mimpi, dia juga mengejarnya di dunia nyata, Ani kadang melihatnya di pantulan kaca, tidak hanya seperti tadi, tapi beberapa kali di sekolah.
Ani sangat takut, tapi sekarang dia hanya merasa terganggu saja.
Ani makan dengan tenang di meja makan, ditemani ibunya.
“Bu, ayah kapan pulang?” Ani tiba-tiba bertanya saat dia makan.
“Hmm, ayah bilang minggu depan, Nak. Memang kenapa?” Ibunya berbohong, ayahnya tidak pernah berjanji kapan pulang, dia hanya ingin anaknya tenang dulu.
“Kangen.” Dia menjawab dengan datar saja, lalu kembali menyuap makanannya.
“Ani suka nggak sayurnya?”
“Iya.” Ani makan dengan tenang dan datar, dia makan cukup banyak, ibunya bahagia, karena dulu Ani sangat benci sayur dan masakan ibunya, dia selalu minta makan di luar atau di tempat tongkrongannya bersama geng sekolah, tapi sekarang Ani selalu memilih makanan di rumah dan memakan apapun masakan ibunya tanpa mengeluh, pun tanpa pujian, hanya makan saja dengan tenang.
Setelah selesai makan, dia lalu membawa piringnya ke tempan cucian piring dan mencucinya, salah satu kebiasaan Ani yang baru, kebiasaan yang membuat ibunya terharu.
Ani mencuci piring dengan tenang dan ....
“Ani ... anak bodoh yang pemalas ....” Suara itu muncul lagi, dia jadi tidak fokus untuk mencuci piring.
Tapi berusaha untuk mencuci saja dan tidak menghiraukan suara itu.
“Ani ... Aniiiiiiii.” Suara itu terdengar di telinganya, jelas sekali hingga membuat telinga dingin, telinga sebelah kanan, dia lalu menengok ke sebelah kanan dan tepat wajah itu, wajah menghitam itu ada di sisi kanan, wajah Ani dan wajah menghitam itu sangat dekat, Ani ingin berteriak, tapi tidak bisa, wajah itu terus menatapnya dalam jarak dekat, dia lalu berbisik di hadapan Ani, bisikan aneh seperti mantra, tapi bisikan itu sangat menakutkan dan membuat merinding.
Ibunya melihat Ani dan tersenyum, dia melihat Ani masih mencuci piring dengan tenang. Dalam hatinya, dia sungguh bangga pada Ani.
Ani terus berusaha untuk berteriak, tapi sekarang dia bahkan tidak bisa bergerak, sama sekali tidak bisa bergerak. Bahkan memalingkan wajahnya saja tidak bisa.
Ibunya yang memperhatikan Ani, lalu menghampirinya, dia ingin Ani tidak terlalu lama mencuci piring dan menggantikan Ani agar dia bisa tidur siang dulu.
“Sayang, udah biar ibu yang lanjutin.” Ibunya menepuk bahu Ani bangian belakang, Ani yang dilihat ibunya dari belakang sedang mencuci piring itu, tiba-tiba seperti terkejut, dia lalu pingsan.
...
[Ani masuk rumah sakit, Yah.] Ibunya menelpon ayahnya, setelah pingsan tadi, ibunya langsung membawa Ani ke rumah sakit.
[Kenapa lagi dia!] Ayahnya terdengar tidak khawatir.
[Dia pingsan, mungkin kelelahan belajar, dia itu belajar sampai larut terus.]
[Kau mengada-ngada saja! Dia itu anak nakal, mana mungkin dia belajar dengan tekun seolah akan masuk SMA.]
[Yah! makanya pulang, biar tahu anaknya berubah, kalau pulang juga, jangan sibuk dengan hpmu, harusnay kau sudah lihat beberapa bulan ini dia berubah.]
[Aku sibuk, kau urus saja dia, kau pegang kartu asuransi dari perusahaanku kan? jadi kau tidak perlu aku.] Suaminya lalu menutup telepon.
Ibunya Ani menangis, dia sangat sedih, sudah salah memilih suami, kasihan anaknya, dia menunggu ayahnya di rumah, walau ibunya Ani agak heran, Ani tidak pernah begitu, dia tidak pernah menanyakan ayahnya ,tidak terlalu peduli pada ayahnya, justru dia senang ayahnya tidak di rumah, karena bisa bebas, tapi itu dulu, sebelum Ani berubah, setelah berubah, Ani jadi lebih sering menanyakan ayahnya.
__ADS_1