Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 79 : Tersesat 4


__ADS_3

SEKARANG


“Jadi di mana mereka?” Tanya Aditia yang di tarik-tarik sampai puncak oleh anak tak kasat mata ini.


“Di bawah itu kakak.” Anak itu menunjuk bagian bawah puncak bagian dalam.


“Di bawah itu?” Tanya Aditia.


“Iya.”


“Di bawah gunung itu?”


“Gimana Dit?” Alka dan yang lain sudah sampai di puncak.


“Anak ini bilang mereka ada di bawah, kaki puncak itu, De?” Tanya Aditia lagi.


“Bukan! permen lagi dong.” Anak ini tahu benar cara memerasa Aditia.


“Kasih Dit, cepet, siapa tahu masih ada yang hidup.” Alka menyuruh Aditia.


“Nih, terakhir ya, kamu harus antar Kakak ke tempat mereka berada.” Aditia memberikan kembang tujuh rupa pada anak itu.


“Ada yang bawa tali?” Aditia bertanya.


“Ada nih, gue bawa tali sama alat safety buat manjat, gue emang selalu bawa, kan gue anak climbing.” Jawab Hartino.


Lalu dia mempersiapkan tali dan semua orang bersiap turun satu persatu, yang pertama Aditia, anak tak kasat mata itu ikut sembari merangkak, mudah baginya melakukan itu.


Aditia bersiap turun, dia melangkah dengan perlahan, karena bukan anak panjat tebing, dia tidak terlalu mahir, untuk alat keselamatan bagi pemanjat milik Hartino lengkap.


Saat sudah lima meter ke bawah, anak itu menunjuk pada tebing yang buntu, hanya bebatuan yang sedang mereka pijak.


“Di mana?” Aditia bertanya.


“Di sini.” Anak itu menunjuk dinding tebing.


“Jangan bercanda kamu!” Aditia kesal.


“Iya, ada di dalam sini, Ka.” Anak itu bersikeras.


“Di dalam sini? Apakah di duniamu?” Aditia memastikan, bahwa apakah ini termasuk penculikan ke dunia ghaib.


“Bukan, di dunia kalian, tapi di sini!” anak itu kesal, karena kesal mukanya memerah.


Aditia memperhatikan dinding itu, hanya sebuah dinding bebatuan, tapi anak ini terlihat tidak sedang berbohong, kalau dia berbohong, pasti dia sudah kabur dari tadi.


Kalau bukan karena dibawa ke dunia mereka, berarti cuma ada satu kemungkinan.


Aditia megeluarkan keris mininya, lalu menancapkan keris itu dengan cepat, seketika dinding itu berubah, gelap, ada sebuah gua, karena itu Aditia sempat kehilangan keseimbangan karena tadinya ada sandaran yaitu dinding tebing, sekarang malah sebuah gua.


Aditia turun sedikit dan mencari pijakan untuk bisa berdiri di gua itu, setelah yakin aman, dia melepaskan tali dan memberi tanda pada kawanannya untuk turun.


Setelah menunggu lima belas menit, semua orang sudah turun, memang tidak terlalu sulit untuk turun ke sini, apalagi mereka punya alat keselamatan panjat tebing.


Mereka bersama memeriksa lebih dalam lagi ke dalam gua, Ganding menyalakan senternya yang super terang, saat senter itu dinyalakan, mereka semua terkejut, ada banyak orang yang dijejerkan, Aditia lemas melihatnya, karena dia berharap semua orang masih hidup.


Aditia dan yang lain berlari, mereka melihat satu persatu tubuh itu, semoga masih ada yang bisa diselamatkan, saat sedang memeriksa, dia baru sadar.


“De … ini kamu?” Aditia menitikkan air mata, karena anak kecil tak kasat mata yang membimbing mereka adalah salah satu korban itu.


“Iya Kak.” Anak itu menjawab dengan sedih.


“Bagaimana bisa?”


“Tidak tahu, aku bangun dan sudah ada di gua ini, aku bisa terbang, aku bisa jalan tembus barang dan orang, aku suka itu.” Jawabnya polos.


“Ini semua keluargamu?” Aditia bertanya lagi.


“Iya, ini ayahku, ini ibuku, ini kakakku, yang ini semua kakak sepupuku, mereka baik-baik, kami naik gunung bersama, tapi nggak tahu kenapa mereka nggak bangun lagi, nggak sama aku juga, aku sendirian bangunnya.”


“Nggak ada yang selamat Dit, semua sudah tiada.” Alka memberi informasi setelah memastikan, tubuh mereka bahkan sudah ada yang tidak utuh.


“Kamu bisa ceritakan apa yang terjadi?” Aditia bertanya lagi ke anak itu.


