Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 344 : Bangga 22


__ADS_3

Durja palih barag tarinhayat


Bares bwara ngangsu krawuh


Soragih awih abi rek njelma


Lamun iket bilai kur jahabat


Aditia selesai merapal mantra dan seperti biasa dia menyentuh tanah dengan kuda-kuda yang tangguh, setelah tanah tersentuh, bumi terguncang, pagar ghaib terbuka. Mantranya berhasil, tentu saja, mantra ini adalah seperti kunci pada pagar ghaib, bentuknya kecil tapi jelas bisa membuka pagar ghaib ini dengan sempurna.


Saat pagar ghaib itu terbuka, terlihatlah rumah yang sangat sederhana, dengan halaman yang luas, yang Alka lihat sebelumnya adalah anak-anak yang bermain, berbeda dengan saat ini, dia melihat anak-anak itu sudah berbaris dengan rapi, menatap kawanan yang datang tidak lengkap dengan tajam.


“Dia tidak berani menghadapi kita sendiri, tapi memerintah anak buahnya untuk menghadang kita, dia hanya berlindung pada Biksa Karma, dasar pengecut!” Hartino kesal melihat barisan anak kecil yang sangat banyak, jumlahnya puluhan, yang pasti lebih dari tiga puluh karena termasuk ruh anak yang diambil tanah kuburannya untuk mencari korban dan menjadikan korban itu teman atas ruh anak-anak itu. Sungguh biadab.


“Kita tak bisa menyerang mereka Dit, apa yang harus kita lakukan?”


“Menghindar sebisa mungkin, tapi usahakan kita maju agar bisa melihat siapa yang berada di barisan paling belakang anak-anak ini.”


“Baiklah aku siap, kita tak boleh mengeluarkan senjata bukan?” Hartino bertanya lagi.


“Tapi aku bisa menggunakan senjatamu Ka, berikan cambukmu padaku.” Alisha mengingatkan kalau Biksa Karma sama sekali tidak mempan padanya.


“Aku tidak bisa menolak kali ini Har, karena akan lebih bahaya kalau dia tidak memegang senjata, ini kuberikan senjataku, tapi kau harus melepasnya jika tanganmu sudah tak mampu.” Alka berkata dengan tegas, Alisha mengangguk tanda patuh.


Lalu Alisha memberikan cambuknya, toh dia juga tak bisa memakai cambuk itu karena dia akan terkena Biksa Karma, makanya dia rela memberikan cambuk itu.


Alisha maju duluan, dia masih menguasai ilmu bela diri yang pernah dia pelajari dahulu setelah mendapatkan esash sebagai khodam, walau saat ini dirinya kosong, tapi dia masih bisa menghajar anak-anak itu.


Alisha mulai menyabet cambuk itu ke tanah, anak-anak yang tadinya berwajah seram, terlihat ketakutan melihat Alisha, baguslah.  Alisha maju dan mencambuk ke segala arah, membuka jalan untuk kawanan, beberapa ruh anak kena, tapi mereka bangkit lagi, entah apa yang membuat mereka begitu loyal hingga rela babak belur di tangan ibu tiri.


Jalan perlahan terbuka, tapi sayang, anak-anak itu memang sangat banyak, hingga membuat Alisha kewalahan, mereka terkepung hingga seluruh sisi sudah dikuasai ruh anak-anak itu, Alisha terus menyabet-nyabet cambuk Alka, anak-anak itu terkena cambuknya.


Alisha makin menjadi begitu anak-anak itu terkena cambuknya Alka, karena mereka tumbang, saat Alisha tengah asik menyabet, Aditia berteriak, “Berhenti! Berhenti!!!” Alisha spontan berhenti dan melihat ke arah Aditia, Alka tumbang.


“Alka! Dia terkena Biksa Karma!” Alisha kaget, tubuh Alka babak belur, tadi saat masuk ke tempat dukun ini dia sudah mengganti wujud dari manusia menjadi wujud jinnya, tapi karena energinya terkuras, sekarang dia sudah merubah diri menjadi wujud manusia lagi dalam keadaan babak belur.


“Cambuk itu! cambuk itu milik Alka, tetap saja walau kau yang menyabetnya, itu tetap milik Alka, maka setiap sabetan yang mengenai ruh anak itu, Alka terkena Biksa Karmanya!” Mereka luput soal ini karena merasa Alisha bisa menghadapi mereka tanpa takut  Biksa Karma, tapi senjata tetap milik Alka, maka Alka yang terkena Biksa Karma atas setiap sabetan cambuk yang dilakukan Alisha terkena ruh anak itu.


