Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 325 : Bangga 3


__ADS_3

“Observasi yang paling tepat sasaran adalah mendatangi langsung sumbernya, karena ada banyak hal yang tidak tertulis di sosial media, media online dan sebagainya.”


“Ya aku setuju, tapi tiga puluh keluarga, apa kau pikir kita bisa menyelesaikannya dalam waktu cepat, mengingat korban masih terus terhitung.” Ganding bertanya, dia suka semangat Aditia, tapi tidak dengan tindakan gegabahnya. Tepat juga harus efisien.


“Kita pilah korban yang paling mungkin memberi kita jalan untuk mendapatkan jawaban.” Alka memberikan solusi.


“Jadi siapa yang akan kita observasi keluarganya?” Hartino bertanya.


“Beberapa korban terakhir.” Ganding memberikan jawaban.


“Ya aku setuju.” Aditia menjawab.


“Ya, aku pikir itu juga ok.” Hartino ikut setuju, Jarni seperti biasa, tidak suka bicara, hanya percaya pada keputusan kawanan.


“Tapi bukankah kuncinya juga terkadang ada pada kejadian pertama, karena kejadian pertama bisa jadi kejadian yang menjadi pemicu kejadian-kejadian selanjutnya.”


“Oh ya, kau benar Alisha, kejadian berikutnya bisa jadi hanya mengikuti patternnya saja. Jadi bukan murni sumber masalahnya.” Ganding semangat, Hanya Alisha yang bisa menandingi logisnya Ganding. Dia wanita, tapi sikap nekat dan jiwa petualangannya tinggi, karena itu dia punya banyak pengalaman, hingga membuatnya memiliki wawasan yang jauh lebih luas. Mengingat kejadian ghaib yang dia alami sudah melewati lautan, samudera dan gurun pasir.


“Kalau begitu, awal dan akhir, bagaimana?” Alka bertanya lagi.


“Ya, itu yang terbaik.”


“Kalau begitu, mari kita bagi tiga kelompok!” Hartino bersemangat.


“Kau itu bersemangat sekali Har, apa karena sekarang telah punya rekan kerja lagi?” Ganding meledek.


“Hei, siapa bilang aku masuk kawanan lagi? aku hanya sedang mampir mengunjungi suamiku.” Alisha  terlihat malu, karena tadi dia tiba-tiba ikut nimbrung, terbiasa memberikan pendapat membuat Alisha lupa kalau dia sekarang hanya orang biasa.


“Sudah, ayolah, aku dan Alka akan ke tempat keluarga korban pertama, keluarga Ani. Sedang Ganding ke keluarga korban terakhir. Har, seperti biasa ya, kau akan meneliti informasi apapun di internet yang paling gelap.” Aditia sudah memberikan tugas, dia ketuanya semua orang patuh.


Alka dan Aditia sudah mendapatkan informasi alamatnya dari Hartino, dia selalu mendapatkan apapun yang dibutuhkan dengan cepat, Hartino memiliki kemampuan yang baik memanfaatkan tekhnologinya.


Lalu mereka mulai menyebar dengan tugas masing-masing. Alka dan Aditia selalu menggunakan angkot bapak. Sedang Jarni dan Ganding dengan mobil mini mewah mereka.


Aditia sampai di rumah korban pertama, keluarga Ani.


Aditia mengetuk rumah itu, rumah yang terlihat sangat tidak terurus, cat mengelupas di mana-mana, daun dan ranting menjadi sampah di halaman dan debu juga menempel pada barang-barang yang ada di halaman, seperti pot, asbak dan bangku yang memang sengaja ditaruh di teras.


Aditia sekali lagi mengetuk, ada suara orang jalan dari arah dalam, ketika pintu dibuka, seorang lelaki yang mungkin berumur 40 tahunan terlihat.

__ADS_1


“Cari siapa?” tanyanya.


“Saya Aditia dan ini Alka, kami dari lembaga perlindungan anak, kami ....”


“Kalian mau apalagi sih? kami sudah kehilangan anak, apakah kalian mau kami dipenjara juga? ini sudah lewat beberapa tahun lalu, kami masih berusaha menjalani hidup dengan baik, lalu kalian malah terus memaksa kami mengakui telah menyiksa anak!”


Aditia tahu, ini pasti ayahnya Ani, dia dan Alka sudah mengantongi identitas palsu yang Hartino buat, karena terkadang Alka dan Aditia harus punya persiapan khusus agar dia bisa menghadapi orang-orang yang teliti dan menanyakan identitas mereka yang sebenarnya palsu.


Tapi sepertinya identitas kali ini tidak dipertanyakan oleh ayahnya Ani, dia percaya makanya langsung frontal.


“Maaf Pak, kami datang bukan untuk menuntut, tapi pendampingan untuk orang tua yang ditinggalkan oleh anak.”


“Apa maksudnya?” Sudah mulai melemah, tapi ayahnya Ani masih tetap curiga.


