
Melihat gunung yang begitu tinggi Meutia lumayan ciut, walau dia tidak bermaksud meloncat ke jurang, dia hanya akan memilih tempat yang cukup tinggi untuk membuat dia terluka, tapi tidak terlalu tinggi untuk membuat dia mati.
Ayahnya juga sudah bersiap, dia akan merawat Meutia kelak jika jatuh, maka dipilihlah satu titik di gunung itu, di mana ada satu lokasi yang kita bisa melihat jalan dibagian bawahnya, tinggi sekitar dua sampai tiga meter, tempat itu dirasa cukup pas untuk jatuh dan dan menggugurkan bayinya.
“Kau yakin, Nak?” ayahnya bertanya. Dia sudah berjaga-jaga di bagian bawah, membawa obat-obatan dan juga beberapa kayu, berjaga kalau-kalau ada bagian tubuh Meutia yang patah.
[Sebenarnya aku tidak ingin menjatuhkan diri, tapi kau harus lenyap, tidak seharusnya kau hadir ke dunia ini, kau terlalu hina jika dilahirkan kelak.] Meutia berkata dalam hati, saat itu dia merasa pertunya seperti sedikit bergerak, tapi dia tidak perduli, saat ini usia kehamilannya masih dua bulan, Darhayusamang juga belum memanggilnya, makanya masih aman, kalau Darhayusamang, suami jinnya tahu, maka selesai sudah hidupnya.
“Ayah! bersiap ya, Meutia akan jatuh!” Lalu Meutia berhitung, dalam hitungan ketiga, dia menjatuhkan dirinya dimulai dengan loncat terlebih dahulu pada permukaan angin, seketika dia jatuh.
Begitu jatuh, dia masih sadar, walau agak bingung. Tapi, dia masih bisa melihat sekitar.
“Ayah, Ayah! kaki Meutia tidak bisa digerakkan, sakit Yah.” Meutia berteriak, ayahnya melihat kaki Meutia, kakinya terlihat memutar ke bagian atas, jelas tadi dia mendarat dengan sangat buruk saat jatuh, tapi anehnya, tidak ditemukan darah keluar dari bagian pribadinya, hal yang umum terjadi jika orang keguguran, ayahnya merasa kasihan, sepertinya, mereka gagal lagi.
Ayahnya harus menggendong Meutia setelah memastikan posisi kakinya aman, kakinya sudah disangga dengan kayu yang dibawa sebelumnya, lalu Meutia digendong sampai ke mobil merek, di kaki gunung, ayahnya cukup kesulitan saat itu, karena dia tidak mungkin meminta tolong orang untuk membantunya menurunkan Meutia dengan tandu, itu akan beresiko.
“Apa yang harus Meutia lakukan, Ayah?” Meutia terbaring di mobil bagian belakang, sementara ayahnya mengendarai mobil Kijang tahun delapan puluhan itu dengan perasaan bingung dan khawatir.
“Aku tidak tahu, karena aku hanya dukun dengan ilmu yang tidak tinggi, Nak. Sementara, persoalan ini terlalu pelik. Hidup dan mati seseorang memang bukan kita yang tentukan.”
“Aku tahu itu, tapi kalau tuan tahu kehamilan ini, kita akan ditinggalkan olehnya, kita bisa mikin lalu perlahan mati, Ayah! kau harus cari jalan keluarnya, kalau tidak, kita berdua akan celaka!” Meutia memaksa.
Mereka sudah sampai rumah, tidak ada satupun pelayan ada di rumah itu, karena semua sudah dipecat, mereka melakukan semuanya berdua, makan beli dari warung makan di dekat rumah, membersihkan rumah juga sudah tidak pernah dilakukan, mereka sedang ingin meminimalisir rumor ataupun gosip tentang Meutia yang sedang hamil.
Meutia digendong lagi untuk sampai di kamarnya, ayah Meutia kasihan melihatnya harus patah tulang kaki. Lalu, dia memanggil dukun urut agar Meutia bisa disembuhkan, maklum tahun itu orang lebih percaya dukun urut saat patah tulang dibanding rumah sakit, karena saat itu belum terlalu populer operasi pasang pen untuk pasien patah tulang.
Ayah Meutia menjemput dukun urut agar bisa segera mengurut anaknya.
Dukun urut datang,dukun itu laki-laki, dia terlihat terpana saat melihat Meutia, di matanya, Meutia terlihat sangat cantik, dia terlihat bersinar walau dalam keadaan pucat karena kesakitan akibat patah tulang.
