
“Yat, ngantuk nggak? gantian kalau ngantuk.” Sakidi rekan kerjanya bertanya, mereka berdua arah pulang setelah dari Bandung meeting dengan kolega. Katanya akan ada proyek yang cukup besar nantinya. Sekarang sudah pukul 11 malam, meeting selesai jam 5 sore, mereka makan malam dulu di hotel, beberes baru bersiap pulang.
“Nggak, udah santai aja.” Yatno memang dalam keadaan lelah, tapi tidak mengantuk.
“Yaudah kalau gitu, gue temenin.” Mereka berdua memang memutuskan tidak memakai supir kantor karena sudah terbiasa menyetir sendiri.
“Di, lu ngerasa dingin banget nggak sih?” Yatno bertanya setelah mereka berkendara di jalan tol selema lima belas menit.
“Ya dinaikin atuh suhu AC-nya Yat.”
“Bukan itu Di, tadi tuh biasa aja, tapi entah kenapa kok tiba-tiba gue ngerasa dingin banget, kayak suhu diluar tuh tiba-tiba turun.”
“Nggak ujan, tapi gue rasa-rasa, iya juga sih.” Jarak satu mobil dan mobil lain memang renggang karena di jalan tol kita mesti jaga batas aman antara satu mobil dan mobil lainnya, tapi terlihat lampu mobil dari belakang.
“Di, lu liat nggak?” Yatno menunjuk pada bahu jalan, di pinggir jalan terlihat wanita berambut panjang sedang mengarahkan tangannya ke jalanan, tanda sebagai permintaan tolong, dari jauh wanita itu terlihat memakai kaca mata hitam.
“Iya, tolongin?” Sakidi bertanya, karena Yatno yang mengemudi, makanya dia yang harus memutuskan.
Masih sangat jauh wanita yang meminta pertolongan itu.
“Tapi aneh nggak sih Di, kok malem-malem di pinggi tol gitu, trus yang lain juga nggak ada yang mau nolong.” Yatno ragu.
“Yaudah gini aja, kita deketin, kalau keliatan mencurigakan, kita tinggalin, tapi kecepatan melambat aja, gimana?” Sakidi memberi jalan tengah.
“Yaudah.” Yatno mengemudikan mobil mendekati wanita yang ada di pinggir tol itu, wanita berambut panjang dan berkacamata hitam.
Mobil terus melaju mendekati wanita itu, Yatno fokus pada jalanan, sementara Sakidi mencoba untuk memperhatikan gelagat wanita yang hendak mereka tolong.
Saat jarak semakin dekat, Sakidi terus memperhatikan tanpa menoleh sedikitpun.
“Udah deket Yat, pinggirin dikit, gue mau pastiin lagi.” Sakidi memintanya, karena itu Yatno menuruti, dia meminggirkan mobil semakin mendekati wanita itu, mobil terus melaju mendekatinya, sekarang Sakidi sudah bisa melihat warna bajunya, warna baju itu merah gelap, wanita itu tidak membawa apa-apa, seperti tas atau dompet. Saat jarak sudah semakin dekat dan Sakidi serta Yatno semakin bisa melihat wanita itu secara utuh ….
“Astagfirullah!!!” Yatno dan Sakidi berteriak dan secara spontan Yatno menekan pedal gasnya dan membanting stir ke arah kanan untuk kembali ke jalan, dia sudah kembali ke tengah jalan dengan kecepatan tinggi, karena yakin di depannya aman dia terus menekan pedal gas dan ….
Brak!!! Brak!! Brak brak brak brak … tabrakan beruntun terjadi.
“Di … Di ….” Yatno memanggil manggil rekannya yang sudah berlumuran darah pada wajah, bagian depan mobil mereka ringsek hingga membuat kaca depan pecah tidak beraturan, Yatno berusaha memanggil Sakidi, tapi temannya itu diam saja, sementara Yatno tidak sadar kakinya terjepit, dia belum merasakan sakit apapun, banyak orang tapi dia tidak bisa mendengar apapun, dia mencoba meminta tolong, tapi seolah tak ada yang mendengarnya.