Alka dalam kondisi babak belur, sama seperti yang ruh anak itu rasakan.


“Maaf, aku tidak tahu, karena sebelumnya kita juga memakai cambuk ini bukan? aku pikir memang bisa dan aman.” Alisha terliha sedih melihat Alka tumbang.


“Saat itu, saat di hotel itu kau memakai cambuknya hanya untuk menakuti, bukan untuk mencelakai mereka, sekarang berbeda kondisi, cambuk Alka mencelakai ruh anak itu, makanya Alka tumbang!” Aditia tidak marah pada Alisha, dia marah pada dirinya yang luput akan hal itu.


“Dit, kita harus apa?” Alisha melihat semua anak mulai mendekat lagi, mereka benar-benar tidak punya pilihan lain, selain menahan serangan dan membiarkan anak-anak itu menyiksa mereka sambil mereka terus berjalan menembus kerumunan ruh anak-anak itu.


Aditia menggendong Alka di punggung, dia menerima pukulan, gigitan dan tendangan dari berbagai sisi dari ruh anak-anak itu, sama halnya dengan Hartino dan Alisha, mereka juga memiliki kondisi yang tidak jauh berbeda, anak-anak itu bahkan menggigit mereka di berbagai bagian tubuh, menempel dan membuat kawanan akhirnya tidak mampu bergerak sama sekali karena dikeroyok.


Aditia jatuh duluan, dia sangat kesakitan, Alka jatuh ke tanah, Aditia benar-benar marah karena tubuhnya babak belur, kekasihnya juga terlihat sekarat, sedang kawannya juga sama babak belurnya dengan dia.

__ADS_1


Aditia tidak mampu menahan amarah, dia lalu mengeluarkan kerisnya, mengacungkan keris itu dan hendak menyerang ruh anak-anak, tapi ... tangannya tiba-tiba berhenti, kakinya juga tidak bisa digerakkan, entah kekuatan apa yang menahannya, Aditia berkomunikasi dengan Abah Wangsa dan menanyakan apa yang terjadi dengan tubuhnya, Abah yang sama babak belurnya mengatakan bahwa dukun itu mengendalikan tubuh Aditia dari jauh, kemungkinan dukun itu punya bagian tubuh Aditia, dapat dari mana dia!


Dalam tubuh yang mematung, perlahan tangan Aditia yang memegang keris mulai mengarahkan kerisnya ke dada, lalu tangan Hartino tiba-tiba mengarah kepada leher Alisha, Aditia berusaha dengan kerasa menahan tangannya agar tidak menusuk dadanya sendiri, sedang Hartino juga mencoba bertahan agar goloknya tidak terkena pada Alisha, Alisha juga menahan tangan Hartino, mereka tahu kalau tubuh mereka sedang dikendalikan oleh seseorang dari jauh, bagaimana mungkin dia memiliki semua bagian tubuh kawanan hingga mampu mengendalikan mereka.


Sedang Alka tiba-tiba berdiri, tapi matanya masih terpejam, tubuh itu juga dikendalikan oleh dukun tersebut, cambuk Alka ditarik kembali ke tangannya dan dia mulai mencambuk dirinya sendiri yang masih pingsan. Sedang tubuh Alisha tidak dikendalikan, tapi dia harus menahan tangan Hartino agar tidak menggorok lehernya.


Persis seperti apa yang ada dalam penglihatan Ganding, tidak ada lagi kesempatan, mereka akan berakir di sini semua. Aditia berkata dengan suara yang tercekat, “Hidup dan mati bersama!” Aditia mengeluarkan air mata, Hartino dan Alisha juga mengatakan hal yang sama dengan sangat sulit, hidup dan mati bersama, mereka siap untuk mati bersama jika memang ini akhirnya, ruh anak-anak itu melihat kawanan sedang menyiksa dirinya sendiri terlihat senang, menjadikan kawanan sebagai tontonan, mereka berteriak sorak sorai, seolah itu adalah tontonan yang sangat seru, kawanan dikelilingi ruh anak-anak itu, lalu pada satu titik, ruh anak-anak itu berhenti tertawa, beberapa detik lalu mereka sempat lupa dengan tugas untuk membunuh kawanan karena suka melihat pertunjukkan menyiksa diri itu, tapi sekarang tiba-tiba mereka berdiri dengan tatapan yang tajam hendak melanjutkan penyiksaan pada kawanan.