“Boleh, tapi permen lagi ya.” Anak itu masih saja meminta permen, Aditia tidak marah, kali ini dia memberikan bunga tujuh rupa itu sekantung, agar anak itu bahagia.


“Wah banyak, terima kasih Kak.”


“Ya, sekarang bantu Kakak ya, supaya bisa menolong kalian semua, ceritakan yang terjadi.”


“Waktu itu, kami sampai puncak, semuanya senang, ayah senang, ibu senang, kakak-kakak juga senang, tapi saat mau turun, kakak yang ini batuk, terus keluar darah dari mulutnya.” Anak itu menunjuk salah satu mayat.

__ADS_1


“Lalu?”


“Terus abis itu kakak ini yang batuk, keluar darah juga, ayah langsung nolongin yang ini, tapi tiba-tiba ibu, aku dan kakak juga batuk, aku lupa sih rasanya gimana, tapi yang aku ingat, kami batuk bersama dan lalu setelah itu gelap. Bangun-bangun aku sudah di sini.” Anak itu lalu sibuk makan kembang tujuh rupanya, Aditia menyeka air mata.


“menurut kalian gimana?” Tanya Aditia.


“Aku mencium bau bahan kimia yang pekat, baunya sangat tidak enak, kemungkinan ini racun.”


Jarni memang ahlinya mengenali racun melalui penciumannya, kebiasaannya bergaul dengan ular ghaib dan nyata membuatnya mampu mengenali racun.


“Mereka diracuni?” Aditia menegaskan.


“Kemungkinan itu besar, kita akan tahu setelah mereka diotopsi, tapi kalau pihak keluarga mau melakukan itu, kalau mereka memilih langsung menguburnya kita tidak akan tahu penyebab kematian mereka dan kenapa bisa ada di sini, gua ini harus dituruni dengan tapi panjat profesional, tidak bisa di turuni tanpa alat pengaman.” Alka memberi asumsinya.


“Kalian merasa tidak? Tidak ada bau busuk di sini, aku malah mencium wangi bunga, tidak ada  bau bangkai sama sekali.” Ganding berkata.


“Iya, seharusnya mayat yang sudah beberapa hari akan mengeluarkan bau, tapi di seluruh gua ini terasa wangi sekali.”


“Mungkin pemilik jasad orang-orang baik Kak.” Ganding melanjutkan.


“Sepertinya begitu, kalau secara ilmiah mungkin karena cuacanya dingin juga, makanya tidak ada bau busuk, tapi selain itu, bisa juga karena Tuhan jaga jasadnya tetap wangi.”


“Oh ya Ka, satu lagi, tadi saat aku menuruni gunung ini, ternyata gua ini ditutup dengan tirai ghaib, orang yang melakukan itu pasti pembunuhnya atau yang membantu menyembunyikan mayat ini, orang itu berharap mayatnya tidak dapat diketemukan. Makanya dia melakukan ini, menyembunyikan mayatnya dengan tirai ghaib.” Aditia memikirkan itu sejak dia membuka tirai ghaibnya.


“Hitung mayatnya.” Alka berkata karena melupakan hal itu.


Lalu Ganding menghitungnya.


“Ada sembilan belas Kak.”


“Seharusnya, dua puluh satu bukan?” Alka bertanya pada Hartino.


“Benar, seharusnya dua puluh satu, berarti hilang dua orang.”


“Jadi, kemungkinan salah satu dari mereka pembunuhnya atau ….”


“Keduanya Ka.” Aditia menimpali perkataan Alka.


“Kita harus menemukan mereka berdua.” Alka meminta semua bergegas naik.


Saat sudah naik, mereka menghubungi Tim SAR melalui walkie talkie.


[Kami sudah menemukan mayatnya, ada dipuncak, ganti.] Hartino yang menghubungi Tim SAR.


“Kita nggak bisa nunggu mereka naik, mungkin mereka akan sampai beberapa jam lagi, mereka tidak akan secepat kita naiknya, kita harus bagi tim,” kata Alka.


“Iya.” Jawab semua orang.


“Aditia, aku dan Jarni kita turun, kita harus cari dua orang itu, Hartino dan Ganding tetap di sini, tunggu Tim SAR, beri tahu dan bantu mereka mengevakuasi jasad-jasad itu, peralatan memanjatmu sungguh dibutuhkan nanti, Har.”


“Iya Kak.”


“Kita harus menemukan pembunuh itu, pembunuh biadab itu!” Alka geram.


“Kak, kalau mereka tanya, bagaimana kita menemukan mayat itu?” Hartino tiba-tiba bertanya.


“Aku akan katakan bahwa Aditia itu Indigo, dia meminta bantuan jin yang ada di gunung ini untuk menemukan jasad-jasad itu, mereka pasti percaya, karena mistis di gunung itu hal yang mereka yakini.”