Dia menatap ke belakang, siapa tahu ada orang yang bisa dia mintai tolong, tapi saat dia hendak berteriak, dia … dia melihat wanita itu … wanita yang menakutkan itu, dia sedang berjalan dengan kaki diseret mendekati mobil Yatno, Yatno gemetar, dia takut kalau wanita itu mendekatinya, apakah ini sudah waktunya Yatno mati? Itu yang ada dalam fikirannya.
Wanita itu terus berjalan semakin dekat semakin terdengar bisikan yang dia terus ucapkan sembari berjalan terseok, bisikan itu membuat telinga Yatno sakit, semakin dekat, bisikan semakin terdengar dan bisikan itu adalah … “Ila … ila, ila, ila, ILA!!!” wajah wanita itu berada tepat di wajah Yatno lalu semua gelap ….
…
Aditia pulang ke rumah setelah beberapa hari ini dia pergi bersama lima sekawan, begitu juga dengan yang lain.
“Dit, kemarin udah ibu sol sepatumu yang rusak.” Ibu berkata pada Aditia.
“Hah?” Aditia bingung
[Ini pasti kerjaan jin temen Alka yang menyamar menjadi dirinya, seenaknya nyuruh ibu sol sepatu.] Dalam hati Aditia kesal, karena jin itu berani menyuruh ibunya.
“Iya Bu, makasih ya, maaf ya udah nyuruh-nyuruh ibu.”
“Iya, ibu juga kaget, kemarin tumben banget kamu minta disol sepatunya, biasanyakan kamu punya langganan sendiri.”
“Tau nih, enak aja nyuruh ibu.” Dita menimpali.
__ADS_1
“Bawel!” Aditia menoyor kepala adiknya.
“Makan yang banyak Nak, kemarin nggak enak badan ya, beberapa hari ini Ibu liat makanmu sedikit sekali, apa masakan ibu sudah tidak enak.”
[Ya, Jin mana suka masakan ibu, diakan sukanya kotoran.]
“Iya Bu, Dit, lu bersihin darah lu udah seperti yang gue bilangkan?” Aditia khawatir, jin yang menyamar menjadi dirinya itu memakan darah haid adiknya.
“Iya udah, Dita cuci bersih dulu, setelahnya Dita tutup beberapa kali, trus dibuang jauh dari rumah. Langsung saat setelah mandi.”
“Pinter, gitu terus ya, jangan pernah lupa, nggak boleh buang darah di deket rumah, apalagi di dalam.”
“Ngerti Kak, ngerti kok.” Dita tahu kakaknya sangat melindungi dirinya, makanya Dita selalu nurut walau kadang suka isengin kakaknya.
Lalu Aditia makan dengan lahap masakan ibunya dan menambah nasi serta lauk beberapa kali, untuk memperlihatkan pada ibunya bahwa masakannya tetap yang terbaik, jin itu tidak bisa diandalkan.
“Dit, kalau udah makan, Ibu mau ngomong ya.” Ibunya berkata duduk di ruang tamu, sementara Dita sudah di kamar, dia sedang mengerjakan tugas sekolahnya.
Aditia mencuci piring bekas makannya, lalu segera menemui ibu, dia merasa ada yang perlu ibu bicarakan.
“Kenapa, Bu?” Aditia bertanya.
“Dit, sampai kapan kau akan menunda skripsi, ini udah dua tahun loh. Bapak sudah siapkan dana kuliahmu dan juga Dita, tapi … dana itu terpakai, untuk kebutuhan kita sehari-hari, kamu tahukan, kalau katering lagi sepi, jadi untuk kebutuhan kita, ibu pakai biaya pendidikan kalian, maaf Dit.”
“Nggak bu, Adit yang salah, seharusnya Aditia fokus cari uangnya, maaf ya.”
“Tugas orang tua membiayai anaknya, Nak. Ibu mau minta tolong Adit, karena … kita akan butuh uang, Dita masih kuliah Kedokteran, kuliahnya kan enam tahun, mungkin baru satu tahun lagi lulus, pasti masih butuh uang yang cukup banyak. Makanya, Ibu mau kita … jual angkot bapak.” Ibunya mengatakan dengan sangat sedih, karena dia tahu, nilai angkot itu lebih dari sekedar kendaraan.
Aditia cukup terkejut, karena itu adalah warisan yang tidak bisa dipindah tangankan, tapi dia juga mengerti maksud ibunya. Dia menunduk sedih.
“Tidak ada cara lain, Bu?”
