
“Jadi dia takut dengan apa?” Tanya Alka kesal, karena semua orang bertarung seperti tiada henti.
“Dia paling takut dengan ... aku.”
“Hah?” Aditia dan Alka kesal mendengar hal yang aneh.
“Kalau dia takut padamu, lalu kenapa dia sekrang berani berhadapan denganmu bahkan menyebutmu pengkhinat?! Tidak masuk akal.” Alka tidak mengerti.
“Kau tahu, derita pecinta bertepuk sebelah tangan?” Hariyadi berkata lagi.
“Ingin memiliki tapi tidak mampu,” Aditia menjawab.
“Selain itu.” Hariyadi malah main teka-teki.
“Berani berkorban.” Alka menjawab dengan tepat. Aditia agak heran, kenapa Alka bisa menjawab dengan tepat, padahal yang Aditia tahu, dialah yang cintanya bertepuk sebelah tangan pada Alka. Kita jangan kasih tahu Aditia ya, apa yang terjadi sebenarnya.
“Ya, itu dia. Dia paling takut denganku, karena aku kelemahannya.” Hariyadi terlihat sangat percaya diri sekaligus gusar.
“Jadi maksudnya, kami harus mencelakaimu agar dia menyerah? Pantas dia tidak menyerangmu tadi dan fokus menyerang kita, bagaimana mungkin kita tidak sadar. Tentu saja jin wanita ini mempertahankan Lembah Aru hanya dan meminta semua korban itu hanya untuk tetap berhubungan dengan manusia laknat ini!” Alka kesal karena cinta indah dinodai oleh dua pesakitan beda dunia ini.
“Ka, fokus dulu ok.”
Aditia dengan cekatan menarik Hariyadi dengan kasar, membawanya dihadapan Tun dan dia berteriak.
“Berhenti kau Tun!”
Tun yang melihat Hariyadi ditodong keris pada lehernya langsung terlihat panik, tubuhnya yang tadi tinggi dan besar, menjadi berukuran normal, dia mendekati Aditia untuk bisa menggapai kakasih hatinya, tapi terlambat, empat kawan lainnya langsung menlindungi Aditia, Tun terdiam, semua pasukan di belakangnya.
“Lepaskan Hariyadi!” Tun berkata.
“Tidak! kau harus menghancurkan Lembah Aru terlebih dahulu, baru aku akan melepaskan Hariyadimu.” Aditia merasa jijik mengatakannya.
“Tidak akan, kalian semua bersiap. Kita akan menghabisi mereka semua!” Tun memberi aba-aba pada pasukan Jepang itu. Semua bersiap menyerang.
Aditia terpaksa menggores Hariyadi dengan pisau lipat, karena keris mini miliknya sama sekali tidak mempan pada tubuh manusia, karena keris itu aslinya tumpul. Keris itu baru akan tajam ketika digunakan untuk bangsa jin atau ruh yang jahat. Kapan lagi menipu jin yang tukang tipu? Bukankah jin penuh tipu daya, maka manusia bisa melakukan yang sama.
Leher Hariyadi mengeluarkan darah, Tun berteriak dia menjadi gila. Aditia menggunakan moment itu dengan berpura-pura akan menusuk keris itu ke perut Hariyadi, tapi saat keris hampir menancap perutnya, setidaknya itu terlihat berbahaya di mata Tun. Padahal keris itu sengaja digunakan agar tidak membahayakan Hariyadi.
Tun bersujud, dia memohon agar Hariyadi dilepaskan.
“Aku mohon, lepaskan Hariyadi!” Tun memohon.
“Lepaskan perjanjianmu dengan Hariyadi, hancurkan Lembah Aru ini dan lepaskan semua ruh yang terjebak di tahun 1944 ini, maka aku akan melepaskan Hariyadi.”
Tun terdiam, Aditia kembali melakukan gerakan yang terlihat berbahaya di mata Tun bagi Hariyadi.
“Baiklah, baiklah!” Tun melepas selendangnya, dia lalu mengucapkan mantera pelepas perjanjian, setelahnya semua ruh Pasukan Jepang dan wanita-wanita korban hotel ini saling melihat. Mereka sadar bahwa tubuh mereka tidak lagi nyata, tapi tubuh mereka transparant, wajah pucat dan baju yang usang.
Alka meminta semua berbaris, mereka terlihat sedih dan bingung.