“Mungkin yang menemui bapak sebelumnya rekan kami, mereka dari departemen yang berbeda, mereka yang menangani kasus anak, sedang kami adalah dari departemen pendampingan keluarga, jadi tugas kami untuk membantu bapak dan istri untuk bisa melewati kehilangan anak, memastikan bahwa keluarga kalian bisa tetap menjalani hidup dengan tenang setelah kehilangan yang besar ini.” Aditia sudah belajar bagaimana caranya berbohong yang baik, yaitu meninggikan empati hingga orang langsung bisa percaya, karena orang yang menunjukkan empati tidak banyak pada orang-orang yang sedang dilanda masalah.


Umumnya orang-orang akan menjauh, menghakimi bahkan enggan membantu orang-orang yang sedang terkena musibah, karena mereka takut tertular, seolah musibah adalah penyakit.


“Memang ada? Departemen seperti itu?” Ayahnya Ani makin melemah, tapi dia masih bimbang.


“Ini kartu nama kami, kalau tidak percaya, Bapak bisa hubungi nomor telepon yang tertera di nomor itu, nomor kantor kami, untuk mengkonfirmasi identitas kami.”


“Kalau begitu, silahkan tunggu dulu di bangku teras, saya akan hubungi kantor kalian, maaf.” Ayahnya Ani menutup pintu kembali, Alka sudah mengirim pesan singkat ke markas.


[Selamat siang, dengan Lembaga Perlindungan Anak pusat ada yang bisa dibantu?] Suara Alisha dari sebrang sana terdengar. Ayahnya Ani benar-benar menelpon kantor, nomor yang tertera di kartu nama itu.


[Saya mau tanya Mbak, apakah benar kalau Pak Aditia benar dari kantor lembaga?]


[Oh ini dengan keluarga Ani ya, betul sekali Pak, Pak Aditia memang relawan dari lembaga kami, dia adalah Psikolog yang didampingi oleh Asistennya Pak, Ibu Saba Alkamah. Mereka berada di departemen pendampingan keluarga, tugasnya mendampingi keluarga yang telah kehilangan anak. Tenang saja Pak, pendampingan ini program pemerintah, kami mendampingi dengan sukarela sebagai wujud pengabdian kepada negara dan masyarakat, jadi bapak tidak perlu khawatir. Apakah Bapak ingin bicara dengan atasan saya agar lebih yakin? beliau adalah Pengacara di lembaga ini.] Maksud Alisha adalah Hartino.


[Tidak, tidak perlu, terima kasih, saya hanya memastikan bahwa benar mereka dari lembaga, bukan penipu.]


[Oh tenang saja Pak, mereka berdua benar datang dari lembaga, tapi biasanya relawan kami selalu membawa surat tugas jika ada kunjungan ke rumah warga, apakah Pak Aditia tidak menunjukan surat tugas?] Alisha bertanya.


[Oh belum saya minta sih, coba nanti saya minta.]


[Baik silahkan Pak, surat tugas tersebut ada kop surat dari lembaga kami dan cap tanda tangan dari ketua lembaga, nanti surat tugas itu hanya ditunjukkan ya pak, pada akhir kunjungan surat itu harus ditandatangani Bapak sebagai warga yang dikunjungi, untuk laporan kami, jadi tidak diambil ya Pak, hanya ditujukan.]


[Iya, saya mengerti, terima kasih ya Mbak.]

__ADS_1


[Baik, ada yang bisa dibantu lagi?} Alisha masih berusaha untuk menjawab dengan perofesional, padahal begitu dikirim pesan oleh Alka, dia dan Hartino langsung mencari dialog profesional di internet untuk menghadapi ayahnya Ani yang menelpon, sungguh sangat menegangkan, karena Alisha takut kalau dia salah bicara.


“[Tidak, sudah cukup, terima kasih ya Mbak.] Ayahnya Ani akhirnya menutup telepon dan keluar dari rumahnya menuju teras, tempat di mana Aditia dan Alka duduk menunggu.


“Maaf ya menunggu lama, saya sudah konfirmasi, apakah kalian membawa surat tugas dari lembaga?” Sesuai petunjuk Alisha, ayahnya Ani bertanya.


“Oh iya Pak, ini surat tugasnya.” Aditia menunjukan surat tugas yang dicetak di atas kop surat dan ditandatangani oleh ketua lembaga dengan cap yang jelas dan terang.


Cap dan format kop surat memang sudah mereka miliki sejak lama, karena pasien kawanan juga banyak yang anak-anak, makanya mereka sering sekali menyamar menjadi petugas Lembaga Perlindungan Anak.