“Adit ngalah aja, Adit tunda skripsi aja lagi tahun depan, salah Adit yang ga fokus selesain kuliah Bu. Kalau Dita udah lulus, baru Adit lanjut, sembari cari uang untuk melanjutkan.”
Ibunya menunduk, dia tidak ingin memilih diantara dua anak kesayangannya.
“Tapi, amanah bapakmu adalah, agar kalian berdua lulus jadi Sarjana, ibu tidak ingin memilih.”
“Dita aja yang cuti kuliah Bu, kan Dita bisa kerja dulu, nanti begitu kakak lulus, kan kakak kerja, Dita gantian terusin kulian.” Dita tiba-tiba keluar kamar dan berkata dengan serius.
“Apa itu! Masa Dita yang kerja!” Aditia marah, bagaimana mungkin anak adikmya itu mau menanggung biaya kakaknya, Aditia merasa tidak berguna, adik kesayangannya sungguh telah dewasa tapi itu membuat Aditia sedih.
“Pokoknya Aditia yang harus tunda skripsi lagi dulu, Dita lulus baru Adit lanjutin skripsi."
“Nggak Bu, Kakak itu kan laki-laki, harus membiayai hidup anak istrinya kelak, sedang Dita perempuan, apa Dita nikah aja ya? Biar nggak jadi beban.”
“Dita!” Aditia marah, sedang ibunya mulai menangis mendengar perkataan anak bungsunya.
“Ibu nggak pernah merasa Dita beban, buat ibu, Dita itu anugrah, Dita dan Adit itu hidupnya ibu, pendidikan Dita dan Adit sama pentingnya, bapak bilang kalian berdua harus jadi Sarjana.”
“Maafin Dita, Bu.” Dita memeluk ibunya.
“Adit kepala keluarga sekarang, Adit yang akan cari cara supaya kita berdua lulus, ibu tenang aja ya, kalian beruda tenang aja, Dita sekolah yang bener, pertahankan prestasimu, kau itu anak cerdas, bahkan bisa masuk jurian Kedokteran, itu nggak gampang makanya kita pasti bisa jalankan amanah bapak, ngerti.” Aditia meminta Dita untuk tidak mengubur mimpinya, dia merasa bersalah karena selama ini terlalu fokus pada dunia ghaib, sementara dunia nyata dia tinggalkan.
…
Yatno terbangun, dia melihat kanan kiri, ternyata dia sudah di rumah sakit. Tangan kirinya terpasang selang infus. Dia hanya sendirian di kamar itu, saat dia hendak bangun, ada seseorang bersamanya, ternyata istrinya.
__ADS_1
“De, kaki Abang sakit banget,” Istrinya mendekat Yatno, dia lalu memijat kaki suaminya dengan bergumam, “kenapa, De?” Yatno bertanya karena tidak mendengar perkataan istrinya.
Lalu wanita terus bergumam sembari menekan-nekan kaki Yatno, tadinya sakit semakin terasa sakit, hingga Yatno sedikit merintih.
“Sakit De, jangan ditekan gitu!” Yatno berusaha memberitahu istrinya apa yang dia rasakan, tapi istrinya terus menekan-nekan kakinya.
“Ila .. . ila … ila ….” Ternyata yang digumamkan istrinya persis seperti yang diucapkan oleh wanita di pinggir tol itu, Yatno mengingatnya.
“De, De, De!” Yatno memanggil-manggil istrinya untuk memastikan.
Istrinya berhenti menekan-nekan kaki Yatno, dia lalu perlahan berbalik, tidak, bukan badannya, tapi … hanya kepalanya saja, setelah kepalanyua berputar ke belakang, dia tersenyum kea rah Yatno dan berkata, “Ila … ila … ila!!!”
Yatno berteriak, tapi suaranya tidak keluar, tubuhnya tidak bisa bergerak, sekujur tubuhnya sakit, sementara wanita itu masih dengan mengerikan ada di depannya.
“Mas! Mas!!!” Seorang wanita dengan wajah teduh itu mengguncang tubuh Yatno, dia lalu berteriak keluar, memanggil perawat agar dibantu menenangkan suaminya.
Setelah perawat dan Dokter datang, Yatno diberi suntikan, dia menjadi lebih tenang dan perlahan tertidur.
