
“Trus sekarang kita mesti apa Pak?”
“Masih cek jati dirinya, kemarin keluarga, sekarang kita tanya ke tetangganya.”
Pagi-pagi ayah anak itu sudah berkendara ke dekat rumah Koswara, hari ini libur sekolah cukup panjang karena habis ujian, Aditia juga sedang bersemangat ikut ‘menjemput’ dengan ayahnya. Teka-teki ini memancing kecerdasan Aditia untuk diasah.
“Mulainya dari mana?”
“Pagi begini, ibumu biasanya ngapain?” Ayahnya bertanya.
“Belanja.”
“Di mana?” Kalau lagi butuh belanjaan banyak ke pasar, kalau yang sedikit di tukang sayur.”
“Itu dia, agent yang selalu bisa bantu kita dapat informasi.”
“Hah?”
“Udah jangan banyak tanya, learning by doing. Yuk.” Mulyana turun, mereka berjalan ke arah rumah Koswara, benar saja ada tukang sayur tidak jauh dari rumah itu.
Sepi, belum waktunya, Mulyana bergumam dalam hati.
Begitu menunggu satu orang ibu, Mulyana pura-pura bertanya.
“Bu, mau tanya, rumah Pak Koswara yang mana ya?”
Ibu yang sedang belanja kira-kira berumur empat puluh tahunan, memakai daster dan terlihat asik memilih sayuran dan bumbu.
“Itu di sana, lurus aja yang cat temboknya warna krem, keliatan kok dari sini.”
“Oh begitu, baiklah, kira-kira ada nggak ya orangnya? Soalnya ....” Mulyana menahan perkataannya agar ibu itu penasaran, kalau sudah penasaran, ibu-ibu pasti bisa diajak transaksi informasi dengan gratis.
“Soalnya kenapa Pak?” Ibu itu merapat pada Mulyana, Aditia tersenyum, ayahnya sangat mengerti soal mendapatkan informasi seperti ini.
“Hmm, sebenernya ini nggak boleh bilang-bilang Bu, tapi gimana ya, saya juga pegawai butuh uang buat makan.” Mulyana berbakat menjadi aktor dengan penghayatan yang tinggi.
“Wah pasti utang ya? udah pada tahu Pak, si Koswara itu doyan ngutang. Kasihan istrinya.”
Kena dalam sekejab.
“Iya, kami petugas koperasi, dia sudah lama nunggak, jadi kami mau tagih, tapi ternyata orangnya ilang.”
“Banyak utangnya?” Mulyana sebenarnay kasihan harus memfitnah orang yang sudah meninggal, tapi niatnya kan baik.
“Banyak, belasan juta.”
“Astagfirullah, dia ngilang beneran apa kabur sih?” Beberapa ibu lain datang lagi, bagus, makin banyak orang yang datang, makin banyak sumber informasi.”
“Kenapa Bu?” tanya salah seorang ibu.
“Ini petugas koperasi mau nagih ke Koswara, tapi kan orangnya ilang. Saya tanya, dia ilang beneran apa kabur ya?”
“Kabur sih kayaknya Bu.” Seorang wanita yang berumuran tidak jauh tiba-tiba berkata padahal dari tadi hanya diam saja.
“Kok yakin kabur?”
“Itu satu minggu sebelum hilang dia pinjam uang sama suami saya, lima juta! Padahal itu uang buat ulang tahun anak saya, katanya mau dikembalikan tiga hari lagi, taunya malah kabur.” Wanita itu terlihat kesal, Mulyana ingin memberitahu bahwa orangnya sudah tiada. Tapi nanti dia terhambat dapat informasi.
“Jadi hutangnya banyak ya?” Mulyana memancing lagi.
“Ya banyak.”
“Istrinya kali ya yang banyak minta, kan pedagan ikan harusnya banyak uang.” Mulyana kembali berusaha memprovokasi.
__ADS_1
“Eh enggak! Ibu Koswara mah baik orangnya, dia tuh korban Pak. Dia juga kasian dulu dijodohin apa orang tuanya, makanay mereka menikah, keliatannya bahagia, padahal pasti istrinya makan hati, tiap hari banyak datang nagih, sementara dia baju itu-itu aja. Untung cantik, jadi nggak perawatan wajah juga masih ok keliatannya. Kasihan saya ngeliatnya, dia dulu menikah masih muda dikira bakal hidup enak, taunya malah sengsara.”