Hartino mempersiapkan semuanya dengan sangat matang dan terlihat profesional. Katanya, kalau mau nipu, harus sekalian, jangan setengah-setangah. Makanya persiapannya begitu matang dan meyakinkan. Jika tak ada Hartino dengan semua kehebatan tekhnologinya, tentu kawanan akan datang ke rumah pasien mereka seperti preman, mengetuk dan memaksa untuk mendapat informasi, lalu nantinya mereka akan masuk penjara karena memaksa itu.


Makanya bantuan Hartino adalah hal yang paling diandalkan.


“Iya, baik, sudah benar surat tugasnya. Kalau begitu, silahkan utarakan maksud dari Bapak dan Ibu datang ke rumah kami.”


Aditia buru-buru memasukkan surat tugasnya ke dalam tas untuk menghilangkan bukti, sedan kartu nama kan tidak disertai foto, jadi tidak akan membahayakan, kalau surat tugas itu ada kop surat bisa jadi kena pasal pemalsuan. Pakaian Alka dan Aditia memang terlihat sangat rapih dan angkot mereka tentu tidak di parkir di depan rumah itu, jauh dari sana angkot itu di parkir, takkan hilang, karena jangankan dicuri, didekati saja angkot itu akan membuat orang itu menjadi ketakutan.


“Seperti yang sudah kami utarakan sebelumnya bahwa kami dari departemen pendampingan keluarga korban, kami sudah membaca berkas Ani dan itu membuat saya serta Alka tergerak untuk datang dan membantu pemulihan.”


“Kehilangan itu, memang membuat kami terpuruk Pak, saya dan istri tidak bisa lagi hidup seperti dulu, kami ... sangat menyesal.”


“Menyesal?” Aditia bertanya dan Alka pura-pura mencatat, walau dia telah meminta izin untuk memasang alat perekam, alasannya untuk disetor ke pusat, bukti bahwa mereka memang sedang melakukan pendampingan.


“Ya, karena saat itu saya pergi meninggalkan anak saya dan akhirnya membuat istri saya sendirian menghadapi kenakalan Ani, dia berhasil membuat Ani jadi anak yang rajin setelahnya, tapi mungkin caranya salah, hingga Ani sakit karena kelelahan belajar. Ani meninggal karena kelelahan.


Andai saya bisa menurunkan ego kemarahan saya pada istri dan anak saya yang membuat hidup saya jadi malu, di seluruh lingkungan ini Ani terkenal anak berandal, saya sebagai ayahnya malu dan merasa tidak mampu mendidik anak dengan baik, makanya karena itu saya tidak pulang, saya malu karena setiap saya pulang pasti ada saja yang mengadu tentang kenakalan Ani. Saya ini lelah dan ketika pulang ke rumah, saya berharap bisa pulang dengan tenang dan menikmati istirahat, tapi ternyata bukannya menikmati istirahat, saya malah dihadapkan dengan persoalan yang membuat kepala saya hampir pecah karena malu dan marah. Anak perempuan saya dicap berandalan.


Saya jadi jarang pulang dan lebih memilih saat libur tidur di kantor, saya lelahkan diri saya di kantor dan malas menerima keluhan istri saya. walau beberapa waktu ini Ani terlihat berubah, tapi entah kenapa dalam lubuk hati, saya masih tidak percaya. Saya pulang ketika Ani katanya sudah berubah, ibunya bilang bahwa Ani sudah berubah selama beberapa bulan terakhir. Tapi saya merasa tidak ada perubahan. Ani tetap anak yang pendiam dan tidak ingin dekat dengan saya.


Jadi saya tetap jarang pulang. Hingga saat itu tiba, saat di mana istri saya menelpon bahwa anak saya masuk rumah sakit, sedang saya sudah tidak pulang cukup lama. Saya masih tidak percaya, saya merasa Ani pura-pura, cari perhatian, apalagi ketika ibunya bilang Ani menanyakan saya, itu mustahil, hanya karangan ibunya saja, saya masih tidak percaya.” Di titik ini ayahnya Ani mulai menahan tangis, matanya memerah.Dia lalu meneruskan ceritanya.


“Sampai ketika itu tiba, ibunya menelpon kembali bahwa ... Ani kritis, tidak mungkin seorang ibu berbohong tentang kondisi anaknya, saya pulang segera dan akhirnya bisa memeluk anak saya, pelukan terakhir, anakku yang cantik berkata bahwa dia sudah berubah, sungguh sakit rasanya hati saya, sebagai orang tua, saya tidak mengerti apa yang anak saya inginkan, saya kecewa pada diri saya sendiri.” Ayahnya Ani tidak dapat menahan airmata yang jatuh, dia mengusap air mata itu dengan kasar.


“Lalu bagaimana dengan ibunya Ani, Pak?” Alka bertanya, karena dari tadi dia tidak melihat ibunya Ani di sekitar rumah.


“Ada, dia ada di kamarnya Ani, jam segini dia sedang menemani Ani tidur siang ....”


“Maksudnya?” Aditia dan Alka bingung dengan perkataan ayahnya Ani.

__ADS_1


__ADS_2