“Baik, cerdas Nding, Kakak serahkan yang di sini sama kalian berdua ya.” Alka dan yang ikut turun lalu berlari turun.


Sementara anak Nanto tetap sudah di taruh Aditia di botol, dia akan dipulankan kelak, saat ini dia diistirahatkan dulu, habis makan permen tadi, dia juga pasti ingin tidur dulu, ada kesedihan yang dalam saat Aditia melihatnya, bagaimana bisa ada orang sekejam itu.


Mereka turun dengan kecepatan maksimal, tentu berbeda dengan orang-orang biasa, mereka mengambil jalan lain, bukan jalan biasa yang dilewati pendaki, karena mereka menghindari bertemu Tim SAR, tidak mau memperlambat perjalanan mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan mereka hadapi jika nanti bertemu.


Gunung ini adalah tempat main Alka, tentu tersesat tidak akan menimpa mereka, ditambah mereka berteman dengan penghuni gunung ini, jadi perkara turun lebih cepat, merupakan hal mudah.


“Ka, istirahat dulu boleh?” Aditia bertanya di tengah mereka berlari.


“Capek?”


“Iyalah, aku kan bukan pendaki seperti kalian.”


Bahkan Jarni tidak mengeluh, dia yang paling feminim dengan rambut panjang terurai dan setelan naik gunung yang casual, masih tidak bisa menyembunyikan ke feminimannya.


“Yaudah, lima belas menit ya.” Alka memberikan air minumnya pada Aditia.


“Apakah ini benar-benar pembunuhan Ka? Kenapa sekarang orang menjadi kejam ya?” Aditia bertanya saat mereka sedang duduk di atas pohon yang tumbang.


“Ya, sudah pasti pembunuhan, penciuman Jarni jarang salah.”


“Kalau begitu, berarti ini adalah pembunuhan yang dilakukan keluarga sendiri, karena menurut catatan, ini adalah rombongan keluarga, tadi Hartino sempat bilang.”

__ADS_1


“Iya Dit, kadang memang, orang terdekat kitalah yang sangat berbahaya.” Alka mengetahui dengan jelas hal itu.


“Kita tangkap dulu, lalu kita kasih dia pelajaran yang setimpal, kita harus menemukan dia duluan.” Aditia geram.


“Tidak, biarkan Polisi yang menangkapnya.” Alka keberatan.


“Kalau mereka tidak mengadilinya dengan baik bagaimana?!”


“Bukan tugas kita menghukum penjahat, Tuhanlah yang berhak, biarkan hukum Negara ini ebrjalan, tugas kita cuma menemukannya, jangan lewat batas, ok!” Alka mulai keras.


“Tapi ….”


“Alka!!!” suara berat dan menggelegar tiba-tiba terdengar, tidak ada wujudnya, Aditia melihat keadaan sekitar, tiba-tiba entah darimana datangnya, ada segerombolan orang yang datang, dari kedalaman hutan, orang itu … tidak menapak.


Seorang lelaki tegap yang cukup tampan berlari dan memeluk Alka, Aditia melihatnya langsung kesal, rasanya ingin melepas pelukan itu, tapi, siapa dia? Alka saja tidak melepas pelukan itu.


“Ajimantrana!” Alka terlihat bahagia menyambut lelaki itu, keadaan seperti ini membuat kepala dan hati Aditia panas.


“Kok, kau lebih ringan?” Makhluk yang dipanggil Ajimantrana itu bertanya, di belakang makhluk itu terlihat beberapa orang yang seperti pengawalnya berdiri tegak, pakaian Ajimantrana seperti orang-orang jaman dulu, dengan kain panjang dan baju beskap berwarna putih, bedanya hanya Ajimantrana yang memakai itu, yang lain bertelanjang dada dan memakai celana pendek dililit kain selutut, terlihat bahwa Ajimantrana adalah pemimpinnya.


“Aku sedang dihukum oleh Ayi, ya, biasalah.” Alka mengatakannya dengan ringan, Aditia hanya terdiam melihat kedekatan itu.


“Oh ya, aku mendengar rumor itu, hukumanmu cukup ringan.”


“Betul, sangat ringan malah.” Mereka mengobrol tampak sangat cocok.


“Ada apa kau ke sini? Kenapa tidak mampir? Aku tahu kau tidak bisa memberi sinyal karena sedang disegel, tapi setidaknya kau harus mampir.” Ajimantrana mengusap hidung Alka, Aditia ingin muntah melihatnya.


“Kami sedang mencari rombongan hilang Ji, sudah ketemu, tapi sudah jadi jasad semua.” Alka menjawab.