“Sakit nggak?” tanya dukun itu.
“Ya, sakit, sakit sekali.”
“Tenang, kau akan sembuh.”
“Ya, aku tahu, terima kasih ya sudah mau ngurut.”
“Ya, ini karena ayahmu yang minta, makanya aku mau, karena sekarang, aku jarang mengurut orang-orang biasa, aku hanya mau urut para petinggi.”
“Baik kalau begitu terima kasih.”
“Sudah selesai, hanya tunggu satu atau dua minggu, maka kakimu akan membaik, aka nada bengkak, tidak apa-apa itu biasa, lalu jangan lupa papannya jangan sampai geser ya.” Dukun itu sudah selesai mengurut, dia lalu pergi ke depan untuk pamit pulang.
“Sudah selesai?” ayahnya Meutia bertanya.
“Ya, sudah. Pak, anakmu apakah sudah punya calon?” Dukun urut itu tiba-tiba bertanya.
“Maksudnya?”
“Maksudku, calon suami.”
“Oh, dia sedang dalam proses perceraian.”
“Oh ya? Kenapa suaminya?”
“Suaminya gila, karena gagal melanjutkan niatnya memelet anak saya.”
“Wah lelaki seperti itu memang harus diceraikan, kalau begitu, boleh saya melamar anak Bapak jika besok sudah selesai perceraiannya?” Dukun urut ini terpesona pada Meutia yang terlihat sangat cantik.
“Tidak bisa.”
“Kok, tidak bisa”
“Ya, tidak bisa, karena dia tidak ada niat menikah lagi.”
“Izinkan saya melamarnya dulu saja, Pak.”
“Tidak bisa, sudah terima kasih, ini uang karena kamu sudah bantu anak saya.”
“Tidak usah, terima kasih Pak, sudah mempertemukan saya dengan Meutia, saya akan berusaha untuk melamarnya kelak, saya mohon, bantu saya ya Pak.”
Dukun urut itu pulang, dia tidak tahu, bahwa wanita cantik itu memang bukan wanita yang panas dicintai.
__ADS_1
Setelah pulang, ayahnya Meutia lalu masuk ke kamar anaknya, dia membawa makanan yang dibeli di warung makan.
“Makan dulu, jangan sampai kau sudah sakit karena jatuh, lalu sakit juga karena kelaparan, akhir-akhir ini aku melihat kau jarang sekali makan.”
“Biarlah Yah, kau ingin dia mati, makanya aku sengaja kelaparan.”
“Kau tahu kan, janin itu kuat, kau lemas terus karena dia tidak hanya mengambil makanan dari tubuhmu seperti bayi lain, tapi dia mengambil energimu juga, laparmu tidak akan berpengaruh padanya, karena dia hanya akan mengambil energi dari tubuhmu.”
Meutia akhirnya nurut dan mau makan, dia tidak sudah sangat kelaparan selama ini, karena janin itu membuat dia selalu ingin makan tapi ditahan, agar janin itu tersiksa dan menyerah untuk hidup.
“Mut, dukun tadi bilang ingin melamarmu, dia bersungguh-sungguh, setahuku dia sudah punya beberapa istri.”
“Menjijikan sekali, aku tidak akan menikah tanpa perintah dari tuan, aku tidak ingin menikahinya.”
“Mut, kamu tahu tidak, kalau seorang dukun urut itu punya kemampuan meraba tulang, dia tahu tulang bergeser tanpa melihatnya, dia bisa membuat tulang yang patah kembali tersambung dengan tepat, bisa jadi, kita minta tolong dia.” Ayahnya mulai kepikiran ide ini saat dia mengantar pulang dukun urut itu.
“Maksud Ayah, membantu menggugurkan janin ini?”
“Ya, dia pasti lebih mahir meraba janin itu dibanding dukun sebelumnya, karena ini kan janin yang berbeda. Ayah juga pernah dengar kalau dia itu punya kemampuan spiritual yang cukup baik, banya petinggi datang padanya untuk dibuka aura melalui pijit dan urut.”
“Apakah benar itu Ayah?”
“Kita buktikan saja, tunggu sampai kakimu membaik, baru kita bisa minta tolong dia.”
“Lalu bagaimana jika tuan keburu datang?”
“Kita akan pikirkan itu nanti.”
“Maksudku, kalau menunggu satu sampai dua minggu untuk menggugurkan kandungan ini, aku takut tuan keburu datang, bagaimana jika ayah meminta bantuannya segera, aku akan menggodanya agar dia mau membantu kita.”