Istrinya tidak tercela, Mulyana benar-benar menyangka bahwa istrinya pasti ikut andil hilangnya lelaki itu, tapi Mulyana sepertinya salah.
“Baik kalau begitu saya pergi dulu ya, mau ke sana, ke rumah Pak Koswara.”
“Aduh Pak, nggak kasihan sama Janda, udah lakinya kabur, masih ditagih utang.” Seorang wanita membela istrinya Koswara.
“Yasudah ibu-ibu, kalau begitu saya balik ke kantor aja.” Mulyana seperti urung mendatangi rumah wanita itu, padahal memang tidak niat ke sana.
“Dit, kita menemukan apa tadi?” Mulyana bertanya. Mereka sudah naik angkot dan bermaksud sarapan dulu, karena ini masih pagi, tadi belum sempat sarapan mengejar ke tempat itu.
“Istrinya bermasalah,” Aditia menjawab.
“Pintar, kenapa begitu?”
“Tidak ada orang yang sempurna, sedikit atau banyak pasti dia punya kelemahan. Tapi ketika semua orang cenderung membelanya dan dia disebut wanita baik. Itu artinya dia sengaja membuat pencitraan dirinya seperti itu. Dia membuat semua orang percaya kalau dia baik, terlalu terlihat, kalau istrinya Koswara sedang mengambil hati semua orang agar terlihat baik.
Jadi dia akan menjadi orang yang paling mustahil membunuh suaminya, dia akan terliaht sebagai istri yang menyedihkan dan baik hati, padahal ....”
“Bisa saja dialah dalang hilangnya Koswara.”
“Jangan ambil kesimpulan sendiri, ingat, belum ada titik terang selain Koswara banyak hutang dan ternyata telah memilki anak. Lelaki yang tinggal itu katanya anaknya mereka.”
“Ya, tapi apakah kita bisa menemukan pelakunya Pak?”
“Bukan tugas kita menemukan pelakunya Dit, kamu bukan Polisi seperti Dirga. Kita tugasnya mencari jasad Koswara, walau harus menemukan dulu pelakunya agar jasad Koswara bisa ketemu.
...
Malam tiba, Koswara masih duduk di tepian kali, dia memandang terus ke arah depan, kali yang kotor itu terlihat tenang.
“Kami belum bisa menemukan petunjuk Kos, kami mengunjungi istrimu dan anakmu serta ....
“Lepaskan aku!” Mulyana dicekik oleh Koswara, Aditia yang melihat itu, mencoba melepas cekikan itu, tentu tangan pencekiknya tidak bisa diraih orang biasa.
Mulyana masih merasa tercekat dengan cekikan itu, dia berusaha melepaskan tapi cekikan itu menjadi semakin kencang, Mulyana mengeluarkan keris mini, lalu menusuk tangan Koswara, Koswara otomatis melepaskan tangannya dan mundur, dia berjongkok dan histeris, suara tangisnya melengking.
Aditia mendekatinya dan mulai ikut memprovokasinya agar mendapatkan informasi yang jauh lebih banyak.
“Apa istrimu yang membuangmu di sini?” tanya Aditia.
Jiwa itu masih saja meraung.
“Apa dia selingkuh?”
Jiwa itu menatap Aditia dengan tajam, dia bermaksud mencekik Aditia juga, tapi langsung di tepis karena Aditia lebih siap untuk melawan. Sedang tadi Mulyana tidak bisa menghindar dari cekikan karena begitu tiba-tibanya Jiwa Koswara menyerangnya.
“Kalau begitu bicara! Kau harus bicara!” Jiwa itu menjadi semakin menjerit karena kesal dan akhirnay hilang.
“Dit, dia bukan tidak mau bicara, tapi memang tidak bisa.” Mulyana kasihan pada jiwa itu, dipaksa oleh anak muda yang kurang pengalaman.
“Kok bisa gitu?”
“Adit kalau tidak punya lidah bisa ngomong?”
“Tidak Yah.”
“Kemungkinan lidahnya telah dimantrai sebelum meninggal, makanya dia begitu, tidak bisa bicara banyak.”
“Oh, kasihan ....”
“Ya Nak, perlakukan mereka dengan baik, memancing emosi mereka bukan hal yang patut dilakukan. Mereka frustasi Nak, kita harus menenangkannya dan membujuk, bukan memaksa.”
__ADS_1
“Ya Ayah, maaf ya.”
Mereka akhirnya pulang untuk istirahat, rencananya besok Aditia dan ayahnya akan kembali ke rumah istri Koswara, mereka mau mengintai.