“Kalian pasti bingung dan mulai ingat dengan keluarga serta orang-orang yang sudah kalian tinggal sangat lama.” Ganding mencoba menjelaskan.
“Apa maksudmu lama?” Salah satu penari bertanya.
“Baiklah, kalian semua jelas sudah bukan manusia lagi, ingatan terakhir kalian pastilah kalian sedang sakit, dalam dunia nyata kalian telah tiada.” Semua menangis, ingatan mereka setelah menjadi hantu berhenti pada tahun 1944 walau mereka tidak ada di tahun dan tiada setelah hotel dibangun, tapi ingatan itu diperdaya oleh Tun agar para penari bisa tetap berada di Lembah Aru.
Tun telah diikat dengan tali ghaib yang cukup kencang jadi dia tidak dapat melakukan perlawanan.
“Kalian para pasukan Jepang, kalian telah gugur pada tahun 1944, kalian semua telah pergi ke medan perang lalu gugur di sini, maka sekarang, mari kita pulang ke ‘rumah’ kalian sebenarnya. Tentang dosa-dosa kalian, hanya Tuhanlah Hakimnya.” Ganding menutup penjelasannya dan Alka serta Aditia meminta Tun untuk mengeluarkan mereka semua dengan cara menghancurkan Lembah Aru.
Tun menurutinya, saat ini setelah melepas perjanjian mereka masih di Lembah Aru dan ketika dihancurkan oleh Tun maka lima sekawan, Hariyadi dan Selly akan kembali ke tubuh merema masing-masing.
__ADS_1
Rencananya Maya akan dikembalikan juga ke tubuhnya oleh Alka.
Tun menghancurkan Lembah Aru, seketika lapangan itu berubah menjadi atap hotel.
Alka dan yang lain bersiap kembali ke tubuh mereka, tapi ....
Hariyadi sudah kembali ke tubuhnya, Tun berada di sisi Hariyadi, Selly pasti juga sudah kembali ke tubuhnya.
Lima sekawan kecuali Alka bingung, mereka tidak dapat kembali ke tubuhnya karena ....
“Kemana tubuh kami!” Aditia bingung, tubuh mereka tidak ada, sementara Teddy dan beberapa pegawai terlihat seperti pingsan di atap.
Yang tersisa hanya Supri.
“Kau menjalankan rencananya dengan baik Supri.” Hariyadi menepuk bahu Supri.
Alka yang telah kembali ke dunia nyata karena dia memang tidak lepas raga memikirkan dengan baik, apa yang sebenarnya terjadi apakah mereka telah ... dijebak! Alka menatap Hariyadi dengan kesal.
“Kau menipu jin, maka tidak heran kami menipumu balik.” Hariyadi tertawa terbahak-bahak.
“Kau!” Alka mengeluarkan cambuknya.
“Jika kau melukai salah satu diantara kami, maka tubuh teman-temanmu akan kami hancurkan, bagaimana dengan membakarnya?” Hariyadi mengancam. Alka tidak jadi melawan, dia menyimpan kembali cambuknya.
Supri benar-benar bukan sesuatu yang mereka perhitungkan, Supri terlihat lebih tua dari Teddy, tentu seharusnya Alka dan yang lain curiga, kenapa dia masih hanya seorang security saja setelah bekerja begitu lama lebih lama dari Teddy.
Supri yang sebelumnya Alka lihat di foto-foto karyawan hotel ini sama sekali tidak membuat Alka dan yang lain curiga, tentu saja orang terlama lah yang bisa saja menjadi tangan kanan.
“Supri bukan hanya security, anak-anaknya telah aku sekolahkan tinggi di luar negeri, bahkan Supri punya beberapa rumah dari hasil kerjanya padaku. Supri bukan security hotel ini, tapi dia adalah penjaga Lembah Aru dan juga penjagal para korban wanita itu. Supri yang membuat mereka jatuh sakit dan lemah, lalu akhirnya koma dan menemui ajal sementar ruhnya telah kami sekap terlebih dahulu. Supri yang melakukan pekerjaan kotorku.
Supri orang yang paling setia yang aku miliki setelah Tun, aku memang jarang ke sini karena mencegah kecurigaan orang-orang, tapi Suprilah yang menjalankan semua perintahku.
Seperti sekarang, dia yang membuat Teddy serta yang lain pingsan, mereka akan kami jadikan korban selanjutnya di lembah Aru, tentu saja mereka tidak boleh mati tiba-tiba.