“Baiklah, ayah akan hubungi dia besok, kita akan bicarakan ini, sekarang istirahatlah.”
…
“Jadi, apa tujuan Dik Meutia memanggil saya kemari?” dukun itu bertanya.
“Jadi gini Mas, kemarin ayahku bilang, kalau mas mau melamarku, tapi ditolak, apa itu benar?”
“Ya, Mas tau kalau kamu dalam proses cerai dan mungkin sekarang masih trauma, tapi percayalah, Mas tidak akan menyakiti atau mencelakaimu seperti lelaki itu.”
“Apa?!” Dukun urut itu kaget.
“Tapi aku tidak bermaksud untuk mempertahankan janin ini, tapi aku bingung Mas, kemana harus meminta bantuan, kalau ke dokter tidak mungkin, kalau ke dukun aborsi, aku juga takut, takut kalau dia mengadu pada keluarga suamiku dan mereka akan mengincar aku dan ayahku karena mengaborsi cucu mereka.
Maka dari itu, aku mau minta tolong Mas, bisakah Mas bantu mengaborsi anak ini? Karena aku tidak ingin anak ini, aku tidak mencintai suamiku, aku hanya dijebak menikah dengannya, aku ingin bahagia Mas.” Meutia memegang tangannya dukun itu, hingga membuat dukun itu terlihat senang.
“Baiklah, sebenarnya Mas juga pernah membantu mengaborsi istri mas yang sudah melahirkan beberapa kali, kita akan lakukan aborsi ini di mana?”
“Di rumah ini saja ya Mas, karena aku takut kalau kita ke tempat praktek Mas, aka nada omongan.”
“Baik, kalau begitu menunggu kakimu sembuh dulu ya.”
“Tidak Mas, jangan! aku takut kalau janin ini akan semakin besar dan semakin sulit mengeluarkannya, kalau semakin lama, nanti kita semakin lama menikahnya loh Mas, kalau ketahuan pengadilan agama aku hamil, bisa jadi permohongan perceraianku akan ditunda.”
“Jadi, Dik Meutia mau menikah denganku?”
“Ya, asalkan mas mau membantuku untuk menggugurkan janin ini.”
“Baiklah, kita akan siapkan semua peralatannya besok, aku akan membawa seorang bidan yang pernah membantu istri mas dulu, karena selain diurut, janin itu juga perlu ditarik agar bisa keluar, bidan itu akan membantu mas mengeluarkan janinnya.”
“Terima kasih ya Mas, semoga janin ini bisa cepat keluar dan kita bisa menikah secepatnya.”
Meutia sengaja menggoda, saat ini itu saja dulu yang dia lakukan, kelak kalau lelaki ini sampai tergila-gila padanya, dia akan Meutia lenyapkan seperti yang lain, Darhayusamang tidak perlu tahu, karena saat ini dia juga sudah menghilang entah kemana, sudah dua bulan lebih dia tidak memanggil Meutia.
Rencananya aborsi itu akan dilakukan besok malam, bersama dengan seorang bidan, semua yang dibutuhkan disiapkan oleh ayahnya Meutia. Meutia punya fisik yang lemah sebelumnya, tapi semua usaha yang dia lakukan untuk mengaborsi janinnya, sungguh di luar dugaan, ayahnya sudah menyadari itu, pasti karena bayinya yang tidak biasa itu, hingga tubuh Meutia menjadi lebih kuat dibanding sebelumnya.
Lalu kenapa dukun itu juga bisa sangat suka pada Meutia, bahkan rela membantunya mengaborsi janin itu, semua karena Meutia memang terlihat lebih cantik setelah hamil, janin dalam kandungannya membuat semua yang ada pada diri Meutia semakin sehat dan terlihat menarik.
Hari itu tiba, dukun bersama dengan oknum bidan datang, mereka sengaja datang dari sore agar tidak terlalu mencolok, karena aborsi itu akan dilakukan pada malam hari setelah maghrib adalah waktu terbaik kata dukun urut itu.
Ketika maghrib telah berlalu, akhirnya Meutia sudah siap pada posisi, kakinya tidak bisa ditekuk karena sedang patah tulang, jadi dilakukan dengan posisi kaki terbuka saja, yang penting bagian pribadinya terbuka.
Dukun urut itu melihat tubuh Meutia semakin panas dingin, dia ingin memiliki Meutia sesegera mungkin, makanya dia bersemangat mengerjakan ritual aborsi ini bersama bidan yang sudah dijanjikan bayaran tinggi, uang tentu bukan masalah bagi Meutia dan ayahnya.