Pagi tiba, keluarga Mulyana sarapan.
“Yah, Adit ikut lagi ya narik.” Aditia berbicara seperti itu karena sedang ada ibu dan adiknya, jadi kegiatan ‘menjemput’ diganti dengan kata menarik angkot.
“Iya boleh.”
“Semangat banget, Ayah emang kasih uang ke anaknya ya, makanya dia semangat gini ikut?” Ibunya Aditia meledek.
“Tidak kok Bu, Adit suka banget ikut ayah soalnya seru banyak yang kita dapatkan selain uang ....”
“Loh emangnya apa Adit keseruan yang kamu dapat dari narik angkot?” Ibunya bertanya lagi.
“Kita bisa melihat ‘mere’ ....”
“Kita bisa melihat banyak pengalaman dari jalanan, iya kan Dit?” Ayahnya langsung mengalihkan perkataan Aditia agar tidak keceplosan.
“Eh, iya Bu, pengalaman.” Aditia menyedok makanan ke mulutnya.
“Yaudah ayo, abis ini kita narik lagi ya.”
Mulyana dan Aditia sehabis sarapan, langsung bersiap untuk pergi ‘menjemput’ mereka berdua akan mengintai.
Ini kali ketiga mereka ada didekt rumah Koswara, mereka bermaksud mengintai rumah Koswara.
Jam sepuluh pagi istrinya keluar rumah dengan pakaian seadanya, dia membawa kantung kresek hitam dan memakai sendal jepit.
Naik angkot dari depan gang, tentu bukan angkot Mulyana. Mulyana dan Aditia mengikuti dari belakang.
Perempuan itu berhenti di suatu daerah perumahan yang cukup besar.
Wanit itu masuk ke salah satu rumah yang cukup besar, Mulyana bisa masuk ke sana karena beralasan ada yang menyewa mobil. Beruntung mereka bisa masuk perumahan yang pintu masuknya saja dijaga beberapa security.
Istri Koswara berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar di perumahan ini.
Begitu masuk istri Koswara terlihat didampingi seorang wanita yang berpakaian rapih berlari seolah hendak menjemput seseorang yang cukup penting. Begitu bertemu istri Koswara, wanita berpakaian rapih itu buru-buru mengambil kantong kresek hitam istri Koswara, memakaikan sepasang sendal yang terlihat lebih mahal dari sendal jepitnya. Wanita berpakaian rapih itu sepertinya pelayan, karena setelah mengganti sendal jepit istri Koswara dia mengambil sendal jepit istri Koswara dan mengikuti istri Koswara dari belakang.
Pertanyaannya adalah, siapa sebenarnya istri Koswara, kalau ini rumahnya dan itu pembantunya, lalu kenapa dia masih bertahan di rumah kecil itu, apakah benar dia menunggu suaminya? Apakah benar dia tulus?
“Dia kayaknya yang punya rumah deh Yah, liat cara semua orang melayaninya hanya untuk sekedar masuk rumah,” Aditia berkata.
“Bisa jadi.”
“Kalau rumahnya sebesar ini, kenapa dia repot tinggal di rumah sederhana? Hidupnya enak dengan rumah besar itu, anak-anaknya kelak juga pasti nyaman tinggal di rumah sebesar itu, Adit kalau jadi perempuan itu sih, mening tinggal di rumah besar daripada pura-pura tinggal di rumah sederhana.
Mulyana tersentak mendengar itu, dia merasa tersindir, tapi hanya bisa diam.
“Adit lebih suka rumah gede itu daripada rumah sederhana kita?”
“Enggak lah Yah, Adit suka kok rumah kita.”
“Lalu tadi kenapa bilang lebih suka rumah besar ini daripada rumah sederhana itu?”
“Kan itu kalau Adit punya pilihan. Sementara sekarang Adit kan nggak punya pilihan, yang penting Adit punya Ayah, Ibu dan Dita, cukup.”
[Kau punya pilihan kok Nak, kelak kau akan tahu, tapi tidak sekarang.] Mulyana membantin.
“Jadi, kita masih tunggu?” Aditia bertanya.
“Tidak, kita akan langsung menyerang pemilik rumah, kita akan bertamu.”
__ADS_1
Mulyana bersiap turun, Aditia baru sadar, ayahnya tidak pernah ragu-ragu kalau bertindak, padahal kadang dia tidak punya ide sama sekali untuk dapat informasi itu.