“Lepaskan semua tubuh temanku, bertobatlah kakek tua!”
Tuh empat sekawan kesal tapi tidak bisa melakukan apapun, Hariyadi tidak bisa disentuh dengan tubuh kasat mata mereka, apalagi tubuh mereka sedang di sandera dan pasti dijadikan bahan mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Lepaskan dulu tuh Maya, setelah itu aku akan melepaskan salah satu tubuh temanmu. Untuk sisanya, akan aku lepaskan setelah aku tahu apa yang aku inginkan.” Hariyadi tertawa terbahak-bahak.
“Kau memang brengsek!”
“Aku memang brengsek, lalu sekarang kau juga akan menjadi si brengsek seperti itu!” Hariyadi tertawa.
“Apa maksudmu!” Tanya Alka.
“Pilih salah satu temanmu yang akan kau selamatkan duluan sebagai pertukaran dengan tuh Maya.”
Alka mundur, dia benar-benar kakek tua biadab! Bagaimana mungkin Alka disuruh memilih diantara salah satu lima orang yang dia sayang.
“Kau seharusnya sadar, lepaskan Tun dan semua egoismu, kau sudah kaya, anak-anakmu juga sudah sukses, kau seharusnya sadar dan bersiap kembali ke Tuhan.” Alka mencoba membujuk.
“Bagaimana aku melepaskan Tun dan Lembah Aru, sementara mereka yang memberikanku satu-satunya yang tidak akan pernah Tuhan kasih ... keabadian, tubuh yang tetap sehat walau aku sudah setua ini.”
“Hei! Bagaimana dia memberikan keabadian! Sedang Tuhannya saja tidak memberikan dia keabadian.” Alka masih mencoba untuk menyadarkan Haryadi.
“Omong kosong, tapi Tun telah hidup lama sekali, ratusan tahun lebih lama dari kita. Tuhan yang pelit, dia hanya memberikan penangguhan kematian pada setan, sedang pada kita yang dipaksa untuk beribadah, Tuhan hanya kasih puluhan tahun untuk hidup. Bukankah itu tidak adil?
Maka tidak heran aku membelot dari Tuhan, aku hanya menyembah yang mampu memberikan apa yang aku inginkan.”
“Hariyadi kau benar-benar akan masuk neraka, beraninya kau bilang begitu terhadap takdir Tuhan!” Alka sudah sangat geram.
__ADS_1
“Neraka itu tidak ada, buktinya aku masih di sini dengan semua kesuksesanku.”
“Tidak! kau diperdaya Hariyadi!”
“Kalau aku memang diperdaya, kenapa aku masih hidup dengan tubuh segar bugar sampai sekarang! Aku baik-baik saja sampai sekarang! Tun telah memberikan keabadian padaku!”
“Astagfirullah!” Alka kesal sekali.
“Sekarang beritahu aku, kenapa Tun mampu membuat aku tetap sehat sampai sekarang? Bukankah karena Tun memang mampu membuatku abadi?!” Hariyadi tertawa dan Tun hanya tersenyum di belakangnya.
“Baiklah, kembalikan Maya, maka aku akan kembalikan tubuh temanmu. Salah satu yang kau pilih tentunya.”
“Hariyadi lalu turun bersama anteknya, sedang Teddy dan semua pegawai lain di angkat oleh Tun entah kemana, yang pasti disekap untuk dipersiapkan menjadi korban. Mereka pasti akan sadar tapi dalam keadaan linglung. Kasihan Teddy.
Alka dan 4 kawannya masih di atap, mereka tidak bisa kembali ke tubuhnya.
“Siapa yang akan kakak Pilih?” Ganding bertanya. Alka menatap mereka satu persatu, semua orang tertunduk, karena mereka tahu, pasti Alka akan memilihnya karena Lanjo pasti akan memaksa Alka memilih yang dicintainya terlebih dahulu, sementara Aditia tidak tahu bahwa semua menyangka pasti dialah yang akan dipilih.
“Aku akan memilih, kalian ikut aku, kita akan meminta Hariyadi bertemu di ballroom tempat Maya diletakkan, kalian semua harus percaya padaku, siapapun yang aku pilih adalah yang terbaik. Aku janji, kalian semua akan aku kembalikan ke tubuh kalian. Jadi yakinlah dan percayalah.” Semua adiknya mengangguk walau hati mereka ragu.