__ADS_1
Dukun itu mulai memegang perut Meutia, tidak teraba adanya janin pada rahim itu, dukun mencari-cari, dalam waktu sepuluh menit akhirnya dia bisa merasakan janin bahkan detak jantungnya, karena tangannya sudah terlatih melihat anatomi tubuh dengan merasakan, bukan dengan melihat sesungguhnya.
Tapi ada yang aneh dalam janin itu, jantung berdetak, lebih cepat dari detak jantung manusia biasa, tapi dukun itu tidak terlalu perduli, dia hanya terus mengurutnya, dengan gerakan menghancurkan atau menurunkan janin itu.
Pasti ibu-ibu di luar sana yang sangat menginginkan seorang bayi dalam rumah tangganya yang telah terjalin beberapa tahun hingga belasan tahun, menangis melihat ini semua, janin itu diusahakan keluar dari rahim sebelum dia berkembang.
Janin itu yang tadinya tenang, tiba-tiba bergerak, dukun urut kaget, kenapa bisa janin bergerak padahal dia belum bernyawa, masih berupa janin yang belum bisa bergerak.
Dia mencoba tenang dan menangkap janin yang mulai bergerak ke segala arah, karena ukurannya masih kecil, tentu dia bebas bergerak dalam rahim Meutia, Meutia tidak merasakan apapun, hanya sakit di kakinya saja yang terasa.
“Gimana Mas, kok belum turun juga? kapan saya masukan alatnya?” Alat yang dimaksud oknum Bidan itu adalah tang penjepit dengan ujung tajam, ini alat khusus yang biasa digunakan untuk menghancurkan janin di dalam rahim lalu ditarik keluar dengan cara dijepit.
“Sebentar Bu, ini belum mau turun, aneh.” Dukun urut itu mulai merasa curiga.
Setelah cukup lama mengusahakan agar janin itu turun kea rah jalan lahir, dukun urut itu akhirnya menyerah.
“Masukkan saja alatnya ke dalam rahim Bu, hancurkan janinnya di dalam rahim lalu tarik, seperti biasa yang kita lakukan.”
Ternyata hal ini bukanlah kali pertama mereka melakukan praktek aborsi, sungguh duet kejahatan yang sangat mengerikan.
Bidan itu lalu bersiap, setelah mensterilkan tang penjepit dengan alkolhol, dia memasukkan alat itu ke dalam areal pribadi Meutia, saat alatnya masuk, Bidan itu merasa menentuh janin dengan tangnya, dia mulai melakukan gerakan naik turun pada alatnya agar janin tertusuk dan dan mulai hancur, tapi pada gerakan kedua, dia melepas tanganya dari alat itu dan berteriak.
“Panas! panas!” Ternyata Bidan itu merasakan panas yang luar biasa pada bagian pegangan alat aborsi itu, entah panas itu datang dari mana.
Saat mereka fokus pada Bidan yang melepaskan alatnya dan kepanasan, tiba-tiba semua jendela terbuka, angin masuk dengan sangat kencang, beberapa barang ringan terlempar ke segala arah.
Tang penjepit tajam itu juga terdorong keluar dengan sendirinya, luar biasa, dari areal pribadi Meutia tidak ditemukan darah yang mengalir karena alat itu, tapi naas, tang penjepit itu terlempar keluar dan tepat mengenai tangan Bidan, tertancap tepat di tengah telapak tangannya, dia berteriak, setelah kepanasan sekarang dia kesakitan karena alat itu menancap di tangannya.
“Ka-kau hamil anak setan! kau bukan hamil anak manusia! apa kau bersetubuh dengan jin?!” Dukun urut itu berteriak-teriak melihat semua kekacauan ini, ilmunya memang tinggi, tapi menemui kasus seperti ini hampir tidak pernah.
“Hei kau diam!” Ayahnya Meutia yang sedang menolong Bidan berteriak pada dukun urut itu, karena dia tidak ingin ada yang mendengar teriakan dukun itu.
Di saat kaca itu, tiba-tiba angin berhenti, semua jendela tutup, keadaan mulai tenang, lalu tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan kasar, ada seorang pria muncul, pria tampan yang kakinya tidak menapak ke lantai.
“Tuan!” Meutia dan ayahnya berteriak kaget, sementara dukun dan Bidannya mundur, mereka melihat Darhayusamang dengan jelas, Bidan ketakutan, padahal dosa dia mengaborsi lebih menakutkan, sedang dukun itu mulai terlihat was-was.