Mereka lalu berlari mengerubuti kawanan lagi dan kembali memukul, menggigit, menendang dan melakukan apapun untuk menyakiti kawanan, sementara kawanan masih menahan tangan mereka masing-masing agar benda pusaka mereka tidak membunuh mereka.


Saat-saat Aditia dan yang lain hendak menyerah karena sudah tidak kuat menahan sakit di sekujur tubuh, tiba-tiba ...


Balonku ada lima


Rupa-rupa warnanya, hijau kuning kelabu, merah muda dan biru ....


Meletus balon hijau, dorr!!! Hatiku sangat kacau.


Balonku tinggal empat, kupegang erat-erat.


Samar kawanan melihat ada sesuatu di ujung sana, bukan sesuatu, tapi seseorang! Aditia tersenyum dan tumbang, kerisnya terlepas begitu juga dengan golok Hartino, Alisha dan Hartino jatuh, mereka lega melihat Ganding dan Jarni datang.


Terdengar lagi lagu dari sound portable yang Jarni dan Ganding bawa dari angkot jemputan, banyak peralatan canggih memang di angkot itu, sejak berhenti narik, Aditia dan kawanan menaruh banyak peralatan di sana.


Pelangi-pelangi, alangkah indamu.


Merah kuninga hijau, di langit yang biru.


Pelangi-pelangi ciptaan Tuhan.


Pada lagu ini, anak-anak itu mulai berbondong-bondong untuk mendekati Ganding dan juga Jarni, mereka sedang mendengar lagu itu, lagu yang sudah alama tidak mereka dengar, setelah lagu pelangi-pelangi, Jarni memasang lagu potong bebek angsa dan lagu-lagu lain pada telepon genggamnya yang dikoneksikan dengan soung portable dan membaut sound itu terus mengeluarkan lagu anak-anak.


Jarni dan Ganding juga menyebar cemilan khas anak-anak di dekat sound portable itu, ruh anak-anak terlihat tenang dan sibuk bermain dengan lagu yang mereka sukai, lagu yang sudah lama tidak mereka dengar lagi itu, sembari memakan camilan yang Jarni dan Ganding bawa.


Jarni dan Ganding meninggalkan ruh anak-anak itu yang sudah tenang karena dibujuk dengan lagi dan makanan, mereka berdua berlari menghampiri Aditia dan yang lain.


“Nding, kamu datang?” Aditia yang sebenarnya kecewa dengan Ganding, tapi jauh di lubuk hatinya Ganding adalah orang yang paling dai kagumi karena kecerdasannya.


Ganding menarik Aditia dari tempat tumbangnya dan mendudukkannya, begitu juga dengan Hartino, sementara Jarni membangunkan Alisha dan menarik Alka untuk mendekat, dia masih pingsan karena siksaan itu.


“Dengar aku baik-baik, sekarang anak-anak itu perhatiannya bisa teralihkan, kau harus kuat, ayo kita datangi dukun itu, aku ingin menghajarnya!” Ganding menarik Aditia untuk berdiri, Aditia mencoba untuk bertahan, begitu juga dengan Hartino, mereka semua harus bergegas untuk menangkap dukun itu.


Alka digendong Ganding dan ketika mereka sudah sampai gubuk itu, Alka ditidurkan di tempat yang lebih aman yaitu bagian depan rumah yang terbuat dari kayu, sementara Aditia, Hartino, Alisha, Jarni dan Ganding bersiap untuk masuk ke rumah itu.


Ganding mendekati pintu rumah itu dan menendangnya, begitu pintu terbuka lebar, ada seorang pria yang menghadap ke belakang, pria itu membelakangi kawanan dan melempar bangkai ular mini Jarni ke arah belakang tubuhnya atau di hadapan kawanan.


“Rupanya ... ular ini pemakan segala ya, bahkan boneka santetku dimakan olehnya hingga membuat kalian lepas dari pengendalianku, ide yang bagus. Jarni memang selalu membanggakan.”


Setelah membuang bangkai ular mini itu dan melemparnya ke arah kiri, lelak itu hendak menunjukkan identitas dirinya pada kawanan.

__ADS_1


Lelak itu memutar tubuhnya agar wajahnya bisa terlihat sempurna, saat wajah itu terlihat sempurna ....


“Ayah!”