Alka dan Hariyadi bertemu di ballroom, mereka berhadapan dengan formasi sama didampingi para antek masing-masing.
Maya masih dalam keadaan tidak sadar.
“Apa alasanmu melakukan ini?” Alka bertanya sebelum memberitahu siapa yang dia pilih untuk bangun duluan.
“Dulu aku hanya punya Tun, satu jin saja. Sekarang aku punya, tiga ruh dan satu orang yang sangat tinggi ilmunya untuk membantuku membangun kembali Lembah Aru.” Hariyadi tidak tahu bahwa Alka bukan manusia yang sangat tinggi ilmunya, tapi dia adalah setengah jin dan setengah manusia. Hitungan Haryadi adalah, setelah Alka memutuskan siapa yang dia pilih sebagai orang yang bangun, maka sisa tiga ruh lagi yang bisa dikendalikan dan seorang Alka yang dia anggap manusia dengan ilmu tinggi. Sementara satu orang yang bangun duluan dari kawanan mereka, pasti akan memutuskan lari. Itu yang Haryadi yakini.
“Kau benar-benar tidak kapok, padahal anakmu sudah terancam.”
“Maka itu aku harus lebih pintar menghadapi kalian. Cepat bangunkan anakku, setelah itu aku akan kembalikan tubuh salah satu teman yang kau pilih!” Hariyadi tidak ingin bertele-tele lagi.
“Baiklah.” Alka lalu menghilang, tidak lama dia kembali dengan membawa ruh Maya yang telah dia sekap sebelumnya.
Maya terlihat ketakutan karena dia melihat tubuh yang terbaring dan ayahnya.
“Cepat pilih salah satu temanmu dan kembalikan ruh Maya ke tubuhnya!” Hariyadi berkata.
Alka menatap ke belakang, empat sekawan terlihat sangat murung dan sedih, Alka harus memilih dan ini berat. Tapi pilihan ini pasti yang terbaik.
“Aku memilih ... aku ingin ... Hartino yang bangun duluan.” Hartino dan semua orang kaget, Ganding dan Jarni juga terlihat mengkerutkan dahi, ini pilihan aneh, mereka yakin Alka akan memilih Adit, tapi kenapa sekarang dia pilih Hartino, Ganding tersenyum, karena dia tahu kenapa Alka melakukan itu. Alka hanya mengangguk pada Ganding, artinya dia mengiyakan asumsi Ganding walau mereka berdua tidak saling bicara.
Tubuh Hartino muncul tapi melayang di kendalikan Tun, dua kubu sepakat melakukan bersama, pengembalian ruh kepada tubuhnya, agar mereka sama-sama menepati janji dan tidak melakukan sebuah trik baru lagi.
Dalam sekejap Hartino kembali ke tubuhnya dan Maya juga. Hartino jatuh dari posisi melayangnya dan dia bangun berlari ke arah Alka.
Hariyadi memeluk putrinya dan meminta Supri membawa putrinya ke ambulans yang sudah dia siapkan.
Alka memanggil Haryadi yang hendak pergi dari ruangan itu.
“Bagaimana dengan ketiga tubuh yang lain!” Alka bertanya dengan wajah sangat memohon, Aditia melihat itu sangat geram.
“Aku akan pikirkan dulu apa yang aku inginkan dari kalian baru mengembalikan salah satunya. Satu tubuh, satu permintaan. Bukankah itu adil?” Hariyadi buru-buru pergi untuk mengantar anaknya ke rumah sakit yang saat ini sudah ada di ambulans dan sudah jalan ke rumah sakit, sementara Hariyadi mengiringi mobil ambulans dengan mobil mewahnya.
Alka terduduk, dia menahan marah karena yang lain belum bisa kembali ke tubuhnya, Alka merasa bersalah, menatap ruh kawan-kawannya satu persatu, belum lagi Teddy yang akan dia habisi juga. Benar-benar Hariyadi keparat!
____________________________________
Catatan Penulis :
Aku mau minta maaf pada semua orang yang bernama Hariyadi, karena namanya aku gunakan, makanya di sini akhirnya dia selalu dihina, yakinlah Hariyadi hanya tokoh fiksi ya.
__ADS_1
Oh ya, aku punya youtube channel ya isinya belum banyak itu berisi audio creepy pastaku, jangan lupa mampir. Ini linknya :