Darhayusamang terbang ke arah dukun urut itu dengan cepat dan mencekiknya, dia marah, sangat marah karena ada lelaki di kamar Meutia, lelaki tanpa persetujuannya masuk ke sini, apalagi dia melihat istrinya dalam keadaan tidak berbusana sama sekali, dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi.
Meutia dan ayahnya tidak berusaha menjelaskan, mereka hanya melihat saja dukun itu dicekik dan akhirnya kehabisan nafas lalu pingsan, Darhayusamang tidak membunuhnya, dia akan memberikan hukuman lebih berat lagi, yaitu membuat dukun ini gila, berani sekali dukun rendah itu masuk ke kamar istrinya.
“Jelaskan padaku?” Darhayusamang meminta penjelasan, setelah dia membuat dukun itu pingsan, lalu Bidan itu juga dia buat pingsan tapi dengan cara mengibas tangannya di depan mata Bidan itu.
“Aku ... aku ....” Meutia ketakutan.
“Maafkan aku Tuan, kami akan jelaskan, anakku tidak bermaksud melangkah lebih jauh, tapi dia terlalu takut kehilanganmu, saat ini dia memperlihatkan tubuhnya pada lelaki lain hanya untuk ... untuk memenuhi janji!”
“Diam kau!” Darhayusamang berteriak, dia bahkan melempar ayahnya Meutia keluar dari kamar itu, Meutia tidak bisa bangun dan menggunakan pakaiannya, dia hanya menyelimuti tubuhnya dengan selembar kain jarik yang tadinya digunakan untuk alas darah jika aborsi itu berhasil.
“Tuan aku ... aku mohon maafkan aku.” Meutia tidak tahu harus berbuat apa selain menangis.
“Sebentar.” Darhayusamang mendekati Meutia, dia merasakan ada yang ganjil dari tubuh Meutia, ada energi yang sangat mirip dengan dirinya, Darhayusamang memegang perut Meutia. Sementara Meutia menangis sejadinya, apa yang dia tutupi saat ini akan ketahuan juga.
“Kau hamil!” Darhayusamang berteriak, dia terlihat sangat murka.
“Maafkan aku tuan, maafkan aku.” Meutia menangis.
“Wanita bodoh! kau tidak bisa menjaga dirimu hingga hamil seperti ini!” Darhayusamang terlihat sangat ingin menelan bulat-bulan Meutia.
“Aku sudah berusaha Tuan, aku juga sudah melakukan segala cara agar anak ini bisa aku gugurkan, tapi selalu saja gagal Tuan. Lelaki yang kau lihat barusan adalah dukun urut, dia akan membantuku mengaborsi, sedang perempuan itu adalah Bidan yang akan membantu dukun itu, aku tidak berbuat lain selain mengusahan anak ini gugur Tuan.” Meutia menjelaskan sambil berlinang air mata.
“Kau memang bodoh, kau pikir anak itu anak biasa?! mana bisa kau gugurkan dia, makanya aku tidak ingin kau hamil, karena kemungkinan gugur itu hampir tidak ada, kami para jin berkembang biak lebih cepat dan lebih banyak dari manusia, janin kami kuat dan bahkan bisa melindungi diri sejak hari pertama di dalam rahim! bodoh sekali kau! janin itu akan mengancam posisiku dan juga semua kekayaanmu, kalau sampai Tetua tahu aku memiliki anak setengah manusia, maka habislah kita.” Meutia tidak pernah melihat Darhayusamang marah dan ketakutan dalam waktu bersamaan.
“Aku harus apa Tuan? aku juga tidak menginginkan anak ini.”
“Satu-satunya jalan agar anak itu gugur hanya satu.”
“Apakah memang ada jalan seperti itu tuan? aku akan melakukan apapun agar janin ini gugur.”
“Benar kau akan melakukan apapun?”
“benar Tuan, aku akan melakukan apapun untuk, Tuan.”
“Termasuk memberikan nyawamu?” Darhayusamang tersenyum menyeringai, Meutia baru paham maksud dari jalan satu-satunya, kalau janinnya tidak bisa dibunuh, maka ibunyalah yang harus dibunuh, jadi janin itu tidak punya sumber penghidupan sebagai inang.
__ADS_1
“Ta-tapi Tuan, aku mencintaimu, aku tidak ingin mati, Tuan.” Meutia menangis sesegukan dan memohon.