“Oh ya, kok bisa? Kenapa aku tidak tahu?” Ajimantrana terlihat kesal.


“Sepertinya yang membunuh rombongan itu orang yang menganut ilmu hitam juga, kau saja bisa kebobolan.”


“Apa mungkin ini juga berhubungan dengan jasad hancur yang kami temukan beberapa hari lalu?”


“Jasad hancur? Hancur gimana?” tanya Alka.


“Ada jasad yang bergantung di bibir tebing, seharusnya tidak ada yang ke situ kecuali orang yang tersesat, jasad itu terlilit kain, entah kain apa, kepalanya hancur, wajahnya juga rusak parah dan beberapa bagian tubuh patah, kami biarkan di sana, karena tidak mau repot, kami fikir mungkin itu manusia yang tersesat, kau tahulah, kadang manusia suka melewati batas kemampuan, merasa lebih hebat dengan berlaku seenaknya di gunung, makanya aku biarkan saja.


“Bisa antar kami melihat jasad itu?” Alka meminta.


“Apa yang tidak untuk calon istriku.” Aditia kaget mendengar itu, Alka tertawa renyah, Aditia ingin protes, tapi bukan saatnya.


“Oh ya, ini Aditia, kau tahu kan?” Alka lupa memperkenalkan mereka.


“Oh ini Aditia, anaknya Mulyana? Aditia saya Ajimantrana, Panglima gunung ini, selamat datang.” Katanya, Aditia hanya mengangguk.


Setelah itu mereka berjalan ke arah mayat yang hendak Ajimantrana tunjukan.


Setelah sampai di bibir suatu tebing, Ajimantrana menyuruh para pengawalnya mengambil mayat itu, mayatnya mengambang berjalan sendiri ke arah mereka, tentu para jin itu tidak bisa memegang mayatnya, tapi bisa menggerakkan benda tanpa memegang, maka mudah mengambil mayat itu.


Alka membuka kain parasut yang melilit mayat itu, benar bahwa mayat ini terlihat baru, mungkin salah satu dari anggota keluarga mereka, tapi kenapa mayat ini terpisah, seperti dijatuhkan dari atas karena dililit dengan kain tenda, lilitannya rapat sekali, dijatuhkan di tempat yang tidak akan ditemukan juga, karena ini bukan tempat pendaki berjalan, orang yang menjatuhkan hafal sekali jalur yang orang tidak lewati.


“Gimana Ka?” Aditia bertanya.


“Kita harus mengabari yang lain tentang mayat ini. Aku tidak punya jawaban saat ini.”


[Hartino masuk.] Alka menghubungi Hartino dengan walkie talkie, mereka memang masing-masing memegangnya.


[Iya Hartino masuk, kenapa kak? Ganti.” Hartino menjawab.


“[Ada satu mayat lagi, Kakak akan taruh di tempat yang akan kalian jangkau nanti saat turun, jangan tanya apa-apa dulu, Kakak juga nggak tahu, ganti.]


[Diterima, Ganti.] Hartino tidak banyak tanya, karena dia tahu, saat ini evakuasi semua jasad lebih penting.


“Sekarang kita akan tahu, siapa pembunuhnya, yang tidak ada dalam daftar jasad yang ditemukan ini, adalah pelakunya.” Alka bersemangat.


“Kalau begitu ayuk kita cari pelakunya.” Aditia ingin segera Alka jauh dari Ajimantrana, lelaki tegap yang tampan ini, apalagi dia seorang Panglima.


“Iya, ayuk.”


“Aku ikut boleh?” Ajimantrana bertanya.


“Nggak usah, ngapain?” Aditia dengan tegas menolak.


“Pembunuh itu membuat gunung kami kotor, Rajaku akan marah jika tahu aku diam saja, aku harus ikut menemukan pelakunya dan memberi pelajaran, di mana mukaku jika aku tidak bisa menemukannya dan menghajarnya, aku akan jadi olok-olokan warga gunung ini.” Pernyataan yang masuk akal, tapi Aditia merasa itu hanya alasan.


“Baik, kau ikut, tapi kau juga harus membiarkan dia tetap dihukum oleh hukum Negara kami.” Alka memberi syarat.


“Tentu saja, aku akan menghukumnya selagi dia diadili, di dalam penjara atau dimanapun dia berada.”

__ADS_1


“Baiklah, ayo kita bergegas sekarang.”


Ajimantrana meminta anak buahnya membawa mayat itu mendekati jalan turun para pendaki, lalu menyamar menjadi Aditia agar nanti bisa memberi penjelasan, setelah itu Ajimantarana ikut Alka sendirian tanpa pengawal, dia mengganti pakaiannya seperti para pendaki, lebih kasual, aura ketampanannya semakin terpancar.


__ADS_2