“Bapak!”


Semua orang berteriak serempak, apa yang mereka lihat membuat kawanan lemas.


“Anakku rupanya sudah tumbuh besar, Ganding, Jarni, Hartino dan siapa ini?” Tanpa perasaan bersalah, lelaki itu bertanya.


“Ayah ....” Aditia melihat ayahnya dengan tatapan lembut.


Yang lain juga menatap lelaki yang mereka kenali sebagai Mulyana itu dengan tatapan rindu.


“Sini, aku juga rindu pada kalian.” Lelaki itu merentangkan tangannya dan berharap kawanan akan memeluk dia. Seperti dugaan, kawanan mendekat, hendak memeluk Mulyana, Alisha terdiam, walau tidak punya kekuatan, tapi dia masih punya ingatan, bukankah Mulyana telah meninggal dunia, lalu siapa ini? wajahnya memang tidak Alisha ketahui, tapi ini tidak mungkin Mulyana, karena ini manusia bukan jiwa dan kalau dia dukunnya, apa mungkin dia berbuat jahat sedang kata kawanan, Mulyana berhati malaikat, lalu kalau dia yang menjadi dukunnya, buat apa repot-repot memagari kamar Bagus. Pada titik inilah akhirnya Alisha sadar ada yang salah dengan lelaki ini.


Dia lalu berteriak dan menahan kawanan untuk tidak menerima dukun itu sebagai seseorang yang mereka kagumi, Alisha menahan kawanan dengan menapuk pundak mereka dan menyadarkan.


“Itu bukan dia! itu bukan dia!” Alisha berteriak agar kawanan berhenti mendekati lelaki itu.


“Itu ayahku, aku merasakan energinya, energi yang sudah begitu lama aku tidak rasakan, ini ayahku!” Aditia bersikeras, yang lain juga terlihat setuju.


“Dit! Ayahmu sudah meninggal!” Alisha mengingatkan.


“Tidak! dia ayahku!” Aditia masih keras kepala, begitu juga yang lain.


“Baiklah berhenti dulu sebentar, berhenti.” Alisha menahan badan kawanan yang hendak mendekati Mulyana, kawanan berhenti akhirnya dan mau mendengarkan Alisha.


Lalu Alisha melanjutkan perkataannya, “Kalau dia ayahmu, kenapa dia menyantetmu dan hendak membunuhmu dengan kerismu sendiri? Berlaku untuk Hartino yang hendak menggorok leherku,  apakah ayah dan bapak yang kalian kenal akan melakukan itu?” Alisha bertanya dengan lantang.


Aditia menatap Alisha dengan sedih, lalu dia menjawab pertanyaan Alisha, “Manusia bisa berubah, mungkin saja ayahku ....”


“Dit, apakah kau lebih ingin ayahmu jahat tapi masih hidup daripada dia baik tapi sudah tiada? Apa itu yang  sekarang sedang kau rasakan!” Alisha menebak dengan kasar.


“Dia ayahku, aku yakin itu.” Aditia bersikeras.


“Buktikan! Buktikan kalau kau memang Mulyana.” Alisha berkata dengan lantang pada lelaki itu.


“Aku memang Mulyana dan aku tidak takut untuk membuktikannya,” Mulyana berkata.


“Kalau begitu, berikan keris itu padanya Dit, kalau dia memang ayahmu, tentu keris itu mampu dia pegang tanpa kesulitan, karena keris ini dulunya adalah milik ayahmu bukan? cepat berikan keris itu!” Alisha memaksa.


“Baiklah!” Aditia buru-buru mendekati ayahnya dan memberikan keris itu, dia meminta Mulyana untuk memegangnya.


“Kau lebih percaya perempua itu? dia siapa? Har, Jarni, Ganding? Kalian lebih percaya wanita itu daripada aku? yang sudah membesarkan kalian, kau Jarni, saat kecil kau diasingkan bahkan oleh orang tuamu sendiri karena kau berbeda.


Sedang kau Hartino, kau bahkan harus aku selamatkan dari bola api bukan? Ganding si anak jenius yang aneh, kau bahkan harus menyembunyikan kemampuanmu itu karena takut dianggap hina.”


Semua orang kaget karena mendengar lelaki ini bisa menjelaskan dengan runut siapa saja mereka dan kisah hidup mereka yang hanya Mulyana ketahui.

__ADS_1


“Ayah ....”


“Ya, aku Mulyana!”


__ADS_2