“Dok, ini suami saya kenapa ya? Sudah dua hari begini terus, setiap terbangun, selalu saja histeris lalu harus ditidurkan lagi, apa ini karena efek kecelakannya?”
“Sebenarnya ada kasus depresi yang menimpa para pasien dengan pengalaman kecelakaan, tapi seharusnya mereka sadar dulu, baru setelah mengetahui keadaannya dan mengingat kembali apa yang terjadi, mereka akan berada di zona penyangkalan, saat itulah depresi muncul. Tapi dengan Pak Yatno agak berbeda, karena sebenarnya dia belum benar-benar sadar, kita sudah menjalani MRI dan semua prosedur untuk mengetahui sebabnya, tapi tidak diketemukan sesuatu yang salah, Bu. Terapi pun tidak bisa dijalani karena Pak Yatno belum sadar. Kalau masalah otak, kita tidak bisa berbuat banyak, karena terkadang otak melindungi tubuhnya untuk bertahan pada keadaan buruk termasuk kejadian traumatik.
Hanya itu yang bisa saya sampaikan, kita harus menunggu lagi sampai Pak Yatno benar-benar sadar baru bisa observasi lebih jauh.”
“Iya, tapi sampai kapan, Dok?” Istrinya menangis.
“Saya tidak bisa memastikan.” Dokter menjawab lalu pergi untuk mendatangi pasien yang lain.
“Selamat Siang, saya Dirga, polisi yang menangani kasus tabrakan beruntun ini.” Pak Dirga ternyata sudah di depan pintu, dia mendengar semua yang dikatakan oleh Dokter itu.
“Oh iya, Pak. Tapi, suami saya belum bangun, jadi tidak bisa memberikan kesaksian.”
“Iya, saya tahu.” Pak Dirga mendekati Yatno.
“Maaf Pak, suami saya tidak mabuk, jadi dia tidak mungkin sengaja menabrak mereka.” Istrinya Pak Yatno menangis.
“Bu, apakah boleh saya bantu, tapi mungkin ini berlawanan dengan medis.” Pak Dirga menawarkan bantuan.
“Maksudnya?”
“Saya ada di tempat kejadian ketika suami Ibu masih di dalam mobil bersama rekannya, saya melihat dia masih sadar dan meminta tolong, saya mencoba berkomunikasi dengannya, tapi dia seperti tidak melihat saya, lalu selanjutnya matanya melotot dan dia terlihat mencoba berteriak tapi tidak mampu lalu pingsan.”
“Jadi, maksud Bapak, dia kenapa?”
“Saya fikir ada sesuatu yang aneh dari kejadian tabrakan beruntun ini, berdasarkan kamera CCTV yang ada di bagian belakang mobil yang ditabrak Pak Yatno, terlihat bahwa awalnya, mobil Pak Yatno seperti ingin menepi tapi tidak jadi, mobil itu tiba-tiba kembali ke jalur tengah dengan kecepatan tinggi, beberapa mobil sudah mengklakson mobil Pak Yatno, tapi dia terus melajukan kendaraan itu dengan kecepatan tinggi, seolah-olah ….”
“Seolah kenapa, Pak?”
“Seolah, dia tidak melihat semua kendaraan itu, seperti dia tidak melihat saya yang bertanya tentang keadaannya.”
“Astagfirullah, sepertinya dia juga tidak meliaht saya setiap kali terbangun, dia hanya melotot lalu histeris, jadi saya harus gimana Pak?”
“Ada seorang pemuda, yang mungkin bisa bantu cari tahu, dia memiliki kelebihan tentang dunia ghaib.”
“Apa! Maksud Bapak, suami saya kerasukan?”
“Dunia ghaib tidak hanya soal kerasukan, Bu, tapi bisa jadi ada sesuatu yang terjadi di jalan itu, apa tujuan Pak Yatno mencoba menepikan mobilnya, bensin masih penuh berdasarkan indikator yang terlihat sebelum kecelakaan, lalu kenapa dia tancap gas setelah tidak jadi menepi, kemungkinan dia melihat sesuatu yang menakutkan, hingga dia harus buru-buru kabur.”
__ADS_1
“Saya akan melakukan apapun yang membuat suami saya bisa sehat lagi Pak, asal jangan melakukan hal musrik.”
“Baik, saya akan minta Aditia datang, dia adalah pemuda baik yang mungkin bisa membantu.”